Skip to main content

Baidura Cinta

Baidura Cinta
Pratiwi Nur Zamzani

Matanya menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan lampu dan bisingnya suara pengunjung. Ia masih berdiri di depan pintu caffe dengan raut wajah yang bingung. Mencari seseorang. Yah... itu yang ia maksud.
“Kamu ada dimana, Fel?,” tanyanya setelah ia lelah memutar bola matanya mencari seseorang yang ia cari.
“Aku memakai baju merah,” jawabnya lembut.
Ia masih berusaha mencari kekasihnya itu. Hingga akhirnya, ia menemukan baju merah itu. Namun, keraguan menyelimuti dirinya. Seakan, baju merah yang telah tertangkap oleh matanya, bukanlah kekasihnya. Akan tetapi, ia memberanikan dirinya untuk berjalan ke arah meja itu.
“Felly!,” panggilnya lembut dengan keraguan sambil memegang bahu perempuan itu.
Dan benar, dia adalah Felly. Felly Anggi Wiraatmaja. Kekasihnya.
“Kamu udah lama nunggu, sayang?,” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di depan kekasihnya. Menatap mata kekasihnya dengan penuh cinta dan juga senyum yang berbinar.
“Enggak kok. Baru aja!”
“Kamu tampak beda banget pakai begituan, Fel.”
Felly menatap ke arah helaian kain yang menutupi rambutnya. Membingkai wajahnya yang putih dan mata bulatnya yang sempurna. Perfect.
“Aku mau putus!,” pinta Felly dengan tegas.
Arka hanya bisa terdiam dana membatu setelah mendengar ucapan Felly. Ucapan itu, seperti halilintar. Yang siap mendongkrak hatinya untuk sadar akan ucapan itu.
“Maksud kamu apa, Fel? Aku nggak ngerti! Kenapa kita putus kalau kita nggak ada maslaah apa-apa. Aku nggak selingkuh, sayang.”
“Aku minta putus! Arkana Aditya!,” jelas Felly dengan tegas.
Arka hanya menggelengkan kepalanya. Tidak menyangkaa ia harus menerima kenyataan setelah 2 tahun hubungan cinta mereka. Yah.. cinta yang selalu mereka pertahankan dan juga mereka pelihara dengan baik.
“Aku sadar, cinta nggak harus ditempuh dengan pacaran. Mengenal lebih dalam juga nggak harus dengan pacaran. Lagiupula, percuma juga kalau kita pacaran seberapa lamapun kalau kita nggak nikah. Cuma bikin sakit hati aja. Aku yakin, kita nggak akan langgeng. Karena, Allah nggak meridhoi hubungan haram ini!,” jelas Felly tanpa menatap mata Arka.
“Bagaimana aku bisa nikahin kamu sayang? Posisi kita masih pelajar!”
“Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita sudahi semuanya. Fokus dengan pelajar dan sukses untuk masa depan tanpa gangguan hubungan haram ini.”
“Tapi Fel, aku cinta banget sama kamu! Aku juga sangat menyayangi kamu! Apakah ada yang kurang dari aku?!”
Pantas saja Arka bertanya seperti itu, dia adalah seorang kapten basket dan murid tertampan di sekolah. Fisiknya juga tidak diragukan bagi kalangan hawa. Hampir seluruhnya, mereka mengidamkan Arka. Selain statusnya sebaga kapten, ia juga terlahir dari keluarga bermerk Germany.
Begitu juga dengan Felly. Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka berdua sangat cocok. Bagaimana tidak? Mereka memegang gelar kapten di setiap kemunitas yang mereka dalami. Felly adalah kapten band Pro Techno yang tengah tenar. Bukan hanya karena suaranya. Melainkan, karena persoilnya berisi dengan anak-anak yang macho. Siapa sih, yang nggak mau dengan cowok yang macho? Semuanya, pasti mau!
Akan tetapi, untuk apa macho, kalau mereka tidak mengerti dengan agama yang di anutnya sendiri? Dan, apabila mereka mencintai kaum hawa dan ingin mengenalnya, kenapa musti harus melalui pacaran? Sedangkan, pernikahan telah menunggu mereka. Apakah ini yang dinamakan kehidupan? Tidak!
Kehidupan yang sesungguhnya adalah, kehidupan yang selalu berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Dengan begitu, kita sesama manusia akan sadar dengan kodratnya. Dan, hal tersebut dapat membawa kita untuk hidup bersama dengan kelompok tanpa memandang status sosial ekonomi yang mereka miliki. Menerima apa adanya mereka. Sama halnya, saat Allah menerima keadaan makhluknya dengan apa adanya.
“Maaf, Ka aku nggak bisa. Aku minta putus hari ini juga!,” tegas Felly.
Seketika urat dahinya mengeras, terdengar gertakan giginya, dan kepalan tangannya telah membawa bom ke arah Felly. Ucapannya yang kasar.
“Jadi ini alasan lo pakai hijab? Berubah jadi sok suci?! Untuk apa? Semuanya udah terlanjur, Fel! Bibir lo udah jadi milik gue! Amal ibadah lo juga nggak bakalan diterima sama yang di atas! Lo seharusnya sadar dong, lo itu udah kotor. Jadi, jangan sok suci!!!,” murka Arka di tengah keramaian caffe.
“Aku ngelakuin ini karena aku ingin berubah, Arka. Untuk apa aku hanya memakai hijab jika aku tidak bisa memakaikan hijab ini di hatiku. Jikalau aku memakai hijab dan tetap berhubungan haram dengan kamu, itu akan membuat segalanya menjadi lebih sia-sia! Aku mohon, ngertiin aku, Ka! Aku ngerti kalau kamu sayang dan cinta sama aku. Hal itu sama dengan apa yang aku rasakan. Itulah kebaikan. Melakukannya begitu sulit kan, Ka?! Arka, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, Ka! Semuanya bisa dilawan dan dikalahkan! Kecuali, Allah!”
“Alah, sok suci loh! Ok, gue akan putusin lo hari ini. Tapi, asal lo tahu aja Felly! Lo akan menyesal udah ninggalin gue hanya demi hijab murahan itu!!!!,” ancam Arka dengan beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan Felly yang masih duduk mematung dengan mata yang sudah mulai basah.
Sakit! Memang! Meninggalkan orang yang kita sayang benar-benar menyakitkan. Akan tetapi, Allah maha tahu. Dengan begitu, ia akan menyusun rencana yang lebh dari indah dari saat ini di kemudian hari. Dan, Felly percaya itu. Baginya, agama bukan hanya untuk sebuah sandangan nama. Melainkan, sebuah kepercayaan yang membuat hati kita benar-benar percaya dengan akan adanya keajaiban dan juga kehadirannya serta keberadaannya.





Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...