Skip to main content

Matamu Mengingtkanku

Matamu Mengingtkanku
Pratiwi Nur Zamzani


“Apakah ada yang ditanyakan?,” tanya Felly tegas dengan meandang seluruh General Manager.
“Kalau tidak ada, kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Kalaupun ada masalah hari ini, kalian bisa menghubungi saya.”
“Baik, Bu!,” ucap selurh General Manager dengan tegas.
Fellypun merapikan map-map yang berserakan di bawah microfon ruangan meeting. Setelah itu ia keluar ruangan.
“Pak Arka gimana, sih ya? Dia kan seharusnya datang untuk meeting hari ini.”
“Maklum lah, CEO kan bisa nelakuin apa aja? Apa gunanya punya bawahan?,” jawab salah satu pegawai yang tengahngerumpi di depan lift sambil menunggu lift terbuka.
Felly yang mendengarnya berpura-pura untuk tidak mendengarkan perbincangan mereka. Hingga akhirnya, Felly menghampiri mereka dan hendak turun ke lantai satu untuk membeli kopi. Mengingat, sekarang adalah jam istirahat di kantor ini.
“Felly! Lu di cariin kemana aja, hah?!,” panggil Bram dengan nafas terengah.
“Ada apa emangnya?”
“Nih laporan saham untuk Pak Arka!”
“Oh, iya.Makasih ya, Bram.”
“Ok. Tapi, Fel! Gue bukannya apa, bukannya terlalu bahaya kaau lo nanganin kasus perusahaan hari ini?,” tanya Bram.
“Kasus?”
“Coba deh, lo buka dokumen itu! Gue sama Billy, udah konfirmasi untuk kebenaran dokumen itu.”
Fellypun membuka map hitam itu. Ia membaca seluruh kesimpulan yang tertuliskan. Seketika dahinya mengerut. Ia menatap Bram dengan tajam. Tanpa berkata apapun, Felly berlari keluar kantor. Kemudian, ia menghentikan taksi dan memberikan alamat tujuannya.
Selama di perjalanan, Felly merasa ceman setelah membaca laporan yang diberikan kepada Felly. Bagaimana tidak? Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Laki-laki itu, lari dari tanggung jawabnya.Felly yakin, Arka tidak masuk ntuk memimpin rapat hari ini karena ia telah kehilangan keyakinan dirinya untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Sekalipun, Arka telah memiliki otak yang jenius.
Dengan langkah tergesa, Felly menaiki tangga apartement Arka. Banyak orang yang melihatnya seperti orang kesetanan saat memencet tombol lift yang masih tidak terbuka. Keringatnya, telah terkalahkan dengan rasa kawatirnya.
“Arka!,” panggil Felly dengan nafas terengah saat pintu apartement Arka terbuka.
“Tch! Kau masih ingat sandi apartement ini?”
“Arka... Arka! Kau sudah berapa banyak minum alkohol hah?,” tanya Felly dengan membopong Arka yang hendak menghampirinya, tapi tidak bisa karena efek alkohol yang terlalu banyak.
“Felly.... Sayang... Tch! Hahahaha!,” jawab Arka dengan suara mabuknya.
“Oh my god!,” desis Felly dengan melepaskan sepatu Arka setelah membaringkan laki-laki itu.
“Felly...,” panggil Arka lemas dengan suara mabuknya.
“Ka, badan kamu panas banget! Udah tahu gini masih aja mabok!,” gerutu Felly dengan berjalan ke arah dapur untuk mengambil panci yang berisi air panas untuk mengompres badan Arka.
Tak lama dari itu, Arka tertidur dengan nafas teraturnya. Felly menghembuskan nafas beratnya saat ia melihat orang keparat tertidur di ranjang dengan pulas. Felly memutar bola matanya untuk melihat lingkungan sekitar setelah ia melihat pemdangan perkotaan. Matanya tertuju pada meja kerja Arka.
“Kenapa kau masih menyimpan foto-foto ini di sini? Bukankah kau sangat membenciku, hah?! Kau begitu menyebalkan! Sangat menyebalkan!,” gumam Felly dengan menyentuh-nyentuh foto Arka yang tersenyum. Tepat di sampingnya.
Setelah itu, Felly kembali melihat kondisi Arka.
“Kenapa kau mau melakukan semua ini jika dirimu sendiri tersiksa dengan kehidupanmu? Hingga kau rela kehilangan aku. Kau tahu, aku membencimu! Sangat membencimu! Tapi, aku tidak melihat kau sakit seperti ini! Jika memang kau pergi, pergilah dengan sehat agar aku tenang!,” gumam Felly dengan menatap Arka yang terbaring tidur.
“Tapi, aku masih mencintaimu!,” jawab Arka tanpa membuka matanya.
Felly terkejut. Di tambah, saat Arka berusaha bangun dari tidurnya. Dan menegakkan badannya untuk bersandar di sandaran tempat tidur.
“Terimakasih karena sudah mau membantuku untuk memimpin rapat hari ini. Tapi, kau tidak perlu repot-repot ke sini.”
“Tidak bisakah mulutmu itu diam dan cukup dengan berterimakasih, hah?! Apakah kau ingin aku menguncir mulutmu agar kau tidak berkicau? Atau jika perlu, aku memotong bibirmu saja, hah?”
“Tch! Baiklah, aku akan menuurut saja padamu. Aku bahagia sekarang. Karena mantan kekasihku masih mau perhatian denganku. Hehehehe.”
“Lu jelek banget kalau gitu! Arka! Tidak bisakah kau melepas kekuasaan ini? Ini terlalu berat untukmu. Kau harus memikul kehidupan banyak orang jika kau terus menjadi pemimpin perusahaan itu.”
“Kemarilah!”
Felly menatap Arka heran dan ragu. Kemudian, Arka menarik tangan Felly untuk mendekat ke arahya. Lalu, mengusap kepala Felly dengan belaian lembut.
“Aku sudah memutuskan semua ini.Sekalipun aku  harus meti demi mereka, aku sudah berjanji kepada almarhum Ayahku untuk meneruskan semua ini. Felly, maafkanlah aku karena membuatmu kawatir. Hingga kau menyetujui perpisahan kita. Aku tahu, kau masih mencintaiku. Begitu pula dengan diriku. Tapi, aku terlalu takut untuk kembali padamu. Sekalipun aku telah memiliki segalanya. Maafkanlah aku.”
“Kau takut dengan permintaan maaf tapi kau emiarkan dirimu rusak dengan alkohol?! Kenapa kau tidak sekalian memintaku untuk membunuhmu, hah? Apakah kau pikir aku tidak bisa melakukan itu? Arka, kau masih memiliki Allah. Kau masih bisa bersujud pada-Nya. Kau masih bisa bersandar pada-Nya dan mengeluarkan keluh kesahmu! Kau tidak perlu membeli minuman biadan ini! Ini semua hanya bisa menghancurkanmu!”
Arka tersenyum setelah mendengar amarah Felly.Dan, hal itu semakin membuat Felly kesal dengan tingkah Arka.
 “Sini! Ikut aku!,” ucap Felly dengan menyingkap selimut Arka dan menarik tangannya untuk mengikuti langkah Felly yang hendak memasuki kamar mandi.
“Ambil wuhdu! Aku akan menyiapkan alat-alat sholat untukmu! Kau bisa kan melakukan hal itu?! Jangan bilang, alkohol telah membuatmu lupa dengan cara mengambil wudhu dan membaca doa!”
Arka hanya tersenyum mendengar dan melihat amarah Felly. Kemudian, ia menuruti ucapan Felly. Setelah menghampiri Felly dengan kemeja dan sedikit baah karena cipratan air wudhu.
“Sekarang, giliran aku yang ke kamar mandi. Kamu, pakai iut baju kokoh sama sarungnya! Terus pakai juga kopyanya! Jangan lupa, lepas kemejamu! Baju kotor itu!”
 “Felly! Ayo kita menikah!”
“Hah?,” tanya Felly bingung.
“Ayo kita menikah!”
Felly tercengang dengan ucapan Arka, tapi nyatanya, setelah Arka mengimami sholat zuhur berjamaah mereka, Arka meluncurkan mobilnya ke rumah Felly ntuk melamarnya. Dan, merekapun merajut rumah tangga setelah perpisahan mereka karena sebuah tuntuan tanggung jawab.



BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...