Skip to main content

3 Hari_Part 2

3 Hari_Part 2
P.N.Z
 “Ya Kak?” tanya Zani saat ia sadar di tengah konsentrasinya merangkai sketsa alur cerita yang hendak ia gunakan untuk mengikuti kompetisi dalam rangka 4ICU universitasnya.
“Lagi ngapain Zan?” tanya Andre kepada Zani dari seberang sana.
“Ini lagi nugas, Kak.”
“Kakak ganggu, nggak Zan?” tanya Andre memastikan dengan nada ragunya.
“Enggak sih, Kak. Santai aja. Emangnya kenapa, Kak?”
“Gini, Zani mau nggak. Keluar malam ini? Mumpung sabtu malam minggu gitu, hehehe” jelasnya dengan kekehan ringannya.
“Boleh sih Kak. Zani juga lagi suntuk Kak. Emang mau keluar kemana, Kak?” tanya Zani mulai fokus dengan pembicaraannya dan meletakkan bulpennya.
“Zani biasanya nongkrong dimana, Dek?” tanya Andre berusaha menyesuaikan.
“Zani nggak pernah nongkrong, Kak. Zani nurut aja. Kakak sendiri kalau nongkrong kemana?” tanya Zani.
“Kakak biasanya kalau nongkrong di alun-alun kidul.”
“Zani udah pernah ke alun-alun kidul, Kak. Intinya jangan ke Malioboro atau Tugu Jogja. Tiwi udah pernah Kak,” jelas Zani.
“Gimana kalau ke bukit bintang?” tawar Andre.
“Boleh, Kak.”
“Yaudah. Kita pergi ke sana.”
“Zani siap-siap dulu, Kak.”
“Oke, Dek.”
Zani memutus panggilan itu. Iapun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya. Memilih beberapa baju yang sesuai keinginan dan moodnya malam itu. Zani juga tak lupa memilih warna lipstik yang sesuai dengan bajunya.
 Orange. Yah.. warna itu terlihat begitu soft di bibirnya. Zani juga memberikan sentuhan sedikit make-up agar wajahnya terlihat cheer-look dan segar. Zani menatap pantulan dirinya di depan cermin. Cukup.
Setelah merias dirinya, Zani memilih flast shoes karena cuaca hujan yang tidak dapat diprediksi. Lebih tepatnya, flat shoes yang berbahan plastik lentur. Selain nyaman digunakan karena lebih mudah digunakan untuk bergerak dan anti air.
Serasa sudah pas dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zani meraih mini bagnya dan berjalan ke arah ruang tamu. Mengambil ponselnya di atas meja. Dan, melihat beberapa pesan masuk. Dalan hatinya, ia berniat menunggu Andre dengan membalas beberapa grup yang ramai akan informasi, bahan bercanda, atau hal-hal yang tak berfaedah lainnya. Hanya sekedar untuk hiburan.
To : Zania
From : Kak Andre
Dek. Maafin Kakak. Malam ini Kakak nggak bisa jemput kamu karena kakak ada acara mendadak. Maafkan Kakak dek. Besok ada waktu, kan? Gimana kalau besok? Pukul sembilan pagi?
Zani terdiam mematung saat membaca pesan singkat yang baru saja di kirim oleh Andre. Ia terhempas di atas sofa dan terduduk dengan lemas. Zani juga menghembuskan nafas beratnya. Menguatkan dirinya untuk merangkai kata membalas pesan dari Andre.
To : Kak Andre
From : Zania
Nggak papa kok, Kak. Kalau emang kakak masih kekeh pengen keluar sama Zani besok pagi, Zani akan cancel beberapa jadwal Zani. Maaf ya kak, kalau Zani udah ganggu jadwal kakak malam ini. See you next day, Kak.
Tak ada yang bisa Zani lakukan. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Menunggu balasan seraya menahan kecewanya. Yogyakarta. Kota itu, memang istimewa. Sesuai dengan namanya. DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota yang merubah Zania Vabrigas menjadi gadis yang sesungguhnya.
Dimana, gadis yang berangkat dengan seluruh keras kepala, ego, dan ucapan kasarnya serta memangkas akan kemungkinan kesempatan kedua. Yogyakarta, telah mengubah dunia itu, menjadi Zania Vabrigas yang menjadi keinginan kedua orang tuanya. Meski kedua orang tuanya, tahu bahwa sebagian diri Zani sudah menuruni keinginan mereka.
Tapi, Yogyakarta melengkapi Zani dengan mengajarkan Zani sabar, dan bertutur kata lebih baik dari sebelumnya. Dan, hal yang paling utama adalah, Yogyakarta mengajarkan bagaimana cara menggunakan hati dengan benar. Bukan hanya otak. Di sanalah, titik istimnewa Zania Vabrigas yang dikenal sebagai putri dari Raja Ular yang siap menggemparkan dunia para kaum Adam hanya dengan bisanya. Bisa, yang berupa kebijakan, dan kebajikannya dalam menyikapi semua hal.
“Halo, Ma?” ucap Zania saat dering ponsel membangunkannya dari tidurnya karena telalu lelah akan kesabarannya. Yah.. kesabaran yang menjadi bagian latihan hatinya begitu  menekan mentalnya.
“Kamu kenapa sayang? Ada masalah dengan kuliah kamu?” tanya mamanya.
“Enggak kok, Ma. Zani nggak papa”
“Kamu baru bangun?”
“Iya, Ma. Zani tadi capek banget habis nentukan sketsa untuk kompetisi bulan besok. Zani minta restunya, Ma.”
“Mama selalu merestui kamu. Kamu kapan pulang sayang? Mama udah kangen banget sama kamu.”
“Zani akan pulang setelah tahun baru, Ma. Karena Ujian Akhir Semester dilaksanakan hari kedua awal tahun. Jadi Zani pikir, lebih baik Zani pulang setelahnya,” jelas Zani dengan sisa suara serak khas habis tidurnya.
“Yudah, kamu tidur gih sekarang. Besok akan mama kabari lagi. Papamu mau bicara sesuatu dengan kamu.”
“Hmmmmm, see you next day, Mom,” ucap Zani tanpa memutus sambungan telfon dari mamanya.

Satu perubahan yang terlihat begitu jelas. Sikap Zani yang kasar dimana ia selalu memutus telfon sepihak, menjadi lebih sopan dengan menunggu lawan biacaranya menutup telfon atau dirinya menutup telfon lebih dulu saat lawan bicaranya memberikan perintah untuknya. Akan tetapi, semua itu tak lain berlaku untuk kedua orang tuanya, dan keluarga sekitarnya.
Malam itu, Zani ingin menghabiskan sisa malamnya untuk menyelesaikan proyek kompetisinya. Akan tetapi, kondisi pikirannya yang kacau dan moodnya yang rusak seolah menjadi peringatan untuk Zani agar ia melupakan sejenak pekerjaannya dan mengakhiri malamnya dengan kembali ke pulau kapuknya.
Zani yang kacau tiba-tiba, enggan untuk melakukan kebiasaannya. Yaitu, membersihkan diri sebelum tidur, kemudian meminum coklat panas untuk memberikan sensasi nyaman dan rilex untuk otaknya. Namun, kelelahannya sudah mengalahkan rilex itu. Dengan kelelahannya mengandalikan dirinya, Zani kembali dengan mudah terkapar dalam tidur malamnya. Tentunya, dengan sisa kekecewaan yang berusaha ia obati dengan pengendalian dirinya sendiri.
Sebuah kekecewaan yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk tidak mudah percaya dengan seseorang. Meski itu teman sekalipun. Karena kekecewaan yang diberikan teman lebih menyakitkan dibandingkan kekecewaan yang diberikan oleh lingkungan. Karena pada dasarnya kehidupan, teman akan menjadi keutamaan daripada lingkukan.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...