Skip to main content

Confused

Confused
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly, kenapa harus kayak begini, sih? Emang nggak ada cara lain untuk mencapai keinginan kita dulu, hah?!,” tanya Arka dengan sorotan mata yang penuh dengan kekecewaan.
“Maaf. Aku nggak bisa, Ka. Aku pikir, ini jalan yang terbaik untuk kita. Lagipula, tugas kamu dan tugasku masih belum selesai. Aku tidak bisa menikah dengan hutang yang ada pada diriku sendiri.”
“Apa kamu bilang? Hutang?! Tch! Felly! Ini semua bukan hutang! Tapi ego yang ada dirimu sudah menguasai hatimu!”
“Enggak, Ka. Semua ini masih hutang! Seharusnya kau bisa mengerti dengan posisiku!,” ucap Felly dengan nada yang mulai meninggi.
“Mengerti katamu? Bagaimana aku bisa mengerti sedangkan aku memiliki tingkat kesabaran dalam hal ini! Apakah aku salah menginginkan keseriusan hubungan dengan orang yang aku cintai?! Apakah aku salah mengatakan semua ini?! Jawab aku!,” jawab Arka tak kalah tinggi nadanya.
“Arka.... Tapi...,” ucap Felly terputus saat Arka sengaja memutusnya.
“Apakah selama ini kau berbohong padaku?,” tanya Arka dengan mata yang sinis.
“Berbohong?!,” jawab Felly yang tampak kebingungan.
“Ya! Berbohong! Jika kau tidak berbohong, kau tidak akan melakukan hal ini!,” ucap Arka dengan meninggalkan Felly di tengah sisa-sisa senja.
“Oh ya, satu hal lagi. Aku tidak akan melupakan saat ini! Karena aku, membencimu!,” lanjut Arka sinis dengan suara yang tegas. Seakan, apa yang ia ucapkan adalah sebuah ultimatum.
“Felly! Fel! Feelllly!!!!,” seru Riska.
“Hmmmm?!,” jawab Felly dengan wajah yang bingung.
“Lo ngelamun apaan, sih?!,” tanya Riska dengan meminum winennya.
Felly hanya menggelengkan kepalanya. Sejenak, ia berfikir. Yah... waktu yang telah berlalu tak patut untuk ia ingat kembali di masa itu. Perpisahan yang begitu konyol dan menyakitkan. Perpisahan yang tak dapat terhindari karena tuntutan profesinya. Namun, semuanya tera begitu berulang-ulang meski Felly tak mau mengingat peristiwa senja itu.
Untuk kedua kalinya, Felly memperingatkan dirinya akan pikiran yang beru saja terlihat jelas di depan matanya. Dengan kepala yang tegas dan nafas yang berat, ia melanjutkan acara pesta bersama rekan kerja modelnya. Mengingat namanya di masa sekarang.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dengan tinggi 160 cm. Dilengkapi  mata yang lebar, bibir yang tipis, serta wajah yang tirus. Selain itu, sorotan matanya terlihat begitu tajam.  Ia sering digunakan dalam majalah-majalah untuk gaun pesta dengan make-up yang terkesan gelap dn glamour. Mengingat, semua itu sesuai dengan fasilitas yang dimiliki olehnya.
“Felly! Ke lantai dansa yuk!,” ajak Riska.
“Emang Felly mau?! Pengen tahu gue kalau dia mau!,” remeh Billy.
“Bram! Lo kalau minum jangan banyak-banyak. Nggak bisa pulang tahu rasa lu!,” bantah Felly kepada Bram saat melihat temannya begitu menikmati minumannya.
“Tahu nih! Ujung-ujungnya gue yang harus nganterin lo pulang! Pacar gue aja belom tentu gue anterin! Ini malah kayak begini,” kata Billy.
“Hahahaha, Sayang.... Oh... sayang... Hahaha!,” jawab Bram dengan matanya yang kabur.
“Aduh! Alamat nganterin lu, Bil. Tuh anak, udah parah!,” kata Riska.
“Huuuuuffftttt! Balik sekarang aja deh! Nggak tega gue lihat Bram kayak begini! Tahu gini, mending lo nggak usah pacaran, dodol!,” kata Billy dengan membopong Bram yang sudah tidka kuat dengan dosis alkohol yang dia minum.
Felly dan Riska tidak tinggal diam. Mereka berdua membantu Billy untuk membuka pintu mobil. Sedangkan Riska mengemudi mobil Bram. Dan, Felly mengikutinya dari belakang untuk kembali ke diskotik. Mengingat, Riska meninggalkan mobilnya untuk mengantarkan mobil Bram ke apartemennya.
“Felly thank you!,” ucap Riska saat ia sampai di rumah bersama.
“Ok. Gue balik dulu, ya! Udah malem. See you tomorrow.”
Felly menjalankan mobilnya. Selama di dalam mobil, ia terus teringat dengan peristiwa itu. Entah mengapa, hatinya terasa begitu mengganjal saat ia mengingat peristiwa itu. Meski terasa sakit, Felly berusaha untuk menghilangkan sakit itu dengan melihat jalanan yang ramai dan bangunan-bangunan kotanya yang penuh dengan lampu kemerlap.
“Kapan datang? Kenapa nggak telfon?,” tanya Felly saat mendapati managernya menunggu di ruang tamu.
“Yah... maunya begitu. Gue kasiin besok. Tapi, kebetulan lewat dekat-dekat sini sekalian deh mampir.”
“Oh. Ok. Ada jadwal baru, ya?”
“Iya. Nih, besok ada makan malam bisnis. Lo dateng ke tempat itu dan hubungi nomornya saat lo selesai kerja.”
“Ok. Makasih, ya.”
“Sip. Kalau gitu, gue pamit dulu ya. Lo istirahat! Bye!,” ucapnya dengan meninggalkan Felly yang masih berdiri.
Saat managernya meninggalkan apartmen Felly. Ia berjalan cepat ke arah tepat tidurnya. Kemudian, menghempaskan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah seharian beraktivitas. Namun, ia kembali terbangun saat matanya menangkap laci bufet yang ada di kamarnya. Perlahan, Felly membuka laci itu.
Ragu dan takut menyelimuti hatinya. Akan tetapi, ia memberanikan diri untuk membuka laci itu. Dan, mengambil kotak hitam yang  telah lama tak tersentuh olehnya. Seketika matanya terbelalak saat ia menemukan hal yang benar-benar ia takutkan. Jantungnya serasa akan meledak saat kejanggalan hatinya dengan kertas kecil yang diberikan oleh managernya terjawab.
“Arkana Aditya. Arka, Arka, Arka... apa maksud semua ini?,” gumamnya penuh tanya.
Tak lama dari itu, ponsel Felly berbunyi. Nomor yang tidak dikenal. Dengan capat, Felly mengangkatnya. Tangannya begitu bergetar saat nada sambung dan suara itu telah menyapanya. Tanpa basa-basi. Melainkan, ultimatum yang sama seperti peristiwa itu.
“Jangan pernah kabur dariku sebelum aku yang akan mencengkerammu!,” ucap orang itu dengan suara yang begitu khas dan tegas.
“Arka.”
“Syukurlah kalau kau masih mengenaliku. Semoga saja aku bisa menatapmu kembali, Felly!,” ucapnya mengintimidasi.
“Arka...,” panggilnya lirih saat telfon telah dimatikan oleh Arka.
Felly kembali menatap kotak hitam itu. Matanya terasa begitu panas dengan hati yang penuh dengan ketakutan. Mengingat, ia mengenal Arka dengan ambisiusnya, keras kepalanya, egonya, dan juga arogannya. Serta, darah aristrokatnya yang tidak bisa hilang meski dihancurkan dengan cinta.
Malam terlewati dengan rasa cemas dan kawatir tentang kejadian semalam. Namun, Felly memberanikan diri untuk berangkat kerja meski kantung matanya sedikit terlihat. Menandakan bahwa ia tidak tidur dengan nyaman.
“Lo kenapa, Fel ngelamun begitu. Bentar lagi giliran lo loh untuk pemotretan. Jangan sampai lo nggak konsen, ya. Hari ini, ketua timnya lagi galau tahu!,” sapa Riska mengingatkan.
“Tahu darimana?,” tanya Felly dengan senyum simpulnya untuk menutupi kecemasan yang ada di dalam dirinya.
“Barusan....”
“Felly Anggi Wiraatmaja!,” seru fotografer dengan memberikan kode kepada Felly bahwa waktu pemotretan hari itu telah jatuh kepadanya.
“Gue duluan. Bye!,” ucap Felly dengan senyuman ramahnya.
Benar saja, fotografer berulang kali memarahi Felly karena kehilangan fokusnya di depan kamera. Sehingga, dengan keras Felly menghilangkan kesalahannya karena memikirkan waktu yang akan datang. Bertemu dengan Arka. Akan tetapi, semuanya menjadi semakin kacau saat fotografer merasa gagal dengan modelnya kali ini. Hal itu membuat berakhirnya pemotretan selesai lebih cepat dari sebelumnya.
“Kenapa kau bekerja tidak becus, hah?,” tanya seseorang di seberang telfon. Arka.
“Tahu dari mana..,”
“Jangan pernah mengelak selama aku bisa melihatmu dengan mata kepalaku sendiri!,” ucapnya memutus jawaban Felly.
Seketika mata Felly berputar mengelilingi sudut ruangan studio. Dan benar saja, Arka tengah berdiri di pojokan tiang dengan setelan jas yang begitu rapi. Dan, memberikan kode untuk keluar dari studio dengan senyuman yang mengintimidasi. Seakan, apabila Felly tidak menurutinya, Felly akan mendapatkan mau di hari itu juga.
“Kenapa kau datang lagi ke dalam kehidupanku?!,” tanya Felly ketus.
Arka tidak menjawab dan terus berjalan meski ia mendapatkan sambutan hormat dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
“Arka! Siapa kau sebenarnya?!,” tanya Felly dengan hentakan kakinya.
“Aku?! Kau ingin tahu siapa aku?!”
“Ya! Aku ingin tahu siapa kamu!”
“Aku adalah penghenti waktumu. Dan sekarang, kau harus berhenti.”
“Apa maksudmu?”
“Berhentilah dari karirmu atau aku yang sengaja mengehentikannya.”
“Arka...”
“Ya. Aku adalah pemilik perusahaan ini. Aku memberikan kesempatan padamu untuk puas dengan apa yang kau inginkan. Aku tidak pernah peduli dengan apa yang kau lakukan selama ini. Tapi, kau telah menarik perhatianku saat aku mengetahui hubunganmu dengan rekan modelmu yang bernama Billy. Felly, aku tidak akan melepaskanmu meski kau terus memberontak. Kecuali, aku sendiri yang berniat melepasmu. Tapi sayangnya, aku tidak mempunyai niatan itu.”
“Jadi...”
“Yah... aku yang menebus dirimu di perusahaan lain dan menjadikanmu aset bagi perusahaanku. Itu semua bukan semata-mata karena karirmu. Tapi, aku yang menjadikan karirmu dengan tangan Tuhan.”
“Aku membencimu, Arka! Aku membencimu!,” bentak Felly dengan air mata yang berlinang.
“Felly, aku sengaja membuat dirimu membenciku. Aku menginginkan dirimu. Bukan yang lain meski lebih baik darimu.”
“Aku lelah!,” ucap Felly lirih.
“Oleh karena itu, aku ingin menggenggam tanganmu. Bukan menguasai dirimu atas emosiku. Apakah kau tidak pernah sadar dengan semua itu? Felly, aku mencintaimu bukan karena kau seorang model. Tapi aku mencintaimu atas dasar kau adalah kebutuhan utamaku. Untuk hidup, aku membutuhkan nafas. Itulah persamaan dirimu. Tapi, kau tidak pernah mengerti apa yang aku inginkan semalama ini. Kau justru meninggalkan diriku dan menggantikan...”
“Felly...,”panggil Arka lirih saat ia merasakan kehangatan yang pernah hilang sebelumnya.
“Aku tidak pernah berhenti. Meski aku sengaja menghentikannya, aku tidak akan pernah bisa melawan dirimu.”
“Kenapa kau meninggalkan aku saat itu?,” tanya Arka dengan meneteskan air matanya di atas kepala Felly yang tengah menempel rapat di tengkuknya dengan kedua tangan yang melingkar dengan begitu erat dan mendekat tubuhnya dengan begitu hangat.
“Karena aku tidak mau bebanmu dikala kita sudah menikah.”
“Kau tidak akan menjadi beban bagiku, Felly. Dan, aku ingin kau melakukan itu untukku.”
“Melakukan sesuatu untukmu?,” tanya Felly heran dengan menatap mata Arka yang penuh dengan kasih sayang saat ia mengangkat kepalanya dan bertatapan sejajar dengan mata Arka meski sedikit mendongkak.
“Bisakah kau ulurkan tanganmu dan menggenggam tanganku. Ayo kita lampaui batas saat ini. Railah mimpimu bersamaku. Aku akan berusaha memahami waktumu dikala aku membutuhkanmu. Itulah janjiku! Okay?,” tanya Arka dengan memegang kedua pipi Felly dengan kedua telapak tangannya. Felly tak dapat menjawab dengan suaranya. Melainkan, ia menjawabnya dengan pelukan hangat. Menyatukan seruak mimpi dengan janjinya. Mimpi, kata yang selalu ada di dalam diri manusia. Hal yang bisa diraih dengan kedua individu. Menyatukan sebuah rasa. Cinta. Yah... rasa dengan beribu makna dan beribu anugerah.



_Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...