Cintaku Berkicau
P. N. Z.
“Pak Arka, ada?,” tanya Felly kepada resepsionis kantor.
“Pak Arka sedang meeting dengan pihak luar negeri. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bertemu dengannya sekarang juga.”
“Maaf, Bu. Untuk saat ini, Pak Arka tidak bisa menemui tamunya.”
Seketika Felly mengerutkan dahinya, mendengus kesal dengan nafas beratnya, bibirnya terkatup rapat, menggertakkan giginya, mencibir, dan menatap resepsonis itu dengan tajam.
“Saya nggak mau tahu ya, Mbak! Saya mau ketemu suami saya sekarang? Atau jangan-jangan, Mbak ini memang suda menggoda suami saya, dan menghalangi saya untuk menemuinya di kantor? Dasar wanita jalang! Tak tahu di untungg! Seharusnya Mbak sadar dong, kalau Pak Arka itu sudah beristri. Masih, aja di godain!!!!”
“Maaf, Bu. Saya tidak pernah melakukan hal itu. Ibu jangan ngomongin sembarangan, ya!”
“Ya mbak itu, yang harusnya jaga sikap ke suami saya. Lagipula...,” ucapnya terputus saat terdengar suara yang sangat familiar memanggil namanya.
“Sayang,” panggilnya dengan lembut. Tapi, dengan dahi yang mengeryit.
Fellypun meninggalkan resepsionis itu dan menjelaskan semuanya. Akan tetapi, Arka justru tertawa mendengar cerita istrinya dan tuduhan selingkuh istrinya. Arkapun meminta maaf kepada resepsonis itu dan membawa Felly untuk ke ruangannya.
Sesampai di sana, Felly semakin meledakkan amarahnya. Membuat, Arka heran dengan sikapnya. Tidak seperti Felly yang biasanya. Dia selalu lembut. Meskipun selalu manja. Apakah dia lagi PMS? Atau darang tingginya lagi kumat? Arka memutuskan untuk bertanya secara halus kepada Felly. Dan, Felly menjawabnya dengan keinginannya.
“Aku ingin punggung kamu!”
“Hah? Punggung? Kenapa bisa begitu sayang?!”
“Kamu pulang sekarang! Aku mau punggung kamu!”
“Tapi, jamnya belum pulang sayang!”
“Sebentar, aja sayang. Habis itu, kamu balik lagi ke sini.”
Arka mengeryit heran. Hingga akhirnya, Arka memutuskan untuk menurutinya. Maklum, pengantin baru. Lagi panas-panasnya. Selama di perjalanan, Felly selalu meluapkan kemarahannya terhadap Arka. Padahal, Arka sendiri tidak mengetahui masalahnya apa. Arka sempat menanyakan, apakah Felly sedang datang bulan. Dan, Felly menjawabnya dengan panas. Sehingga membuat telinga Arka ikut panas.
Sesampai di rumah, Felly menggeret Arka untuk masuk ke dalam kamar. Melepas jas, dasi, dan kemeja Arka dengan kasar. Arka sempat bingung.
“Apakah dia melakukan ini di siang bolong begini? Sedang bergairah atau gimana, ya? Tapi, kalau bergairah, kenapa bawa minyak kayu putih sama uang logam? Istriku kenapa sih? Di pegang dahiya, dia nggak demam! Aneh!,” gumamnya.
“Kamu berbaring telungkup gih!”
Arka sempat menolak, tapi dengan ocehan istrinya itu Arkapun menurutinya dengan perasaan yang lembut. Dioleskannya keyu putih membetuk garis panjang, lalu digesekkan uang logam itu di atas punggung Arka hingga berwarna merah. Kerokan. Secara otomatis Arka merintih sakit. Bagaimana tidak, orang tidak masuk angin di kerokin. Siang bolong begini, lagi. Bela-belain jemput ke kantor dan makan jam kerja.
Arka berulangkali membalikkan tubuhnya. Namun, Felly melarangnya. Terpaksa, Arka menurut. Di tengah aktivitas mereka, Felly menceritakan kesehatan tubuhnya Ia merasa pusing, mual, dan memuntahkan seluruh makanannya. Ia juga telat datang bulan selama 2 minggu. Setiap malam, ia susah untuk tidur meski ia merasa capek. Ia selalu dilanda lapar di malam hari dan dilanda mual di pagi hari. Arka terus berpikir dengan hal tersebut. Tanggal pernikahan mereka terhitung dengan perhitungan tepat untuk menyangka kehamilan. Curiga!. Arkapun mengambil ponselnya yang terletak di samping meja. Mengirim pesan ke satpam, untuk membeli tespen. Arka menjebak Felly dengan menginginkan jatahnya. Namun, ia mmanfaatkan air kencingnya saat melakukan hal itu. Menunggu, beberapa menit. Setelah mereka keluar kamar mandi dengan segar. Arka terkejut saat melihat garis dua merah di tespen. Hamil! Yah... pantas jika Felly hari ini sangat aneh, marah-marah, pengen ngerokin, pengen ini dan itu. Ternyata, alasannya cuma satu. Ngidam karena HAMIL!.
_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment