Skip to main content

Because of You

Because of You
Pratiwi Nur Zamzani


“Sial!,” gumam Felly menghardik dirinya sendiri dengan mengacak rambutnya.
“Lo kenapa, Fel? Bangun-bangun udah marah-marah gitu! Habis tawuran sama orang di mimpi lo?,” tanya Billy dengan tetap memainkan bazznya tanpa menatap Felly.
“Tahu, lu! Kenapa sih emang?,” tanya Bram penasaran.
Felly hanya menjawabnya dengan gelengan kepalanya.
“Dasar aneh lu, Fel!,” ucap Riska mengejek.
“Biarpun aneh, yang penting nama gue nggak ke geser sama yang lain sebagi gitaris terbaik!,” kata Felly menantang.
Kemudian, Felly beranjak dari sofa yang telah ditidurinya. Mengikat rabutnya yang panjang dengan karet yang tergelang di pergelangan tangannya. Lalu, melangkah mendekati Billy dan meraih gitarnya.
“Udah yuk main!,” ajak sekaligus perintah Felly sebagai kapten.
“Bagus lah! Gue udah bosen nyoba melulu cord ini!,” kata Billy menutup buku musiknya.
Bram dan Riska mendekat setelah melihat-lihat majalah yang baru terbit. Sekaligus melihat artikel yang berisi band mereka. Pro Techno. Band terbaik dikalangan remaja seusianya. Selain karena personilnya yang kece dan keren, mereka semua juga memiliki talenta yang tidak diragukan. Terutama Felly dan Bram.
Felly Anggi Wiraatmaja dan Bram Salesvegas. Gitaris sekaligus drummer yang terbanyak menggeret piala kejuaraan untuk musik dan kategori band terbaik. Mareka berdua bisa dibilang sebagai maniak gitar dan drum. Bahkan, Felly telah menciptakan gitar sendiri dengan suara yang ia ciptakan. Gitar itu, akan keluar dari kandangnya di saat-saat yang penting dan genting. Felly memberikan nama untuk gitar itu. Falk. Itulah namanya.
“Sial!,” bentak Felly pada dirinya sendiri.
“Lo kenapa sih salah melulu masuknya! Kalau masih belom pas nyawa lu setelah tidur nggak usah maen! Buang-buang waktu aja dodol!,” marah Bram kepada Felly.
“Iya-iya maaf! Gue juga nggak tahu kenapa gue nggak konsen! Biasanya, gue nggak pernah kehilangan konsentrasi gue saat latihan! Bahkan..,” ucap Felly terputus karena Riska memutusnya.
“Bahkan sampai lo menyiksa kita-kita dengan jam karetnya makan dan istirahat.”
“Pasti gara-gara dia!,” gumam Felly.
“Dia siapa?,” tanya Billy penasaran.
“E..,” katanya terputus saat Bram sudah mengetahui apa yang akan diucapkan oleh Felly.
“Kalau lu nggak bilang! Lu bakalan malu dihadapan kita kalau kita sendiri yang akan mendapatkan informasi itu!,” ancam Bram setelah mengingat hari ulang tahun Felly yang dikerjai habis-habisan dengan menyebarkan rumor gila di mading sekolah.
“Iya-iya! Gue cerita.”
Seketika Bram, Billy dan Riska mendekat ke arah Felly. Dan, Felly melepaskan pengait sabuk gitarnya yang menempel rapat di pundaknya. Lalu, duduk bersama dengan teman-temannya yang tengah menunggu di sofa.
“Gue tadi habis mimpikan Arka.”
“Hah? Kapten baskset itu lagi?,” gelak Riska dengan mata yang melotot.
“Habis gue nggak tahu kenapa bisa begitu?! Dia terlalu susah kali ya buat gue lupakan!”
“Berarti lu masih cinta sama dia, Fel!,” kata Bram.
“Tapi kenapa smapai kebawa mimpi segala?! Udah gitu, mimpi ini datang tiga hari berturut-turut belakangan ini. Padahal, gue hampir melupakan dia dengan gitar itu! Gue akan membuat dia bersujud karena gitar itu! Tapi, kenapa gue yang gila setelah memimpikan dia! Teringat terus sama dia!”
“Lagipula, udah 4½ tahun lo putus sama dia. Kenapa lo masih ingin bikin dia bersujud?,” tanya Riska.
“Karena, Felly Anggi Wiraatmaja diremehkan dengan kepergiannya dia. Dan, gue nggak mau hal itu terjadi. Walupun, kenyataannya kayak begitu.”
“Berarti, selama ini lo melakukan semua ini karena dia?!,” tanya Bram.
Felly mengangguk.
“Kalau emang begitu, lo harus serius buat buktikan amibisi lo yang penuh dendam itu. Toh, dia sekarang mati-matian  buat jadi atlet internasional. Masak kalau balikan sama lu, dia cuma dapet gelar pacar gitaris ecek-ecek. Mendingan sama Indah. Dia jadi model.”
“Ihhhh.. lu bukannya nenangin kek! Malah, bilang kayak begitu!,” ucap Felly sewot kepada Billy.
Bram, Riska, dan Billy tertawa bersama.
“Tapi, emang bener kan kayak begitu? Fel, dengerin gue! Kalau memang lo bener-bener punya niatan untuk jadi seorang gitaris yang terkenal, jangan setengah-setengah melakukannya. Kalaupun lo sukses, nggak cuma Arka aja yang bakalan sujud ke lo! Presiden kemungkinan bakalan sujud ke lo! Jangankan presiden, singa juga bakalan jinak sama lu!,” ucap Bram. Lalu, tertawa bersama dengan Billy dan Riska.
“Lu ada-ada aja sih!”
“Tapi bener kan, Fel?,” ejek Riska.
Felly terdiam. Menerawang entah kemana. Menatap almari di sudut ruangan dengan tatapan menerka. Seolah, ia mencari kaset masa lalu yang akan diputarnya kembali. Melihat banyaknya piala dan piagam perhargaan, ia ingat akan suatu hal. Yah.. hal yang telah membuatnya menjadi seorang gitaris.
Arka. Orang itu telah memaksakan Felly melakukan itu. Bukan melalui sebuah kata-kata. Akan tetapi, melalui kepergiannya serta kenangan sebelum kepergiannya. Ia menyanyikan lagu saat bersama Arka di basecame setelah Arka latihan basket. Dan, sejak saat itulah ia memegang gitarnya. Mengasah kemampuannya, dan menggelamkan dirinya dalam pekerjaannya dengan gitar.
Felly selalu berkata kepada Bram, Riska, dan Billy bahwa ia akan melupakan Arka dan membuat Arka bersujud padanya karena kemampuannya serta kecantikan dirinya. Padahal, setiap bermain gitar tanpa Felly sadari ia selalu membayangkan Arka. Yah... membayangkan suaranya, senyumnya, tawanya, wajahnya yang menggemaskan, hidungnya yang centil, serta matanya yang tajam dan penuh dengan kasih sayang. Begitu indah.
Terutama, dengan otot lengan, punggung, serta kakinya yang sudah terbentuk begitu kekar menambah kesan tersendiri bagi Felly. Akan tetapi, semuanya telah lenyap saat Arka merasakan kesepian meskipun ia telah memiliki Felly. Gadis yang super sibuk hingga tidak memperhatikan kehadiran Arka disampinya.
Bertahun-tahun Felly menantikan rasanya cinta. Dan, ia merasakan hal tersebut saat bersama Arka. Akan tetapi, kepergiannya dengan alasan malas membuat Felly muak dengan semua itu. Dan, berambisi sukses di depan Arka dengan dasar rasa dendam.
Namun, tidak dipungkiri lagi saat mereka bertemu. Mereka akan menjadi munafik. Yah... menyatakan kebencian. Namun, dibalik itu semua mereka masih memiliki cita itu. Meskipun, hanya setitik debu.
Cinta. Cinta memang indah saat kita hubungkan dengan mimpi dan takdir. Detik ini, kita bisa merencakan itu. Tapi, di waktu itu kita akan berubah dengan adanya mimpi. Dan, mimpi tersebut ada karena sebuah takdir. Takdir yang tak bisa dihindari. Mengingat, kita manusia biasa. Kita hanya bisa merencanakan. Namun, kejadian tak akan sama dengan apa yang direncakan. Serta, perlu kita ingat satu hal. Rencana Allah lebih indah dengan apa yang kita rencanakan. Walaupun kita telah menjadi orang yang munafik sekalipun.





Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.




Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...