Skip to main content

Cukup

Cukup
Pratiwi Nur Zamzani

“Manager Felly, anda sudah di tunggu di kantor ketua direksi,” nada sambung dari telfon kabel kantor.
“Saya akan datang segera,” ucap Felly dengan menekan tombol mati di telfonyya.
Sejenak, Felly menghembuskan nafas lelahnya. Menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya yang begitu elegan. Sesekali, ia memandang kotak yang ada di depannya. Yah.. kenangan satu-satunya yang dimiliki oleh Felly setelah perpisahan itu.
Peristiwa yang begitu menyakitkan. Bagaimana tidak? Perpisahan itu terasa begitu menyakitkan. Dan juga, menenangkan. Saat Arka. Tidak. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Mantan kekasihnya.
“Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu oleh Kepala Direksi,” ucap pengawal yang berdiri di depan pintu ruangan Kepala Direksi.
Dengan senyuman ramah dan kharisma, Felly memasuki ruangan dingin itu. Tentunya, tak sedingin hatinya.
“Lihatlah!,” pinta Kepala Direksi kepada Felly dengan menyerahkan map berwarna merah.
Fellypun menurutinya. Lembar demi lembar, ia baca dengan cermat.
“Apakah anda berniat untuk mengirimkan saya ke Cairo?,” tanya Felly.
“Ya. Saya akan mengirimkan kamu ke sana. Mengingat, prestasi kamu di perusahaan ini terus menanjak. Tentunya, saya tidak akan membuang-buang waktu itu. Di tambah lagi, umur kamu masih begitu muda. Tidak sia-sia juga jika kamu mau melanjutkan studi di sana dan pulang dengan goal trander yang akan datang pada bulan ke enam.”
“Tapi...,” kata Felly terputus saat Kepala Direksi sengaja memutusnya.
“Apakah kau akan menolak lagi seperti sebelumnya? Felly, come on! Ayolah kita bekerja sama. Toh untuk apa kamu ada di sini dalam posisi yang sama jika posisi yang lebih atas menunggumu? Apa yang membuatmu seperti ini?! Felly, perusahaan sudah dua kali memberikan kamu kesempatan sekolah di luar negeri. Pertama, ke Inggris. Kamu menolaknya. Ok saya bisa memahami. Mungkin karena budaya mereka bertolak belakang dengan penampilanmu yang berhijan itu. Tapi sekarang, Cairo. Apakah masih kurang saya memilihkan negara untukmu?,” tanya Kepala Direksi dengan serius.
“Baiklah, saya akan mempertimbangkan tawaran ini.”
“Ok, saya tunggu hasil yang memuaskan.”
“Baiklah, saya perimisi,” ucap Felly dengan beranjak dari tempat duduknya.
  Fellypun meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan dengan gontai menuju ruangannya. Pikirannya terasa begitu berat. Begitu juga dengan tubuhnya. Terasa terbebani dengan semua masalahnya yang tak kunjung tuntas.
“Woy!,” getak Bram, Billy dan Riska yang muncul dari belakang. Kemudian, mereka berjalan beriringan.
“Hhhhh! Ngagetin aja sih kalian?!,” jawab Felly sewot.
“Yeeee habisnya sih, kamu dari kejauhan kita perhatiin ngelamun gitu. Apa apaan sih?,” tanya Riska antusias.
Felly hanya terdiam karena ia tak mampu menjawabnya.
“Eh, Fel. Kamu pasti belom makan siang kan karena harus menemui Kepala Direksi tadi? Gimana kalau kita makan bareng di kantin?,” tawar Billy dengan senyuman ramahnya.
“Ide bagus tuh, Bil. Fel, Ris. Makan yuk!,” lanjut Bram.
“Ok deh,” ucap Felly pasrah saat mereka semua mengharap Felly akan menerima tawarannya.
Dengan mereka berjalan ke arah kantin perusahaan. Kemudian, mereka memesan makanan sesuai dengan selera masing-masing.
“Felly, kita boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Billy dengan menundukkan kepalanya.
“Boleh. Kalian mau nanya apa?”
“Lo, kenapa sih nggak mau berangkat ke luar negeri? Padahal, kita-kita juga pengen loh,” kata Bram spontan saat Felly mengizinkan mereka bertanya.
“Apakah, Kepala Direksi menyuruh kalian untuk membujukku?,” tanya Felly menebak.
“Hehehe. Iya sih,” kata Bram dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Kamu ada masalah, kan?,” tanya Riska tepat pada sasarannya.
“Kamu bisa ceritakan semuanya ke kita, Fel. Kita nggak akan keberatan buat dengerin kamu,” ucap Billy serius.
“Dan, nggak akan bilang siapa-siapa. Suer!,” lanjut Bram dengan nunjukkan kedua jarinya hingga membentuk huruf ‘V’.
Sejenak, Felly berpikir. Hingga akhirnya, ia mulai membuka mulutnya.
“Karena, aku menunggu seseorang.”
“Apakah itu adalah mantan kekasih kamu?,” tanya Billy.
Felly mengangguk pelan. Dadanya terasa bebas dan bisa bernafas saat ia terbuka dengan sahabatnya sekaligus rekan kerja itu.
“Felly, sebelumnya aku minta maaf nih kalau lancang ngasih argumen ini. Masalah kamu mau menerima atau tidak, itu adalah hak kamu. Kalau menurutku sih, lebih baik kamu berangkat ke Cairo, Fel. Bukannya apa, kamu kan pernah bilang ke aku kalau berangan-angan itu adalah hal yang dibenci Allah. Jadi, cobalah untuk bangkit. Kamu tidak akan tahu rasanya dan juga hasilnya kalau kamu tidak mencobanya,” jelas Bram mensehati.
“Lagipula, kalau aku saranin sih jangan pernah menunggu hal yang belum pasti. Jalani aja apa adanya,” lanjut Billy.
“Selain itu Fel, dia emang udah janji sama kamu. Tapi, apa mungkin dia kembali kalau Allah tidak menakdirkan kalian untuk bertemu? Felly, serahkan masalah jodoh ke tangan Allah. Dia lebih berkuasa. Dan pastinya, Dia akan memberikan yang terbaik kepada kita meskipun itu terasa menyakitkan. Ibarat sakit nih, yang namanya obat kan pahit tuh. Tapi, hasilnya sembuh kan?! Begitulah cara kerjanya,” kata Riska menambahkan.
“Makasih ya, kalian udah kasih saran aku. Tapi, aku akan mempertimbangkan apa yang kalian katakan kok,” kata Felly dengan senyuman ramahnya.
Setelah itu, mereka memakan bersama makanan yang ada di depannya. Mengingat, mereka mengobrol terlalu lama hingga lupa bahwa makanan yang dipesan telah sampai di meja mereka. Dan, menunggu mereka untuk menyantapnya.
***
“Baru pulang, Fel?,” tanya Anjani. Mama Felly.
“Iya, Ma. Felly, ke kamar dulu ya?!,” katanya meninggalkan Mamanya setelah ia mencium telapak tangannya.
“Ok. Kamu, mandi dulu ya sayang. Habis itu makan malam.”
“Felly, udah makan kok, Ma. Tadi, waktu di kantor bareng sama anak-anak.”
“Oh... gitu ya.. Yasudah kalau begitu. Kamu, istirahat gih!”
Felly menjawabnya dengan anggukan. Kemudian, ia melangkahkan kakinya ke atas tangga dan berjalan lemas ke arah kamarnya. Sesuai dengan perintah Mamanya, ia membersihkan terlebih dahulu. Barulah ia berbaring di atas tempat tidur setela sholat dan berdoa kepada Allah.
Hari ini terasa begitu berat bagi Felly. Beban pikirannya terasa semakin banyak. Hingga akhirnya, ia mengambil kotak hitam yang ada di dalam tas kerjanya. Membukanya, dan menatap liontin itu. Mengingat kembali perpisahan menyakitkan bersama Arka waktu itu.
Felly terus berpikir tentang pendapat teman-temannya dan juga tawaran dari Kepala Direksinya. Ia merasa, mereka ada benarnya juga. Jodoh tak seharusnya untuk ditunggu. Melainkan, dipasrahkan kepada Allah untuk mengatur segalanya. Sebagai manusia, hanya cukup dengan usaha yang keras dan berdoa. Bukan terus memaksakan kehendak diri tanpa ada restu dan ridho-Nya.
“Mama, Felly boleh berbicara sesuatu?,” tanya Felly setelah ia turun dari tangga.
“Tumben, sayang.”
“Bicara aja, Fel. Kita kan orang tua kamu,” lajut Reynaldy. Papa Felly.
“Felly akan berangkat ke Cairo untuk melanjutkan studi di sana. Perusahaan yang menanggung biayanya.”
“Cairo?! Lalu... bagaimana...”
“Felly akan berusaha berhenti, Ma. Felly akan berangkat besok. Mama sama Papa setuju, kan?,” tanya Felly.
“Kalau, Papa sih itu tergantung kamu. Kalau kamu pergi ke sana dengan tujuan studi, Papa mengizinkan.”
“Kalau Mama?”
“Kalau Mama sebenarnya keberatan. Tapi, kalau ada studinya itu mah Mama nggak bisa ngelarang Felly karena itu adalah kewajiban islam untuk menuntut ilmu. Jadi, yah... Mama akan menyetujui kepergian kamu.”
“Makasih ya, Ma, Pa atas dukungannya.”
“Iya sayang. Udah gih naik lagi. Udah malem,” kata Anjani dengan membelai kepala putri tunggalnya.
Setelah itu, Felly memberikan kabar kepada Kepala Direksi bahwa ia menyetujuinya dan meminta keberangkatannya besok. Dan, perusahaan menyetujuinya. Karena, mereka berpikir bahwa labih cepat maka akan lebih baik.
***
“Felly kemana?,” tanya Arka dengan nafas yang terengah.
“Kamu, Arka kan?,” tanya Bram.
“Yah.. dimana dia sekarang?,” tanya Arka memburu.
“Dia udah ceck-in. Lima menit lagi keberangkatannya,” jawab Riska.
Dengan cepat, Arka meninggalkan teman-teman Felly. Kemudian berlari ke arah antrian masuk. Mencari gadis yang telah menunggunya selama bertahun-tahun.
“Felly. Kembalilah!,”pinta Arka saat Felly hendak memberikan tiketnya.
“Kenapa kamu ada di sini?,” tanya Felly polos.
“Aku tadi ke rumahmu. Orang tuamu bilang kalau kau akan pergi ke Cairo hari ini. Maka dari itu, aku menyusulmu kemari. Felly, kembalilah. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Kamu bisa pegang janjiku itu.”
“Maaf, Arka. Bukan berarti aku tidak mau kembali. Tapi, aku hanya butuh waktu sendiri.”
“Tidak, Fel. Ayo kita hidup bersama. Ok. Sesuai dengan keinginan dan rencana kita.”
“Arka, aku tidak memiliki waktu banyak. Aku hanya ingin bilang, kalau memang kita berjodoh maka kita akan dipertemukan kembali. Sejauh apapun jarak antara kita, dan berapalamapun waktu memisahkan kita. Kala Allah sudah berkehendak. Maka, nisacaya semuanya akan terjadi. Jadi, jangan terlalu mengharapkan aku. Karena semuanya akan terasa menyesakkan dada. Sama seperti yang kurasakan sebelumnya. Arka, berbahagialah di sini. Temukan kehidupanmu. Dan, terimakasih karena pernah bertaaruf denganku.”
Setelah itu, Felly menghilang dari hadapan Arka. Begitu juga dengan Arka yang meninggalkan tempat itu.
“Kenapa semua ini terasa begitu menyakitkan?,” gumam Arka dengan menepuk dadanya dengan kepalan tangannya.
“Apakah kau merasakan sakit seperti ini selama akau menungguku? Ya Allah... maafkanlah aku. Maafkanlah aku. Hambamu yang kurang bersyukur atas karuniamu mengennai datangnya gadis selembt Felly dan juga sekuat Felly. Berikanlah ia kehidupan yang baik. Dan satukanlah kami jika memang kami berjodoh. Serta, bantulah hamba melupakan rasa ini bila memang kami tidak berjodoh. Amin,” gumamnya dalam hati.
Saat mereka terpisah untuk yang kedua kalinya, mereka sadar bahwa menunggu sesuatu yang tidak pasti bukanlah sebuah kesengajaan. Melainkan, kuasa dari-Nya untuk mengingatkan akan kekuasaan dan juga keagungan diri-Nya.



_Biodata Penulis
         
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...