Skip to main content

Atas Nama Ice Cream

Atas Nama Ice Cream
Pratiwi Nur Zamzani
“Eh bray! Kalian tahu nggak, hari ini bakalan ada pengawasan kerja!,” ucap Rio.
“Emang tiap hari begitu, kan?!,” tanya Rendy memastikan.
“Iya sih! Cuman, ini beda banget! Yang ngawasin kita bukan supervisornya! Tapi, General Manager langsung!”
“Hah?! Sumpeh, lo?!,” tana Rio terbelalak.
“Ngapain juga gue bohong?! Denger-denger sih, dia bar pengangkatan kemarin! Dan, cara kerjanya emang terjun lapangan secara langsung. Rumor juga, kalau dia itu orangnya teliti. Kesalahan sedikitpun bakalan ketahuan meskipun kita nyembunyikan gimana caranya,” jelas Rio.
“Gila itu orang!”
“Cowok apa cewek?,” tanya Arka.
“Cewek,” jawa Rio dengan menyeruput kopi panasnya.
Arka hanya menganggukkan kepalanya seraya ia melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Rendy dan Rio. Arka berpikir akan satu hal, hingga ia menghentikan makannya dan bertanya kepada Rio perilah General Manager yang akan mengawasi mereka nanti.
“Rio! Apakah lo tahu, siapa nama GM itu?”
“Kalau nggak salah, namanya itu, Felly Anggi Wijaya. Eh! Bukan! Wiraatmaja, atau... tahu ah! Pokoknya depannya Felly! Ribet banget ini mulut!,” jawab Rio dengan melanjutkan makannya.
Tak lama dari itu, bel masuk kembali berdenting memanggil para karyawan perusahaan yang tengah beristirahat untuk kembali bekerja. Dan, benar saja yang sudah dikatakan oleh Rio. Kawasan para keamanan tengah berjalan mengawal manager.
Seketika desas-desus keluar dari sana sini. Bagaimana tidak? Felly Anggi Wiraatmaja berjalan dengan setelan jas kantor yang begitu elegan. Matanya yang tajam semakin tajam saat matanya berhias dengan eye-liner dan mascara yang melekat di bulu matanya. Lipstict natural menambah ketajaman wajahnya. Begitu juga dengan langkah kakinya yang elegan membuat siapapun orang yang ada di depannya menunduk agar terhindar dari tatapan matanya yang tajam dan membunuh.
“Kenapa kau menunduk begitu takut padaku, tersenyumlah!,” pinta Felly kepada salah satu pegawai.
Dengan cepat, pegawai itu tersenyum pada Felly. Dan, Felly melangkahkan kakinya mendekat! Kemudian, mendekatkan bibirnya kepada pegawai laki-laki itu. Berbicara di sela leher dan telinga pegawai itu.
“Siapkan mentalmu!,” tegas Felly dengan suaranya yang lembut dan mengintimidasi.
“Lanjutkan pekerjaan kalian! Aku tidak suka di sambut layaknya seorang presiden! Sekalipun begitu, aku juga tidak suka dengan orang yang tidak segan untuk mendongkakkan kepalanya! Dengan begitu, aku memperingatkan kalian, aku bukanlah orang yang suka pekerjaan setengah-setengah!,” ucap Felly dengan meninggalkan pegawai dengan barisan berjejer yang memberikannya jalan layaknya seorang ratu.
Setelah Felly pergi, banyak pegawai yang berdesus mengenai berita yang beredar adalah benar-benar nyata. Wanita itu, benar-benar menakutkan dalam setiap geraknya. Mungkin, jika dibandingkan dengan profesi, ia lebih tampak seperti psikopat yang menyamar menjadi General Manager.
“Felly!,” gumam Arka lirih dengan tatapan matanya yang nanar.
“Lo kenapa, Ka?!,” tanya Rio memastikan.
“Gue ke kamar mandi dulu!,” jawabnya dengan berjalan setengah berlari.
Tak sampai di sana, ia melihat Felly berjalan ke arah gedung sebelah untuk memeriksa kinerja para karyawan seperti sebelumnya. Tanpa berfikir panjang Arka berlari untuk menyusul langkah Felly. Ia meraih tangan Felly yang tergelantung bebas.
Seketika, pengawal Felly menolak kedatangan Arka dengan larangan kontak fisik Manahan kedua lengan Arka hingga ia tak dapat melangkahkan kakinya untuk mendekati Felly.
“Jika kau bertanya kekuasaan? Lebih besar milikku di bandingkan denganmu!,” teriak Arka.
Seketika langkah Felly terhenti. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap tajam mata Arka.
“Apakah kau mengenalku? Kenapa kau begitu terobsesi? Kekuasaan? Apakah aku pernah mengngkit kekuasaan?”
“Jika memang begitu? Kenapa kau ada di sini dan berada dalam naungan Aditya Wijaya Kusuma? Apakah kau ingin semua orang tahu kalau aku putra tunggalnya? Kenapa kau begitu kejam, hah?”
Seketika Felly menguatkan rahangnya dengan menatap ke arah pengawalnya untuk melepaskan Arka. Dengan cepat Arka melepaskan dirinya. Lalu, ia meraih lengan Felly dengan kasar. Dan, memaksa Felly untuk mengikuti langkah kakinya.
“Kita mau kemana?,” tanya Felly.
“Kau akan tahu!,” ucap Arka tegas.
Tanpa bertanya, Felly mengikuti langkah laki-laki itu. Arka. Arkana Aditya. Laki-laki, yang Felly benci. Sangan benci. Dengan seluruh kebecian dan amarahnya, kaki Felly telah terhenti di atas bangunan perusahaan dengan menatap karamaian kota dari bawah.
“Makanlah! Agar hatimu, otakmu, sifatmu, dan segala tetangmu tidak seperti psikopat!!!,” ucap Arka dengan membuka kertas bungkus Ice cream coklat.
“Kenapa kau memberiku ini?!!!!,” bentak Felly.
“Karena aku membenci dirimu yang berubah! Aku tidak bisa membiarkanmu berkuasa dengan emosimu! Sekalipun kau lebih tinggi, turunkan mata membunuhmu! Aku tidak mengenalmu! Apakah kau sudah lupa bahwa kau adalah Felly?!!”
“Aku adalah Felly!!!”
“Maka dari itu aku mengingatkanmu!!!!,” bentak Arka melebihi kerasnya Felly.
“Arka...,” panggil Felly lirih.
“Kenapa? Apakah kau mengenalku? Kenapa kau begit terobsesi untuk memanggilku dengan lirih? Kenapa kau tidak membentakku, hah?!!!”
Felly tidak menjawab pertanyaan Arka. Ia hanya menatap lurus mata Arka yang tengah berkobar dengan api amarahnya. Sekalipun Felly mengungkap bahwa ia tidak pernah mengenal Arkana Aditya dengan amarah semacam ini.
“Kau pernah bilang padaku malam itu, bahwa kau ingin menjadi seperti ice cream ini. Dengan tekstur yang lembtut, taste yang pas meki dengan rasa yang campur akan selalu terasa manis. Hingga semua orang gila dengan rasanya. Felly! Aku begitu penasaran dengan dirimu dan juga perkataanmu, hingga aku memutuskan untuk meninggalkanmu! Dan aku tidak mengambil kekuasaanku karena menunggu jawaban dan bukti darimu bahwa kau adalah Ice Cream. Tapi ternyata, aku salah. Salah sepenuhnya!”
“Jika memang kau menyesali pertemuan kita! Bahkan cinta yang pernah kita jalin, kenapa kau tidak membiarkan aku seperti ini saja, hah?! Arka, Fellymu yang dulu telah hilang! Dan kau tahu apa yang membuatnya hilang? Jawabannya, ada padamu! Karena kau, adalah titik penentuan dimana aku harus berubah! Aku bukanlah wanita yang lemah! Dan kau, hanya bisa menginjak-injak aku dengan membuangku layaknya mainan! Apakah salah, jika aku mengubah posisi itu selama aku masih mampu menginjak-injak dirimu?,” tanya Felly dengan tatapan mata yang mengintimidasi.
“Tch! Jika memang itu yang kau mau, maka cobalah! Aku akan kembali menghancurkanmu! Sekalipun, aku masih mencintaimu! Dan camkan satu hal! Kau, tidak akan pernah bisa ada di bawahku meski kau telah menghilangkan kenangan kita tujuh tahun yang lalu! Aku berjanji padamu! Atas nama Ice Cream ini dan atas nama marga Aditya Wijaya kusuma, Aku mengubahmu seperti yang kau janjikan dulu!,” ucap Arka dengan meninggalkan Felly yang masih berdiri mematung dengan kata-katanya yang tajam. Mengalahkan tatapan matanya yang tajam.
Setelah kejadian itu, berita pengangkatan CEO baru mulai beredar dimana-mana. Arka, menepati janjinya kepada Felly. Ia memegang seluruh alih perusahaan yang ia tutup-tupi dengan identitasnya bahwa ia putra tunggal seorang Presdir. Hal itu gempat hingga ke telinga Rio dan rendy sahabatnya.
Namun, kesimpulannya hanyalah satu. Arkana Aditya berani kembali ke dunia asalanya hanya dengan satu alasan. Ice Cream. Ice Cream telah mendorongnya untuk berada di kursi raja. Merubah mantan kekasihnya tujuh tahun silam kembali dalam kelembutan cream Ice Cream. Manis dalam setiap gerak tubuhnya, senyumnya, ucapnya, hingga langkah kakinya.
Memeluk kembali dengan janji suci ikatan pernikahan setelah konflik besar yang terjadi antara keduanya.Ice Cream yang manis berpadu dengan pahitnya kopi menjadi pasuan rasa yang nikmat saat memasuki rongga mulut. Begitu juga dengan kehidupan. Seseorang dapat berubah kapan saja. Karena setiap orang akan berubah setiap detiknya.
Tapi perubahan itu, selalu ada titik penyebabnya layaknya penyakit yang memiliki akar permasalahan. Tidak ada yang lebih buruk sebuah penyakit selain hati seorang manusia. Banyak yang bilang, hati adalah anugerah. Yah.. memang! Hati adalah anugerah. Maka dari itu, apapun bentuk anugerah apabila memiliki keselewengan sedikitpun akan berbahaya. Karena semua, berasal dari hati. Dan hati, dapat mempengaruhi moral pemiliknya. Atas Nama Ice Cream
Pratiwi Nur Zamzani
“Eh bray! Kalian tahu nggak, hari ini bakalan ada pengawasan kerja!,” ucap Rio.
“Emang tiap hari begitu, kan?!,” tanya Rendy memastikan.
“Iya sih! Cuman, ini beda banget! Yang ngawasin kita bukan supervisornya! Tapi, General Manager langsung!”
“Hah?! Sumpeh, lo?!,” tana Rio terbelalak.
“Ngapain juga gue bohong?! Denger-denger sih, dia bar pengangkatan kemarin! Dan, cara kerjanya emang terjun lapangan secara langsung. Rumor juga, kalau dia itu orangnya teliti. Kesalahan sedikitpun bakalan ketahuan meskipun kita nyembunyikan gimana caranya,” jelas Rio.
“Gila itu orang!”
“Cowok apa cewek?,” tanya Arka.
“Cewek,” jawa Rio dengan menyeruput kopi panasnya.
Arka hanya menganggukkan kepalanya seraya ia melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Rendy dan Rio. Arka berpikir akan satu hal, hingga ia menghentikan makannya dan bertanya kepada Rio perilah General Manager yang akan mengawasi mereka nanti.
“Rio! Apakah lo tahu, siapa nama GM itu?”
“Kalau nggak salah, namanya itu, Felly Anggi Wijaya. Eh! Bukan! Wiraatmaja, atau... tahu ah! Pokoknya depannya Felly! Ribet banget ini mulut!,” jawab Rio dengan melanjutkan makannya.
Tak lama dari itu, bel masuk kembali berdenting memanggil para karyawan perusahaan yang tengah beristirahat untuk kembali bekerja. Dan, benar saja yang sudah dikatakan oleh Rio. Kawasan para keamanan tengah berjalan mengawal manager.
Seketika desas-desus keluar dari sana sini. Bagaimana tidak? Felly Anggi Wiraatmaja berjalan dengan setelan jas kantor yang begitu elegan. Matanya yang tajam semakin tajam saat matanya berhias dengan eye-liner dan mascara yang melekat di bulu matanya. Lipstict natural menambah ketajaman wajahnya. Begitu juga dengan langkah kakinya yang elegan membuat siapapun orang yang ada di depannya menunduk agar terhindar dari tatapan matanya yang tajam dan membunuh.
“Kenapa kau menunduk begitu takut padaku, tersenyumlah!,” pinta Felly kepada salah satu pegawai.
Dengan cepat, pegawai itu tersenyum pada Felly. Dan, Felly melangkahkan kakinya mendekat! Kemudian, mendekatkan bibirnya kepada pegawai laki-laki itu. Berbicara di sela leher dan telinga pegawai itu.
“Siapkan mentalmu!,” tegas Felly dengan suaranya yang lembut dan mengintimidasi.
“Lanjutkan pekerjaan kalian! Aku tidak suka di sambut layaknya seorang presiden! Sekalipun begitu, aku juga tidak suka dengan orang yang tidak segan untuk mendongkakkan kepalanya! Dengan begitu, aku memperingatkan kalian, aku bukanlah orang yang suka pekerjaan setengah-setengah!,” ucap Felly dengan meninggalkan pegawai dengan barisan berjejer yang memberikannya jalan layaknya seorang ratu.
Setelah Felly pergi, banyak pegawai yang berdesus mengenai berita yang beredar adalah benar-benar nyata. Wanita itu, benar-benar menakutkan dalam setiap geraknya. Mungkin, jika dibandingkan dengan profesi, ia lebih tampak seperti psikopat yang menyamar menjadi General Manager.
“Felly!,” gumam Arka lirih dengan tatapan matanya yang nanar.
“Lo kenapa, Ka?!,” tanya Rio memastikan.
“Gue ke kamar mandi dulu!,” jawabnya dengan berjalan setengah berlari.
Tak sampai di sana, ia melihat Felly berjalan ke arah gedung sebelah untuk memeriksa kinerja para karyawan seperti sebelumnya. Tanpa berfikir panjang Arka berlari untuk menyusul langkah Felly. Ia meraih tangan Felly yang tergelantung bebas.
Seketika, pengawal Felly menolak kedatangan Arka dengan larangan kontak fisik Manahan kedua lengan Arka hingga ia tak dapat melangkahkan kakinya untuk mendekati Felly.
“Jika kau bertanya kekuasaan? Lebih besar milikku di bandingkan denganmu!,” teriak Arka.
Seketika langkah Felly terhenti. Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap tajam mata Arka.
“Apakah kau mengenalku? Kenapa kau begitu terobsesi? Kekuasaan? Apakah aku pernah mengngkit kekuasaan?”
“Jika memang begitu? Kenapa kau ada di sini dan berada dalam naungan Aditya Wijaya Kusuma? Apakah kau ingin semua orang tahu kalau aku putra tunggalnya? Kenapa kau begitu kejam, hah?”
Seketika Felly menguatkan rahangnya dengan menatap ke arah pengawalnya untuk melepaskan Arka. Dengan cepat Arka melepaskan dirinya. Lalu, ia meraih lengan Felly dengan kasar. Dan, memaksa Felly untuk mengikuti langkah kakinya.
“Kita mau kemana?,” tanya Felly.
“Kau akan tahu!,” ucap Arka tegas.
Tanpa bertanya, Felly mengikuti langkah laki-laki itu. Arka. Arkana Aditya. Laki-laki, yang Felly benci. Sangan benci. Dengan seluruh kebecian dan amarahnya, kaki Felly telah terhenti di atas bangunan perusahaan dengan menatap karamaian kota dari bawah.
“Makanlah! Agar hatimu, otakmu, sifatmu, dan segala tetangmu tidak seperti psikopat!!!,” ucap Arka dengan membuka kertas bungkus Ice cream coklat.
“Kenapa kau memberiku ini?!!!!,” bentak Felly.
“Karena aku membenci dirimu yang berubah! Aku tidak bisa membiarkanmu berkuasa dengan emosimu! Sekalipun kau lebih tinggi, turunkan mata membunuhmu! Aku tidak mengenalmu! Apakah kau sudah lupa bahwa kau adalah Felly?!!”
“Aku adalah Felly!!!”
“Maka dari itu aku mengingatkanmu!!!!,” bentak Arka melebihi kerasnya Felly.
“Arka...,” panggil Felly lirih.
“Kenapa? Apakah kau mengenalku? Kenapa kau begit terobsesi untuk memanggilku dengan lirih? Kenapa kau tidak membentakku, hah?!!!”
Felly tidak menjawab pertanyaan Arka. Ia hanya menatap lurus mata Arka yang tengah berkobar dengan api amarahnya. Sekalipun Felly mengungkap bahwa ia tidak pernah mengenal Arkana Aditya dengan amarah semacam ini.
“Kau pernah bilang padaku malam itu, bahwa kau ingin menjadi seperti ice cream ini. Dengan tekstur yang lembtut, taste yang pas meki dengan rasa yang campur akan selalu terasa manis. Hingga semua orang gila dengan rasanya. Felly! Aku begitu penasaran dengan dirimu dan juga perkataanmu, hingga aku memutuskan untuk meninggalkanmu! Dan aku tidak mengambil kekuasaanku karena menunggu jawaban dan bukti darimu bahwa kau adalah Ice Cream. Tapi ternyata, aku salah. Salah sepenuhnya!”
“Jika memang kau menyesali pertemuan kita! Bahkan cinta yang pernah kita jalin, kenapa kau tidak membiarkan aku seperti ini saja, hah?! Arka, Fellymu yang dulu telah hilang! Dan kau tahu apa yang membuatnya hilang? Jawabannya, ada padamu! Karena kau, adalah titik penentuan dimana aku harus berubah! Aku bukanlah wanita yang lemah! Dan kau, hanya bisa menginjak-injak aku dengan membuangku layaknya mainan! Apakah salah, jika aku mengubah posisi itu selama aku masih mampu menginjak-injak dirimu?,” tanya Felly dengan tatapan mata yang mengintimidasi.
“Tch! Jika memang itu yang kau mau, maka cobalah! Aku akan kembali menghancurkanmu! Sekalipun, aku masih mencintaimu! Dan camkan satu hal! Kau, tidak akan pernah bisa ada di bawahku meski kau telah menghilangkan kenangan kita tujuh tahun yang lalu! Aku berjanji padamu! Atas nama Ice Cream ini dan atas nama marga Aditya Wijaya kusuma, Aku mengubahmu seperti yang kau janjikan dulu!,” ucap Arka dengan meninggalkan Felly yang masih berdiri mematung dengan kata-katanya yang tajam. Mengalahkan tatapan matanya yang tajam.
Setelah kejadian itu, berita pengangkatan CEO baru mulai beredar dimana-mana. Arka, menepati janjinya kepada Felly. Ia memegang seluruh alih perusahaan yang ia tutup-tupi dengan identitasnya bahwa ia putra tunggal seorang Presdir. Hal itu gempat hingga ke telinga Rio dan rendy sahabatnya.
Namun, kesimpulannya hanyalah satu. Arkana Aditya berani kembali ke dunia asalanya hanya dengan satu alasan. Ice Cream. Ice Cream telah mendorongnya untuk berada di kursi raja. Merubah mantan kekasihnya tujuh tahun silam kembali dalam kelembutan cream Ice Cream. Manis dalam setiap gerak tubuhnya, senyumnya, ucapnya, hingga langkah kakinya.
Memeluk kembali dengan janji suci ikatan pernikahan setelah konflik besar yang terjadi antara keduanya.Ice Cream yang manis berpadu dengan pahitnya kopi menjadi pasuan rasa yang nikmat saat memasuki rongga mulut. Begitu juga dengan kehidupan. Seseorang dapat berubah kapan saja. Karena setiap orang akan berubah setiap detiknya.
Tapi perubahan itu, selalu ada titik penyebabnya layaknya penyakit yang memiliki akar permasalahan. Tidak ada yang lebih buruk sebuah penyakit selain hati seorang manusia. Banyak yang bilang, hati adalah anugerah. Yah.. memang! Hati adalah anugerah. Maka dari itu, apapun bentuk anugerah apabila memiliki keselewengan sedikitpun akan berbahaya. Karena semua, berasal dari hati. Dan hati, dapat mempengaruhi moral pemiliknya.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...