Skip to main content

4 Detik

4 Detik
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly!,” seru seseorang saat ia hendak keluar dari studio musik.
“Kamu!,” gumam Felly dengan wajah yang datar dan dingin.
“Yah! Ini aku!,” katanya dengan nafas yang terengah.
“Apakah kau baru selesai fitness?,” tanya Felly polos.
“Tidak! Baru menemukanmu di sini! Apa mungkin, aku fitness tetap menggunakan dasi yang mencekat tenggorokanku dan ketatnya jas ini?! Ku pikir, aku akan mati sesak nafas di gym kalau aku fitness menggunakan pakaian panas ini.”
“Hahaha, lantas kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harus ada di New York hari ini?!”
“Yah.. seperti kau lihat. Aku sudah pulang dan menghampirimu di kampus ini.”
“Baiklah, ada apa kau ada di depanku?! Apakah, ada...”
“Ya! Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”
“Apa itu?”
“Bisakah kita pergi sekarang ke tempat yang aku inginkan?”
“Sekarang? Kemana?”
“Nanti kau akan tahu!,” pinta laki-laki itu dengan menarik tangan Felly yang masih tergelantung bebas.
Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dambaan semua pria. Tua maupun muda. Sama seperti coklat. Bagaimana tidak? Suaranya yang begitu merdu dengan fasilitas tallent permainan gitar dan juga fisik yang menggiurkan. Mirip seperti, kucing. Matanya yang sipit, hidungnya yang mancung sederhana. Dan juga, bibirnya yang begitu tipis tanpa daun. Pink menggoda dengan kulit yang putih cerah. Seperi keturunan dari Korea.
“Kau tidak membawaku ke tempat macam-macam kan?!,” tanya Felly mengancam.
“Hahaha. Jikalau iya, kenapa aku harus susah-susah menunggumu?! Kenapa tidak kuhamili saja kau dari sedia kala, hah?! Kau tahu, di New York banyak wanita seksi. Tapi, aku tidak pernah tertarik dengan mereka.”
“Apakah kau sedang menggombal?! Aku benci dengan hal itu,” ucap Felly sambil manyun.
“Hahahaha. Tidak. Aku berbicara sesuai dengan kenyataan. Wanita-wanita itu berwajah sama persis dengan anjing. Awalnya, aku ingin menjamah mereka. Tapi, setelah aku ingat bahwa aku memiliki kucing. Aku tidak berani untuk membuat mereka menggonggong dengan ketampananku! Kau faham?!,” katanya laki-laki itu dengan wajah yang berseri. Sinis. Lalu, ia tertawa lepas.
“Dasar! Tapi, toh kalau kamu mau bersama mereka juga nggak papa kok!,” jawab Felly dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah kanan untuk melihat jalanan.
“Hahahaha. Inilah yang aku suka darimu! Kau begitu dingin. Padahal, aku sangat kepanasan walaupu AC mobil ini sudah aku setel dengan tenaga full.”
Felly hanya terdiam dalam ramainya suara laki-laki itu. Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Kakak kelas yang telah menjadi cinta pertama Felly. Bahkan, cinta mereka sempat terpisahkan selama  tujuh tahun lamanya. Namun, mereka dipertemukan kembali di satu sekolah yang sama. Memang, jarak antara umur mereka tidak terlalu banyak. Akan tetapi, jeniusnya otak Arka memudahkan dirinya untuk mencapai kancah suksesnya setelah Arka lulus sekolah dua tahun yang lalu.
“Hei! Kenapa kau diam kucingku?! Apakah kau ingin keju dengan panasnya beef yang meleleh saosnya? Atau kau ingin cake coklat dengan selai isi keju yang menggiurkan? Di tambah...”
“Aku ingin tempat itu.”
“Tempat itu?! Dimana?!,” tanya Arka bingung.
“Itu!,’ jawab Felly lemah dengan menunjuk tempat yang ada di depan mata mereka sebelum mobil itu berhenti.
“Kenapa kau meminta tempat itu, hah? Terlalu berbahaya, Fel.”
“Kalau kamu nggak mau. It’s Okay!,” kata Felly dengan membuka pintuk mobil.
“Ya Tuhan... Dia telah membuatku gila dengan sikapnya! Rasanya, ingin aku menggantikan kuliahnya dan segera menikahinya! Tch! Dasar, lu udah gila, Ka gara-gara cewek kucing itu!,” gumam Arka mengherdik dirinya setelah melihat Felly yang keras kepala untuk keluar dari mobil.
“Felly!,” seru Arka saat ia sudah kelar dari mobil dan melihat Felly berjalan sendiri menjauhi mobil.
Fellypun menoleh ke arah sumber suara. Tanpa menjawab panggilan Arka, Felly kembali membalikkan tubuhnya dan mendekati tempat itu.
“Astaga! Aku benar-benar gila telah menjadi miliknya!,” gumam Arka dengan melangkahkan kakinya menyusul ke arah Felly yang semakin menjauh.
“Apakah kau puas sudah membuat aku gila, hah?!,” tanya Arka dengan nafas terengah saat ia sudah berjalan beriringan dengan Felly. Tepat, di samping Felly yang masih tediam dingin. Sedingin tempat itu.
Felly menatap Arka yang bernafas tidak teratur karena mengikutinya tadi. Lebih tepatnya, Felly menatap kekasihnya dengan seksama. Seakan, ia ingin masuk ke dalam mata itu. Menjelajahi dalamnya, dan juga mengetahui apa yang dipikirkan oleh laki-laki di sampingnya.
“Kau kenapa menatapku seperti itu?,” tanya Arka kepada Felly dengan mengangkat salah satu alisnya.
Felly hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian, kembali menatap alam bebas yang hijau.
“Felly, tidak bisakah kau mengeluarkan suaramu sedikit saja?,” tanya Arka dengan menatap Felly tajam.
“Aku merindukanmu!,” ucap Felly dengan meninggalkan Arka yang masih terdiam termangu dengan ucapan Felly.
“Tch! Gadis gila. Apakah tidak ada cara lain yang lebih mengesankan daripada mengatakannya dengan datar dan ketus? Aku tahu, aku memang pernah meninggalkanmu. Tapi, tidak seharusnya kau membalasnya dengan hal ini kucing! Oh Tuhan, aku akan benar-benar gila saat aku akan kembali ke New York. Hei! Felly! Tak bisakah kau menunggu kekasihmu sebentar saja?!,” teriak Arka setelah ia bergumam panjang lebar.
Felly terus berjalan memasuki tempat itu. Sedangkan Arka, ia terus mengejar Felly dengan nafas terengah karena jalan yang dilewati olehnya terus menanjak naik. Saat mereka berjalan beriringan, Arka terus saja mengoceh menceritakan semua peristiwa selama ia di New York. Bahkan, Felly hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum tipis.
Bagaimana tidak? Felly memandang Arka sama persis dengan burung yang sedang berkicau di sekitar pohon yang berjejer.Yah.. pohon yang menyaksikan kebersamaan mereka setelah kepergian Arka ke New York beberapa bulan yang lalu.
Dalam artian lain, mereka menghabiskan waktu bersama untuk membalas waktu yang membuat mereka terpisah. Hubungan jarak jauh yang menelan rasa rindu mendalam. Begitu sakit saat mereka harus menahan rindu itu hingga tiba saatnya.
“Felly!,” panggil Arka lembut.
“Hmmmm?,” jawab Felly menyahuti. Tetap dengan pandangan lurus ke depan. Menyaksikan asrinya alam ciptaan dari-Nya.
“Tidakkah kau merasa kesepian saat aku pergi?,”  tanya Arka dengan kepala menunduk.
“Ya. Sangat!,” jawab Felly singkat dengan suara yang tertahan. Mengingat, pertanyaan itu begitu tercekat di tenggorokan Felly. Begitu juga dadanya.
“Hmmmm, terimakasih!,” gumam Arka dengan senyuman tipisnya.
Hening.
Hanya ada hembusan nafas dari satu sama lain. Seperti halnya mereka merasa lega saat mereka menghirup udara segar di tempat itu. Tempat yang terkenal dengan mitos tentang cinta.
Bagi siapa saja yang datang ke tempat itu dengan cinta, maka mereka akan kehilangan cintanya. Dan juga, bagi siapa saja yang datang dengan rasa yang hampa, maka mereka akan mendapat cinta.
Semua itu, berawal dari sejarah seorang pemuda yang hanya bisa hidup di tempat itu sendiri tanpa pendamping. Hingga akhirnya, ada gadis yang tersesat dan menjadi istrinya. Mereka hidup bersama hingga mereka menua dan menjadi bodoh. Hingga sang gadis meninggal dan di  makamkan di atas tebing. Disanalah asal mula tempat itu. Tebing tempat gadis itu beralirkan air yang deras. Orang-orang menyebutnya, air terjun Kakek Bodo. Mengingat, laki-laki penghuni itu memberikan nama itu sebelum ia menyusul istrinya ke dalam alam baka.
Bagaimana tidak? Meskipun Kakek itu menemukan gadis kembali setelah keluar dari situ, ia hanya mencintai istrinya yang telah meninggal. Hingga akhirnya, ia kembali ke tempat itu dan bersemayam disana. Sendiri. Tanpa pendamping. Begitu lamanya ia sendiri hingga ia mengucapkan sumpah yang menjadi mitos para masyarakat sekitar daerah itu. Dengan adanya sejarah, tempat itu menjadi tempat wisata yang menarik karena keindahan alamnya. Sangat, sangat, indah.
“Felly! Sini!,” ucap Arka saat air mulai turun membasahi bumi.
Mereka berteduh di pepohonan dan juga bangunan tua. Begitu juga dengan wisatawan yang berkunjung selain mereka berdua. Akan tetapi, keras kepala Felly mengalahkan perintah Arka. Felly tetap berjalan ke arah air tejun yang tinggal beberapa langkah lagi, mereka akan sampai.
Arka kembali bergumam dengan kesal. Namun, ia tak dapat melakukan apa-apa saat melihat kekasihnya yang tercinta terus berjalan. Dengan berat hati, ia berjalan beriringan dengan Felly.
Sesuai dengan keinginan, mereka telah sampai di air terjun yang diinginkan oleh Felly. Sejenak, mereka memandang keindahan air terjun itu. Sangat menawan. Fellypun masuk ke dalam genangan air terjun itu. Merentangkan kedua tangannya. Seakan, ia ingin alam itu memeluknya dengan hangat.
Dari kejauhan, Arka hanya bisa melihat Felly dengan pesonanya. Matanya berbinar dengan penuh cinta. Hingga akhirnya, perasaannyalah yang mendorong dirinya untuk berjalan mendekati Felly. Melingkarkan jemarinya dengan erat ke daerah perut Felly. Menenggelamkan kepalanya sela leher Felly. Meloyokan kepalanya untuk menyentuh pundak Felly. Menompangkan kepalanya.
Mereka berdua terdiam dengan mata terpejam. Menikmati susana yang ada. Tempat itu begitu sepi karena para wisatawan masih berteduh di tempat masing-masing. Berbeda dengan mereka. Merasakan jatuhnya air hujan dan juga dinginnya air terjun. Menghirup udara segar dengan penuh kelegaan dan juga, kehangatan kasih sayang antara keduanya.
“Arka,” gumam Felly di tengah ramainya gemericik air.
“Ya?!,” jawab Arka dengan posisi tetap seperti semula. Tidak berubah.
“Terimakasih!,” gumam Felly dengan menindih kepala Arka yang bersandar di pundah Felly dari arah belakang.
“Untuk apa?”
“Untuk cinta yang kau berikan padaku,” ucap Felly dengan memegang erat tangan Arka yang mulai dingin karena hawa dingin alam sekitar.
Arka mengangkat kepalanya. Memandang Felly dengan tatapan mata yang begitu lembut. Yah.. sangat lembut. Laki-laki itu memang arogan dan sedikit kasar. Dalam perkataan tentunya. Dan, begitu lembut saat hatinya mendorongnya untuk lembut.
Dengan mengusap kepala Felly lembut, ia membalikkan Felly agar berhadapan tepat dengannya. Dengan lembut, ia mengecup dahi Felly dengan penuh cinta. Kemudian, memeluknya dengan penuh kerinduan. Begitu juga dengan Felly. Ia merapatkan kedua lengannya yang melingkar di punggung Arka.
Bahkan, Felly berada dalam pelukan Arka dengan isak tangisnya. Tak kuat menahan rindu yang telah ia kurung dengan benteng yang begitu kuat. Mereka berpelukan dengan derasnya hujan dalam kurun waktu yang begitu lama. Hingga hujan, mulai menyurut dengan sendirinya. Disanalah mereka melepaskan pelukan itu.
Arka mendongkakkan kepalanya ke arah samping. Melihat air terjun yang menjadi saksi cinta mereka. Matanya menyapu seluruh sisi air terjun yang ada di sampingnya. Hingga akhirnya, ia melepaskan pelukannya dengan Felly.
“Lihatlah, sayang!,” ucap Arka dengan mengarahkan kepala Felly lembut. Menunjukkan arah yang harus di lihat dengan jari telunjuknya. Melalui jalan yang terbuka dari dagu Felly.
Felly hany bisa mengembangkan senyumnya dan juga membentuk mulutnya dengan huruf berbentuk “o”.
“Bagaimana?,” tanya Arka.
Felly hanya bisa mengangguk dengan mata berbinar saat melihat mata Arka yang membuat Felly mengerti akan maksudnya.
“Bagimana kalau kita foto bersama?,” lanjut Arka.
“Ayo!,” jawab Felly semangat.
Merekapun foto bersama menghadap ke arah pelangi yang terletak di atas air terjun. Begitu indah.
“Ini akan jadi foto terakhir kita. Aku akan kembali ke New York dalam beberapa hari. Mungkin, aku akan kembali setelah kau lulus dari kuliahmu nanti. Untuk, meminangmu sebagai isteriku. Dan juga, Ibu dari Arka junior,” ucap Arka
Dalam hitungan waktu 4 detik. Mereka menyatakan cinta. Waktu itu begitu singkat bagi mereka. Akan tetapi, begitu berharga. Itulah rasanya cinta. C-I-N-T-A. Rasa yang sulit terungkapkan dengan kata-kata. Namun, tetap tertangkap dengan tebakan tatapan mata.



BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...