Skip to main content

No Come Back

No Come Back
Pratiwi Nur Zamzani
“Udah nunggu lama, ya?! Maaf, ya?!,” ucap Arka dengan duduk di depan Felly. Kekasihnya.
“Yah.. lumayan lah. Kamu, darimana? Tumben lama?,” tanya Felly.
“Maaf, tadi ada meeting dadakan. Jadi, aku nggak langsung nemuin kamu dan harus balik ke kantor.”
“Arka, maaf sebelumnya kalau aku harus berbicara seperti ini. Tapi, aku hanya ingin satu hal dari kamu.”
“Apa?,” tanya Arka antusias.
“Aku ingin, mengakhiri hubungan ini. Aku merasa, kenyamanan yang aku rasakan dari kamu udah mulai berkurang. Jadi, ayo kita akhiri semuanya.”
“Apa?!”
“Ayo kita akhiri hubungan ini. Cukup sampai sini aja,” kata Felly memperjelas.
“Tch! Kamu bercanda kan, Fel?,” tanya Arka dengan senyuman simpulnya dan sorotan mata yang tidak menyangka.
“Aku serius, Arka.”
“Felly, apakah ini perpisahan kita yang kedua kalinya setelah tujuh tahun itu?”
“Ya.”
“Felly...,” panggil Arka lirih.
“Maaf. Aku, tidak bisa melakukan apapunn. Aku harus pergi. Permisi!,” kata Felly tegas dengan meninggalkan caffe itu.
Arka tak mampu menghentikan Felly. Ia seketika terpuruk dengan kenyataan yang ada di depannya. Dadanya terasa begitu sakit.  Sesakit hatinya. Hawa yang panas sehabis siang menjadi senja terasa begitu dingin dan menggetarkan jiwa. Kakinya tak mampu beranjak dari tempat duduknya. Matanya menatap jalanan dengan tatapan nanar. Hingga tak terasa, Arka meneteskaan air matanya.
Arka memaksakan dirinya pulang ke apartement. Bukan ke rumahnya. Selama di perjalanan, berulangkali ia menepuk dadanya dengan kepalan tangannya. Mengingat, usahanya untuk membuat dadanya bisa bernafas dengan bebas. Meskipun begitu, hatinya tak melepaskan dadanya untuk bernafas. Sekujur tubuhnya terasa begitu sakit.
Dengan isakan, Arka memasuki apartemennya dan menghempaskan dirinya di sofa panjang. Menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang tamu. Menetskan air matanya tanpa henti. Selain itu, pikirannya yang kawut karena tander yang gagal membuat ia semakin tersiksa dengan posisinya.
Aktivitasnya terhenti seketika. Biasanya, ia selalu pergi ke kamar mandi seusai ia bekerja. Kemudian, menuangkan coklat panas sebelum tidur. Tengah malam, ia bangun untuk sekedar melihat-lihat bahan pekerjaan dan schedule pekerjaannya. Tapi, semua itu terhenti saat ia harus mengingat perkataan kekasihnya. Felly. Lebih tepatnya, Felly Anggi Wiraatmaja.
Sebelumnya, mereka pernah menjalin hubungan selaa tujuh bulan. Kemudian, berpisah selama tujuh tahun dan kembali. Lalu, berpisah untuk kedua kalinya setelah perpisahan yang pertama adalah Arka penentunya. Hubungan yang kedua, adalah hubungan dimana Arka mulai serius dengan wanita. Entah mengapa ia tak tahu.
Saat ia bertanya kepada dirinya, apakah keseriusan hubungan itu berasal dari umurnya atau bukan, hatinya selalu menjawab tidak. Melainkan, ia merasa ketakutan menyelimuti dirinya saat ia harus kehilangan cintanya. Dan, semua terjadi. Jauh di lubuk hatinya, ia menyesal karena menunda untuk menawarkan pernikahan kepada Felly.
“Arka! Lo bisa keluar sekarang?,” tanya Bram. Sahabat Arka sekaligus rekan kerja Felly ssebagai model.
“Hhmmmm?,” gumam Arka lemas dengan air mata yang asih berlinang.
“Gue ada di depan apartement lo! Gue habis kecelakaan, Ka. Gue nggak mampu nih buat mencer bel lo! Tangan gue yang kena!,” kata Bram.
“Lah, kenapa lo bisa telfon gue?,” tanya Arka heran di tengah isak tangisnya.
“Gue minta tolong sama resepsionis apartement dodol!”
“Ok!,” jawab Arka.
Dengan langkah lemas, Arka berjalan ke dekat pintu. Kemudian membukanya. Saat ia telah melihat Bram, matanya semakin menajam meski masih ada sisa-sisa air mata yang sedari tadi keluar karena peristiwa sepulang kerjanya tadi.
“Apakah kau tiak papa?,” tanya Arka dengan wajah yang setengah panik.
“Tch! Aku tidak menyangka kalau kau masih bisa berkata seperti itu di tengah musibah yang menimpamu! Sebagai teman, gue mau bilang selamat ya atas putusnya lo sama Felly! Hahahaha!”
“Tch! Dasar! Kenapa lo datang ke sini hah kalau lo kenapa-napa?!”
“Iyalah, sebagai sahabat gue mau bilang. Kalau, gue nggak akan ngebiarkan sahabat gue yang satu dan bloon bakalan nangis semalaman!”
“Tch!,” kata Arka dengan membuang mukanya.
“Arka!”
“Hmmm?,” tanya Arka kepada Bram.
“Happy Birth Day!,” kata Felly yang muncul di belakang tubuh Bram dengan membawa kue tratnya.
“Felly!,” panggil Arka lirih setengah terkejut.
Bagaimana tidak? Arka mengenal gadis itu dengan kharismanya yang tinggi, keras kepala layaknya batu, amarahnya tidak dapat ia atasi kecuali Felly sendiri yang bisa menenangkan dirinya. Selain itu, Felly selalu mengutamakan harga dirinya. Dan yang berdiri di depan Arka saat ini bukanlah Felly kekasihnya. Ia tidak mengenali Felly dengan sikap dan sifat yang seperti itu. Terutama, surprise. Felly tidak pernah mau melakukan hal itu. Ia selalu bilang kalau surprise itu norak dan kampungan.
“Ka! Nih!,” ucap Billy dengan memberikan map berwarna merah.
Arkapun membukanya. Sejenak, ia terkejut dua kali karena melihat laporan yang tidak sama seperti sebelumnya. Tender yang awalnya gagal di dalam laporan menjadi berhasil dengan angka nominal dollar yang begitu banyak.
“Kalian..,” ucap Arka terputus.
“Sorry! Gue tadinya nggak mau ikut-ikutan masalah bisnis ini! Tapi, dia yang nyuruh!,” kata Billy dengan menunjuk ke arah Bram.
“Dan juga, dia yang malsuin laporannya!,” lanjut Billy dengan menunjuk ke arah Riska.
Riska hanya mengacungkan kedua jerinya membentuk hru’V’.
“Dan, Fell...”
“Itu rencana kekaasih lo sendiri! Gue nggak ikutan kalau masalah itu, hehehe. Secara, gue kan lumayan juga kalau lihat lo nangis!,” kata Bram dengan tersenyum tanpa bersalah.
“Kalian!,” bentak Arka setelah mengetahui semuanya.
“Arka!,” panggil Felly.
Arkapun menurunkan tangannya yang hendak menggampar ketiga orang tadi kecuali Felly.
“Kamu nggak pengen hargai aku?,” tanya Felly dengan menundukkan kepalanya.
“Kau pikir hargai apanya?! Tapi, aku mau bertanya padamu. Apakah, kau serius untuk tadi sore?”
“Ya enggaklah! Lo pikir gue bakalan ninggalin lo dan nunggu lagi selama tujuh tahun?! Lo pikir gue nggak capek apa nungguin lo melulu?! Udah awas! Jangan di tengah pintu! Gue mau masuk! Capek dodol!,” kata Felly menerobos masuk dengan membawa tartnya.
“Yes!,” ucap Arka senang.
“Minggir!,” kata Bram dan Billy.
Kemudian, mereka masuk ke dalam. Di susul oleh Riska yang masuk belakangan. Setelah itu, Arka menutup pintunya dan berjalan ke arah dapur untuk menuangkan minum. Namun, Felly melarangnya karena Bram telah membeli makanan serta minuman khusus untuk pesta ulang tahun Arka.
Saat semuanya tertata rapi, Felly menyalakan lilinnya dan menyuruh Arka untuk meniupnya. Namun, sebelum meniup lilinnya Arka meminta Felly untuk berdiri di depannya. Dan...
“Will you marry me?”
“Ok!,” jawab Felly santai.
“Tch! Dasar! Pasangan gila!,” gumam Billy.
Merekapun besuka ria di tengah lampauan galau Arka. Dengan senang, Billy dan Bram menyalakan vcd player dan berkraoke bersama di tengah malam. Dan sejak saat itu,  hubungan Arka dan Felly semakin erat.
Bagi Arka, Felly bukanlan cewek romantis begitu juga sebaliknya. Tapi cinta, telah mengubah segalanya. Menjadika yang tidak mungkin menjadi mungkin karena dorongan rasa yang mereka miliki. Cinta. Dan benar saja, ulang tahun bukan hanya seutas kata. Melainkan, wujud cinta dan kasih sayang dari seseorang.




Biodata Penulis
         
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...