Skip to main content

Apa Adanya_P.N.Z

Apa Adanya
Pratiwi Nur Zamzani
            Malam yang dingin tak pernah Sastra rasakan bahwa itu adalah suasana yang melelahkan. Baginya, semua waktu adalah suasana yang harus ia jalani. Menuliskan seribu kisah dan menjadi sorotan utama saat dirinya tampil cantik sebagai seorang sutradara.
Yah.. sutradara yang menjalankan naskahnya sendiri.  Sastra Binara. Nama yang sesuai dengan profesinya. Padahal, ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi wanita karir sesuai dengan bayangannya. Hanya satu yang ia bayangkan selama ini. Yaitu, bisa bersanding dengan pasangan yang sesuai dengan tipenya.
“Masuk!,” seru Sastra santai dengan tetap memijab dagunya pelan.
“Permisi, Anda memanggil saya?,” tanya laki-laki itu.
“Hmmm. Saya memanggil kamu!,” ucap Sastra dengan beranjak dari tempat duduknya dan tetap membawa kalender yang telah ia tatap beberapa jam yang lalu.
“Silahkan duduk!,” ucap Sastra mempersilahkan laki-laki itu duduk.
“Terimakasih. Kalau boleh tahu, ada yang bisa saya bantu?,” tanya laki-laki itu.
“Tanggal ini, saya mengaskan kamu untuk melakukan suatu hal. Kamu bisa kan, membobol pin hanya dengan mengetahui nomor ponselnya?”
“Bisa. Tapi....”
“Santai aja. Ini bukan untuk kepentingan perusahaan, atau membahayakan negara. Untuk kepentingan saya sendiri,” ucap Sastra dengan tatapan matanya yang menunjukkan bahwa hal itu berurusan dengan masa depannya. Yah.. masa depan yang sudah di tunggu oleh kedua orang tuanya.
“Baik. Saya akan bantu Anda. Tapi, untuk tugas saya gimana? Kala nggak salah, saya ada pekerjaan keluar kota.”
“Saya akan gantikan jadwal kamu dengan meet and great dengan fans.Kamu bisa mengambil jadwal itu. Karena memang, saya sengaja mengambil jadwal itu.Semuanya sudah di atur.posisi kamu dalam hal ini aman. Saya minta informasinya secepatnya.”
Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia pergi meninggalkan ruangan Sastra setelah Sastra mengizinkan dirinya untuk pergi meninggalkan ruangan kehormatan itu. Mungkin, untuk orang awam, bertemu dengan Sastra Binara dan bertatap langsung atau bahkan berbicara secara langsung, merupakan hal yang benar-benar diluar kenyataan. Dan bagi siapapun yang mendapatkan tugas dari Sastra, adalah suatu kehormatan baginya.
Sastra menatap kalender yang ia pegang. Menimang beberapa hal ke depan kalau ia melakukan hal ini. Seluruh bayangan terlintas di dalam pikirannya. Bayangan itu, berjalan seperti alr tulisan yang biasa ia buat. Dan, seperti prediksi pasar yang ia targetkan untuk penjualan produk film yang ia luncurkan.
Namun, hal ini akan memberikan satu hal yang akan membuat Sastra kehilangan dirinya. Yah.. dirinya yang telah ia berikan kepada seseorang setelah ia menjatuhkan hatinya untuk orang itu. Dan, setelah sekian lama ia kembali dari rasa kedustaan yang terus menyelimuti hatinya. Sampai ia menjalani masa, dimana waktu terus memotong dirinya yang berusaha berdiri, dan kembali untuk percaya bahwa cinta itu suci.
Tapi, apalah daya bagi dirinya saat ia sudah tak mampu untuk berdiri di tengah kakinya yang telah tersayat oleh pedang waktu. Sampai akhirnya, tibalah ia.  Yah.. laki-laki itu. Sebuah perumpamaan yang terus menggantung dalam pikirannya. Saat Ssatra tak mampu untuk berdiri, ia berusaha untuk mengerakkan kakinya seperti suster ngesot. Sampai tibalah seseorang, yang menunggu dirinya di ujung jalan. Berjongkok, dan  memberikan uluran tangannya.
Ia tahu, bahwa Sastra tak mampu untuk berdiri. Maka dari itu, laki-laki itu mambawa Sastra dalam gendongannya. Memberikan ia dekapan hangat di tengah hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Sampai Sastra tak mamp mengedipkan matanya dan tak sadar bahwa ia telah menjatuhkan hatinya kepada laki-laki itu. Sebuah titik imaji yang sederhana. Namun, begitu menggugah hingga tak mampu untuk tergugah kembali.
“Sial, sial, sial, siaaalll!!!,” decah Sastra dengan teriakan kesalnya. Suaranya memenuhi sudut ruangan hingga terdengar begitu menganggu.
“Lo siapa?!,” tanya Sastra saat ia melihat sosok tengah berada di sofa ruang tamu apartmentnnya.
“Seharusnya gue yang nanya lo siapa?! Bikin berisik aja sih?!,” ucapnya seraya menyalakan lampu ruangan yang tengah mati karena kebiasaan Sastra yang selalu pulang larut malam.
“Diandra!!! Auuugh! Gila! Lo bikin kaget aja sih?! Gue kira kuntilanak tahu!!!!,” ucap Sastra tinggi.
“Tch! Cantik-cantik gini kuntilanak. Dasar bego! Lagian, lo kenapa sih pulang-pulang teriak kayak orang kesurupan?!,” tanya Sastra.
“Tahu lah! Lupakan. Lo ngapain ke sini malem-malem? Habis putus sama Fikri?,” tanya Sastra sewot.
“Ihhhh, sahabat dateng bukannya seneng malah doa yang enggak-enggak. Jangan-jangan kencan lo gagal lagi ya sama cowok itu? Siapa namanya? Brandy? Ah, bukan. Ian?  Aduh tahu lah! Nama susah amat.”
“Brian,” jawab Sastra singkat. Namun, lembut.
“Yalah itu. Eh tapi, lo beneran sama dia gagal kencan?,” tanya Diandra polos.
“Gimana bisa kencan orang statusnya dia gak jelas. Kerja apa? Asalnya dari mana? Lahir di keluarga apa?! Dia tuh tertutup banget sama gue! Dan lo tahu, pegawai gue udah gue suruh buat selidikin dia. Tapi hasilnya apa?! Bukannya dapet informasi, yang ada gue ketahuan lagi selidikin dia.”
“Oh ya? Pinter juga itu cowok.”
“Lo kok malah belain dia sih? Udah ah, tahu gue! Ada apa lo ke sini?!,” tanya Sastra sebal.
“Nih!,” ucap Diandra seraya memberika map merah yang sudah ada di atas meja.
“Kerjaan lagi? Huuuffft.  Lumayan lah, buat lari dari itu cowok nyebelin.”
Dindra menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak tahan melihat tingkah sahabatnya yang sampai sekarang, masih belum menemukan cintanya. Sedangkan dirinya, sudah siap dengan undangan pernikahan. Padahal, umur mereka lebih tua Sastra beberapa bulan. Mungkin, masalah  pekerjaan, Diandra kalah dengan Sastra. Tapi untuk urusan cinta, Diandra dapat menjamin, ia bisa mengalahkan Sastra Binara.

“Sas kalau lo kayak begini terus, lo akan kesulitan untuk menemukan cinta sejati lo.”
“Maksudnya?,” tanya Sastra heran saat Diandra membuka pembicaraan yang serius di tengah pikirannya yang fokus dengan pekerjaan.
“Cinta itu nggak bisa pasti dengan apa yang kita inginkan. Mungkin dia emang nggak mau emmbuka dirinya karena tahu siapa lo. Sastra yang nggak mau punya cowok yang memiliki satu titik kekurangan dari deretan tipe yang lo harapkan. Lo tahu, tipe yang lo harapkan itu adalah tipe sempurna. Dan seharusnya lo sadar, kalau di dunia ini nggak ada yang sempurna, Sas.”
“Ini sejak kapan mereka mau ambil kontrak sama kita?,” tanya Sastra.
“Nggak usah mengalihkan pembicaraan kita, Sas. Lo nggak seharusnya lari dari dia. Kasih dia kesempatan untuk menyiapkan dirinya, membuka hatinya, dan juga membuka siapa dirinya. Lo terlal gegabah dengan tindakan lo. Okay lah, kalau lo cekatan dalam ambil tindakan. Tapi cinta bukan hal yang sama kayak bisnis, Saa. Bisnis akan selalu membutuhkan otak cerdas lo. Tapi cinta, dia nggak butuh semua itu. ia hanya butuh hati yang siap menanti, siap memahami, siap mengerti, dan juga siap untuk menerima apa adaya. Bukan salah Brian kalau Brian kayak gini ke lo. Gue yakin, Brian adalah cowok yang ingin cewek menerima apa adanya. Bukan menyamakan derajat yang sama.”
“Apa maksud lo gue harus menunggu?! Sedangkan dia terus ada di dalam lingkup yang sama dan membiarkan menunggu?! Cinta tetep egois, Ndra.”
“Yang egois hati lo. Karena hati lo masih belum bisa mengerti. Jangan mengerti, sekedar tahu dasarnya aja lo nggak bisa. Lo terlalu keras untuk menghadapi cinta yang terlalu lembut. Dan satu lagi, masa lalu pahit yang pernah ada di dalam kehidupan lo waktu itu, masih terpaku rapat di dalam hati lo. Dan lo, masih belum menyadari kalau paku itu masih memiliki bekas atau bahkan masih tertancap rapat di dalam hati lo. Dan tertutupi oleh paku-paku yang lain sampai lo nggak tahu paku itu tertancap di mana. Gue hanya mau pesen, diri lo yang apa adanya bisa mendatangkan cinta sejati buat lo. Karena emang dasarnya cinta itu buta. Makanya cinta mau apa adanya. Bukan ada apanya.Okelah kita punya tipe. Tapi, tetep sadar dengan posisi aturan dunia,” jelas Diandra panjang lebar.

Sastra terdiam. Ia menatap kosong ke arah lembaran kertas yang ada di atas tangannya. Diandra beranjak dari tempat duduknya. Menepuk pundak Sastra dan berharap Sastra akan menyadari akan semua kesalahannya dalam pandangan cinta.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...