Skip to main content

3 Hari_Part 1

3 Hari_Part 1
P.N.Z
“Zan! Hari ini lo ada acara nggak?” tanya Anggit dari seberang sana.
“Enggak. Kenapa emangnya?” tanya Zani seraya memakan cemilan kentang yang ada di depannya.
“Lo lagi nyemil sekarang?” tanya Anggit menebak.
“Iya. Emang kenapa?” tanya Zani.
“Nggak papa. Gue pengen ngajakin lo, maen. Kebetulan, Yogyakarta ada sekaten. Lo nggak pengen maen ke sana? Di sisi lain, gue juga ingat kalau lo pengen nyobain kopi jos khas Yogyakarta,” jelas Anggit panjang lebar.
“Terus, intinya lo mau ngajakin gue maen gitu malam ini?” tanya Zani memastikan.
“Hehehe, iya sih. Itupun kalau lo mau. Kalau enggak, ya gue berangkat sendirian.”
“Jelas mau lah. Daripada gue suntuk di apartemen. Mending gue keluar sama lo,” jelasnya seraya beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan dirinya.
            Persetujuan telah dilakukan. Begitu juga dengan perkenalan itu. Zania Vabrigas. Nama yang indah di belakangnya. Tentu saja. Raja ular tidak akan memberikan nama sembarangan untuk puteri tunggalnya. Sebuah perkenalan yang berasal dari grup yang mana anggotanya berisi para calon abdi negara dan beberapa mahasiswa yang siap mengabdikan dirinya untuk negara.
            Perkenalan elektronik yang mempertemukan keduanya di sebuah alun-alun kidul Yogyakarta adalah awal pertemuan nyatanya. Dia, Zania Vabrigas. Gadis mungil dengan wajahnya yang tak layak untuk menjadi seorang mahasiswa. Wajah, yang seharusnya belajar berhitung, berbicara dengan baik, dan asik dengan permainan di taman bermain. Dan, tubuh yang tak seharusnya mengenakan jas almamater kebanggaan universitasnya.
“Zan! Lo yakin mau ngajakin Andre?” tanya Anggit kembali menelfon saat Zani mengumumkan kepada anggota grup untuk bergabung dengannya dan Anggit. Terutama, untuk wilayah Yogyakarta.
“Iya. Emang kenapa? Ada yang salah?” tanya Zani tanpa ada rasa bersalah.
            Anggit menepuk jidatnya. Malam yang indah di dalam bayangannya, dimana ia bisa berjalan berdua bersama dengan Zani seketika musnah saat Zani menyutujui bahwa Andre akan ikut dengannya dan Anggit. Di mata Zani, Anggit adalah seorang adik kelas yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Usia mereka menunjukkan bahwa Zani lebih tua.
Akan tetapi, fisik dan face mereka menunjukkan betapa jauhnya umur di antara mereka. Zani yang terlihat seperti anak SMA sedangkan Anggit yang menyandang status SMA kelas 3 seperti seorang pria yang telah berumur 23 tahun. Salah satu titik kelebihan Zani yang menyamarkan siapa dia di sisi ia menjadi putri dari Raja Ular.
“Hallo! Nggit! Lo nggak papa, kan? By the way, lo ke sini sama siapa aja. Kok kayaknya rame banget?” tanya Zani menyadarkan Anggit akan bayangannya.
“Enggak kok, Zan. Santai-santai. Gue ke sini sama beberapa temen gue. Kebetulan, mereka ingin ikutan juga,” jelasnya.
“Oh. Ini Andre mau ikutan. Cuman katanya di rumahnya masih hujan. Lo sekarang udah sampek mana Nggit?” tanya Zani memastikan.
“Gue masih berteduh Zan. Di sini juga hujan. Deres banget malah. Mantel gue tembus, Zan. Nanti kalau gue udah sampek bakalan gue kabarin lagi,” pintanya.
Zani hanya berdeham mengiyakan dengan memutus panggilannya. Di sela menunggu Anggit dan kawan-kawannya datang, Zani menghubungi Andre. Memastikan bagaimana kelanjutan perjalanan Andre.
“Kakak sekarang ada dimana?” tanya Zani.
“Kakak masih stay, Dek. Ini masih hujan tempat Kakak.”
“Oke deh kalau gitu. Kakak kalau udah sampai di lokasi, hubungin Zani.”
“Siap, Dek.”
Zani, kembali memutuskan sambungan telfonnya. Seraya menunggu kedatangan Anggit, Zani menyibukkan diri dengan membaca buku. Kemudian, melihat beberapa drama Korea dan film yang dirasa bagus untuk digunakan sebagai inspirasinya menulis cerita yang akan diikutkan dalam kompetisi kebudayaan tingkat Nasional.
Waktu. Kesibukan. Dan, keinginan. Satu kesatuan yang menjadi putaran kendali bagi Zani. Waktu yang menjadi prioritasnya adalah titik ukur dimana ia memberikan keputusan untuk memilih kesibukannya. Tentunya, kesibukan yang sesuai dengan keinginannya.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Zania Vabrigas adalah seorang putri Raja Ular. Ular, adalah hewan yang dapat dipelihara saat ia telah dijinakkan. Tapi ular, akan tetap menjadi hewan yang liar saat ia tak dapat dijinakkan. Dan pilihan kedua adalah pilihan yang dipilih oleh Zani dalam hidupnya.
“Udah sampai aja lo, Nggit?” sapa Zani saat bel pintu apartemennya berbunyi dengan nyaring.
“Iyalah. Lo habis ngapain aja nungguin gue? “ tanya Anggit saat melihat meja ruang tamu yang penuh dengan buku dan kertas-kertas.
“Nugas bentar.”
“Udah siap berangkat?” tanya Anggit saat melihat Zani mengenakan flat shoes dan mengambil mini bagnya.
Zani menjawabnya dengan anggukan kepalanya. Kemudian, mereka berempat keluar dari apartemen Zani dan melaju ke sekatenan Yogyakarta. Selama di perjalanan, Zani mencoba menghubungi Andre untuk memastikan posisinya. Masih dalam alasan yang sama. Tempat Andre, masih hujan lebat dan Andre enggak untuk keluar dari rumahnya.
Berbeda dengan Anggit yang berusaha datang meski ia kehujanan. Merekapun sampai di lokasi Sekaten. Bersenang-senang adalah hal yang dilakukan mereka sebagai wujud tujuan mereka datang ke sama malam itu. Tak sampai di sana, Zani masih menghubungi Andre untuk memastikan posisinya.
Namun, Anggit yang mengajaknya untuk bermain wahana gelombang asmara berhasil menghilangkan kekawatiran Zani mengenai posisi Andre. Wahana yang sempat menjadi adrenalin tersendiri untuk Zani. Dimana wahana itu digerakkan oleh beberapa orang dengan kecepatan naik turun dan mengandalkan metode payung dengan keseimbangan yang menjadi penentunya. Beberapa atraksi juga digelar oleh penyelenggara untuk menarik perhatian pengunjung.
“Nggit, kenapa lo ngajakin gue naik wahana yang gila ini?!!!!!!” ucapnya dengan berteriak sekencang mungkin.
“Biar lo kagak galau di apartemen dan sibuk mikiran mantan gila lo itu!” teriaknya mengikuti teriakan Zani dan beberapa penumpang lainnya.
Zani menghiraukan ucapan Anggit. Ia terus menyebutkan semua cita-citanya. Keluah kesahnya kalau ia tidak ingin meninggal konyol di atas wahana yang gila itu. Bahkan teman-teman Anggit yang menyaksikan Zani dengan ketakutan itu, menikmati wahananya dengan tawanya.
Bagaimana tidak? Zania Vabrigas, dapat merasakan ketakutan hanya karena wahana. Dan, semua itu begitu konyol saat melihat siapa dirinya di atas panggung kemenangan dengan rangkaian karyanya. Atau, saat ia berada di atas podium untuk melakukan orasi, atau juga saat dia begitu menarik sebagaimana dirinya dari luar dan dalam.
“Gimana rasanya?” tanya Anggit saat mereka telah turun dari wahana.
Zani tidak menjawab. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seolah kapok dengan ajakan Anggit yang gila itu. Berdiam diri di depan stand yang menjual coklat membuat Anggit berinisiatif untuk membelikan Zani coklat sebagai pereda dirinya.
Karena merasa apa yang diberikan oleh Anggit merupakan salah satu hal yang tepat, Zani meraih coklat itu dan meminumkan dengan cepat hingga tertinggal setengah. Barulah Zani bisa berbicara dengan normal.
“Mau naik lagi?” tanya Adam. Teman Anggit dengan menunjuk wahana perahu dengan adrenalin yang hampir sama dengan Gelombang Asmara.
“No way! Bodo amat kalian mau naik atau enggak. Kapok gue naik begituan,” jelasnya menolak mentah-mentah.
Ketiga laki-laki itu hanya tertawa menikmati ketakutan Zani. Sampai akhirnya, Zani sadar bahwa tak seharusnya ia pergi hanya dengan mereka bertiga. Melainkan, dengan Andre yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Zani melihat ke arah jam tangannya. Pukul sepuluh malam.
“Kenapa, Zan? Ada masalah kah?” tanya Anggit saat melihat perubahan wajah Zani.
“Andre dimana ya? Gue takut kalau dia udah sampai tapi gue nggak bisa dihubungi.”
“Yaudah, coba hubungi aja, Zan!” pinta Anggit yang disahuti anggukan oleh Adam.
Zani menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia merogoh mini bagnya, dan mengambil ponselnya. Menekan nomor Andre untuk menuliskan pesan singkatnya. Andre menjawabnya. Dan benar saja, jawabannya masih sama. Tempatnya masih hujan. Lebih tepatnya, ia tak dapat mengikuti meet-up malam itu dikarena cuaca yang tidak mendukung. Zani dan teman-teman yang lainnyapun memaklumi posisi Andre.
Meski mereka tahu, hujan dapat diterjang dengan menggunakan mantel atau usaha lainnya. Mereka tidak menilai bahwa Andre mengingkari janjinya bahwa akan mengikuti meet-up itu. Tak lain, karena Zani, Anggit dan yang lainnya menganggap Andre adalah seorang teman. Meski mereka tak lama mengenal dan hanya mengenal melalui sosial media saja.
***
            “Zan! Sorry ya, kalau gue nggak bisa nepatin janji ke lo,” ungkap Anggit saat ia telah sampai mengantarkan pulang Zani kembali ke apartemennya.
            “Sorry untuk apa Nggit. Perasaan lo udah nepatin janji lo ke gue kok. Buktinya malam ini lo datang kan?” nyata Zani.
            “Bukan masalah itu Zan. Sebelumnya kan gue udah janji sama lo, kalau gue bakalan bawa roti untuk lo. Tapi, karena tadi gue ada tanding. Dan, gue nggak sempet masak buat lo, gue ganti pakek ini ya?” ucapnya dengan memberikan kotak dengan pita merah di atasnya.
            “Ini apa?” tanya Zani.
            “Nggak tahu apaan, ya? Ntarlah, lo buka di dalem. Udah malam juga. Tidur yang nyenyak. See you again,” ucapnya dengan senyuman.
            “Hmmmmm, okkay. Hati-hati di jalan ya Nggit. Jangan ngebut-ngebut lo,” ucapnya.
“Siap!” jawabnya dengan memberikan hormat kepada Zani. Dan, Zani membalasnya dengan senyuman.
Malam yang indah. Malam, yang memberikan satu titik pelajaran setelah pelajaran itu. Sebuah perpisahan yang memang menjadi jalan terbaik untuknya. Dimana ia menolak sebuah pernikahan yang hanya di dasarkan ia tak menghendaki akan sebuah pernikahan muda.
Pernikahan, yang akan membuatnya ia menderita. Pernikahan yang menjadi titik buruk dalam otaknya. Dimana ia harus merelakan masa mudanya yang menjadi titik kehormatan untuknya. Kehormatan sebagaimana seorang Zania Vabrigas yang patut untuk dimuliakan sebagaimana ia seorang putri dari Raja Ular.
Ular yang selalu mengeluarkan bisanya dari mulut mungilnya. Bisa dari seutas kata dan sikap bijak yang menjadikan Zani menjadi gadis yang terhormat. Inner beauty, serta intelektualnya, mendukung moral yang dimiliki olehnya. Itulah nama yang diwariskan dari keluarga Vabrigas untuknya. 
“Halo? Ada apa Kak Andre?” tanya Zani.
“Lo sekarang udah sampek apartemen?” tanya Andre memastikan.
“Iya. Baru aja sampek. Anggit aja baru balik. Kenapa Kak?” tanya Zani dengan menutup pintu apartemennya.
“Zan. Maafin kakak ya, kalau hari ini kakak nggak bisa ikutan. Kakak bener-bener minta maaf banget. Kakak..”
“Hahahaha, santai aja kali Kak Andre. Zani dan yang lainnya udah maafin kakak kok.”
“Kakak janji. Lain, kali kakak akan usahakan dateng.”
“Okke siap. By the way, udah malem. Mending kita istirahat. Yang lalu, biarlah berlalu. Yang terpenting, adalah bagaimana kita bisa memperbaiki diri masing-masing.”
“Makasih ya Zan, atas nasehat kamu.”
“Sama-sama, Kak.”
Kesalahan. Berbicara mengenai kesalahan, ada satu kesalahan besar yang mudah untuk dimaafkan hanya karena alasan sepele. Kesalahan besarm karena dapat memberikan keraguan untuk lawan sosialnya. Teman. Yah.. teman yang memafkan teman lainnya. Meski tahu bahwa tak seharusnya dimaafkan.

Tapi, maaf yang diberikan seolah menjadi cambuk agar Andre dapat menepati janjinya dan berusaha untuk memperjuangkan hal-hal kecil. Karena mengingatkan seseorang tak hanya dengan membencinya atau meninggalkannya. Ataupun mengasingkannya. Melainkan, memperhatikan sisi baiknya. 

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...