Crazy
Pratiwi Nur Zamzani
“Sorry, Fel. Tapi, mau bagaimana lagi kita sudah terlanjut menerima tawaran itu,” ucap Bram lirih.
“Lagipula, kita tidak pernah mengetahui bahwa masa lalumu begitu pahit jika menyangkut dengan hal ini,” lanjut Billy merasa bersalah.
“Emang, nggak bisa dibatalin?,” tanya Felly dengan tatapan mata yang cemas.
“Masalahnya, kita udah dibayar di muka, Fel. Dan, uangnya udah kita pakai untuk membeli perlengkapan band. Kalau kita batalin, kita harus menggantikan uang pemberian jasa dan juga ganti rugi,” jelas Riska.
“Ya Tuhan... Aku akan gila!,” ucap Felly dengan menepuk jidatnya pasrah.
“Ok deh, nanti gue akan datang ke undangan itu!,” lanjut Felly dengan berat hati.
Semua personil sangat bahagia setelah mendengar keputusan dari Felly. Memang, sejahat apapun Felly kepada rekan-rekannya ia tidak akan membiarkan rekannya menangis hanya karena keegoisannya. Dan, itulah yang membuat namanya disanjung banyak orang.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gitaris hebat dengan perlengkapan fisik yang memukau dan juga tallent yang tidak bisa diragukan lagi. Selain nama itu, ia juga mendapatkan julukan sebagai ‘singa liar’. Entah apa yang orang lain pikirkan tentang Felly. Sehingga, mereka memberikan nama itu kepada Felly.
“Fel, kita nanti berangkatnya bareng kan?,” tanya Bram ragu setelah melihat kemarahan yang ada di mata Felly. Seperti api biru yang sedang menyala-nyala.
“Iyalah! Lo pikir gue bakalan berangkat sendiri?! Ih, ogah! Kayak orang gila gue kalau berangkat sendiri!,” jawab dengan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, meraih botol yang ada di meja untuk membasahi tenggorokannya setelah kerasnya latihan mereka.
“Fel,” panggil Billy dan Riska bersamaan.
Fellypun menoleh ke arah mereka semua.
“Hmmmm?,” gumamnya kemudian tanpa mengentikan tegukan minumannya.
“Maafin kita!,” ucap mereka bersamaan dengan tangan yang terlipat ke depan. Seperti, memuja dewa.
“Eh, kalian apaan sih?! Berdiri nggak?! Kalau nggak, gue nggak bakalan ikutan nih buat kondangan!,” pinta Felly seketika setelah melepas ujung botol minumannya.
Merekapun berdiri. Kemudian, menunduk takut kepada Felly. Dengan tawa geli yang ada dalam hati, Felly mendekati mereka. Seperti, akan menelan mereka mentah-mentah. Sehingga, badan mereka semakin gemetaran merasakan jemari Felly mulai mendekat untuk memegang lengan mereka. Dan juga, lengannya yang ramping mulai menyentuh kulit mereka. Membuat, bulu kuduk mereka berdiri. Seperti, tersengat listrik.
“Felly!,” bentak mereka manja.
Bagaimana tidak? Felly memeluk mereka dengan kasih sayang dan juga tawa puasnya. Setelah mengerjai mereka tentunya. Kemudian, mereka kembali bergurau. Suasanpun menjadi hangat seperti biasanya. Karena, kedinginan yang ada karena rasa bersalah telah luntur setelah pelukan hangat Felly kepada mereka semua.
“Aduh... gimana nih langitnya mendung banget!,” ucap Billy resah setelah mengintip langit dari jendela studio. Setelah, mendengar gemuruh petir yang menggelegar. Siap menumpahkan tetesan air kehidupan.
“Kita kan bisa berangkat pakai mobil, Bram. Toh, Bram juga bisa nyetir!,” sela Riska.
“Tahu lu!,” ejek Bram dengan tetap mengunyah mie hangatnya.
“Fel, bangun dong! Bentar lagi kita berangkat nih!,” lanjut Bram membangunkan Felly dengan menggoyangkan tangannya ke arah kaki Felly yang tidur di belakangnya.
Fellypun bangun. Kemudian, menggeser pantatnya seperti suster ngesot. Mendekat ke arah Bram. Sehingga, Bram tepaksa minggir sedikit. Siapa lagi kalau bukan Felly? Jikalau ada makanan setiap bangun tidur? Mungkin, jika bukan karena kejeniusannya dan juga cekatannya dalam menangani masalah, ia tidak akan menjadi kapten. Dia suka sekali dengan tidur. Seperti orang yang malas.
“Dimana panggungnya?,” tanya Felly dengan mencari tempat yang ia cari.
“Noh!,” ucap Bram dengan menunjukkan panggungnya.
Tak lama, hujan kembali turun setelah beberapa menit berhenti. Merekapun berteduh. Kemudian, mereka mendapatkan layanan dari pemilik rumah untuk masuk ke dalam. Sesampainya disana, Felly bertemu dengan orang itu lagi.
Yah.. orang yang telah membuatnya gila. Segila-gilanya. Bahkan, orang itu telah memberikan kutukan dengan sebuah tuntutan. Yah.. tuntutan agar Felly bermain gitar. Tentunya, setelah perpisahan mereka. Arkana Aditya. Itulah namanya. Nama yang pernah menyinggahi hati Felly.
“Aku harap, kau tidak keberatan menyanyikan lagu kita!,” pintanya lembut.
Felly melirik tajam. Tapi, bagaimanapun itu ia telah kepalang basah karena uang itu. Mau tidak mau Felly harus menuruti permintaan penyewaanya. Di tengah hujan yang lebat, Felly beraksi. Tidak peduli dengan basahnya air hujan. Ia tetap bernyanyi di atas panggung meski ia harus basah. Dan, hal itu membuat para penonton berteriak keras. Penampilan itu, terlihat begitu seksi.
Karena tidak tahan melihat penampilan Felly, Arka naik ke atas panggung. Berduel dengan Felly dan ikut basah-basahan. Sama dengan penonton dan juga personil band Pro Techno lainnya.
Alunan musik yang menggelegar dengan tatapan mata yang lembut penuh kasih sayang, Felly membalasnya dengan kebencian. Akan tetepi, apakah masih bisa membenci bila ia masih merasa nyaman saat berada di dekat orang itu.
Jikalau begitu nyatanya? Apakah cinta itu munafik? Dan, jawabannya adalah ‘IYA’. Kalau cinta tidak munafik, kenapa Felly mau menerima tawaran itu meski alasannya uang. Felly terlahir dari keluarga kaya. Ia tinggal memasukkan kartu ke mesin ATM dan keluarlah uang itu. Tapi, kali ini tidak. Ia menerimanya meski mulutnya bilang tidak.
Apabila dipikir kembali, hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Felly adalah gadis yang keras kepala. Sekali tidak, maka hal tersebut tidak akan pernah mudah mengubah keputusannya. Namun, kali ini semuanya berbeda. Sangat bertolak belakang dengan kebiasaan Felly. Akan tetapi, siapa yang bisa memungkiri bahwa cinta memiliki filosofi yang berbeda. Dan, semua itu tergantung siapa yang memilikinya. Namun, bagi Felly cinta yang paling indah adalah cinta yang saling membenci dengan campuran kemunafikan sesamanya.
_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment