Kebesaran Kuasa-Mu
P.N.Z
“Permisi Pak, tadi Bapak manggil saya?,” tanya Riska yang gugup setengah takut saat menghadap Kepala Keuangan Kodim Yonkav 8.
“Yang mengerjakan data ini siapa Ris?,” tanyanya dengan menyodorkan berkas yang ada di dalam map berwarna merah.
“Pegawai baru, Pak.”
“Panggil dia ke sini! Biar saya yang bicara sama dia!,” pintahnya dengan suara yang tegas namun menakutkan.
“Baik,Pak,” jawab Riska ketakutan dengan langkah meninggalkan ruangan.
Yah... itulah Kepala Keuangan Kodim Yokav 8. Arkana Aditya. Lelaki tinggi yang terkenal buas saat ada pekerjaan yang tidak beres dari anak buahnya. Bahkan, ia berani menyiksa mereka untuk lembur sampai pagi demi tugas yang ia berikan tanpa ada bayaran tambahan. Ironis, tapi itulah dia. Namun, dengan hal seperti itu ia telah menjadi pimpinan yang berwibawa, bijaksana, dan tegas.
Masalah pekerjaan, ia selalu serius untuk menghadapi. Tapi, untuk masalah bergaul ia bisa menjamin sosialisasi. Tidak perduli umur orang yang bergaul dengannya. Baik itu tua, muda, anak kecil, kaya, miskin, atau sederhana. Semuanya rata. Tapi, ia akan tetap menjaga sopan santunnya. Baik bahasa untuk anak buahnya, maupun lingkungan rumah dan di luar kantor kerja.
“Assalamualaikum, apakah Bapak memanggil saya?,”
“Iya,” jawabnya dengan memandang alam luas berpembatas jendela kaca dan korden tarik.
“Kalau boleh tahu, ada apa Bapak memanggil saya kemari?”
“Kamu tahu kan berkas yang ditugaskan Riska adalah berkas penting untuk negara? Sedangkan, pemerintah memberikan jangka waktu tiga hari untuk menyelesaikan berkas itu. Dan, sekarang adalah hari terakhir untuk pengumpulan berkas itu. Kam mau, di demo oleh seluruh pegawai dan juga anggota TNI karena gaji telat? Kamu pikir tahun ini adalah krisis moneter apa? Kapan negara bisa maju kalau kamu...,” jawabnya terputus saat Arka membalikkan badannya dan melihat seorang wanita di depannya. Tersentak dengan kaget.
“Felly!!!,” katanya.
Seketika Felly memandang lurus Arka dengan bola matanya. Sedangkan Arka, ia hanya terdiam seribu bahasa setelah melihat Felly. Beberapa detik mereka terdiam dalam bisu dan saling memandang satu sama lain. Berbicara. Yah... berbicara melalui mata. Tatapan mata yang bersinar dengan remang-remang air mata di sekitar kelopak mata mereka berdua. Seperti, berkaca-kaca.
“Saya nggak mau tahu, pokoknya berkas itu harus ada di meja saya hari ini juga!,” katanya dengan meninggalkan Felly di ruangan dingin ber-AC itu.
“Kamu bisa memakai ruangan ini dan membuka komputer saya. Sandinya 24072011,” lanjutnya saat ia memunggungi Felly yang telah diam membeku menghadap jedela korden itu.
Berjalan cepat meninggalkan ruangan. Sapa hormat dari bawahannya telah menjadi suara yang tak terdengar oleh telinganya.
“Kenapa? Kenapa dengan diriku?! Sejak kapan aku menyerahan ruanganku serta meja kursiku kepada orang lain? Sejak kapan aku memberikan tanggal itu kepada orang lain? Ada apa pada diriku?! Dadaku?! Kenapa dadaku terasa sakit? Kenapa terasa sesak? Tuhan, apa maksud dari semua ini?,” gumamnya dalam hati.
“Arka!!!,” sapa temannya dengan menepukkan suatu berkas pada lengan Arka.
Seketika, Arka tersadar dari lamunannya.
“Oh lo, De?”
“Lo kenapa, Ka? Kayak aneh gitu?”
“Emmmmh... Eh De, lo kan bagian pengurus akun pegawai sini. Lo kenal sama cewek yang namanya Felly gak?”
“Oh dia?! Kenal lah, orang dia pegawai baru di sini. Baru aja kerja beberapa hari yang lalu? Tumben nanya cewek? Lo biasa cuek aja kalau ada cewek! Jangan-jangan, lo naksir ya sama dia?,” goda Ade kepada Arka.
“Apaan sih?! Lo mau kemana?”
“Ke ruang karyawan. Kebetulan ke meja Felly. Mau ikut?”
“Boleh deh. Habis itu, anterin gue ke kantin ya? Laper gue!”
“Iya, iya. Udah yuk cabut!”
Beberapa langkah mereka berjalan. Hingga tiba mereka memasuki ruangan pegawai untuk memberikan data memo yang telah di tentukan oleh jadwal kerja harian.
“Ka, hidupin komputernya! Biar gue cari data memo untuk dia.”
“Ini sandinya apaan?”
“24072011.”
“Sandi itu? Kenapa sama dengan punyaku?,” gumamnya dalam hati.
“Ini dia udah dapet memo, De.”
“Coba lo buka deh!,” pinta Ade sambil membuka berkas yang dicari olehnya.
17 Februari. Terimakasih Ya Allah karena kau masih memberikan yang terbaik untuknya. Rencanamu begitu indah bagiku walau diriku tak dapat melihat senyumnya.
(Tulisan yang tertera dalam memo komputer kerja Felly)
“Kenapa dia masih mengingat tanggal itu? Kenapa dia seegois ini? Masih kurangkah dia memberikan aku kebahagiaan untuk bersama Irnanda setelah perpisahan itu? Masihkah dia menanti setelah rasa sakit yang pernah aku berikan padanya? Sampai kapan dia menyiksa dirinya lagi?!,” gumamnya dalam hati.
“Lo kenapa nangis Ka? Ada yang salah?!”
“Kapan dia diterima di sini?”
“Waktu ulang tahun lo! Ka, dia cinta pertama lo kan?”
“Ade!!!,” jawabnya tesentak.
“Gue udah tahu saat gue menemukan gantungan kunci di meja dia. Gue terpaksa membaca surat dalam kotak yang ada di bawahnya. Disanalah gue tahu siapa dia. Gue juga nggak sengaja membaca buku diary dia di atas meja saat jam sholat. Di dalamnya, banya foto kalian berdua. Bahkan, setiap lebar terdapat foto dan tulisan tentang kisah kalian berdua. Itulah kenapa, dia selalu meminta pekerjaan dari lo. Padahal bagian dia bukan anak buah lo! Dia Anak buah Ratih! Setiap ada waktu, dia selalu mengambil jatah pekerjaan lo yang lo kasikan ke Riska. Saat gue tanya kenapa, dia selalu menjawab kalau dia ingin mengerjakan semua ini karena lihat lo yang seing tertidur pulas saat lembur. Dia sempat bilang ke gue untuk bantuin dia ketemu lo. Tapi, sebelum gue bertindak rencana dari-Nya udah dateng duluan. Sepuluh tahun berpisah, apa lo nggak peka sama dia?”
Seketika Arka meninggalkan Ade di ruangan pegawai, ia berlari terengah-rengah setelah naik turun tangga. Langkahnya berhenti di depan ruangannya. Ia berjalan menjauhi pintu yang terbuka, menahan rasa yang ada dalam hatinya.
“Bruaaakkkk!,” suara pintu yang tertepuk oleh tangan Arka yang kekar.
“Bapak tidak papa kan?”
“Sampai kapan kamu seperti ini Fel?! Dimana hatimu yang dulu saat melihatku? Sejak kapan aku jadi Bapak kamu?”
“A.... A... Arka.”
“Yah, aku Arka. Orang yang menyakiti kamu sepuluh tahun silam. Kenapa kamu masih mengenang masa menyakitkan itu? Kenapa kau mengharapkan senyumku Felly! Kenapa kamu masih mengingat tanggal itu?!”
“Kenapa kamu menanyakan itu padaku Arka? Sedangkan kamu masih mengingat lekat tanggal jadian kita sebagai sandimu?”
“Wanita jahat!!!!,” jawabnya dengan menutup pintu dengan keras dan berlari ke arah Felly. Melingkarkan kedua lengannya, dan membawa Felly dalam dekap dadanya yang bidang.
Kucuran air mata keduanya meramaikanan ruangan itu. Dinginnya AC telah mengalahkan rindu mereka. Mengutarakan perasaan satu sama lain selama perpisahan telah membawa mereka dalam janji untuk bersama. Yah.... melaksanakan sunnah Rosul sesuai dengan aturan agama.
Setiap manusia pasti memiliki rencana. Namun, hal itu tak dapat terkalahkan saat tangan sang Khalikul Alam bergerak menentukan takdir yang telah tertulis. Seindah apapun rencana manusia tak akan seindah rencana Allah Yang Maha Kuasa. Allahu Akbar.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM serta berbagai buku antologi lainnya.
Comments
Post a Comment