Skip to main content

3 Hari_Part 3

3 Hari_Part 3
P.N.Z
            “Tujuh lebih lima belas?” gumamnya seraya berdengus seraya kembali menutup kembali kedua matanya.
            “TUJUH LIMA BELAS!!!!” teriaknya seraya terbangun dari tidurnya dan sadar akan kesalahannya pagi itu.
            Bagaimana tidak? Zania Vabrigas. Ia belum mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Jangankan menyiapkan berkas apa saja yang akan di bawa. Mandi saja belum. Gila. Sungguh kegilaan pertama yang dilakukan oleh Zani. Seorang mahasiswa berprestasi bisa datang terlambat.
            Tanpa berpikir panjang, Zani membasuh wajahnya. Mengambil cairan menthol yang hanya berfungsi menyegarkan mulutnya, tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Kemudian, menyemprotnya toner di wajahnya, tanpa menggunakan krim UV atau jenis lainnya. Zani, juga tak lupa mengoleskan lipstik di bibir tipisnya. Menggelum rambutnya dengan menyisakan beberapa rambut di bagian yang diperlukan. Total semuanya lima menit.
            Perfect.Yah.. satu kata yang menjadi suatu kemutlakan sebelum ia mendapatkan kemenangan. Zani juga tak lagi peduli dengan identitasnya yang selama ini ia tutupi. Dimana ia menyembunyikan dirinya sebagai seorang putri dari Raja Ular yang kaya raya. Perusahaan mobil dan beberapa manufactur lainnya, dapat menjadi milik ayahnya hanya karena ia seorang raja ular. Dimana ia bisa membius, mematikan, atau hanya merayu dengan liukan tari ular yang indah. Dan semua itu, menurun ke putri tunggalnya. Zani. Zania Vabrigas.
            “Zani?!” nyata seseorang saat Zani menuruni sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang mana masih belum ada seorangpun yang memilikinya.
            Zani membelalakkan kedua matanya. Tanpa menolehkan kepalanya, ia langsung berlari terbirit dengan menutup sebagian wajahnya menggunakan map yang berisi beberapa berkas dan tugasnya. Dari sana, banyak kamera yang tengah mengambil gambar dirinya dan menunjukkan beberapa identitasnya.
            Beritanyapun tersebar dengan cepat setelah netizen mengetahui siapa Zania Vabrigas. Beberapa orang, memang tahu siapa Zani. Namun, yang mereka ketahui hanya sebatas Zani yang menjadi seorang mahasiswa berprestasi, sikapnya yang natural dalam bergaul, menyukai batasan, dan Zani yang sederhana dengan keanggunan dan kesempurnaannya. Tapi di hari itu juga, identitas Zani terbuka dengan lebar dan terpampang dengan jelas.
            “Papa!!!!” panggil Zani manja saat ia telah menyadari kebodohannya.
            “Apa lagi?”
            “Pa, Zani ketahuan kalau Zani anak papa.”
            “Lah emang kamu anak, papa. Apanya coba yang salah?”
            “Maksudnya, papa yang kaya.”
            “Lah terus kenapa? Kan memang nyatanya seperti itu.”
            “Ah!!! Papa nyebelin!!! Nggak nyambung-nyambung maksud Zani gimana? Maksud Zani tuh-“ ucapannya terputus seketika saat Ladipadya Vabrigras menyela ocehan putri kecilnya.
            “Sepintar apapun tupai melompat. Pasti akan jatuh juga. Begitu juga dengan bangkai. Sepintar apapun kamu menyimpan bangkai itu, baunya akan keluar juga. Sama halnya dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Zani, dengarkan papa! Kehidupan kamu, adalah identitas kamu. Begitu juga dengan nama kamu. Meskipun kamu menyembunyikan nama Vabrigras dari name-tage jam almamatermu. Semua orang akan tahu siapa kamu, sayang! Takdir, tetaplah takdir. Hadapilah! Jangan mencobanya untuk lari dari takdir. Jika kamu ingin keluar dari takdir dan merubah takdirmu, maka berusahalah. Tergantung, kamu mau takdir yang baik atau buruk. Papa yakin, bukan takdir buruk yang kamu inginkan, melainkan lebih baik dari sekarang. Zania, papa tidak memiliki banyak waktu. Baik-baik di sana, minggu depan mama dan papa akan berkunjung ke apartemenmu,” jelas papanya seraya mematikan sambungan telfon Zani.
            Zani terdiam. Ia menatap layar ponselnya. Melihat wajah kedua orang tuanya yang menjadi wallpaper ponselnya. Takdir. Zani berdecak saat ia terngiang dengan ucapan papanya mengenai takdir. Dimana takdir yang membuat dirinya ingin lari saat manusia-manusia penjilat itu datang hanya ingin menikmati kelebihannya. Namun, pembatas itulah yang menjadikan dinding antara dunia Zani dan siapakah seorang Zani dengan kehidupan lainnya.
            “Lo mau kemana, Zan?” tanya seseorang saat mengetahui Zani yang tengah keluar dari kamar mandi dengan mengendap-endap.
            Zani yang terkejut, mendenguskan nafasnya kesal. Dan orang itu ternyata adalah teman sekelasnya. Herman.
            “Lo bikin gue kaget aja sih?!”
            “Ya kan gue nanya? Salah?”
            “Tahu ah! Minggir!!!” ucap Zani dengan bentakan ringannya.
            Herman yang mendapatkan sikap aneh, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak seperti Zani pasa biasanya. Sikapnyapun juga aneh. Ia lebih sering menyembunyikan wajahnya. Terbesit, rasa penasaran. Namun, jam mata kuliah yang sudah menunjukkan keterlambatan membuat Herman berlari menyusul Zani yang tengah berjalan cepat menaiki tangga, dan menyusuri beberapa kelas.
“Zani!!!!” teriak teman-teman sekelasnya saat Zani datang. Seolah, dosen yang di sana tidak memperhatikan.
            Zani yang sadar akan kondisi kampus yang gempar dengan berita baru, hanya bisa menundukkan kepalanya malu. Bisikan tentang dirinya juga terdengar begitu jelas. Tak heran, jika seorang Zani menjuarai beberapa kompetisi design dan juga menulis. Mengingat, papanya yang bergerak di bidang design mobil, manufactur, dan mamanya yang bergerak di bidang percetakan. Kemampuan sepasang ular, menyatu dalam satu raga yang menjadi buah cintanya. Zania Vabrigas. 
            Dengan canggung, Zani menjelaskan siapa dirinya di depan kelas setelah dosen memberikan perintah kepada Zani untuk mekonfirmasi kebenarannya. Agar kelas tidak gaduh dan mata kuliah bisa berjalan dengan lancar. Benar adanya, setelah penjelasan itu, kelas menjadi tentram meski berulang kali keterkejutan ada di sana.
***
            “Dek, di tempat kakak masih hujan. Di tempat adek gimana?” tanya Andre untuk memastikan agar ia bisa berangkat.
            “Udah reda, Kak.”
            “Tungguin sebentar ya, Dek.”
            “Hmmmm,” jawab Zani dengan berdeham.
            “Ini adalah ketiga kalinya kamu menunda sesuatu yang bisa kamu lakukan dengan cara lain, Kak. Kamu laki-laki tapi kamu tidak berani menebas hujan. Pabrik menciptakan payung, jas hujan dan segala macam caranya. Dan bahkan kamu bisa membawa mobilmu yang pernah kamu pamerkan tetapi kamu tidak menepati janji hanya dengan alasan hujan. Tidak masuk akal. Kak Andre, cukup sampai di sini waktu yang aku berikan untuk kamu, Kak.” gumam Zani seraya menatap layar ponsel yang masih terpampang jelas nama dan foto bekas telfon Andre.  
            Zani kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia yang sudah memiliki jadwal tersendiri sebagai bentuk management waktunya mencoba untuk menepatinya tanpa menggubris hal-hal yang tidak berkaitan dengan jadwalnya. Pikirannya yang mulai melayang memikirkan pertemuannya dengan Andre, mencoba kembali fokus dengan sketsa yang semalam tertunda.
            Hingga akhirnya, ponsel Zani berdering berulang kali. Tapi, Zani hanya menatapnya dan terus melanjutkan pekerjaannya. Sampai akhirnya, ia sadar akan tepukan tangan yang menepuk pundaknya. Zani menolehkan kepalanya kepada orang itu. Yang mana, orang itu membisikkan sesuatu.
            Zani membelalakkan matanya. Dengan cepat, ia keluar dari ruangan kerja mahasiswa dan meraih ponselnya yang terus berdering. Tentu saja, tanpa menjawabnya. Dengan terbirit, Zani menghampiri rektornya untuk membahas tentang kompetisinya. Dimana ia harus membatalkan rencananya dengan Andre.
“Adek! Kenapa tidak diangkat?” tanya Andre saat Zani berkenan bicara dengannya melalui telfon.
“Maaf, Kak. Zani nggak bisa keluar sama Kakak,” tolak Zani secara langsung.
“Kenapa begitu, Dek?” tanya Andre memastikan.
“Zani ada acara mendadak.”
“Gak jadi keluar nih?” tanya Andre dengan nada kecewanya.
“Iya, Kak. Biar sekalian satu sama.”
“Maksudnya?” tanya Andre mencoba memahami dan mengaitkan tentang pembahasan yang sedari tadi Zani seolah ingin membatalkan janji dengannya.
“Kakak sekarang sudah sampai mana? Udah berangkat belom?” tanya Zani memastikan untuk mempertimbangkan keputusannya dan memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikannya.
“Belom sih, Dek. Kakak baru aja siap-siap. Baru selesai pakai baju,” jelas Andre.“
“Yaudah, Kak. Lepas aja. Kan masih baru pakai baju. Sama kayak Zani. Kemarin, udah cantik-cantik belom perjalanan berangkat udah pending duluan. Jadinya, aku lepas lagi. Sekarang, kakak kan juga belum perjalanan ke sini. Jadi, lepas aja lagi bajunya. Satu sama kan poinnya?” pintanya enteng.
“Nggak jadi bener nih, Dek?”
Belum sempat menjawab, Andre mendahuluinya.
“Oke. Kakak akan mengalah ke kamu, Dek. Kakak akui, memang kakak salah di sini.”
“Kak, sabarnya seseorang ada batasnya. Nggak semua orang sama dan mau menjadi apa yang kamu mau, Kak. Bukan masalah apapun sekitar itu. Kamu udah dewasa, Kak. Memegang ucapanmu sendiri sebagaimana seorang laki-laki itu adalah gambaran dirimu. Gimana rasanya? Kecewa kan? Itu juga yang aku rasakan. Kak, kamu tadi nunggu telfonku gimana? Nyariin aku terus kan karena nggak aku angkat? Aku sengaja, Kak. Itu semua tak lain untuk mengingatkan kamu. Bukan maksud aku sok ngajarin atau apa. Yang aku lakukan, hanya demi kebaikan kamu.”
“Siap ijin salah. Bukan bermaksud meu mengecewakan atau tidak mau menepati janji. Tapi, memang benar-benar ada halangan di sini kemarin.”
“Maafkan aku, Kak. Jika aku terlalu gamblang mengingatkan kakak. Aku sadar betul kalau aku memang nggak pantas untuk mengingatkan orang yang lebih mengerti sebagai mana harusnya. Tapi sikap kakak dengan tertutup, itu adalah problematika kecil dalam otak anal kecil yang ingin bekerja dengan baik. Kak, aku melakukan ini bukan karena atas nama Zani pribadi. Tapi, hanya sekedar mengingatkan jangan sampai ada Zani lain yang merasakan hal yang sama. Dan satu lagi, Kak. Kesempatan itu, nggak akan datang dua kali. Tolong, kakak camkan itu.” ucap Zani seraya mematikan ponselnya.


Setelah permbicaraan itu, Zani sudah tak lagi sering membalas pesan singkatm telfon atau menggubris ajakan dari Andre. Meski terkadang, Andre datang ke apartemennya dan hendak menemuinya, Zani selalu beralasan kalau dia kembali ke rumah orang tuanya, sakit, atau alasan lain yang sekiranya dapat membatalkan pertemuannya.
Karena pada dasarnya, pepatah memang tak jauh dari kenyataan kehidupan. Begitu dengan kehidupan yang tak jauh dari terciptanya pepatah. Sebagaimana ucapannya seorang Zania Vabrigas. Kesempatan, tak datang dua kali. Jika memang kesempatan itu datang tiga kali atau lebih, maka itu adalah kebaikan Tuhan atas takdir yang diberikan.
Maka, tugasmu sebagai penerima adalah memanfaatkan sebagaimana mestinya. Bukan membuangsa sia-sia karena menganggap Tuhan akan memberikan takdir yang mana masih berbaik hati. Tidak! Waktu itu, terus berputar. Oleh karena itu, perlu di sadari. Bahwa waktu, tidak akan ada di atas selamanya ataupun sebaliknya. Begitu juga dengan keputusan Tuhan mengenai takdir yang diberikan oleh-Nya untuk umat-Nya.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...