Skip to main content

Will be Socked_P.N.Z

Will be Socked

            Pesta tergelar begitu megah. Alunan lagu yang beet mengawali suasana yang mengkhususkan untuk para pendatang tamu yang berhubungan dengan kedua mempelai. Semua pengunjung menikmati jamuan yang ada. Termasuk gadis itu. Rambutnya yang terurai panjang dengan gulungan di bawah dan warna hitam pekat. Mengkilau saat rambutnya bertemu dengan cahaya lampu gedung pernikahan itu.
            Setelah jas pink berpadu dengan perangkat putih di tubuhnya, dan make-up yang natural, memperlihatkan betapa naturalnya ia. Matanya yang bulat seperti kelinci dengan warna bola mata yang hitam pekat seperti menggunakan berdouble lensa untuk menambah pekatnya warna itu. Namun, tidak saat ia kembali di definisi awal. Natural. Selain make-up dan matanya yang natural tanpa lensa, menunjukkan betapa tegasnya ia.
            Pantas saat saja di usianya yang seperti itu, ia telah menginjakkan kakinya di atas bangku deretan pemimpin perusahaan. Prestasinyapun melejit begitu cepat seraya umurnya yang bertambah. Saat semuanya teraa begitu sempurna karena dapat bergandengan dengan pasangan masing-masing, gadis itu berjalan dengan pandangan lurus dan anggunnya. Wajahnya yang imut, tidak menunjukkan bahwa ia pantas masuk ke dalam tempat itu. Gedung pernikahan.
            Umurnya yang sudah menginjak 25 tahun, sudah mengharuskan ia menjalani hubungan yang serius. Namun, baginya keseriusan yang ada di dalam hubungannya masih sangatlah meragukan untuk masuk ke jenjang pernikahan. Sastra Binara. Itulah namanya. Sastra. Sesuai dengan pekerjaannya sebagai seorang kepala redaksi di sebuah perusahaan percetakan.
“Hai, apa kabar?!,” tanya temanya dengan senyuman lebarnya.
“Baik,” ucap Sastra tak kalah dengan senyuman manis imutnya. Lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya menunjukkan betapa cantiknya ia.
“Masih single aja sih, Sas. Nggak pengen nyusul kita-kita?”
“Oh my god! Yang bener aja,” ucap Sastra dengan matanya yang melebar saat ia mengerti ucapan temannya. Sastrapun membungkukkan tubuhnya. Meletakkan telapak tangannya di perut temannya. Menyapa sang jabang bayi di dalamnya.
“Lo udah ke sana belom?,” tanya temannya saat Sastra asik bermain dengan calon bayi temannya.
“Belom. Ini gue mau ke sana. Waaah, bentar lagi gue sambang bayi nih! Kabarin ya, kalau anak lo udah lahir,” ucap Sastra dengan senyuman renyahnya.
“Beres deh,” ucap temannya dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Lo cepet-cepet nyusul dong, Sas. Jangan suka ngasih. Sekarang giliran kita yang seharusnya ngasih lo!,” ucap teman yang lainnya.
            Sastra hanya tersenyum dengan diamnya. Menganggukkan kepalanya dan mengucapkan kata-kata umum hingga ia dapat menghindar dari hiruk pikuk teman-temannya yang terus menyuruhnya menikah layaknya kedua orang tuanya yang terus menyinggung masalah pernikahan dan cucu.
            Beberapa obrolan ringan telah berlalu. Sampai akhirnya, Sastra merasa terkejut saat ia merasakan sebuah lengan yang mengamit pinggangnya dengan posessif. Sastra mendongkakkan kepalanya. Ia hendak melepaskan dirinya. Namun, saat melihat senyuman nakal dari laki-laki itu, Sastra justru tersenyum dengan decah konyolnya atas tingkah laki-laki di sampingnya.
            Perkataan manja berulang kali terlontar dari mulut mungilnya hingga membuat teman-teman Sastra tersenyum iri. Bahkan dari salah satu mereka mengaku bahwa suami mereka tidak seromantis laki-laki yang tengan memeluk pinggangnya dengan posessif. Brian Vasine Pramana.
“Kamu kapan dateng?,” tanya Sastra membuka percakapan.
“Barusan,” ucap Brian dengan senyuman polosnya.
“Brian, aku serius.”
“Hahaha, okay, okay. Dua hari yang lalu.”
“Kok nggak ke kantor?,” tanya Sastra dengan mengerutkan dahinya.
“Nungguin, ya?!,” tanya Brian dengan nadanya yang menggoda.
“Ish! Tahu ah!,” ucap Sastra merajuk manja dengan meninggalkan laki-laki itu dan berjalan ke arah tempat duduk pengantin untuk memberikan kado yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.
            Sedikit berbincang, sang pengantin meminta foto kepada Sastra sebagai kenangan-kenangan. Di kejauhan, terlihat Brian yang hanya menyaksikan Sastra foto dengan wajah cemberutnya karena moodnya yang telah dirusak olehnya. Sambil menunggu Sastra kembali. Brian memutuskan untuk mengambil minuman.
            Dari kejauhan, Brian memperhatikan gadisnya yang terlihat begitu  cantik.   Berkilau seperti mutiara dan begitu indah seperti berlian. Brian tak henti-hentinya menatap Sastra yang berjalan kembali ke arahnya. Sampai akhirnya, Brian melangkahkan kakinya dengan cepat Saat ada seseorang menabrak Sastra dan menumpahkan minuman serta makanannya ke dalam baju Sastra.
            Minuman itu mengenai wajahnya yang cantik. Namun, tidak melunturkan kecantikannya. Segera, Sastra berjongkok ke bawah. Ia menggendong anak laki-laki kecil yang tidak sengaja tertendang kakinya. Mata kelincinya yang hitam pekat membulat sempurna dengan seluruh kekhawatirannya. Jemari lentiknya berulang kali mengecek seluruh tubuh anak kecil itu. Bahkan, Sastra juga memeluk anak kecil itu meski ia tidak menangis.
            Karena terlalu fokus dengan anak itu, Sastra menghirauka permintaan maaf yang terus terucap dari mulut ketus itu. Bukannya marah, Sastra justru meninggalkan tempat kejadian dan menggendong anak kecil itu. Dalam gendongannya, ia bertanya kepada anak kecil itu, dimanakah kedua orang tuanya.
“Itu anakku! Mau lo bawa kemana, hah?!,” tanya seseorang saat Sastra hendak meninggalkan tempat kejadian.
            Sastra membalikkan tubuhnya yang seksi.
“Apa lo udah gila ninggalin anak lo sendiri dan ilang. Lo niat nggak sih punya anak?!,” tanya Sastra dengan nada ketusnya.
“Lo tahu apa tentang anak? Nikah aja belom. Jangan nikah. Lo cowok aja nggak punya, Sas!,” ucap orang itu dengan senyuman meremehkan.
“Saya pacarnya,” ucap Brian menyela saat ucapan ketus itu terlontar di hadapan gadis cantiknya.
            Wanita itu, menatap Brian mulai dari ujung kaki hingga ke atas. Tidak ada yang spesial. Hanya bibirnya yang indah yang mewakili seluruhnya. Bahkan penampilannyapun, tidak menarik. Mungkin, dapat dikatakan bahwa tidak ada harganya dibandingkan dengan suaminya yang seorang pembisnis itu. Winda. Memang dari SMA Winda selalu memusuhi Sastra. Sampai sekarangpun, permusuhan itu masih terjalin rapi. Padahal, dalam sejarah hidup Sastra selama mengenal Winda, Sastra tidak pernah mengambil atau merebut apa yang dimiliki oleh Winda.
            Jangankan merebut, memikirkan caranya saja tidak pernah terlintas di dalam pikiran Sastra. Dan bahkan selama di SMA Sastra justru sibuk dengan dirinya sendiri untuk mendapatkan beasiswa luar negeri yang akan memberangkatkan ia satu minggu lagi.
“Ada apaan nih? Lo masih ada di sini, Bri?!,” tanya pengantin laki-laki.
“Kamu kenal sama dia?,” tanya Sastra polos.
“Pacar lo sahabat deketnya suami gue kali, Sas. Lo baru tahu?,” tanya teman pengantinnya yang perempuan.
“Kehidupan pacarnya aja dia nggak peduli gimana mau menikah?,” cetus temannya.
            Brian menengahi. Begitu dengan dengan mempelai penganti pria. Dan hal itu berhasil membuat Winda menyingkir. Sedangkan teman Sastra sang mempelai putri sibuk menenangkan Sastra yang tengah berdiri tegar menyaksikan dan menerima seluruh cacian Winda.
“Brian, apa maksud semua ini?!,” tanya Sastra membuka pembicaraan seriusnya.
“Sastra,” ucap temannya menenangkan Sastra.
“Sayang,” ucap mempelai Priam menengai agar istrinya tidak ikut campur dengan urusan Sastra dan Brian.
“Bukannya apa, Sas. Bukan kewajiban gue untuk menjelaskan semuanya. Dan lo Brian, dia kekasih lo. Nggak seharusnya lo menutupi diri lo terus menerus mengenai siapa lo. Dia juga butuh kepastian. Untuk ini, gue rasa gue nggak mau ikut campur urusan kalian. Ayo sayang,” ucap mempelai pria dengan menggiring istrinya untuk menemui para tamu.
            Sastra yang berdiri termangu, akhirnya tersadar dan memutuskan untuk meninggalkan Brian yang masih berdiri seakan ia menunggu reaksi Sastra terhadap kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimana tidak? Brian menyembunyikan rahasia sebesar itu selama hubungan mereka. Entah kenapa Brian tidak mau menjelaskan siapa dirinya. Dan kenapa Sastra harus tahu siapa Brian dari mulut orang lain. Bukan dari Brian sendiri.
“Sastra! Sastra tunggu aku!,” ucap Brian seraya berusaha meraih lengan Sastra yang tergelantung bebas.
“Sastra aku akan jelasin semuanya!,” ucap Brian berusaha menghentikan langkah Sastra saat Sastra telah menepis lengannya.
            Sastra tetap menghiraukan ucapan Brian. Ia terus melangkahkan kakinya untuk keluar gedung. Sampai akhirnya, Sastra menghentikan langkahnya saat Brian berteriak sesuatu.
“Aku Denjaka!,” ucap Brian.
            Sastra menolehkan kepalanya. Menatap Brian yang tengah menatapnya dengan tatapan sendunya. Namun, tatapan itu tak dapat meruntuhkan keteguhan hati Sastra. Sehingga, Sastra kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Brian. Tapi, untuk kali ini Brian berhasil menghentikan langkah Sastra.
“Okay! Okay!!! Aku emang salah nggak kasih tahu kamu mengenai aku. Tapi aku melakukan ini semua demi kebaikan kita bersama, Sastra!,” ucap Brian lembut dengan penekanan di seluruh ucapannya.
“Kebaikan apa?! Kebaikan agar aku terus ada di dalam kendali kamu?! Aku bukan prajurit kamu, Brian!!!,” ucap Sastra.
“Aku sengaja membawa kamu dalam kendaliku karena aku nggak mau kehilangan kamu! Aku takut kamu akan ninggalin aku setelah tahu kalau aku bekerja seperti ini. Mungkin bagi semua orang, pekerjaanku adalah pekerjaan yang membahayakan. Tapi aku menyukai pekerjaan ini. Justru peluru yang tidak membuatku lebih takut daripada aku harus kehilangan kamu, Sastra. Aku nggak mau..”
“Brian! Aku nggak pernah berpikir untuk meninggalkan kamu! Justru aku yang terus berpikir kalau kamu akan meninggalkan aku saat aku nggak lagi sempurna untuk kamu,” ucap Sastra dengan tangisannya yang mulai memecah.
“Kenapa kamu selalu bikin aku ketawa di saat serius seperti ini, Sastra?!,” tanya Brian saat ia melihat Sastra yang bejongkok karena terharu dengan apa yang telah terjadi.
            Sikap konyol yang selalu membuat Brian tertawa. Perkenalan mereka tidaklah perkenalan yang elit. Sastra Binara. Dengan jabatan seperti itu, anggun yang ia punya, cantik yang ia punya, justru sirna di depan Brian meski di mata Brian tetaplah demikian.
“Sastra, aku mau nikah!,” ucap Brian ikut berjongkok di depan Sastra. Menyaksikan Sastra yang menangis konyol. Tangisannya semakin menggelegar.
“Sastra, kamu kenapa? Kamu kenapa sayang?,” tanya Brian mulai kawatir.
“Kamu beneran ninggalin aku, kan! Brian jahat,” ucap Sastra manja dengan menepuk dada Brian pelan.
            Brian kembali tertawa konyol saat mendengar ucapan kekasihnya. Yah... gadis yang imut, cantik, dan anggun. Serta, konyol di saat-saat yang seperti itu.
“Berdiri dulu, Sas. Biar nggak kayak anak kecil. Nanti, aku ngelamar dikira bohongan,” ucap Brian membantu Sastra berdiri.
“Apa lagi?!,” tanya Sastra manja.
“Aku mau nikah. Sama kamu. Bukan sama kelinci yang laen. Ini kenapa sih, kok tambah nangis begini?,” tanya Brian berusaha menghapus air mata Sastra.
“Brian,” panggil Sastra dengan memeluk Brian. Seketika Brian membalas pelukan itu.
            Dalam hatinya, Brian berdoa agar ia dapat memiliki Sastra. Seutuhnya. Segalanya. Sastra milikinya. Dan harus menjadi miliknya.
“Gimana lamaran aku?,” tanya Brian di tengah pelukannya.
“Besok dateng ke rumah. Aku kenalin sama mama dan papa. Kamu tahu, aku justru pengen punya suami pemberani kek begini daripada pembisnis. Jadi, selama ini kamu pamitan maen karena nggak mau..”
“Iya. Aku nggak mau bikin kamu, kawatir, Sastra. Siap kan jadi istrinya Denjaka AL?,” tanya Brian.

            Sastra menganggukkan kepalanya. Seraya ia kembali memeluk Brian. Dalam dengusan nafasnya, ia berharap jemarinya yang membelai punggung laki-laki itu, dapat menjadi semangatnya untuk melindungi negara dan menyelamatkan sandra untuk kepentingan dunia. Sastra bangga, ia akan menikah dengan laki-laki seperti Brian. Meski menakutkan, tapi setidaknya, ia bisa bersama dengan Brian dan ia dapat memiliki Brian. 

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...