Skip to main content

Dunia Satu Koran

Dunia Satu Koran
Pratiwi Nur Zamzani

Terdengar suara tangis lembut dalam seruan adzan yang berkumandang. Malam itu begitu sunyi dan sepi. Akan tetapi, rumah itu memiliki cahaya remang karena pendaran lampu gantung. Arkana Aditya nama bocah cilik yang memenuhi hidup dengan goresan kerut di wajah serta menggunakan senyumnya untuk menatap kerasnya kota Metropolitan.
“Kamu kenapa menangis Felly?”
Gadis lugu, sopan, penakut dan penurut yang dikenal oleh Arka selama ia hidup.
“Gak papa kok Mas,” Felly menutupi air matanya dengan senyuman di sudut bibirnya.
“Kamu gak usah bohong sama Mas Felly, bilang aja kenapa?” tanyanya dengan penuh selidik. Ia melihat Felly memegang bulpoinnya dengan gemetar di bawah cahaya lampu gantung di dalam kamarnya. Felly hanya terdiam dengan sisa isak tangisnya. Dengan lembut Arka mulai mencari alasan kenapa adiknya menangis.
Tanpa berbasa-basi lagi Arkapun mengambil bulpoin itu dengan tanggap dan cepat dari genggaman adiknya. Lalu, ia membuka tutupnya dan melihat isi tinta di dalamnya. Iapun menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya.
“Jadi, ini toh alasan kamu menangis? Kamu tinggal bilang aja sama Mas, Felly. Gak usah takut!”
“Tapi Mas, Felly hanya kasihan sama mas yang sudah bekerja keras setiap hari untuk meneruskan sekolah Felly. Itulah alasan Felly takut bilang ke, Mas!”
“Takut kenapa? Apa gunanya Mas kerja berjualan koran setiap hari dan membersihkan toko Hj. Sunari setiap harinya?”
“Felly bangga punya Mas yang memiliki tanggung jawab besar kayak Mas Arka. Lagi pula, dengan usaha mas aku masih bisa melanjutkan sekolah.”
“Iya sih,Fel. Oh ya, Mas pergi dulu ya ke tokonya Hj. Sunari untuk belikan kamu bulpoin. Kalau boleh tahu apa aja Syah yang udah abis alat sekolahnya?”
“Cuma itu aja kok, Mas.”
“Yaudah kamu lanjutin dengan baca dulu aja ya, Fel. Dan, tunggu sampai Mas kembali!”
“Iya, Mas.”
Kasih sayang di antara mereka adalah salah satu pondasi yang kuat untuk saling menguatkan. Mereka rela untuk berbagi satu sama lain walau dirinya sendiri membutuhkannya. Bagi Arka dan Felly, kehidupan mereka begitu indah walau sebenarnya mereka benar-benar kekurangan. Dengan keikhlasan dan juga rasa syukur yang mereka miliki, mereka menjalaninya. Dalam keluarganya, Arka adalah salah satu anggota keluarga yang membantu Ibunya untuk bekerja setelah kepergian Ayahnya. Hasil yang dihasilkan oleh ibunya hanya cukup untuk makan. Tapi, mereka tidak mengeluh untuk hal ini. Mereka masih menganggap semuanya adalah anugrah-Nya. Mereka tidak perduli panasnya udara siang, dinginnya udara malam, serta gelapnya langit malam bila tanpa bulan dan bintang.
“Assalamualaikum,” suara ibu mulai terdengar
“Waalaikusalam,” sambut Felly dengan kecupan di telapak tangan kanan ibunya
“Kakakmu kemana, Fel? Kok gak kelihatan?”
“Lagi beli bulpoin Bu, soalnya bulpoinnya Felly habis Bu.”
“Oh, jadi begitu. Kalian sudah makan?”
“Belum!” katanya dengan menggelengkan kepalanya
“Ibu masakkan daun singkong ya Fel, kamu lanjutkan belajarnya!”
“Iya bu, apa perlu Felly bantu?”
“Tidak usah Fel. Biar ibu sendiri! Nanti, kalau sudah kamu Ibu panggil untuk makan malam bersama.”
“Iya, Bu.”
Tak lama kemudian, Arka datang dan memberikan bulpoinnya kepada Felly. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya dan menyiapkan untuk hari sekolah besok. Karena besok adalah hari yang ditunggu olehnya. Hari pertama sekolah setelah sekian lamanya ia meninggalkan sekolah untuk mencari uang dan menabungnya demi meneruskan sekolah Felly. Setelah semua stabil, ia kembali lagi dengan seragam merah putih dan dasi merahnya.
“Felly, Arka sini nak makan dulu!,” teriak ibu dari ruang makan yang beralaskan tikar bekas.
“Iya Bu,” sahut Arka dan Aisyah bersamaan.
“Wah, enak nih!” seru Arka.
“Iya, Mas”
“Maaf ya nak, ibu hanya bisa merebuskan kalian daun singkong dengan taburan garam tanpa nasi ataupun lauk yang enak. Kalian tahu sendiri kan, sehari ibu hanya bisa menghasilkan uang Rp.3000 dengan bekerja mengupas bawang merah di pasar.  Jadi, uangnya hanya cukup untuk membeli sayur ini.”
“Bu, bagi Arka dan Felly makanan ini sudah termasuk kategori enak kok bu. Jadi, Ibu gak usah sedih begitu. Masih mending kita bisa makan, coba kalau dilihat di luar sana, masih banyak orang yang meninggal karena gizi buruk dan kurangnya makan. Yang penting itu sehat di makan. Lagipula, untuk apa kita kaya tapi penuh keributan untuk memperebutkan harta sampai harus melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Lebih baik sederhana, tapi penuh dengan kedamaian dan ketentraman.”
“Iya sih.... Yaudah kalian makan, ya?!”
“Iya, Bu.”
Malam itu terlewati dengan senyuman dan kebahagiaan kecil keluarga Ibu Anjani. Mentari menyapa dan membangunkan mereka dan seluruh jagad raya untuk memulai kehidupan duniawi mereka. Arkana Aditya pergi ke sekolah bersama Felly dengan langkah santai menyenangkan. Ia mengantarkan Felly ke sekolahnya, lalu pergi ke sekolahnya sendiri. Disana, ia disambut sebagai murid baru, walaupun teman-temannya sudah tahu kalau ia berhenti sekolah karena kondisi ekonominya.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagi, Bu.”
“Arka kenalkan diri kamu!,” Arkapun mengangguk.
“Kenalkan, nama saya Arkana Aditya. Saya berasal dari sekolah ini sebelumnya. Hobby saya adalah mengamati sesuatu. Cita-cita saya adalah menjadi presiden.”
“Hahahahaha,” semua penghuni kelas tertawa kecuali Bu guru dan juga Bram, siswa pindahan dari Sumatera. Dia juga termasuk siswa baru di sekolah itu.
“Apa mungkin, penjual koran dan tukang bersih-bersih toko Hj. Sunari menjadi Presiden?. Padahal presiden harus kuliah dulu. Emangnya ada uang buat kuliah nanti?”, ejek salah satu teman di kelasnya.
“Tunggu! Apakah salah jika orang memiliki cita-cita setinggi itu. Hal tersebut termasuk  hak setiap orang. Dan tentunya, mereka memiliki alasan tertentu kenapa ia ingin menjadi seorang presiden. Lagi pula, kuliah tidak menjamin kita berhasil dalam menunjang cita-cita kita! Semua tergantung pada diri kita sendiri, pada usaha dan ikhtiar kita serta keikhlasan kita dalam menghadapi lika-liku pendidikan dan kehidupan kita! Jangan asal ceplos aja tanpa harus berpikir! Arka, ayo jelaskan alasan kamu kenapa kamu ingin menjadi seorang presiden!”
“Saya ingin memberantas korupsi dengan hukum islam. Dengan begitu ekonomi msyarakat bisa di benahi. Memanfaatkan uang pajak untuk kepentingan sosial serta mengurangi pengangguran dengan memberikan pelatihan dan menyediakan lapangan kerja seperti usaha kecil yang bisa memungkinkan untuk memperbaiki ekonomi negara dan dirinya sendiri. Tentunya, sesuai dengan keterampilan dan kreatifitas masing-masing. Serta, menjamin pendidikan di setiap sekolah.”
“ Keseharian kamu apa?” tanya Bram.
“Setiap pagi saya sekolah. Sepulang dari sekolah saya berjualan koran bekas dan membersihkan toko Hj.Sunari. Walaupun penghasilannya tidak seberapa. Tapi, setidaknya saya bisa menyekolahkan adik saya Felly. Walaupun keluarga saya serba kekurangan. Tapi, dengan keikhlasan dan rasa syukur yang saya panjatkan semuanya terasa cukup, selain itu rasa berat di punggung saya terasa ringan.”
“Perjalanan kehidupan kamu begitu indah, bagaimana kalau kamu ikut aku ke kantor ayahku. Kebetulan ayahku memiliki usaha percetakan, dan manager salah satu percetakan koran di kota ini. Dan itulah alasan aku pindah sekolah ini. Kisahmu dapat di publikasikan melalui media cetak maupun yang lainnya. Jika kamu laku dalam pasaran, kamu bisa menjadi pahlawan kehidupan. Lagi pula kamu juga yang untung.”
“Baiklah, aku akan datang bersamamu.”
“Baiklah, bisakah kamu duduk di sini. Kebetulan aku sendiri!”
“Baiklah, terimakasih ya,” Arkapun mengangguk dan berjalan ke arah Bram.
Tepat saat itu juga, tandu monyet Arka di mulai. Cerita demi cerita yang di tulis menurut kisah hidupnya telah membawanya ke arah jalan yang bisa membuatnya lebih baik. Ia mempercayainya tidak ada usaha yang terbuang sia-sia selama kita bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Dan, Yang Maha Kuasa akan meridhoinya selama kita melakukannya dengan penuh keikhlasan dan juga tawakkal terhadap apa yang ada di depannya.






_Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...