1 Minggu
Pratiwi Nur Zamzani
“Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga
“Pagi, Pak.“
“Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?”
“Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu.
“Silahkan.“
“Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak Airlangga.“
“Emmmh, baiklah kalau begitu. Tapi saya hanya bisa memberi kamu batas waktu 1 minggu, usahakan kamu sudah menemukan semuanya dan segera menerbitkan tentang berita tersebut!”
“Baik pak, saya akan mengusahakan itu.”
“ Apakah ada lagi?”
“ Tidak pak,” semua peserta rapat menjawab dengan serentak
“ Ok, saya tutup rapat hari ini! dan kamu Arka, segera berangkat ke tepat lokasi! “
“ Siap, Pak!”
Sinar matahari yang menyengat dengan terpaan angin jalanan dan bercampur dengan debu, serta suara gemeratak ranting pohon sekitar jalanan telah membawa Arka untuk sampai di depan sekolah yang di tuju olehnya, setelah ia bertanya kepada masyarakat sekitar tentang berita tersebut.
“Selamat siang Mas, apakah ada yang bisa saya bantu?,” tanya satpam sekolah
“Emmh begini Pak, saya mau melamar pekerjaan di sekolah ini. Karena itu, saya datang ke sini untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan oleh pihak sekolah. Kalau boleh tahu, dimanakah ruangan kepala sekolah?”
“Oh, itu Pak lurus saja. Nanti, mentok jalan sudah ada bangunan. Nah, di sanalah ruangannya Mas.“
“Baiklah, terimakasih ya Pak,” kata Arka dengan senyuman ramahnya, lalu melagkah meninggalkan Pak Satpam.
***
“Silahkan masuk!,“ pinta Kepala Sekolah setelah mendengar ketukan pintu.
“Permisi, apakah benar ini ruang Kepala Sekolah?“
“Ya, dengan saya sendiri.“
“Syukurlah. Begini, Pak. Saya, mau melamar pekerjaan untuk menjadi guru ekstrakulikuler Pak.“
“Baiklah, silahkan duduk!, “ Riopun duduk.
“Guru ekstrakulikuler telah penuh, Pak. Kita tidak membutuhkan itu.”
“Apakah ada bidang lain yang bisa saya lakukan?”
“Ada. Dokumentasi dan juga programmer.”
“Dokumentasi? Bisakah saya mencoba?”
“Boleh. Silahkan! Kalau memang anda berminat, silahkan pergi ke TU dan memenuhi persyaratan yang ada.”
“Saya akan usahakan itu pak.“
“Baiklah, boleh saya lihat berkasnya?”
“Silahkan pak,” kata Arka sambil menyodorkan map merah kepada kepala sekolah
“Baiklah, sebentar lagi anak-anak pulang sekolah dan akan ada acara Expo kampus. Jadi, anda bisa melakukan itu sebagai langkah awal kerja anda. Anda tidak menolak kan apabila saya meminta anda untuk bekerja hari ini juga?”
“Baik, Pak. Dengan senang hati.”
Tidak pak, sekalian saya ingin melihat-melihat area sekitar sekolah, hanya sekedar ingin mengenal saja.”
“Oh, perlu saya antar?”
“Tidak Pak, sekalian saya ingin melihat-melihat area sekitar sekolah, hanya sekedar ingin mengenal saja.”
Berjam-jam Arka berjalan menelurusi sudut bangunan sekolah. Mulai dari ruang kepala sekolah, ruang TU, kamar mandi, taman sekolah, kelas-kelas, gedung a ula, hingga kantin.Yah, di sanalah langkah kakinya terhenti saat telinganya mendengar percakapan 2 murid sekolah ini. Agar tidak ketahuan ia bersembunyi di antara gerumbulan tanamah buah naga yang dikembangbiakkan di sekolah tersebut.
“Felly, lo kenapa sih ngelakuin hal kayak gini, Fel? Apakah lo gak malu kalau satu sekolah bakalan tahu apa yang udah terjadi sama lo?”
“Mau gimana lagi Ris, orang di rumah gue masih ada perut yang harus di isi. Lo kan tahu sendiri gimana perekonomian keluarga gue.“
“Tapi, setidaknya lo gak ngunggah foto bugil kayak gitu Felly!“
Seketika hati Arka terhentak mendengar ucapan kedua wanita tersebut. Akan tetapi, terselip hati senang setelah mengetahui orang yang dicarinya. Arka merasa, bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya karena telah di terima di sekolah swasta ini dengan mudah, ia telah mendengar dan mengetahui waajah wanaita tersebut. Sehingga, tugasnya sekarang adalah mendekati wanita tersebut dan mengetahui alamat rumah serta informasi yang lebih detail mengenai wanita tersebut.
Sambil memikirkan taktik untuk mendekati sekaligus mencuri kesempatan di sela kedekatannya nanti, Arka menyeruput kopi panas yang telah dipesan olehnya di Kantin sekolah tempat kedua wanita tersebut berbincang-bincang. Tentunya, kedatangan Arka di lokasi tersebut setelah kedua wanita itu pergi.
Tinggal beberapa jam lagi pulang sekolah telah tiba. Rio menunggu di kantin sambil bermain gadget untuk sekedar mengecek sosial media miliknya. Tak lama kemudian, ia mendapat telfon dari pak Rizal pemimpim redaksinya. Banyak pertanyaan yang di ajukan oleh pak Rizal dalam hal penyidikan kasus ini. Akan tetapi, Arka hanya bisa menjawab kalau dia telah mengetahui siapa orang yang ditujunya.
Di tengah perbincangannya bersama dengan Pak Rizal, ia dikagetkan oleh bunyi bel pulang yang begitu nyaring. Terasa geli di telinga. Namun, setelah itu ia melanjutkan perbincangannya tadi. Tak lama dari itu, ia merasa bahwa ada oda orang yang memanggilnya.
“Apakah benar anda dokumentasi sekolah ini?”
“Iya? Kenapa, ya?,” jawabnya setelah ia mematikan telponnya.
“Syukurlah. Hari ini, ada jadwal ekstrakulikuler jurnalistik. Kebetulan, pelatihnya tidak dapat menghadiri karena sakit. Dan, tidak ada yang menggantikannya. Sedangkan, sebentar lagi ada pengawasan dinas. Kami semua harus menstabilkan kondisi semua eskul yang terlaksana hari ini. Sesuai dengan data yang kami kirim sebelumnya. Oleh karena itu, saya harap Bapak mau membantu dalam menstabilkan suasananya. Ok?”
“Tapi, apa yang harus saya ajarkan?”
“Sesuai dengan bidang anda. Fotografi. Setidaknya, masih bersangkutan dengan topik yang dibahas.”
“Baiklah,” ucap Arka pasrah saat guru wanita itu terus mendesaknya dengan paksaan.
Sesampainya di kelas ia telah ditunggu oleh murid-muridnya. Sebagai awal pertemuan ia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu tanpa nama samaran. Matanya meyapu seluruh sudut ruangan seiring murid menyebutkan namanya. Akan tetapi, seketika hatinya terkagetkan sekaligus senang saat ia medengar dan melihat gadis itu lagi. Target informasinya.
Dengan lokasi bangku kedua dari belakang. Memori pikirannya telah membuyarkan konsentrasi untuk mendengarkan seluruh muridnya, melainkan ia mulai berpikir kembali tentang wanita tersebut.
Hari pertama kerja telah ia isi dengan materi lanjutan sesuai dengan petunjuk dan permintaan murid-muridnya. Dua jam telah ia gunakan untuk menjelaskan maksud dari meteri dan juga memberikan latihan ringan kepada murid-muridnya. Ia mengakhiri pembelajaran dengan tugas untuk mengimajinasikan contoh tugas yang telah ia terangkan sebelumnya.
Terdengar suara Felly dan temannya dari dalam kelas. Seketika hatinya luluh setelah mendengar Felly tidak dapat pulang bersama dengan Riska karena Riska harus di jemput ayahnya dan langsung menuju ke Surabaya. Dengan hati yang ikhlas dan tulus Arka mengantarnya pulang. Tapi, Arka berkata kalau ia tidak langsung pulang melainkan harus ke tempat kerjanya dulu.
Selama perjalanan mereka hanya berkata seperlunya saja mengenai tempat yang di tuju Arka. Tempat kecil, tersembunyi, banyak botol minuman keras berserakan, kupu-kupu malam berterbangan walau hari masih siang, kata-kata jorok terdengar di mana-mana
“Kamu kerja di sini?”
“Iya Pak, saya harap Bapak mau menjaga rahasia ini, Pak. Karena, dengan pekerjaan inilah saya bisa mendapatkan uang untuk pengobatan ibu saya dan juga biaya sekolah adik saya, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi Pak untuk mengatasi semua ini,” katanya mengungkapkan isi hatinya
“Sayang, bagus kerjanya kemarin. Foto kamu di Facebook telah membuat aku gembira. Temani aku sekarang sampai malam tiba nanti, “ teriak laki-laki mabuk dari dalam.
“Kamu...,” kata Felly terputus karena di dahului oleh Felly.
“Iya Pak, saya memang wanita kotor. Bapak silahkan beri hukuman saya apa? Tapi, saya hanya berpesan, tolong jaga rahasia ini. Cukup saya, Riska, dan Pak Arka yang tahu. Sekarang Bapak boleh pulang. Saya harus bekerja, Pak. Permisi dan terimakasih ,“ kata Felly meninggalkan Arka di luar.
Setiap malam Arka memikirkan nasib Felly yang malang, terbesit kasihan dan juga sayang di dalam hatinya. Niat untuk tidak menerbitkan berita ini terngiang di dalam pikirannya. Semua aktivitasnya terganggu dengan pikiran Felly yang malang itu. Akan tetapi, ia harus menepati janjinya untuk menerbitkan berita ini agar ia dapat naik pangkat di dalam tim redaksinya.
Dalam 1 minggu ia bekerja hanya 3 hari. Sesuai dengan perosedur sekolah. Akan tetapi, Arka setiap hari pergi ke sekolah tersebut untuk menjemput Felly. Semuanya tulus, tapi sekaligus untuk memenuhi kewajibannya. Rasa yang sama setelah meninggalkan Nanda mantan pacarnya telah tumbuh saat menatap mata Felly di kala mereka berdua bertemu.
Sempat ia betarung dengan hatinya sendiri untuk menyelesaikan semua ini.
“Jika aku mencintai Felly, haruskah aku membuatnya semakin sengsara dengan rasa malu karena berita ini akan aku angkat di media sosial atas nama diriku? Lantas, aku juga harus mempertahankan pekerjaan ini dan memenui janjiku kepada Airlangga tentang berita ini? Apakah aku harus melarikan diri untuk menghindari tanggung jawabku kepada Airlangga dan juga, Felly? Tidak! aku bukan laki-laki pengecut, aku harus teguh dengan pendirian dan juga prinsip hidupku! Harus!”
Dengan usaha keras, Arka mencari pekerjaan untuk Felly. Ia rela harus bekeliling ke plosok kota untuk menanyakan lowongan pekerjaan paruh waktu. Ia tak tahu mengapa ia haus melakukan ini hanya untuk orang yang disayang. Bukan dicinta. Namun, semua itu pudar dalam bayangan hatinya saat ia melihat papan lowongan tertempel di depan pintu. Yaitu, menjaga toko baju di jajaran kompleks plaza yang ada di tengah-tengah kota.
Sejenak, Arka terus berfikir tentang tindakannya meskipun ia telah mendapatkan apa yang ia cari. Banyak pertanyaan yang terngiang di dalam pikiran dan juga hatinya. Mulai dari, apakah tindakan ini benar? Apakah semua ini benar? Kenapa hatinya terasa begitu sakit saat menganggap bahwa semua ini impas.
Setelah waktunya habis, Rio telah menerbitkan berita tersebut dengan alasan, pelaku melakukan hal tersebut di karenakan ia membutuhkan uang untuk pengobaatan ibunya dan biaya sekolah adiknya. Dengan adanya kasus ini, sudah terbukti perekonomian negara masih tergolong rendah, masih banyak rakyat miskin yang berserakan sehingga harus membuat siswa yang memiliki hak untuk belajar harus bekerja sebagai kupu-kupu malam demi memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan bantuan tepat pada sasaran sehingga siswa tidak harus menjadi korban.
Seketika, Felly memberontak dengan berulangkali mendatangi apartement Arka. Kemarahan terus memuncak setelah mengetahui beredarnya surat kabar tentang dirinya. Tapi, dengan penuh rasa tanggung jawab Arka menenangkannya. Bukan hanya Felly, malainkan hatinya yang masih terus bertanya antara keyakinan dan keraguan atas rasa yang ada di dalam diri Felly.
Bagaikan orang gila, Arka tidak menyadari bahwa dirinya telah menghilang dari dunia juranalistik. Bahkan, Pak Rizal terus mencarinya setelah mendengar bahwa Arka telah ditelan bumi. Tak ada kabar dan menghilang tiba-tiba.
Namun, semua itu ia lakukan hingga ia merasakan suatu keyakinan yang telah menggertakkan jiwa dan raganya. Melangkahkan kakinya, dan hatinya dengan meminang Felly sebagai pasangan hidupnya walaupun ia masih dalam posisi pelajar. Pernikahannya akan berlangsung setelah Felly menyelesaikan ujian nasionalnya. Memang itu terasa berat bagi Felly jika dianggap sebagai penghinaan.
Akan tetapi, ia tidak sama dengan Arka yang membutuhkan waktu cukup lama dala memahami isi hatinya. Bagi Felly, keyakinan adalah rasa yang cukup untuk menerangkan segalanya. Jauh di dalam hatinya, Felly mencintai Rio walaupun kedekatan mereka hanya satu minggu. Dengan begitu, cinta tersebut mengalahkan sakitnya hati dengan menerima pernikahannya untuk memperbaiki hidupnya.
Sama seperti yang sebelumnya, keyakinan cukup untuk menerangkan semuanya. Yah.. benar memang. Namun, satu skandal dalam hatinya yang melebihi keyakinan. Yaitu, cinta. Saat keyakinan masih terdapat titik ragu, maka hati penuh cinta yang akan mengatasinya. Karena, sebesar apapun masalahnya, tidak akan ada alsan untuk cinta menyerah. Karena, memang cinta adalah kodrat dimana ia mendapatkan nama sebagai anugerah. Lebih tepatnya, karunia dari-Nya. Yang Maha Kuasa Dengan Segala Kebesaran-Nya.
Comments
Post a Comment