Skip to main content

For Attention Religious

For Attention Religious
Pratiwi Nur Zamzani


“Bisakah kau datang ke sini?,” tanya Arka kepada Felly.
“Ada apa memangnya?,” tanya Felly kembali.
“Siapa sih yang nelfon, Fel?!,” tanya Bram penasaran.
Felly membalik tubuhnya ke arah Bram. Kemudian memberikan kode kepada Bram bahwa Arka menghubunginya. Dan Bram hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya seraya menjawabnya tanpa memberikan suara.
“Ok aku akan datang ke sana. Sepuluh menit dari sekarang.”
Dengan cepat, Felly memacu mobilnya ke tempat yang sudah disebutkan oleh Arka di telfon barusan. Sesampainya di sana, Felly mencari meja yang sudah disediakan oleh arka. Namuan, caffe itu sepi tanpa ada pengunjung. Serasa bahwa caffe itu telah dipesan khusus oleh Arka untuknya.
“Kenapa kau tidak duduk?,” tanya Arka dengan membetulkan jasnya.
“Kau darimana?,” tanya Felly.
“Kamar mandi.”
“Oh.”
“Duduklah!,” pinta Arka kepada Felly.
Dengan santai Fellypun duduk di kursi yang ada di sampingnya. Namun, sebelum itu Arka menarik kursi itu dan mempersilahkan Felly duduk layaknya seorang putri raja.
“Kenapa kau mengajakku ke tempat yang seperti ini?,” tanya Felly penasaran.
“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu.”
“Tak biasanya kau berbicara seformal ini.’
“Karena, hari ini adalah hari spesial bagiku.”
“Spesial? Aku rasa, hari ini bukan hari ulang tahunmu.”
“Memang. Tapi, hari ini adalah hari jadi kita berdua plus valentine day and will you marry me?!,” tanya Arka dengan menyerahkan kotak berwarna hitam.
“Arka..,” paggil Felly lirih.
“Apakah kau masih meragukan aku?!,” tanya Arka.
Felly menggelengkan kepalanya.
“Apakah kau takut aku akan meninggalkanmu lagi?”
Felly tetap menggeleng.
“Lantas, apa kau tidak mau menikah denganku?!,” tanya Arka lebih serius dengan sorotan mata yang tajam.
Felly tetap menggelengkan kepalanya.
“Lalu, apa maumu?!,” tanya Arka pasrah dengan nada penuh penasaran.
“Aku tidak ingin dilamar dengan posisi seperti ini!” jawab Felly dengan menundukkan kepalanya.
Arkapun melihat sekitarnya. Ia bertanya-tanya kepada dirinya mengenai kekurangan yang ada. Namun, hatinya menjawab bahwa semuanya sudah pas. Caffe dengan nuansa romatis, meja yang penuh dengan lilin serta kue coklat, dan juga alunan musik slow yang menenangkan hati dan pikiran. Tapi, kenapa Felly mengatakan bahwa semuanya terasa kurang?
“Bisakah kau menjelaskan apa yang kau mau? Mungkin, aku bisa memenuhinya sekarang.”
“Aku tahu kau kaya dan memiliki segalanya. Tapi, tak bisakah kau menggunakan hati dan pikiranmu dalam hal ini?”
“Felly, apa yang kau bicarakan?! Aku... Aku benar-benar tidak mengerti dalam hal ini.”
“Arka, tidak bisakah kau melihatku di depanmu dengan hijab yang aku pakai. Aku juga pernah ke Amerika, Jepang, China, Jeman, Swiss, dan Thailand. Sama sepertimu. Tapi, aku tidak pernah sekalipun merayak kepercayaan mereka sekalipun aku ingin merasakan. Tak bisakah kau mengubah niatmu yang berawal dari hari valentine menjadi hari dimana kau cukup melamarku?!”
“Felly...,” panggil Arka lirih dengan mata dan mulut yang menganga. Tak menduga dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya.
Memang benar. Selama Arka mengenal Felly, ia tak pernah mendapatkan izin untuk menyentuh, menatap Felly tajam dan juga melakukan hal yang tidak wajar. Selama hubungan mereka, Felly hanya menganggap Arka sebagai kakaknya. Tidak lebih. Seraya itu lebih, Felly selalu menghindarkan dirinya dari Arka. Entah itu mematikan ponselnya, tidak memberikan kabar, atau menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Arka memang mengenal kekasihnya sebgai gadis keras kepala, berkharisma tinggi, dan tak terbantahkan. Namun, satu hal yang ia lupa. Felly bukanlah tipe gadis peniru. Ia selalu berdiri dengan sendiri tanpa orang lain meski orang lain mengulurkannya. Dalam artian lain, Felly adalah gadis denga pendirian yang teguh. Begitu pula dengan prinsip hidupnya. Tak dapat dirubah.
“Baiklah! Ayo menemui orang tuamu!,” kata Arka nekat.
Felly tersenyum tipis melihat kenekatan Arka. Merekapun menemui kedua orang tua Felly. Di sana, Arka meminta izin kepada kedua orang tua Felly untuk meminangnya. Dan, Felly menyetujuinya. Merakapun melangsungkan pernikahan dengan cara yang sesuai kepercayaan mereka berdua dan menjadikan hari valentine menjadi peringatan.




BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...