Skip to main content

Candra Abyad

  Candra Abyad
Pratiwi Nur Zamzani

Awan kelabu dengan hembusan angin sejuk menyapa ritmik setapak langkah. Menyegarkan dengan tetesan embun dan juga warna pekat awan mengundang guyuran hujan hingga menjadikan view luar bandara menjadi lebih menyegarkan.
Felly Anggi Wiraatmaja, gadis yang menempuh karirnya karena selimut rasa benci. Saat ia harus mendengar cinta dari orang lain, ia hanya bisa menjawab bahwa ia memiliki kelainan psikologis. Ia selalu berkata kepada orang itu bahwa setiap ada kata cinta yang keluar dari mulut orang itu terutama laki-laki dengan niatan untuk mencintai, ia selalu bekata kepalanya pusing.                                                                                            
“Felly!!!,” panggil seseorang yang duduk bersebelahaan dengannya saat ia harus menunggu hujan reda.
Felly terkejut akan hal itu, sedikit tanda tanya muncul di benaknya. Kenapa laki-laki itu mengenaliku? Padahal aku menggunakan kacamata hitam untuk menutupi mataku? Mungkinkah aku pernah mengenal dia sebelumnya?
“Ya?,” jawabnya dengan membuka kacamatanya
“Selamat datang di Indonesia.”
Felly menatap lekat-lekat mata laki-laki itu, bulat dengan sudut yang runcing dan bulu mata yang cantik, serta mulut dan hidung yang memiliki bentuk satu garis membuat ia harus mengingat kembali orang yang pernah menjadi cinta dalam kenangannya delapan tahun silam. Sejenak Felly berfikir untuk itu, hingga ia mengingat laki-laki itu karena gantungan kalung yang dikenakan olehnya.
“Arka!!!”
“Ya, ini aku!  Apa kabar?”
“Baik.”
“Felly, untuk waktu itu aku mintan maaf karena...,” kata-katanya terputus karena Felly sengaja memutusnya.
“Karena kau meninggalkan aku di saat yang sama? Saat untuk kedua kalinya aku  membutuhkanmu dan kau pergi? Berikan alasan itu mengapa kau meninggalkan aku?”
“Aku meninggalkanmu karna saat ini! Karir, hanya itu yang bisa aku ucapkan untukmu!”
“Lantas, kenapa kau bilang padaku jikalau saat itu ada cinta lain yang lebih baik dari yang pernah ku berikan?”
“Karena aku ingin kau dan aku menempuh karir dengan tenang tanpa terbebani rindu karena cinta di antara kita!”
“Cccch!!! Kau tahu, aku menempuh semua ini karena rasa benci!”
“Lebih baik begitu dibandingkan tidak sama sekali. Jikalau kau ingin mendengarkan lebih banyak alasan mengapa aku meninggalkanmu, datanglah ke tempat ini jika kau tak ingin menyesal!,” Kata Arka dengan nyodorkan selembar kertas mungil ke tangan Felly dan meninggalkan Felly yang tertegun di tengah keramaian bandara.
Tak lama air mata yang tak mampu Felly tampung telah mengalir deras dengan suara tangis sesaknya selama ini. Walaupun ia telah bahagia dengan karirnya, ia harus menangis karena cintanya. Banyak hal yang dilakukan oleh Felly. Menangis setiap malam, dan juga saat ia kerja, bahkan berbicara bersama orang yang mirip dengan Arka.
Felly takut untuk menemui Arka hari ini. Ketakutan untuk tidak bisa melupakan kenangan cinta itu serta ketakutan untuk sia-sianya usaha keras untuk melupakan Arka. Namun, ketakutan yang ia miliki menjadi sebuah kekuatan untuk melangkahkan kakinya berlari ke tempat itu.
Berdiri, termangu, membeku dan menangis adalah hal yang dilakukan olehnya saat itu. Taman yang teduh dan juga penuh kenangan membuatnya deras akan air mata. Namun ia menghentikan langkahnya saat melihat kursi dan laptop yang ada, ia menghampirinya dan membaca perintah yang ada di atas post-it.
“Buka, dan nyalakan! Lihat dan resapi! Maaf aku tidak bisa berada di sampingmu saat ini, cukup apa yang kamu lihat adalah semua alasan akan perpisahan kita!”
Fellyupun mengikuti perintah yang ada. Membukanya dan melihat Vedeo itu.
“Cantik, apa kabar? Baik kan? Kau tahu malam saat ulang tahunmu kita telah berpisah. Terimakasih atas gantungan kalung yang kau berikan. Aku mengingatmu, mengingat ukiran cinta dan namamu. Mengingat suara rindu dan manjamu, serta mengingat akan janji dan semua kenangan kita. Kau tahu aku telah mempersiapkan hadiah ulang tahunmu, berturut-turut hingga terkumpul menjadi delapan! Ambillah kotak itu di bawah pohon awal pertemuan kita! Ingin rasanya aku memanggilmu sama seperti dulu lagi. Jadi, izinkan aku memanggilmu “Paaboooo”. Bodoh mu saat menggoreng telur, dan egomu saat kau harus menyiksa dirimu untuk bekerja keras adalah hal yang aku takutkan. Perpisahan ini bukanlah atas dasar apapun, melainkan aku hanya ingin kau sukses. Usahamu tak ternilai bagiku dengan cinta. Jika ada sisa kebahagiaan yang aku miliki, aku akan menyerahkan semua kebahagiaan itu kepadamu. Aku ingin mencintaimu lagi! Tapi, bagaimana bisa aku mencintaimu? Sedangkan aku tak memiliki hak untuk mencintaimu lagi! Jadi, bagaimana juga aku bisa memintamu untuk bersamaku lagi setelah sekian lamanya aku mencampakkanmu, membiarkanmu menangis saat melihat pria yang mirip denganku. Memang aku tidak berada di sisimu. Tapi setidaknya aku selalu berada di belakangmu. Felly LoVe You Baby. Kiss You. Good beye. Aku akan pergi ke Lebanon! Jagalah dirimu baik-baik!”
Fellypun berjalan ke arah yang sudah ditentukan oleh Arka. Dari kejauhan, Arka hanya bisa memandang Felly dengan air mata yang beralir begitu deras. Ia tak mampu mendekat ke arah Felly. Entah mengapa, ia tak tahu.
Saat Felly telah menemukan kotak kadonya satu-persatu, ia membaca seua surat yang ada di dalamnya. Rasa bencinya selama ini telah terjawabkan saat ia terus bertanya akan sebuah alasan dan latar belakang cerita mengenai pepisahannya dengan Arka.
Delapan kotak ada dalam sebuah rute jalanan. Ia mendapatkan semuanya. Dan, memegang apa yang seharusnya ia pegang. Saat ia menemukan kotak terakhir dengan satu cerita terakhir, ia memecahkan semua tangisannya. Tangisan yang semakin menjadi membuatnya sadar akan arti lelaki sejati. Lelaki yang berani meninggaalkan wanita yang dicintainya hanya karena menginginkan wanita itu melambungkan impiannya. Tak peduli sakit dan apapun yang terjadi. Namun, kesetiaan adalah kuncinya.
Yah... salah satu kunci dalam cinta untuk mempertahakan segalanya yang pernah ada. Ibarat rumah. Saat rumah tak dikunci, maka pemiliknya akan kehilangan barang-barang berharga yang. Sama halnya dengan cinta.



_BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.



     

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...