Skip to main content

Bunga Semanis Coklat

Bunga Semanis Coklat
Pratiwi Nur Zamzani


Awan berkabut menyelimuti langit waktu itu. Pagi serasa seperti sore. Tanah basah akibat guyuran hujan menjadi jejak kaki bagi setapak kaki. Embun berderet bagai semut berjalan dan menetesi bunga-bunga di taman sekolah. Air terus mengalir di selokan-selokan depan kelas. Terutama, kelas Felly.
Gadis yang menjadi idola dan juga harapan bangsa dengan percampuran darah Brazil dan Indonesia menjadikannya begitu indah. Sempurna dengan suara merdu, dan juga fisik yang memadai untuk kalangan gadis remaja. Bulu mata lentik alami, mata membulat sempurna, dengan bola mata berwarna coklat hazel, dan tinggi 172 cm.
“Pagi, Felly!,” sapa teman sebelah bangkunya Angga.
“Pagi juga,” jawab Felly ramah.
Felly terkejut setelah ia melihat sebatang mawar merah segar ada di tempat duduknya. Dengan kertas kecil berlambang dua permen berbentuk Love. Tentunya dengan tulisan “Manis”.
“Angga, ini bunga siapa? Lo kan biasanya datangnya selalu awal dari murid yang laen? Pasti tahu dong,” cerocos Felly
“Sorry Fel, gue gak tahu. Pagi ini gue emang berangkat awal dari anak-anak yang laen. Tapi, gue ada urusan di kantor guru masalah HUT sekolah. Secara, gue kan ketua OSIS. By the way kenapa emangnya?”
“Ini bunga siapa?”
“Mana gue tahu? Dari tadi emang udah ada di situ! Sebelum gue nyampek sini, udah ada itu. Soalnya gue dateng sempet ke sini bentar, ngecek kelas. Habis itu gue langsung ke kantor guru! Mungkin dari penggemar rahasia lo kali Fel. Secara lo kan vocallis dari band terkenal di sekolah ini!”
“Oh, gitu ya?!”
“Ho’oh!”
Felly terus berfikir tentang bunga itu. Gimana gak berfikir penuh? Setiap hari selalu ada bunga mawar untuknya. Dan, yang paling ia herankan adalah bunga mawar yang biasanya memiliki duri kali ini tidak memiliki duri. Tidak hanya itu. Bunga yang ada selalu segar dan tidak layu, seakan-akan pemberi telah membaca kedatangan Felly. Sehingga, pemberi tersebut dapat memetik bunga itu dari tanaman dikala waktu Felly dalam perjalanan ke kelasnya.
“Felly, bisa bicara di kantor?,” teriak seorang guru dari pintu kelas.
“Iya Bu, ada apa?”
“Nanti bisa bicara di kantor! Ayo ikut saya sekarang!”
“Baik bu!”
Dalam perjalanan ke kantor guru. Felly telah mendapat banyak salam dari orang yang berada di sekitarnya. Namun kepribadiannya yang mudah bergaul dan tidak sombong menjadikan ia primadona di sekolah.
“Ini Pak Felly sudah ada di sini!,” Kata guru tersebut kepada Kepala Sekolah Felly.
“Ok makasih. Oh ya , Felly silahkan duduk! Karena ada sesuatu yang ingin Bapak bicarakan dengan kamu!”
“Iya Pak, silahkan!”
“Jadi begini Fel, sebelumnya kenalkan ini Arka! Dia adalah seorang gitaris yang pernah bersekolah di Inggris. Dia pindah dari sini karena usaha ayahnya. Sebentar lagi adalah HUT sekolah, Bapak ingin kamu dan Arka mengaransemen lagu tradisional dengan musik terapan modern menjadi sebuah melodi yang bagus untuk penutupan HUT nanti. Kamu bisa mencari rekan kerja untuk musik tradisional dari anak-anak yang berbakat menurut pendapat kamu. Bapak harap kamu tidak menolak untuk hal ini.”
“Baik Pak, akan saya usahakan.”
“Baiklah, silahkan kerja sama untuk hari ini. Bapak akan berbicara kepada guru pengajar kalian bahwa kalian sedang bertugas. Sehingga, kalian bisa mengerjakan tugas ini dengan tenang.,” kata Bapak Kepalaa Sekolah dengan meinggalkan ruangan.
“Kenalin gue Felly, senang bisa bertemu sama lo!”
“Gue Arka!”
“Ok, gimana kalau kita cari sekarang? Gue udah nemuin siapa yang pantes buat ngajarin kita.”
“Boleh, sekalian ajakin gue keliling sekolah ini!”
“Ok, let’s go!”
Mereka berdua menuju ke sanggar karawitan untuk menjemput Riska. Anak karawitan yang kemungkinan besar menguasai musik tradisional. Gak cuma itu aja, Riska adalah sahabat Felly sejak awal masuk sekolah. Yang selalu menemani Felly dikala Felly membutukan seseorang yang siap menemaninya.
Seperti biasa, sapa basa-basinya selalu membuat Riska tertawa akan hal itu. Felly menawarkan tawaran yang diberikan oleh Kepala Sekolah kepadanya dan juga Arka. Tentunya, Riska menerima tawaran yang diberikan oleh Felly kepadanya.
“Halo, Ka!,” sapa Riska kepada Arka.
“Hai juga!”
“Kalian udah saling kenal?”
“Iya dong Fel. Arka pindah ke sini udah sebulan yang lalu. Dia temen sekelas gue.”
“Oh ya? Kok gue gak tahu?”
“Lo kudet sih?!”
“Ih... Riska apaan sih?!”
“Udah-udah, jadi kita gimana?”
“Coba lo terangin kita berdua sekarang Ris. Lo kan tahu siapa gue sama Felly. Jadi, mana ngerti gue sama beginian?,” jawab Arka dengan menunjuk gamelan yang ada di depan Riska.
 Hanya beberapa menit saja mereka membahas tentang proyek yang sedang dikerjakan dan mulai menyusun rencana. Hingga  akhirnya, mereka berencana untuk menyusun tangga nadanya di taman kota sepulang sekolah. Dengan begitu, mereka tidak sampai meninggalkan mata pelajaran yang berlangsung walaupun mendapat izin dari guru pengajar.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tiba waktunya untuk pulang. Sesuai dengan rencana, mereka berkumpul di taman kota dan mulai menciptkan kerasi mereka dengan nada-nada yang mereka hafal.
“Felly!!!!,” bentak wanita separuh baya dengan suara yang keras.
“Mama!,” jawab Felly terkejut dengan sedikit rasa takut.
Seketika tamparan melayang begitu saja. Sehingga membuat Arka terkejut melihat adegan itu.
“Mama sudah berapa kali bilang sama kamu? Berhenti main musik! Apa ini yang kamu harapkan dari kesuksesan kamu hah? Lebih baik mana antara musik dan baleria? Musik belum tentu menjadikan kamu artis Internasional Felly! Mau jadi apa kamu hanya bisa bermain musik saja?”
“Ma, Felly lebih baik...”
“Alaaah sudah, diam kamu! Mama capek liat kamu terus begini!,” bentak mama Felly dengan meninggalkan Felly dan teman-temannya.
“Udah, hirauin aja masalah barusan. Maaf, ada kesalahan teknis tadi, hehehe!”
“Lo bilang kesalahan teknis? Dan lo sempet untuk tersenyum saat lo udah dapet tamparan dari Ibu lo sendiri? Gila nih cewek!”
“Udahlah, Ka. Ini udah biasa. Lagian gue ngerti kok kenapa nyokap gue ngelakuin hal itu, dia cuma pengen yang terbaik buat gue.
“Felly dulunya adalah seorang Baleria di New York. Tapi, ia berhenti menari ballet karena hatinya lebih tergertak dengan dunia musik. Mamanya udah mati-matian ngelatih Felly menjadi Baleria.Tapi, takdir berkata lain.”
“Makasih ya Ris, lo udah ngertiin gue”
“Sama-sama, Fel.”
Setelah mendengar penjelasan Riska dan melihat setetes air mata yang jatuh, Arka berlari meninggalkan Felly dan Riska. Tak lama kemudian, Arka kembali dengan membawa bunga mawar merah yang sama persis dengan yang ada di bangku Felly tadi pagi.
“Fel, ini buat lo! Gue harap lo gak sedih lagi karena kejadian tadi!”
Setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Arka. Riska pergi meninggalkan mereka dengan raut wajah yang kesal dan sedih. Felly yang tidak mengerti apa-apa mengejar Riska, namun terhalang karena tarikan Arka.
“Udah Fel, percuma lo kejar dia. Gak akan ada gunanya!”
“Maksud lo apaan sih, Ka?”
“Riska naksir sama gue. Dia pernah bilang sama gue sebelumnya. Tapi, gue udah naksir sama cewek lain karena gue cinta sama dia setelah melihat dia untuk yang pertama kalinya.”
“Trus, apa hubungannya sama gue?”
“Ada. Karena lo adalah cewek yan gue cintai, Felly.”
Spontan Felly melihat ke arah tangannya yang memegang bunga mawar merah itu dan ia menemukan jawabnnya.
“Jadi....”
“Ya, gue adalah penggemar sekaligus orang yang menicntai lo, Fel. Riska emang gak pernah cerita ke lo karena gue yang ngelarang dia. Tapi, asal lo tahu Fel gue ngelakuin ini semua karena gue gak mau lihat lo sedih karena hal ini.”
“Enggak, ini gila, ini gila Arka!!!!”
“Lo boleh bilang gue gila. Tapi asal lo tahu, gue  gila karena lo!”
Bentak Arka dengan membuka kacamatanya.
“Arka!”
“Ya, gue Arka pacar lo Fel. Cowok yang lo tinggalin tiga tahun yang lalu hanya untuk karir lo. Gue rela harus mati-matian belajar gitar demi ngelihat lo lagi! Banyak yang harus gue tempuh selama ini demi liat lo lagi! Gue harus nangis mikirin lo! Felly, lo yang bikin gue gila! Gila sampai gue harus kayak gini ke lo!,” bentak Arka dengan air mata yang mulai mengalir
“Kalo lo Arka cinta pertama gue, kenapa kebiasaan lo berubah Ka? Kenapa wujud coklat yang biasa lo berikan ke gue berubah menjadi bunga hah?,” jawab Felly dengan tangis yang diselimuti oleh rindu mendalam.
“Karena gue sadar Fel, coklat gak sepenuhya bisa ngelambangin cinta yang gue miliki ke lo. Sehingga, lo bisa ninggalin gue gitu aja. Bunga yang berwarna merah segar itu ibarat cinta gue yang gak pernah bisa layu. Walaupun tangkainya berduri, gue selalu ngilangin duri itu. Karena, bagi gue kekurangan yang lo miliki dan kesalahan lo udah menjadi pelajaran gue untuk setia ke lo Fel. Sebaik apapun cewek lain cinta ke gue. Cuman satu cewek yang bisa gue cinta, yaitu lo Felly! Please don’t leave me baby!”
“Arka....,” jawab Felly dengan air mata yang semakin deras dan juga pelukan erat untuk yang pertama kalinya bagi mereka berdua.
“Arka, maafin gue udah nyia-nyiain lo. Makasih atas cinta dan kesetiaan lo ke gue.”
 “Hmmmmmmm,” jawab Arka dalam gumaman dalam artian yang begitu luas.
Cinta mereka telah bersatu kembali, setelah sekian lama cinta itu membeku karena perpisahan. Bagitu indah pertemuan itu bagi Felly. Namun, hanya ada satu ganjalan dalam hati Felly, yaitu Riska. Sempat Felly ingin mengorbankan cintanya karena sahabatnya. Tapi, hal itu tidak pernah terjadi setelah Riska mengetahui siapa sebenarnya Arka.
Awalnya, Felly sangat sulit untuk mengatasi kejadian yang telah terjadi. Seiring dengan berjalannya waktu, Riska telah mengerti siapa mereka berdua. Felly pernah menceritakan siapa Arka. Tapi penyamaran Arka tidak disadari oleh Riska. Sehingga, menimbulkan keretakan hubungan persahabatan mereka. Tapi, sekarang telah berubah. Riska memutuskan untuk menghentikan aliran cinta yang ada, dan memulainya dengan baik. Tak hanya itu, persahabatan mereka juga telah terjalin seperti semula. Menganggap semua peristiwa pahit sebagai sebuah pelajaran hidup untuk langkah yang lebih maju tanpa harus menoleh ke belakang. Boleh, saat kita membutuhkannya. Mengingat, menoleh ke belakang sama saja saat kita membuka catatan buku yang lama untuk sejenak mengingat sebuah pelajaran yang pernah terjadi sebelumnya.



_Biodata Penulis
   
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.



Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...