You Are Forget it?
P. N. Z.
Billy yang terus mengoceh menenangkan Riska yang tengah menangis dan Bram yang terus berkicau dengan amarhnya dan entah itu mengenai apa. Felly yang baru datang dengan wajah polosnya hanya dapat memandang anggota bandnya heran.
“Lu ngapain berdiri di situ kayak patung, hah?!,” tanya Bram dengan kerutan di dahinya dan sorotan matanya yang penuh dengan amarah.
“Habis, gue mau masuk takut ganggu marah lo. Makanya, gue berniat buat nungguin lu sapai lu selesai marahnya.”
“Aduh, Fel. Kala lu nungguin itu anak selesai marah, bisa-bisa Riska kena serangan jantung gara-gara dia berkicau terus dari tadi,” kata Billy dengan nada kawatirnya.
“Hahahaha. Okay. Okay, gue masuk sekarang!,” kata Felly dengan duduk di sofa depan Billy dan Riska.
“Lu nggak seharusnya diem aja, Ris! Apa atau apa, kek?! Maki atau apa kek.. Lu...”
“Udah Bram! Sini! Duduk!,” kata Felly memutus pembicaraan Bram.
Brampun seketika berhenti berkicau. Ia menuruti kemauan Felly.
“Dia kenapa?,” tanya Felly tajam dengan nada santai.
“Tuh!,” kata Billy dengan mengarahkan daagunya ke arah ponsel yang ada di atas meja.
Tanpa bertanya lagi, Felly meraih ponsel itu. Kemudian melihat beberapa aplikasi yang memungkinkan ia mendapatkan jawaban atas semua kejadian hari ini. Ia membuka aktivitas chattingan Riska satu persatu. Hingga akhirnya, ia mengerti akan penyebab Riska menangis hingga ia tak mampu berbicara kepada-teman-temannya.
Seketika mata Felly terbelalak saat ia melihat kata ‘pelacur’. Selain itu, nafas Felly semakin berat seraya ia menahan amarahnya saat ia melihat display profil Abraham yang membandingkan foto Riska dengan kekasihnya yang baru. Padahal, Ia baru putus dengan Riska kemarin malam. Apakah hal itu tidak gila? Apakah dia tidak bisa mengingat kenangan manisnya bersama dengan Riska? Apa yang ada di jalan pikiran Abraham? Dan, apakah dia tidak mempunyai perasaan atas semua ini? Felly, tidak habis pikir dengan semua ini.
“Jika memang Abraham menyakiti Riska, tidak seharusnya ia menjelek-jelekkan Riska seperti itu. Tch! Nggak bermoral!,” gumam Felly dengan melihat layar ponsel Riska.
“Apa yang harus kita lakuin sekarang, Fel? Turnamen Nasional akan tergelar besok. Lo yakin, band kita bisa tampil perfect klau salah satu personil kita ada yang kacau begini?,” tanya Bram.
“Terus, apa yang harus kita lakukan untuk membuat Riska mengerti akan situasi ini? Felly... lo pasti bisa kan menemukan solusinya?”
“Ris! Kenapa dia nglakuin ini semua ke elo? Apa, lo pernah nyakitin hatinya sebelum kejadian ini terjadi?,” tanya Felly berusaha mengerti.
Riska tidak dapat menjawab.Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan isak tangis yang masih menderu begitu kencang dan memenuhi ruangan studio band mereka.
“Fel!,” panggil Bram memberikan kode kepaada Felly untuk keluar ruangan.
Sedangkan Billy, ia mengangguk seraya ia mengerti akan tugasnya. Yaitu, menjaga Riska agar tetap tenang. Bagimana tidak? Kemarahan Riska dapat menjadikan apa saja yang ada di sekitarnya menjadi kacau. Bebeda dengan teman-temannya yang hanya terdiam dengan alunan nafas berat atau mabuk ssetelah ia pergi ke diskotik.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Haruskah gue nemuin Abraham? Tapi, gue bakalan kena masalah sama Riska kalau gue nemuin dia?”
“Enggak. Itu hanya bisa mempersulit posisi kita aja. Gue yakin, Abraham bukanlah orang biasa yang hanya diam dengan taktik serangann. Gue akan cari informasi hari ini. Kita selesaikan semua ini. Okay?”
“Nih!,” kata Bram dengan menyerahkan selembaran kertas.
“Apaan?,” tanya Felly Bingung dengan memandang lembaran kertas itu.
“Itu informasi mengenai siapa Abraham. Jujur, gue nggak bisa melakukan apapun. Karena ini menyangkut kelaruarga gue. Emang gue akui gue egois.Tapi, gue bakalan dorong lo dari belakang. Karena di situ tertera, Abraham nggak kenal sama lo sekalipun dia cari informasi tentang lo. Dia nggak bakalan bisa berhasil. Karena titik puncak kari lo bukan menggunakan nama lo sendiri.”
Felly mengangguk-anggukan kepalanya menandakan ia mengerti. Setelah itu, mereka masuk ke dalam dan berusaha membuat Riska berbicara meskipun hanya sepatah dua kata.
“Gue tahu, ini semua begitu menyakitkan untuk lo. Tapi, kita nggak akan tinggal diam kok, Ris. Jadi, jangan kawatir,” kata Bram.
“Tapi dia udah bilang gue pelacur. Apa yang lo pikirin tentang itu kalau lo bukan pelacur?”
“Emang cowok bisa jadi pelacur?,” tanya Billy.
“Billy...,” panggil Riska manja dengan sedikit tawa di dalamnya.
Sedangkan Felly dan Bram tertawa mendengarkan pertanyaan Billy yang polos. Yah... begitulah mereka. Saling menghibur dan menerima kesedihan satu sama lain. Meskipun tidak dapat membantu seluruhnya, mereka akan saling mendukung dan memberikan semangat.
Menghilangkan pedihnya cinta bersama dengan para deretan sahabat yang selali ada bersama kita. Cinta. Kata itu begitu familiar di setiap telinga seluruh insan di dunia. Bagaimana tidak? Cinta merupakan anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa. Cinta begitu nikmat rasanya mengalahkan coklat. Tapi, cinta juga tak kalah pahit dengan kopi hitan tanpa gula.
Begitu juga moral. Tak hanya manusia saja yang memiliki moral. Cintapun juga memiliki hal itu. Jika memang cinta itu memiliki moral, perpisahan pahit sudah cukup untuk menyakiti lawan cinta. Tanpa harus menghancurkan harga diri mereka.
_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment