Skip to main content

Percaya_P.N.Z

Percaya

            Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.
            Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.
            Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu menyebalkan untuknya. Misinya untuk mengetahui siapa Brian, gagal total. Entah kenapa Brian bisa tahu kalau ia tengah diselidiki oleh Sastra. Padahal, Sastra tidak menunjukkan bahwa dirinya tengah melakukan itu. Di waktu itupun, Sastra tidak membalas chatting dari Brian karena takut salah bicara dan menggagalkan rencananya.
            Namun, tidak bicarapun sudah menggagalkan rencananya. Sial. Sastra berdecak kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi. Lembaran kontrak kerja yang ada di depannya seketika berhampuran saat ia melihat seseorang ada di depannya. Matanya menatap tajam. Sosok tinggi besar di tengah gelapnya ruangan menjadi titik takt tersendiri untuk Sastra.
            Tubuhnya gemetar. Badannya mengejang. Ia ketakutan hingga Sastra mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau di nama Brian. Entah kenapa, di saat seperti itu hanya Brian yang ada otaknya. Yah.. laki-laki yang menyebalkan itu. Tapi, laki-laki itu berhasil membuatnya jatuh.
“Briaaaaaaaannnnnnn!!!!,” teriaknya dengan beranjak dari tempat duduknya saat ia menyadari satu hal. Dering ponsel saat ia melakukan panggilan ke nomor telfon Brian.
“Aw! Aw! Sastra, maaf! Aw! Sastra! Aw!,” desah Brian kesakitan saat Sastra terus menghujani dirinya dengan gebukan map yang mengelilingi tubuhnya.
            Di dalam kegelapan, mereka ada di posisi itu. Hingga pukulan itu, berhenti saat lampu telah menyala terang. Menunjukkan wajah masing-masing dari mereka.
“Ngapain kamu di sini, hah?!,” tanya Sastra garang.
“Kangen sama kamu,” ucap Brian sekenanya dengan tetap memegang lengannya yang terasa panas.
“Brian!,” ucapnya sekali lagi dengan satu pukulan di lengannya.
“Aw! Emang kangen, Sastra Binara.”
“Tahu ah!,” ucap Sastra merajuk karena merasa sia-sia memarahi Brian.
            Brian mendekati langkah Sastra yang menjauh darinya. Ia ikut duduk di sofa depan Sastra. Menatap waah cemberut Sastra adalah hal yang mengundang tawanya. Dan, hal itulah yang membuat Sastra merasa sebal.
“Ternyata, kamu penakut juga ya?,” tanya Brian konyol dengan decah tawanya.
            Hal itu mengundang pelototan tajam dari Sastra.  Namun, bagaimanapun juga mata Sastra tidak akan membuat Brian beringsut dan terdiam takut. Tapi, jstru membuat gemas terhadap dirinya. Bagimana tidak? Matanya yang bulat dengan warna mata yang hitam pekat. Bibirnya yang mungil. Pipinya yang cubby, seakan memperlihatkan dirinya seperti seekor kelinci lucu saat Sastra marah.
“Brian...,” panggil Sastra menyerah saat ia tak dapat membat Brian berhenti tertawa karena melihat ekspresinya.
“Kamu lucu kalau begini. Dan aku kangen saat-saat seperti ini,” ucap Brian di sela tawanya dengan mencubit pipi cubby Sastra.
            Sastra berusaha menghindar. Tapi tatapan mata laki-laki itu telah berhasil membuatnya terpaku dan tetap ada di posisi yang sama. Sebuah tatapan yang begitu lembut. Sebuah tatapan yang begitu dalam. Yah.. tatapan yang memaksa Sastra untuk membukakan pintu hatinya agar Brian dapat berjalan memasukinya. Menjelajahinya, dan menemukan titik dimana ia dapat merengkuh gadis yang ada di depannya dalam dekapan yang tak selamanya akan ada di sana. Karena waktu, menuntunya untuk siap dalam sebuah kematian.
“Kamu tadi lewat mana?,” tanya Sastra berusaha untuk mencairkan suasana.
“Jendela,” jawan Brian siangkat dengan tetap menatap mata Sastra tanpa ada perubahan sedikitpun.
“Ekhem, jendela mana? Kok bisa?,” tanya Sastra tetap dalam usahanya.
“Pakek helikopter,” ucap Brian.
“Brian,” panggil Sastra merajuk.
“Kenapa kamu melakukan itu hmmm? Nggak mempan Sastra,” ucap Brian lembut tetap dalam nadanya yang lembut. Tanpa ada kemarahan sedikitpun.
“Salahkah aku yang ingin tahu kehidupan kekasihku?,” tanya Sastra mulai serius.
“Haruskah dengan menyelidiki aku?,” tanya Brian.
“Karena sekalipun aku bertanya, kamu nggak akan pernah menjawab. Jadi, untuk apa bertanya jika aku bisa bertindak?,” jawab Sastra dalam tanyanya.
“Tapi itu menyakiti aku,” jawab Brian dengan posisi yang sama. Menatap kedua manik mata kelinci itu.
            Sastra terdiam. Bibirnya terbungkam. Ia tak menyangka kalau Brian akan berbicara seperti itu. Sastra dapat merasakan, betapa sakitnya ia. Suaranya yang serak dan tercekat terdengar begitu sendu. Dan hal itu membuat Sastra tak mampu untuk menatap sepasang mata Brian. Mata laki-laki yang tengah tersakiti karena ulahnya.
            Memang, tak seharusnya Sastra melakukan hal itu. Dan di sana, ia tahu. Bahwa laki-laki di depannya saat itu bukan memandang dirinya karena karirnya yang melejit di usianya yang muda. Melainkan, ia hanya membutuhkan kepercayaan di atas hubungan mereka. Yah... kepercayaan yang telah Sastra sirnakan dengan tangannya sendiri.
“Maafkan aku, mungkin aku...”
“Ssssstttt!,” ucap Brian memutus ucapan Sastra yang berusaha menjelaskan semuanya. Jari kekar, sapah, dan juga khas laki-laki berada tepat di depan bibirnya.
            Sastra berusaha memberontak dan tetap ingin menjelaskan maksudnya. Tapi tatapan mata Brian yang menuntut agar Sastra mau terdiam sejenak dan tenang di bawah kendalinya. Sastrapun menerima semua itu dengan menunjukkan sikap tenangnya.
“Apakah aku tidak meyakinkan untuk mencintaimu? Atau aku begitu meragukan bahwa aku pantas untuk memberikan dirimu kepercayaan terhadapku?”
            Sastra menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi saat melihat mata itu begitu tersiksa dengan tingkah Sastra.
“Aku mencintaimu, Sastra. Sangat mencintaimu,” ucapnya penh penekanan dengan senyuman getir di sudut bibirnya.
            Sastra tak dapat lagi menahan semuanya. Ia menepis tangan Brian yang terus memegang kedua pipinya dengan lembut. Beranjak dari tempat duduknya yang berhasil membuat dirinya begitu dekat dengan Brian hingga terlihat tanpa ada celah. Ia menjauh dari sofa. Menatap langit malam menembus jendela kaca apartementnya.
“Aku nggak bisa kayak gini terus. Nggak mungkin aku menjalin hubungan spesial dengan orang yang nggak jelas asal usulnya. Kerjanya apa, asal keluarganya darimana, dan hanya datang saat kamu mau dan pergi saat kamu mau. Kamu pikir aku dermaga? Tempat sandar perginya kapal?!,” ucap Sastra memberontak dengan suaranya yang mulai tercekat.
“Aku nggak pernah mau pergi, Sastra. Bahkan kalau bisa, aku ingin selalu ada di samping kamu! Tapi waktu menugaskan aku untuk pergi dan tidak memungkinkan aku untuk pergi.”
“Tapi kenapa kamu tetep pergi, Brian. Pekerjaan? Saat aku nanya pekerjaan, kamu nggak pernah mau kan jawab pertanyaan aku.”
“Karena aku belum siap untuk menjelaskan semuanya, Sastra,” ucap Brian lembut dan tercekat.
“Kenapa Brian, kenapa?! Apakah aku nggak pantas mendegarkan semua itu? Apakah...”
“Aku akan bicara sama kamu mengenai siapa diriku.”
            Sastra terdiam. Ia meresapi deik-detik itu.
“Kasih aku waktu sampai aku kembali. Aku janji, akan jelaskan semuanya ke kamu. Aku hanya ingin kepercayaan dari kamu. Nggak lebih Sastra. Karena dengan itu, aku udah cukup bahagia dengan hubungan kita. Waktuku nggak banyak, Sas. Aku harus pergi. Dua hari lagi, aku akan datang dan menemui kamu,” ucap Brian tergopoh dengan nada suaranya yang lembut.
“Kamu mau pergi lagi?!,” tanya Sastra.
           
Brian mengangguk. Kemudian, ia mengecup kening Sastra dengan sayang. Dan Sastra menghayati semua itu. Kelembutan Brian, kasih sayang Brian, sikap Brian, dan kepercayaan Brian serta prinsip Brian terhadap dirinya, berhasil membuatnya bertahan. Yah... mempertahankan cintanya dengan laki-laki misterius semacam dirinya.
“Aku pergi dulu, sayang!,” ucapnya lembut dengan tatapan mendalam.
“Hmmmm, hati-hati. Okay?,” ucap Sastra tak kalah lembut.
Brian kembali mengacup keningnya. Sastra terasa begitu berat melepaskan lengan laki-laki itu. Hatinya, sudah terlalu dalam jatuh di dalam pelukan Brian. Tapi apa daya untuk Sastra yang seperti itu. Ia hanya bisa berjanji, kalau ia akan berada di posisi yang sama. Menunggu Brian dalam diam dengan memberinya sebuah pemintaan. Yaitu, kepercayaan.
“Jaga diri baik-baik!,” seru Brian dengan memasuki mobilnya.
Sastra mengangguk seraya melambaikan tangannya mengantar kepergian Brian.
“Aku janji, aku akan memberikan kepercayaan itu untuk kamu, Brian!,” gumam Sastra dalam hati seraya menatap mobil Brian yang semakin menjauh darinya.

Sastra kembali masuk ke dalam apartemen. Ia memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tidak seperti biasnya saat ia kembali mengotak-atik berkas pekerjaan. Untuk kali ini,  tidak. Ia berharap, di dalam tidurnya Brian datang dengan jati dirinya. 

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...