Candrasengkala Cinta
Pratiwi Nur Zamzani
Semburat cahaya lembayung memperindah langit sore itu. Dengan awan merah bercampur orange, serta kabut putih seperti lukisan pigmen di atas kanvas. Semua warga di sekolah itu sibuk mempersipakan untuk turnamen nasional, dalam segala bidang untuk memperebutkan piala Terikditasi A. Termasuk Felly Anggi Wiraatmaja. Kapten band terbaik di sekolahnya. Sekaligus, gitaris wanita terbaik di kalangan remaja.
Semua murid-murid di sekolah itu, mulai melatih dirinya masing-masing sesuai dengan bakatnya. Tentunya, Felly juga melakukan hal yang sama dengan yang lainnnya. Studio. Yah, suasana yang biasa ramai dengan alunan musik menjadi sunyi karena ketidakhadiran vocallis band Pro Tecno. Yaitu, Wanda.
“Fel, gimana nih Wanda nggak bisa latihan hari ini karena bertengkar sama Rendy! Sedangkan, kita akan memulai turnamen dua hari lagi. Masak sih Fel, usaha kita yang mati-matian sia-sia begitu aja. Gue udah berkorban telat makan gara-gara lo sampai mag gue kambuh, masak berakhir kayak begini sih? Tolong lo bujuk dong Wanda, biar dia kembali ke sini!,” panik Bram sang drummer.
“Udahlah, biarin aja,” Jawab Felly cuek dengan posisi anggunnya saat bermain gitar.
“Tapi Fel...,” kata Bram terputus karena dipaksa oleh Billy, pemegang bazz.
“Sssssssssttttt, lo kayak nggak tahu Felly aja. Kalau lagi maen, jangan di ganggu kenapa sih? Bikin orang bad mood aja lu!,” Bisik Billy kepada Bram.
“Ya maaf, abis gue khawatir sama Wanda. Gue takut dodol!”
“Lu kayak anak kecil aja. Udah, santai aja!”
“Iya, iya.”
“Sekarang, kita latihan aja, dan konsen dengan lirik dan juga tangga nada yang gue bikinin kemarin. Walaupun tanpa suara Wanda, yang penting ini udah ok.”
“Fel, gue nemuin tangga nada piano yang nggak pas sama liriknya. Jadi, sedikit gue ganti deh, nggak papa kan? Lagian nggak banyak kok yang gue ganti, sekitar dua baris lah!”
“Ok, nothing Ris. Asal, lo bisa menghafal dalam waktu deket aja ngga masalah bagi gue,” Jawab Felly datar, namun ramah.
“Yaudah, mulai yuk sekarang latihannya!,” ajak Billy.
Dalam band Pro Tecno, Billy adalah orang yang paling memiliki pemikiran yang dewasa walaupun memiliki umur yang sama dengan anggota band lainnya. Sedangkan Bram dan Riska memiliki dosis ambisius yang tinggi. Saat keiginan mereka tidak terpenuhi, mereka selalu melampiaskannya dengan dugem di diskotik. Namun, hal itu sudah jarang dilakukan oleh mereka berdua. Karena, Billy selalu menghalangi mereka untuk pergi dugem dan meluruskannya dengan bermain musik. Sedangkan Felly..., kalian akan tahu siapa dia.
Saat mereka latihan, terdengar dering ponsel Felly. Sehingga, Felly menghentikkan memetikaan senar gitarnya untuk mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dan, hal itu membuat aktivitas semua anggota band berhenti dan terganggu.
“Sorry guys, gue udah ganggu kalian.”
“Nggak kok Fel. By the way dari siapa sih? Kok nggak lo angkat?”
“Enggak kok, Ris. Udahlah, ngak penting. Lanjut yuk!,” jawab Felly setelah melihat layar ponselnya dan merekapun melanjutkan latihan mereka tanpa suara Wanda.
Beberapa jam kemudian, Felly mengizinkan semua anggota band untuk istirahat sejenak dengan memakan snack yang tadi siang ia beli bersama Bram. Suasana terisi dengan renyahnya snack yang mulai masuk ke dalam mulut mereka. Fellypun memulai pembicaraan untuk meramaikan suasana.
“Bil, gimana hubungan lo sama Ina?”
“Alhamdulillah, bagus Fel. Lancar!,” jawab Billy senang.
“Lo nggak nanya hubungan gue sama Bunga Fel?,” tanya Bram dengan bibir manyun.
“Gue mau nanya, lo udah nanya duluan. Gimana gue mau nanya coba?”
“Gue kira, lo nggak peduli sama gue!”
“Ceileh, ngambek nih, bayi tabung,” ledek Riska.
“Hahahahahaha,” semua anggota bandpun tertawa, terkecuali Bram.
“Udah, udah, diem kalian semua! Bikin gue bete aja tahu!”
“Emang lo bisa bete? Paling-paling di sogok pakek kebab juga udah ilang bete lo!”
“Lu sadis amat sih Ris ama gue? Jahat lu?!”
“Hahaha, kapan lagi gue bisa godain lu hah? Habis ini liburan dodol, lu kan kalo liburan langsung terbang ke New York. Jadi, gue puasin dulu deh ngeledek lu!”
“Tau ah, sebel gue ngomong ama lu! Eh bentar-bentar, Wanda ada masalah apaan ya sama Rendy? Sampek-sampek, dia nggak bisa ikutan latihan?”
“Katanya sih, Wanda mau mutusin Rendy, Cuma gara-gara Rendy kalah turnamen basket dengan tim lain. Sedangkan, waktu itu Wanda hadir di tempat dan dipermalukan dengan tim lawan. Wanda malu dengan hal itu, apalagi Redy kan kapten basket? Bagian defense lagi.”
“Emang yah tuh anak, kalau cowoknya lagi bangkit dia malah nggak mau kehilangan. Giliran cowoknya jatuh, dia malah mau ngilang. Kasihan juga ya Rendy, dia pasti terpukul banget dengan hal ini. Apalagi, Rendy sayang banget sama Wanda. Dia pernah bela-belain operasi gara-gara berkorban demi Wanda.”
“Berkorban apaan Bram?”
“Dulu, ada cowok laen yang suka sama Wanda. Dia juga pemain basket. Jabatannya sama kayak Rendy. Mereka sempet bertengkar cuma gara-gara Wanda. Akhirnya, mereka mutusin untuk tanding. Siapa yang menang, maka dia yang berhak untuk mendapatkan Wanda. Waktu itu, Rendy hampir kalah karena kakinya kesleo. Tapi, karena sayangnya ke Wanda besar, dia akhirnya menang. Resikonya, dia harus operasi di pergelangan kakinya. Dua minggu kemudian, Rendy harus tanding dengan sekolah lain. Dia sempat nggak dateng karena larangan dokter dan juga mamanya, tapi karena Wanda nyuruh dan juga temen-temennya hampir mati nggak ada Rendy. Akhirnya, Rendy masuk lapangan buat maen. Itupun kakinya masih belum boleh untuk bergerak keras. Eh, sekarang malah mau di buang. Lo bisa bayangin kan gimana rasanya jadi Rendy? Secara kita kan laki Bil. Kalau gue jadi Rendy mah, udah gue buang tuh anak.”
“Gila juga yah, tuh anak!”
“Yah, gitu deh.”
“Gue nggak nyangka Wanda setega itu sama orang yang menyayangi dia,” sahut Felly dengan manggut-manggut.
“Mau gimana lagi guys. Gitu-gitu kan juga temen lo semua.”
“Tapi, nggak sejahat itu juga kali Ris.”
“Iya sih, tapi mau gimana lagi coba? Udah takdir dari yang di atas.”
“Bruuuaaakkkk!!!!,” suara pintu terbuka dengan keras.
“Apa-apaan sih Wan, bikin jatung copot aja!”
“Tau ah, sebel gue!!!”
“Sebel kenapa? Dateng-dateng bukannya gembira ketemu temen, malah tanpang di tekuk begitu. Bikin males aja, Wan.”
“Bram, lo tahu nggak. Tadi itu, gue dibikin malu sama Rendy. Masak dia nembak tiga point aja nggak bisa? Apa nggak malu sama jabatannya sebagai kapten? Lo tahu nggak, gue itu malu diliatin banyak orang, apalagi hampir semua orang tahu siapa gue. Secara, Rendy kan idola. Jadi, gue masuk deh di majalah sekolah tuh anak! Awalnya sih seneng, karena gue di akui sebagai kekasih dia, pasangan kapten lagi. Tapi, setelah itu? Aduh, gue malu banget deh tadi pokoknya. Tahu, deh gue harus gimana ke dia?”
“Lo mau putusin dia lagi?”
“Maunya sih gitu, tahu ah pusing gue!!!,” jawabnya dengan menghempaskan badanya di sofa.
“Gue kira lo punya harga diri Wan, ternyata nggak sama sekali,” sahut Felly dengan mengunyah snacknya dan berdiri membelakangi wanda dan teman-temannya.
“Maksud lo apaan Fel, lo jangan bikin gue panas ya Fel!”
“Lebih baik gue bikin lo panas dari pada lo harus lupa akan diri lo sendiri!”
“Lo mau ngajakin gue berantem?!”
“Kalau iya kenapa?”
“Nih anak nyebelin banget sih! Jangan..”
“Jangan apa hah? Jangan mentang-mentang gue kapten gue bisa seenaknya sendiri. Gue ingetin satu hal Wan, jangan pernah mencintai orang saat lo masih belum yakin akan cinta lo!”
“Lo suka sama Rendy? Ambil aja sana! Gue nggak butuh cowok kayak gitu!”
“Wanda!!!,” Riska.
“Apa? Lo mau belain Felly? Silahkan!”
“Wanda..”
“Diem Ris! Gue yang akan hadapi cewek gila ini!”
“Gila? Lo yang gila Felly!”
“Wan, seharusnya lo itu sadar. Nggak seharusnya lo buang Rendy kayak gitu. Sama halnya kayak post-it. Lo ambil saat butuh dan lo buang saat lo udah nggak butuh. Lo seharusnya menghargai cinta Rendy ke lo Wan, bukan menyia-nyiakan dia kayak begini. Lo sama aja nggak menghargai anugrah dari-Nya! Wanda, gue ngomong begini bukan berarti gue suka sama Rendy, tapi gue pernah ngalamin hal yang sama kayak lo Wanda!!!! Gue nyesel banget karena udah ninggain dia dikala dia membutuhkan gue. Emang Wan, sekarang lo nggak bisa ngerasakan rasanya kehilangan dia, tapi saat dia bener-bener udah pergi, lo bakalan akan merasa kehilangan Wanda. Cinta itu seperti angin, datang dengan sendirinya dan pergi saat kita tidak bisa menghirupnya dan juga merasakan kehadirannya!!!!,” kata Felly dengan menunjuk-nunjuk Wanda dengan telunjuknya, seakan-akan ia telah bersabda.
“Gue nggak pernah liat Felly seserius ini.”
“Dan, semarah ini Bil,” jawab Bram dengan sedikit berbisik.
“Gue juga merasa seperti itu guys. Segila-gilanya Felly marah dengan kita sehingga membuat kita merasa hampir mati, dia nggak pernah segila ini marahnya!,” sahut Riska.
Seketika Wanda terdiam, matanya mulai terasa panas, lalu hangat, dan jatuhlah air mata itu ke dalam pelataran pipinya. Membasahi seluruh jiwa raganya, dan juga hatinya. Ia mengingat segala kekurangan dirinya. Saat itulah Rendy mau menerimanya. Tapi kenapa? Kenapa ia tidak mau menerima setitik kekurangan Rendy? Itulah yang manjadi pertanyaan dalam hatinya? Hingga akhirnya, ia menemukan jawabannya karena Felly. Buta akan jabatan.
_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment