Skip to main content

Cinta di Balik Topeng

Cinta di Balik Topeng
P. N. Z.


Dalam temaram senja yang mulai gelap, Felly terdiam dalam deru nafasnya. Memandang, menerawang akan sesuatu. Mengangkat jarinya tuk membuka korden. Mengintip wajah senja yang tak menentu. Sama halnya dengan dirinya.
“Fel, kita masuk final dengan band itu lagi!,” ucap Bram sedikit keras.
“Proteus?,” tanya Billy meyakinkan.
Bram mengangguk. Tanpa menjawab, Felly hanya menoleh dengan tatapan matanya yang begitu tajam. Setajam singa yang siap memangsa mangsanya. Dan itulah Felly. Felly Anggi Wiraatmaja. Dengan julukan singa liarnya, ia menghembuskan nafasnya. Yah.. dengan alunan melodi. Serta kegilaannya saat berada di atas panggung.
“Gue pensaran, apa sih motivasi mereka menutupi dirinya?,” tanya Billy menerawang.
“Gue awalanya juga mikirin begituan. Dan, sekarang juga masih penasaran tentang hal ini,” sahut Bram.
“Mungkin, mereka malu karena wajahnya jelek atau apa gitu. Makanya, mereka selalu pakai topeng, atau masker untuk menutupi wajahnya termasuk identitasnya. Baik di depan panggung maupun di belakangnya,” jawab Riska menyimpulkan.
“Bisa jadi seperti itu. Tapi guys, kalau memang mereka jelek kenapa harus malu. Bukankan itu anugerah dari yang kuasa. Masih mending dikasih jelek, daripada buruk rupa,” jawab Bram Realistis.
“Bagaimana menurutmu, Fel?,” lanjut Bram penasaran.
“Bisa saja karena ada rahasia yang sengaja mereka semunyikan di balik ketenaran mereka yang setara dengan milik kita.”
Semua personil hanya menganggukkan kepalanya. Menelaah alasan Felly dalam pemikiran dan logika masing-masing. Namun, semua terfokus pada Felly saat Felly mulai beranjak dari tempat duduknya. Memandang dengan rasa penasaran dan juga menatapnya dengan isyarat tuntutan.
“Gue ada janji dengan orang lain. Maaf karena harus meninggalkan kalian di tengah latihan kita untuk tampil bersama dengan band yang membuat kalian seirus.”
“Hmmmmm, baiklah kalau jika memang itu diperlukan. Tapi ingat, kita akan menunggu lirik lagu dan perubahan cord musik tataan milikmu,” pinta Bram mengingatkan.
“Ya, aku faham akan tugasku! Aku akan menyelesaikannya besok.”
“Baguslah.”
Kemudian, Felly mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan personil band Pro Techno. Dan, meninggalkan mereka menuju Caffe Dw. Begitu sepi. Seakan, Caffe itu telah disediakan untuk mereka dengan dana penyewaan.
“Maaf telah lama membuatmu menunggu,” ucap Felly kepada lelaki itu.
“Ya, silahkan duduk. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Setelah Felly duduk, lelaki itu beranjak tempat duduknya. Berjalan ke panggung Caffe. Dan, memasang topeng untuk wajahnya. Seketika mata Felly terbelalak. Mengingat, bahwa Proteus adalah satu-satunya band yang menggunakan topeng. Walaupun, setiap personil memiliki topeng yang berbeda.
Banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Felly. Bahkan, hal tersebut membuat Felly bingung dengan lelaki itu. Sehingga, hal tersebut memaksa Felly untuk tetap duduk manis dan menunggunya turun. Meminta penjelasan kepada lelaki itu. Hingga, saatnya telah tiba.
“Apa maksud semua ini?,” tanya Felly mendesak.
“Yah... akulah orang yang pernah berhadapan danganmu saat kita berada di cotest vocallis terbaik. Tentunya, berada di atas panggung yang sama. Bersaing denganmu. Bahkan, akulah orang yang pernah menyakitimu. Dan, aku menunjukkan jati diriku karena aku tidak bisa berbohong padamu. Aku harap, saat pertemuan kita nanti kau tidak akan menyesal dengan persaingan kita setelah hubungan kita.”
“Tch! Aku akan menerimanya. Terimakasih karena kau telah menunjukkan satu arah padaku meski aku tak tahu arah itu selamat atau tidak,” jawab Felly dengan meninggalkan tempat itu.
Dengan langkah yang tergesa, Felly mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi teman-temannya.
“Hallo, Bram! Anak-anak masih ada di situ, kan?,” tanya Felly setelah menerima nada sambung.
“Iya, kenapa emangnya, Fel?”
“Gue akan segera kesana! Gue udah memperbaiki cordnya. Dan, gue akan menggabungkannya dengan lagu yang baru gue ciptakan dua hari yang lalu. Tunggu gue 5 menit lagi!”
“Ok, Fel.”
Dengan langkah yang cepat, ia kembali ke studio musik dan melaksanakan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Terkait, jadwal show mereka lebih maju. Sehingga, mereka hanya mendapat kesempatan latihan untuk hari ini.
“Hah, lo gila apa gimana Fel? Mana bisa kita menyatukan dua lagu dengan cord musik berbeda dan memberikan laporan hasil rekaman hari ini dan tampil besok? Mereka udah gila atau gimana, sih? Mereka pikir kita robot atau apaan? Kita manusia kali! Seharusnya mereka bisa.....,” oceh Billy terputus saat Felly, Bram dan Riska menghiraukannya dan mengangkat alat musik mereka untuk mencoba apa yang baru mereka temukan.
Mereka melalui sisa senja itu dengan latihan keras. Mencoba berulang kali hingga merasa telah sempurna. Dan, tibalah hari dimana Proteus dan Pro Techno saling berhadapan. Menunjukan kepada dunia akan tallent mereka masing-masing di atas panggung bergengsi tingkat pelajar.
“Apakah kau sudah siap?,” tanya Felly menantang dengan nada yang dingin.
“Yah... aku telah siap!,” jawab lelaki itu dengan nada yang sama.
Merekapun memulai pertunjukannya. Semua penonton bersorak saling mendukung jagoannya. Namun, semua berhenti saat Felly menghentikan petikan gitarnya dan menghampiri lelaki itu dengan sentuhan kasar yang biasa dilakukan oleh seorang gadis. Tidak hanya aktivitas mereka yang berhenti. Bahkan, waktu serasa berhenti saat Felly berteriak di depan lelaki itu. Dan, suasana seketika hening. Kecuali, teriakan Felly yang memenuhi suara gedung itu.
“Fel, kenapa?,” bisik Bram mengingatkan bahwa mereka menjadi pusat perhatian juri maupun penonton.
“Kenapa lo nggak pernah serius saat menghadapi gue?!!! Kenapa lo selalu mempermainkan gue?!!! Bahkan, setelah lo meninggalkan gue?!!!,” bentak Felly kepada lelaki itu.
Lelaki itu hanya terdiam dalam bisu.
“Arka! Jawab!!!,” bentak Felly lagi.
Seketika, suara gemuruh bisik-bisik terdengar setelah Felly menyebutkan nama itu. Bagaimana tidak? Darimana Felly tahu bahwa vocalis plus gitaris Proteus bernama Arka. Sedangkan, wartawan saja tidak dapat mengetahui siapa yang ada di balik topeng itu.
“Karena lo adalah kelemahan gue!”
“Tch! Kelemahan? Lo berani mengalahkan gue dengan melenyapkan cinta yang ada. Dan, lo berani meninggalkan gue demi gitar ini. Hal itu sama gue lakukan untuk itu. Tapi, asal lo tahu! Gue melakukan ini untuk sebuah tuntutan! Agar gue tahu bagaimana kondisi lo saat ini! Walaupun gue merasa begitu rendah! Hanya di sini gue bisa bertemu lo! Dan lo menyia-nyiakan dengan rasa munafik lo!,” ucap Felly dengan meninggalkan panggung. Begitu juga dengan Arka.
“Apa yang kalian lakukan di sana?,” tanya juri kebingungan dengan sulutan amarah atas ketidakseriusan pemain dalam kontes ini.
Saat Vocallis dari maisng-masing band menghilang, maka personil merekapun ikut menghilang dengan rasa bingung dan kalut yang bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak? Mereka semua tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Felly dan Arka. Padahal, setiap personil mengerti siapa masing-masing Vocallisnya. Mengapa mereka tidak mengerti rahasia dari satu orang saja? Apakah manusia seperti itu?
“Woy, nggak lucu kalau begini ceritanya. Sebenernya, ada apaan sih di antara mereka?,” tanya Bram kepada semua personil Pro Techno.
“Itulah bom yang telah meledak setelah melewati waktu tunggunya untuk meledak,” jawab Billy.
“Apa maksud lo, Bil?,” tanya Riska.
“Mereka adalah sepasang kekasih. Dulunya.”
“Apa? Sepasang kekasih? Dengan musuh bebuyutan kita?”
“Entahlah. Tapi, gue sempat dengar dari mulut Felly kalau dia mempunyai mantan kekasih. Kekasih yang berani meninggalkan dia dengan kesempurnaan yang Felly miliki. Entah apa yang ada di pikiran mantan kekasihnya, Felly masih tidak mengerti. Hingga saatnya Felly sadar kenapa mantan kekasihnya meninggalkannya. Yaitu, memaksa Felly bangkit untuk memegang gitarnya dan menuliskan lirik lagu dalam segenap amarahnya dan selimut dendamnya tanpa menyuruhnya dengan seutas kata. Melainkan, sebuah tindakan.”
“Tapi, kenapa mereka begitu bermusuhan dan saling membenci? Apakah mereka tidak ingat dengan kenangan indah semasa menjadi sepasang kekasih?,” tanya Bram.
“Mereka bukan membenci. Melainkan mencintai dengan cara mereka sendiri. Yaitu, menjunjung tinggi harga diri mereka. Saling menutupi akan seruahnya. Hingga cinta itu sendirilah yang memaksakan mereka untuk menunjukkan. Bahkan apabila difikir kembali, cinta mereka adalah cinta yang tertutupi dengan keegoisan masing-masing individu. Hingga pada akhirnya, mereka telah menghadirkan filosofi bahwa cinta itu munafik.”
Sejenak mereka terdiam dan masuk ke dalam pikiran masing-masing. Memberikan kesimpulan tentang jalan otak mereka dan juga pandangan hidup serta prinsip hidup mereka. Dan, menyatukan dengan filosofi pada umumnya bahwa cinta itu indah. Ternyata, tidak. Cinta memiliki begitu banyak makna.
Cinta memang indah. Bahkan bagi orang seperti Felly dan Arka. Mereka saling menahan rindu dan amarah cinta hingga mereka bisa mempertahankan cinta itu di tengah ladangnya cinta yang berani membukakan gerbang dengan leluasa untuk menerima mereka dengan pasangan lain. Tapi nyatanya, tidak selamanya cinta egois yang ada di dalamnya selalu terlihat buruk.
Melainkan, cinta egois akan memberikan sebuah pelajaran yang bisa djadikan sebagai pacuan untuk memberontak dalam ruang lingkup yang positif. Dimana mengenggam erat masa lalu yang pernah ada di dalam setiap kehidupan seseorang. Karena, masa lalu tidak seharusnya untuk dilupakan. Tetapi, jadikanlah masa lalu sebagi modal untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Serta, jadikanlah masa lalu yang siap menyakiti karena setajam pisau menjadi masa lalu yang bisa menjadi emas untuk membuat kita berkilauan. Baik itu di bawah temaram senja, pendaran bulan, teriknya mentari, hingga redupnya cahaya bintang. Dan ingatlah akan satu hal tentang masa lalu. Yaitu, janganlah jadikan kenangan masa lalu sebagai kambing hitam untuk sebuah alasan akan sulitnya bangkit dari masa lalu.

_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 083-833-678-583. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...