Skip to main content

Because Love


Because Love
Pratiwi Nur Zamzani



“Maaf, Pak atas ulah saya,” ucap Felly lirih di tengah takutnya menghadapi General Manager.
“Terserah kamu mau bilang apa? Yang pasti, saya hanya menginginkan kamu bertanggung jawab. Dan, lakukan tanggung jawab kamu tanpa harus melibatkan orang lain!,” kata General Manager dengan nada datar namun tetap megintimidasi.
Felly mengangguk untuk memastikan.
“Hmmmm, GM Arka!,” panggil Felly kepada General Managernya ketika ia mengingat sesuatu sebelum meninggalkan ruangan itu.
“Ya?,” tanyanya dingin.
“Maaf sebelumnya, bisakah anda menyembunyikan rasa benci anda kepada pemimpin hotel sebelah atau ayah anda di depan para pegawai atau saat anda berada di hotel ini? Karena, hal itu dapat berdampak buruk bagi anda dan juga hotel ini,” kata Felly dengan sedikit gemetaran.
“Manager Felly, saya akan mencoba. Dan, terimakasih atas peringatannya!,” jawab Arka dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Tapi, dengan sebingkai senyuman.
Fellypun tersenyum lebar saat melihat laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang meriah dan berbinar. Entah karena ia suka dengan peringatan Felly atau tidak, tapi tatapan mata itu begitu indah meski menakutkan karena sangat tajam.
Setelah itu, Felly melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi, General Manager arka menghentikan langkahnya dengan suara panggilan yang begitu tegas.
“Felly!”
Felly menoleh dengan menundukkan kepalanya. Seakan, ia tidak ingin melihat mata tajam itu menatapnya secara mengintimidasi setelah binarnya keluar.
“Ya?,” jawab Felly dengan tetap menunduk.
“Bisakah kamu menemani saya untuk makan malam hari ini?”
Seketika Felly mengangkat kepalanya. Bertatapan lurus dengan laki-laki itu. Dan, terlihat begitu mengharapkan. Namun, tertutupi karena tajamnya mata itu.
“Bagaimana?,” tanya General Manager kepada Felly untuk memastikan keputusan Felly.
“Ok,” kata Felly dengan mengangkat ibu jari dan jari telunjukkan untuk di satuka serta mengedipkan matanya yang sipit dengan sudut yang lebar membuat tingkahnya terlihat begitu imut.
General Manager hanya dapat mengangguk tanpa bisa berbicara. Sedangkan Felly meninggalkannya dengan wajah yang sumringah. Berjalan ke arah ruangannya untuk menyelesaikan masalahnya. Yah.. masalah kekeliruan dalam konservasi perlengkapan pernikahan yang telah ditangani oleh departement pernikahan. Setelah mengingat, jabatannya sebagai Manager di departement konservasi akan membuatnya malu jika ia tidak menyelesaikan masalah tersebut.
Namanya Felly anggi Wiraatmaja yang tertera di dalamnya merupakan nama wasiat untuk kehidupannya. Mengingat arti nama itu. Yah... singa liar dengan hati yang lembut dan penuh dengan kasih sayang. Tidak hanya itu saja, wajahnya yang begitu cantik juga dapat membuat dirinya terasa lengkap.
“Ya, silahkan masuk!,” pinta Felly menyuruh seseorang yang mengetuk pintu ruangannya masuk. Dengan tatapan mata yang masih terfokus pada komputer yang ada di depannya.
“Apakah, kamu masih bekerja dan mengambil lembur?,” tanya seseorang yang siap membuat Felly terkejut.
“GM Arka?! Maaf, saya terlambat untuk datang ke parkiran sesuai dengan janji kita.”
“Jangan panggil aku GM di saat seperti ini. Panggilah aku Arka atau Aditya. Terserah yang mana.”
“Kenapa begitu?,”
“Karena namaku adalah Arkana Aditya.”
“Seperti dua orang nama tergabung menjadi satu?”
“Memang! Aditya adalah nama ibuku. Nama yang diambil dari Kakekku.”
Felly hanya mengangguk. Dengan cepat, Arka menarik tangan Felly untuk mengikutinya setelah jam kerja kantor selesai. Saat itu juga, Felly terkesiap dengan laki-laki itu. Tidak hanya namanya saja yang begitu indah. Melainkan, segalanya.
Termasuk, tutur katanya yang begitu seksi. Sikapnya yang penuh dengan kharismatik. Etos kerjanya yang begitu tinggi. Dan, fisiknya yang begitu menggiurkan. Dengan rahang yang kuat, bibir mungil berwarna merah jambu yang begitu seksi, mata yang tajam, serta hidung yang mancung seperti jembatan. Tinggi badannya, juga termasuk tinggi yang ideal apabila dibandingkan dengan besar kecil tububhnya.
“Kamu, kenapa menatap saya seperti itu?,” tanya Arka saat mereka berjalan untuk mencari tempat duduk yang kosong di restoran mewah itu.
“Ah, tidak saya hanya....,” katanya terputus saat Arka memutusnya.
“Itu di sana! Kosong!,” kata Arka dengan menunjukkan tempat duduk yang sudah ia pilih. Dan, mau tidak mau Felly menurutinya.
Tak lama kemdian, pesanan makanan mereka datang. Merekapun makan bersama. Awalnya mereka makan dalam keheningan. Tapi, tidak lagi saat Felly mulai memecah keheningan itu.
“Apa yang membuat anda membenci ayah anda? Padahal, dia terlihat begitu lembut,” kata Felly tanpa rasa canggung dan bersalah telah lancang menanyakan hal yang tidak pantas ditanyakan.
“Pernikahan!”
“Pernikahan? Bukankah anda sudah menikah?,” tanya Felly pura-pura tidak mengetahuinya.
“Jangan pernah bohong di depanku! Bilang saja kalau kau sudah tahu bahwa aku masih lajang!”
“Maaf,” ucap Felly lirih setelah ketangkap basah oleh atasannya.
“Kau sendiri sudah pernah menikah?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena aku belum menemukan laki-laki yang mau mengungkap dirinya sepenuhnya. Mereka hanya menunjukkan kelebihannya saja. Dan, aku membenci hal itu. Hal itu hanya akan membuatku serakah. Kalau anda bagaimana?”
“Karena aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan kepada istriku jika aku menikah. Bahkan, istriku akan benar-benar kecewa karena aku tidak dapat membuatnya puas di atas ranjang.”
Seketika Felly tersentak dengan perkataan GMnya yang diucapkan secara enteng. Felly menghentikan untuk menggerakkan pisaunya. Menelan daging yang masih terasa kasar dengan paksa.
“Apakah anda mandul?,” tanya Felly tidak yakin akan kesempurnaan yang terlihat olehnya mengenai atasannya itu.
“Tidak! Aku, impoten!”
Seketika Felly metelakkan pisaunya hingga terdengar suara nyaring karena gesekan pisau dan piring. Ia tak bisa mengatakan apa-apa. Bagaimana tidak? Atasannya begitu tampan, gagah, berkarir, serta kaya. Siapa wanita yang tidak ingin untuk dinikahi oleh pria seperti itu. Dan, siapa yang menyangka bahwa di balik kesempurnaan tubuhnya ia memiliki satu titik kelemahan yang bisa membuat wanita melongo dan berteriak tak percaya dengan hal itu.
“Aku tahu kau hanya terdiam seperti itu karena telah melihat bagaimana luarku dan mengetahui dalamku. Tapi, habiskan makananmu dan jangan menjadi tikus yang membeku setelah masuk ke dalam basahnya air got!,” katanya santai setelah melihat Felly hanya terdiam.
“Apakah itu alasan anda untuk tidak mau menikah?”
“Bahkan aku tidak mau mencintai.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut mereka tidak akan mau menerimaku. Mereka akan mengagumiku di luar. Dan, menyakitiku di dalam. Di dunia ini, tidak ada wanita yang mau dengan orang sepertiku. Karena, manusia memiliki nafsu. Sebesar apapun, mereka mau menerimaku mereka akan mencari kepuasan yang melebihi diriku. Hal itu adalah perselingkuhan. Dan, aku membencinnya. Perselingkuhan sama saja dengan penghianatan. Dan, penghianatan adalah hal yang paling aku benci.”
“Bagaimana jika ada orang yang mau membantu anda?,”
“Tetap saja aku akan sama seperti sebelumnya.”
“Bagimana jika ada orang yang benar-benar mencintai anda?”
“Tetap saja ia tidak akan bisa menerima jika sudah mengetahui bagaimana aku.”
“Bagimana jika ada orang yang mau menerima anda setelah mengetahui penyakit anda?”
“Tetap saja ia akan memburu kepuasan.”
“Bagaimana jika orang itu tidak menginginkan kepuasan melainkan cinta?”
“Jika memang ada, aku akan menikahinya besok!,” kata Arka dengan menghentikan kunyahannya.
“Bagaimana jika orang itu ada di depan anda?!”
“Tch! Sudah ku duga! Kau adalah orang yang berani! Kau tidak...”
“Ssssstttt... Aku tidak akan mengharapkan apa-apa. Termasuk aku melakukan ini karena sebuah cinta bukan semata-mata menolong. Ingatlah itu!”
“Ayo kita menikah!,” ucap Arka nekat di tengah keseriusan Felly.
Fellypun menundukkan kepalanya. Akan tetapi, tundukan kepalanya terhalang saat jemari atasannya bertengger di dagunya. Melarangnya dan memerintahkannya untuk menatap mata atasannya. Sehingga, tatapan mereka sejajar.
Mereka bertatapan dalam hening. Hingga akhirnya, atasannya mengeluarkan kotak berwarna biru donker. Nafas Felly terdengar begitu berat. Ia tak menyangka bahwa ia akan segera menikah setelah atasannya memasangkan cincin berlian itu di jari manisnya. Begitu juga dengan sebaliknya. Semua itu terjadi dalam waktu empat detik. Memang, semuanya terlihat ironis dan tak masuk akal. Tapi, itulah nyatanya. Cinta.
Yah... seperti itulah cinta. Satu detik melihat, satu detik mengamati, satu detik memahami, dan satu detik mencintai. Hanya melihat sisi yang tak dapat terlihat. Cukup menerima kekurangan dengan keyakinan dan kepercayaan. Tanpa harus memikirkan resiko yang ada.



Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...