Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2016

Kebesaran Kuasa-Mu

Kebesaran Kuasa-Mu P.N.Z “Permisi Pak, tadi Bapak manggil saya?,” tanya Riska yang gugup setengah takut saat menghadap Kepala Keuangan Kodim Yonkav 8. “Yang mengerjakan data ini siapa Ris?,” tanyanya dengan menyodorkan berkas yang ada di dalam map berwarna merah. “Pegawai baru, Pak.” “Panggil dia ke sini! Biar saya yang bicara sama dia!,” pintahnya dengan suara yang tegas namun menakutkan. “Baik,Pak,” jawab Riska ketakutan dengan langkah meninggalkan ruangan. Yah... itulah Kepala Keuangan Kodim Yokav 8. Arkana Aditya. Lelaki tinggi yang terkenal buas saat ada pekerjaan yang tidak beres dari anak buahnya. Bahkan, ia berani menyiksa mereka untuk lembur sampai pagi demi tugas yang ia berikan tanpa ada bayaran tambahan. Ironis, tapi itulah dia. Namun, dengan hal seperti itu ia telah menjadi pimpinan yang berwibawa, bijaksana, dan tegas. Masalah pekerjaan, ia selalu serius untuk menghadapi. Tapi, untuk masalah bergaul ia bisa menjamin sosialisasi. Tidak perduli umur orang yan...

Semuanya Karenamu

Semuanya Karenamu P.N.Z “Apa maksud lo mundur dari pertandingan?” “Gue nggak sanggup! Gue takut, Fel!”   Seketika kepalan tangan Felly mengarah ke pipi Bram. “Fel udah, Fel!,” lerai Billy saat melihat Felly mengarahkan kepalannya untuk yang kedua kalinya. “Asal lo tahu Bram, bertahun-tahun gue menunggu turnamen ini! Berhari-hari gue manghabiskan waktu untuk memetik gitar itu dan menciptakan Falk untuk turnamen itu! Dan, sekarang lo menghacurkan mimpi gue hanya karena down melihat seseorang di turnamen?! Seharusnya lo buktikan dong ke dia kalau lo bisa menang?! Bukan jatuh kayak begini! Apa masih kurang gue nyiksa lo buat telat makan dan mengurangi waktu eskul untuk turnamen itu?! Woy, sadar bro!!!! Kalau tahu begini caranya, kenapa dulu lo maksa gue untuk bermain gitar lagi, hah?!!!,” bentak Felly dengan badan yang terus memberontak dari tangan kekar Billy yang menahannya untuk menyakiti Bram. Bram hanya terdiam dan terkulai lemas. Sedangkan Billy masih berusaha untuk...

No Come Back

No Come Back Pratiwi Nur Zamzani “Udah nunggu lama, ya?! Maaf, ya?!,” ucap Arka dengan duduk di depan Felly. Kekasihnya. “Yah.. lumayan lah. Kamu, darimana? Tumben lama?,” tanya Felly. “Maaf, tadi ada meeting dadakan. Jadi, aku nggak langsung nemuin kamu dan harus balik ke kantor.” “Arka, maaf sebelumnya kalau aku harus berbicara seperti ini. Tapi, aku hanya ingin satu hal dari kamu.” “Apa?,” tanya Arka antusias. “Aku ingin, mengakhiri hubungan ini. Aku merasa, kenyamanan yang aku rasakan dari kamu udah mulai berkurang. Jadi, ayo kita akhiri semuanya.” “Apa?!” “Ayo kita akhiri hubungan ini. Cukup sampai sini aja,” kata Felly memperjelas. “Tch! Kamu bercanda kan, Fel?,” tanya Arka dengan senyuman simpulnya dan sorotan mata yang tidak menyangka. “Aku serius, Arka.” “Felly, apakah ini perpisahan kita yang kedua kalinya setelah tujuh tahun itu?” “Ya.” “Felly...,” panggil Arka lirih. “Maaf. Aku, tidak bisa melakukan apapunn. Aku harus pergi. Permisi!,” kata Felly tegas den...

For Attention Religious

For Attention Religious Pratiwi Nur Zamzani “Bisakah kau datang ke sini?,” tanya Arka kepada Felly. “Ada apa memangnya?,” tanya Felly kembali. “Siapa sih yang nelfon, Fel?!,” tanya Bram penasaran. Felly membalik tubuhnya ke arah Bram. Kemudian memberikan kode kepada Bram bahwa Arka menghubunginya. Dan Bram hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya seraya menjawabnya tanpa memberikan suara. “Ok aku akan datang ke sana. Sepuluh menit dari sekarang.” Dengan cepat, Felly memacu mobilnya ke tempat yang sudah disebutkan oleh Arka di telfon barusan. Sesampainya di sana, Felly mencari meja yang sudah disediakan oleh arka. Namuan, caffe itu sepi tanpa ada pengunjung. Serasa bahwa caffe itu telah dipesan khusus oleh Arka untuknya. “Kenapa kau tidak duduk?,” tanya Arka dengan membetulkan jasnya. “Kau darimana?,” tanya Felly. “Kamar mandi.” “Oh.” “Duduklah!,” pinta Arka kepada Felly. Dengan santai Fellypun duduk di kursi yang ada di sampingnya. Namun, sebelum itu Arka menarik ku...

Nama Di Atas Aksara

Nama Di Atas Aksara Pratiwi Nur Zamzani “Aduhhh, Felly! Bangun, kenapa sih! Eh! Kebo! Aduuuhhhh, nih anak bener-bener deh!,” desar Riska yang tengah berusaha membangunkan teman sebangkunya. Sekaligus, sahabatnya. “Kenapa, Ris?,” tanya Billy penasaran. “Nih! Temen lu! Pagi-pagi udah ngelekor! Padahal, baru aja di dateng! Masih lima menit kehadirannya! Eh... udah molor!,” jelas Riska kesal. “Feeeeellllllyyyyyyy!!!!,” teriak Bram di telinga Felly setelah mendengar penjelasan Riska saat ia telah merapikan bukunya. Seketika Felly bangun dengan matanya yang imut. Kemudian, ia melihat sekelilingnya. Di lihatnya Riska, Billy dan Bram yang tengah berdiri  di bangkunya. Tentunya, dengan tatapan yang membunuh. “Sorry!,” kata Felly santai dengan mengucek matanya. “Udah sadar?!,” tanya Riska judes. “Hehehehe. Iya. Udah yuk, berangkat. Makasih, ya udah bangunin gue!,” kata Felly dengan cengar-cengir. Kemudian, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas menuju ke lap...

Matamu Mengingtkanku

Matamu Mengingtkanku Pratiwi Nur Zamzani “Apakah ada yang ditanyakan?,” tanya Felly tegas dengan meandang seluruh General Manager. “Kalau tidak ada, kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Kalaupun ada masalah hari ini, kalian bisa menghubungi saya.” “Baik, Bu!,” ucap selurh General Manager dengan tegas. Fellypun merapikan map-map yang berserakan di bawah microfon ruangan meeting. Setelah itu ia keluar ruangan. “Pak Arka gimana, sih ya? Dia kan seharusnya datang untuk meeting hari ini.” “Maklum lah, CEO kan bisa nelakuin apa aja? Apa gunanya punya bawahan?,” jawab salah satu pegawai yang tengahngerumpi di depan lift sambil menunggu lift terbuka. Felly yang mendengarnya berpura-pura untuk tidak mendengarkan perbincangan mereka. Hingga akhirnya, Felly menghampiri mereka dan hendak turun ke lantai satu untuk membeli kopi. Mengingat, sekarang adalah jam istirahat di kantor ini. “Felly! Lu di cariin kemana aja, hah?!,” panggil Bram dengan nafas terengah. “Ada apa emangnya...

Just About Time

Just About Time  Pratiwi Nur Zamzani “Kau tahu, hari ini akan ada peresmian CEO baru. Jadi, tidak mungkin kalau kita bakalan di forsir kerja,” ucap Bram dengan memakan mie ramennya. “Lo tahu darimana, Bram?,” tanya Riska. “Barusan, gue di BBM sama Billy. Buktinya, dia nggak ikut makan siang bareng kita. Dia ada di lantai 12 sekarang. Nyiapin gedung.” “Oh. Fel, bukannya lo nanti memberikan sambutan kepada CEO untuk presentase saham sebagai sambung putus kerja?,” tanya Riska. “Nggak! Gue nggak kena tugas begituan,” kata Felly sedikit tercekik karena ia harus makan dan berbicara. “Minum-minum, Fel!,” pinta Bram dengan mengulurkan minuman kepada Felly tanpa melepas sumpitnya. Tak lama dari itu, mereka mendapatkan panggilan untuk ke kantor manager departement humas. Dengan cepat, Bram menghabiskan makanannya. Begitu pula dengan Felly dan Riska. Bagaimana tidak? Mereka jarang-jarang bisa keluar kantor untuk sekedar makan siang dengan menu yang mereka minati. Kebanyakan, mereka...

Atas Nama Ice Cream

Atas Nama Ice Cream Pratiwi Nur Zamzani “Eh bray! Kalian tahu nggak, hari ini bakalan ada pengawasan kerja!,” ucap Rio. “Emang tiap hari begitu, kan?!,” tanya Rendy memastikan. “Iya sih! Cuman, ini beda banget! Yang ngawasin kita bukan supervisornya! Tapi, General Manager langsung!” “Hah?! Sumpeh, lo?!,” tana Rio terbelalak. “Ngapain juga gue bohong?! Denger-denger sih, dia bar pengangkatan kemarin! Dan, cara kerjanya emang terjun lapangan secara langsung. Rumor juga, kalau dia itu orangnya teliti. Kesalahan sedikitpun bakalan ketahuan meskipun kita nyembunyikan gimana caranya,” jelas Rio. “Gila itu orang!” “Cowok apa cewek?,” tanya Arka. “Cewek,” jawa Rio dengan menyeruput kopi panasnya. Arka hanya menganggukkan kepalanya seraya ia melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Rendy dan Rio. Arka berpikir akan satu hal, hingga ia menghentikan makannya dan bertanya kepada Rio perilah General Manager yang akan mengawasi mereka nanti. “Rio! Apakah lo tahu, siapa nama GM itu?” ...

Because Heart

Because Heart Pratiwi Nur Zamzani “Felly! Lo mau kemana?,” tanya Bram saat melihat Felly beranjak dari tempat duduknya. “Enggak kemana-mana. Gue cuman mau beli minum. Emangnya kenapa?” “Enggak ada kok. Yaudah. Nitip, ya! Nih uangnya!,” kata Bram dengan menyerahkan uangnya. Fellypun melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan studio musik. Sedangkan Bram, Billy dan Riska masih ada di studio untuk melanjutkan latihan  mereka. Mengingat, mereka masih menghabiskan waktu selama lima belas menit untuk latihan. Karena biasanya, mereka menghabiskan waktu selama tiga puluh menit. Itupun kalau Felly memberikan keringanan untuk mereka. Mengenai gadis itu. Felly Anggi Wiraatmaja. Gadid dengan mata yang begitu taja menyeramkan. Suaranya yang begitu indah. Tubuhnya yang begitu menggiurkan. Dan, hatinya yang sulit di dapatkan. Mereka menyebutnya, ‘singa liar’. “Lo yakin, Bram?!,” tanya Billy di tengah ia memainkan bazznya. “Gue sih, masih ragu masalah itu. Tapi yang pasti, Felly d...

4 Detik

4 Detik Pratiwi Nur Zamzani “Felly!,” seru seseorang saat ia hendak keluar dari studio musik. “Kamu!,” gumam Felly dengan wajah yang datar dan dingin. “Yah! Ini aku!,” katanya dengan nafas yang terengah. “Apakah kau baru selesai fitness?,” tanya Felly polos. “Tidak! Baru menemukanmu di sini! Apa mungkin, aku fitness tetap menggunakan dasi yang mencekat tenggorokanku dan ketatnya jas ini?! Ku pikir, aku akan mati sesak nafas di gym kalau aku fitness menggunakan pakaian panas ini.” “Hahaha, lantas kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harus ada di New York hari ini?!” “Yah.. seperti kau lihat. Aku sudah pulang dan menghampirimu di kampus ini.” “Baiklah, ada apa kau ada di depanku?! Apakah, ada...” “Ya! Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” “Apa itu?” “Bisakah kita pergi sekarang ke tempat yang aku inginkan?” “Sekarang? Kemana?” “Nanti kau akan tahu!,” pinta laki-laki itu dengan menarik tangan Felly yang masih tergelantung bebas. Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis damb...