Skip to main content

Saying Now!!!

Saying Now!!!
Pratiwi Nur Zamzani


 “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan.
“Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya.
“Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket.
“Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya.
Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya.
“Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly.
“Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka.
Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebagai pengganjal perut sebelum hujan reda atau bahkan sebelum Felly kembali menghancurkan dirinya di depan gitar hingga menjelang pagi nanti.
“Lo kenapa?,” tanya Riska.
Felly terdiam. Ia hanya memandang lurus ke arah makanan yang sudah di siapkan oleh Bram tanpa menyentuh satupun yang ada di sana. Bram yang menghembuskan nafas beratnya seakan ingin memecahkan kepala Felly yang dingin sampai pecah dengan membenturkan kepalanya ke meja. Namun, sorotan mata Riska seakan menyelesaikan semuanya.
Billy dan Brampun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan studio dan memilih untuk bermain basket bersama di tengah derasnya hujan yang melanda. Membiarkan Felly dan Riska berdua di studio dengan alasan agar Felly mau menyelesaikan masalahnya.
“Gue tahu kalau lo ada masalah, gue tahu kalau lo emang dingin sama kita. Tapi setidaknya, tolong anggap kami ada. Bicaralah. Jangan biarkan kami bertiga terus belajar dan bertanya mengenai apa yang di dalam pikiranmu, melalaui sorotan mata yang kau berikan entah untuk siapa. Come on, Felly!,” kata Riska dengan membelai pundak Felly.
Felly masih terdiam. Ia menolehkan kepalanya. Menatap mata Riska yang cemas dengan tatapan dinginnya. Yah.. tatapan dingin layaknya seekor singa yang tengah kehilangan mangsanya. Riska yang lembut, seketika meringkuk menjauh setelah mengetahui arti tatapan mata itu. Yah.. tatapan yang menyuruhnyaa untuk meninggalkan Felly sendiri.
Riskapun keluar dari studio. Iapun ikut bermain hujan bersama dengan Billy dan Bram. Memberikan hasilnya yanag nihil mengenai apa yang ingin mereka ketahui. Bram dan Billy hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Yah.. memang mereka akui selama ini, Felly tidak pernah bercerita panjang lebar mengenai dirinya. Yang mereka tahu hanyalah, Felly adalah orang yang gila dengan pekerjaan. Ia lahir di tengah keluarga kaya raya yang bergelimbang berlian dimana-dimana. Hanya itu.
“Felly! Habis ini ada pertemuan sama manager kita, lo bisa kan ke kantor bareng kita?,” tanya Riska lembut.
Felly menganggukkan kepalanya. Sungguh, benar-benar mayat hidup Felly saat itu. Riska, Bram dan Billy tak mampu mengatasinya. Tuhan,  terbuat dari apa hati gadis ini? Dan, bagaimana dia bisa membangun benteng sekuat itu untuk mempertahankan masalahnya.
***
“Dalam minggu ini, kalian ada full concert. Apakah semuanya di terima atau bagaimana?,” tanya manager Pro Techno.
“Mungkin, dua atau tiga kali dalam satu minggu?,” tanya Bram.
“Kurang, Bram! Emmmh,  empat aja deh,” kata Billy.
“Riska?,” tanya manager.
“Ngikut aja,” ucap Riska pasrah.
“Terima semuanya,” kata Felly dengan beranjak dari tempat duduknya.
“Hah?! Fel?! Lo  nggak papa apaa?,” tanya Bram tak percaya.
Tapi, kehendak Felly telah di setujui oleh manager. Mengingat nama mereka yang baru saja naik daun seakan menjadi hal yang istimewa apabila mereka merampok uang dari job yang sudah di tawarkan oleh konsumen hanya untuk mendengar suara Felly. Permainan gitar Felly yang menggila. Dan juga gelegar aksi Felly di atas panggung yang dapat membuat semua penonton menjadi mabuk dan gila dalam waktu sekejab.
“Konser pertama akan di adakan di hotel Adam Bima, sebagai acara perpisahan sekaligus hari ulang tahun Taruna Universitas tersebut.”
“Kita naek pesawat atau jet?,” tanya Bram.
“Pesawat,” kata manager dengan senyuman manisnya.
“Oh tuhan,” keluh Billy dengan membayangkan betapa lelahnya dirinya hars menunggu beberapa jam hingga ia sampai di lokasi.”
“Lakukan semua sesuai dengan jadwal. Aku akan mengurus lagu yang akan di tampilkan besok. Batas latihan malam ini sampai jam tiga pagi. Sekian dari saya,” kata Felly dengan beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang rapat.
Billy dan Bram menengadahkan kepalanya. Mereka tidak bisa membayangkan siksaan Felly yang akan mereka terima nanti malam. Sedangkan Riska,  ia hanya bisa tersenyum menatap kedua temannya yang tengah berjuang melawan rasa malasnya.
***
Felly terdiam di depan meja kerjanya. Ia menatap lembaran kertaas yang berisi not angka serta lirik ciptaannya yang akan lauching beberapa minggu ke depan sebagai album baru mereka. Felly terfokus dengan apa yang harus ia kerjakan. Ia menarget pekerjaannya akan selesai dua jam yang akan datang.
Namun, semuanya terhenti seketika saat dering ponsel yang terus berbunyi hingga Felly harus meraih ponsel itu meski untuk sekedar melihat dari siapa. Seketika tangannya gemetar, matanya terasa panas, entah mengapa Felly dapat berbah dalam hitungan detik saat membaca nama yang tertera di dalam layar ponselnya saat itu.
“Halo,” ucap Felly setelah ia menekan tombol hijau di ponselnya.
“Aku menunggumu di tempat biasa,” kata seseorang dari seberang sana.
“Lupakan aku,” kata Felly ketus.
“Sebelum kau melupakan aku, jangan biarkan aku memaksamu untuk melupakanku. Datanglah ke tempat biasanya, atau aku yang akan menjemputmu di kandangmu!,” ancam orang itu dengan memutus panggilannya secara sepihak.
Felly menatap layar ponselnya. Ucapan ketusnya berbanding terbalik dengan hatinya yang tengah rapuh dan siap patah karena hatinya yang terus bertengkar dengan pikirannya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk mundur dari langkah yang diinginkan oleh hatinya. Meninggalkan laki-laki itu. Brilliandi Arka Pramana.
Segera, Felly melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Bram, Billy dan Riska yan menatap Felly dengan heran hanya bisa mengedikkan bahu tanpa mampu bertanya karena takut menghadapi dinginnya Felly.
“Gue pinjem mobil lo, Bram!,” kata Felly seraya ia memasang jacketnya.
“Lo mau kemana?,” tanya Bram hati-hati.
“Gue ada urusan. Gue akan kembali secepatnya,” kata Felly dengan meraih kunci mobil dari tangan Bram.
Bram hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum mata singa itu berkobaran api marah. Entah kenapa, di hari itu, mereka tidak mampu untuk membantah Felly. Begitu juga dengan Bram. Bram yang biasanya suka membantah, memberontak, bahkan berseteru dengan Felly, hari itu Bram seperti anjing yang sudah dijinakkan.
***
Felly melangkahkan kakinya melewati jalan lurus ke arah kursi yang ada di bawha pohon itu. Menghampiri seorang laki-laki dengan blezer biru muda. Menutupi kaos putihnya. Langkahnya perlahan berhenti saat pikirannya menghentikan langkahnya. Menyuruhkan kembali ke arah terbalik.
“Kau mau keman?,” tanya Brillian saat melihat Felly membalikkan tubuhnya.
“Aku rasa, aku salah mengambil tindakan ini,” kata Felly membalikkan tubuhnya dengan menghadap ke arah Brillian yang tengah berdiri di depannya.
“Kenapa kau pergi?! Apa aku sampah bagimu?! Apa kau terlalu busuk untuk kau simpan? Apa aku terlalu hina untuk berdekatan denganmu? Atau aku terlalu murah saat berada di sisimu, atau......,” katanya terputus saat sebuah tamparan keras melayang ke arah pipi kanannya.
“Kenapa kau begitu rendah?! Kenapa kau begitu baik?! Kenapa kau... kau.... kau terlalu baik untuk gadis cantik pembawa kapak. Kau terlalu indah sebagai lelaki tua pembawa bunga! Kau... aku meninggalkanmu karena aku taku!!!! Aku takut kau...”
“Seharusnya aku yang berkata seperti itu!!! Aku terlalu buruk untuk gadis sepertimu! Dan aku sangat takut kehilanganmu meski kau menganggap aku sebuah benda yang dapat kau buang ke tempat sampah layaknya sebuah sampah yang tiada makna.”
“Kenapa kau tidak mau pergi hah?! Kenapa kau selalu menggoda pikiranku saat aku ingin pergi darimu. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk perasaanku, Brillian. Aku terlalu bodoh untuk mengendalikan perasaanku! Aku terlalu lemah menghadapi pikiranku saat aku harus berhadapan denganmu! Aku...”
“Aku mencintaimu!,” kata Brillian tegas.
Felly terdiam. Ia tak mampu berkata apapun. Ia hanya bisa menganga di tengah mulutnya yang hendak berbicara. Matanya tak mampu berkedip, lututnya terasa lemas, otaknya tak mampu untuk berputar, dadanya berdegup begitu cepat, jantungnya terasa jatuh ke perut.
“Aku tahu, kau mencintaiku. Aku tahu, kau ingin memilikiku. Tapi egomu menyelimuti itu semua! Aku tahu kau ingin aku bersamamu! Kau ingin aku memperhatikanmu di saat kau sakit! Aku tahu, kau ingin aku melupakan mereka semua dan menganggapmu berbeda,” kata Brillian dengan matanya yang mulai mengkilat.
“Maksud....”
“Saat kau mencintai sesseorang, katakanlah! Saat kau menginginkan seseorang, raihlah dia! Seperti halnya kau meraih cita-citamu! Setiap menusia memiliki ego! Tapi kalahkanlah egomu! Jangan siksa dirimu dengan hal bodoh seperti ini! Kau berlari di tengah aku yang menunggumu mengatakan bahwa kau mencintaiku, apa kau pikir hanya laki-laki yang harus mengucapkan hal itu?! Tidak, Felly!!! Kau juga punya hak untuk mengatakan hal itu!!! Harga diri?! Dalam hal hati, bukan harga diri yang harus kau pertahankan, harga diri hanya ada untuk negara, agama, dan juga ilmu! Bukan untuk anugerah Tuhan yang ada secara mutlak dan berusaha kau hapuskan! Apa kau Tuhan?! Bukan! Kau manusia biasa sepertiku! Kau memiliki hati! Jika kau berkata hatimu kuat, kau salah! Salah besar. Hatimu sangat rapuh. Jika kau berkata hatimu sangat keras, kau juga salah! Hatimu begitu halus hingga aku tak berani mengusiknya. Jika kau menunggu aku berkata mencintaimu, kau juga salah! Karena aku lebih dulu mencintaimu! Hanya saja, aku tidak ingin kau menyia-nyiakan rasa yang aku berikan padamu! Aku juga membutuhkan perhatianmu! Aku juga membutuhkan kasih sayangmu! Aku juga membutuhkan dirimu! Felly Anggi Wiraatmaja!,” kata Brillian panjang lebar dengan tekanan dan seluruh emosi yang selama ini ia pendam.
Felly termangu melihat reaksi Brillian. Ia tak mampu berkutik dalam posisi seperti itu. Di tambah, saat Brillian menarik lengannya. Meletakkan kedua lengannya di punggung Felly dan menenggalamkan kepalanya di kepala Felly. Mengendus rambut Felly. Membelainya lembut hingga Felly tak mampu menahan air mata yang selama ini ia tahan karena egonya.
Di saat itu juga, Felly merasa lega. Ia merasakan hal yang begitu dasyat saat merasakan pelukan itu. Felly juga merasakan sensasi yang berbeda setelah Brillian bersabda kepadanya. Matahari senja, menjadi saksi cinta mereka. Cinta yang ada dalam keegoisan, dan yang timbul karena malu.
Tapi, benarlah apa yang dikatakan oleh Brillian. Jangan pedulikan siapa dirimu. Ungkapkan bagaimana perasaanmu. Ungkapkan seluruhnya apa yang ingin kau ungkapan. Janganlah memenjarakan rasa itu dalam sudut hatimu yang dingin. Di dalam selipan pikiran yang egois. Tapi ungkapkanlah semuanya dalam bentuk kreasimu. Karena mengungkapkan segalanya, bukan berarti harus dengan berbicara. Tapi, masih ada banyak cara untuk mengungkapkan sesuatu jika kau tak mampu untuk berbicara.






`
Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir di keluarga sederhana, dengan kelahiran Pasuruan 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...