Ngaret Bareng Betor
Pratiwi Nur Zamzani
“Tch! Sial!,” gumam Felly kesal dengan melangkahkan kakinya menuju stasiun.
“Loh, lo dari mana, Fel?,” tanya Riska heran setelah melihat baju Felly yang penuh dengan lumpur.
“Biasa! Pengendara mobil yang sombong!”
“Gue kan udah bilang sebelumnya, mending lo bareng gue. Lagian, kita sekompleks kan? Lonya aja yang kebanyakan bacot untuk bawa motor. Coba kalau lo bareng gue, walaupun itu mobil ngasih lo lumpur dari cipratan bannya juga nggak bakalan sampai kena ke lo!,” ucap Bram menyukurkan.
“Terus kalau begini, apaka lo masih mau manggung?,” tanya Billy.
“Tahu lah! Bram, lo bisa kan nganterin gue ke mall bentar?”
“Ngapain?”
“Cari jakcet! Masak gue manggung harus pekek beginian?”
“Nggak usah! Lo ambil aja punya gue! Ada tuh di dalem mobil.”
Fellypun mendekat ke arah mobil dan mengambil jacket. Saat ia menutup mobil, ia melihat mobil yang menyiraminya dengan lumpur itu. Namun, Felly hanya bergumam dan menggertakkan giginya. Menanti penumpang yang ada di dalamnya. Akan tetapi, Bram dan Billy terburu menyeretnya karena kereta sudah datang.
Dengan langkah yang menyeret, Felly tetap menoleh ke arah belakang. Melihat penumpag mobil dari jendela kereta. Bergumam marah karena wajah orang itu tidak terkenali. Bagaimana bisa? Yah... karena orang itu menggunakan kacamata yang hitam. Dengan leher jenjang yang putih, lengan yang kekar, dada yang membidang dan berotot, serta rambut hitam yang berjambul. Felly hanya bisa mengenali orang itu dengan jacket yang ia pakai. HFC. Itulah yang tertera di dalamnya.
“Yah.. Fel! Tempat duduk kita udah di tempatin tuh!.” ucap Riska dengan menunjuk ke arah tempat duduk yang sudah terisi penuh.
“Yaudahlah biarin aja, masak lo nggak mau ngalah sama anak kecil?,” jawab Felly memelas.
“Tapi, perjalanan kita ke tujuan masih jauh Fel. Mentok ke stasiun terakhir.”
“Silah duduk!,” ucap lelaki yang berada di belakang Felly.
“Wow!,” gumama Riska dengan melototkan matanya. Kagum.
Felly seketika menoleh. Melihat seseorang yang telah menyentuh punggungnya dengan dadanya.
“Kamu!!!!,” bentak Felly dengan menudingkan telunjuknya.
Orang itu hanya terdiam melihat ekspresi Felly yang meledak seperti bom.
“Lo kenapa, Fel?,” tanya Riska heran.
“Dia! Dia! Kurang aja lo! Gara-gara lo baju gue kotor! Dan, gue harus pinjem jacket ke Bram! Dasar! Lo nggak mau tanggung jawab! Seharusnya lo itu tahu dong...,” katanya terputus saat badannya terdorong ke depan karena kereta mulai melaju. Sehingga, tubuh Felly menyentuh dada bidang orang itu. Dengan tangan yang cekatan, orang itu menangkap tubuh Felly. Menompangnya agar tidak terjatuh.
“Ngapain lo pegang-pegang?!!!,” bentak Felly kasar.
Semua orang yang ada di dalam gerbong itu menatap Felly sinis. Seakan, mereka terganggu dengan apa yang dikatakan dan juga dilakukanoleh Felly. Namun, Felly menghiraukan mereka dan tetap menatap mata lelaki berkacamata itu dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian.
“Lo nggak papa, Fel?,” tanya Riska setelah ia mmenyadari bahwa temannya telah jatuh.
Felly tidak menjawab pertanyaan Riska. Melainkan, hanya menggelengkan kepalanya dengan tetap melihat ke arah orang itu yang tengah membuka kacamata hitamnya.
“Maaf,” ucap orang itu lirih dengan mengulurkan tangan kanannya.
Felly hanya terdiam. Menahan debar di jantungnya. Ia ingin menjabat tangan itu dan menerima permintaan maaf itu. Namun, terlalu sulit bagi dirinya yang membeku seperti es. Tanpa Felly sadari, ia telah mengagumi laki-laki itu.
“Woy bro! Aduh, nggak nyangka gue bakalan ketemu lo di sini!,” ucap Bram yang tiba-tiba datang dan menyingkirkan Felly dari hadapan orang itu.
Orang itu tidak menjawab. Tapi, tersenyum dengan tawa rindu lalu memeluk Bram dengan menepuk kedua punggungnya. Begitu erat mereka. Bahkan terlihat mirip jika wajah mereka menempel.
Felly tetap melongo dengan apa yang ia lihat di depanya. Felly baru sadar setelah Billy memanggilnya dengan suara yang sedikit keras. Tepat di samping telinganya.
“Duh! Apaan sih? Bisa nggak sih lo pelan dikit kalau ngomong?,” sewot Felly.
“Gimana bisa pelan Fel kalau Billy udah panggil-panggil lo tapi lonya nggak ngerespon sama sekali!,” jawab Riska membela Billy.
Billy hanya mengangguk-angguk menyombongkan dirinya dengan lipatan kedua tangan di depan dada.
“Kapan kita turun?,” tanya Billy kepada Bram yang sedang asik ngobrol dengan teman lamanya.
“Kita turun di stasiun Pohjentrek, Bil.”
“Stasiun Pohjentrek udah lewat Maz. Udah lewat dua stasiun,” ucap salah seorang penumpang yang mendengar pertanyaan Billy.
“Hah?!!!,” jawab mereka semua serentak. Begitu juga dengan orang itu.
“Eh, lo bener aja?! Kita Cuma ada sisa waktu 15 menit untuk sampai tujuan,” kata Felly panik sambil menunjuk ke arah jam tangannya.
“Lo mau kemana, Ka?,” tanya Bram.
“Ke tempat yang sama kayak lo! Cuma gue tadi nggak bareng sama band gue! Pengen nyoba naik Kereta Api. Jadi, gue baru pertama kali ini naik Kareta Api.”
Billy dan Riska menepuk jidatnya. Akhirnya mereka turun di stasiun selanjutnya. Berlari menerobos kerumunan orang yang berlalu lalang. Mencari transportasi umum untu sampai di tempat. Mereka membagi tugas untuk mencari informasi agar cepat sampai di sana. Dan, mereka menemukan betor yang bersedia mengantarkan mereka sampai di sana degan menyebutkan alamatnya.
Bram, Billy, Arka, Riska dan Felly menaiki betor dengan berdesakan. Dengan panas yang terik serta debu bercampur asap menyapu wajah mereka yang putih segar menjadi kusam. Tak ayal mereka tidak menemukan tempat saat supir betor telah memberitahukan bahwa mereka telah sampai.
Billypun mengambil tindakan untuk menelfon orang yang ada di tempat tujuan. Dan, mereka telah salah menyebutkan alamatnya. Mereka harus menempuh jarak 3 km lagi untuk sampai di tempat. Karena, mereka nyasar terlalu jauh.
“Pak, jalan lebih cepat gimana, Pak?,” protes Riska panik.
“Ini juga udah cepet, Neng. Pelan mah gara-gara yang naik berjumlah lima orang.”
“Nanti kita bayar lebih deh, Bang. Yang penting kita sampai dulu.”
Pengemudi betor tidak menjawab. Ia hanya terdiam. Dan, sedikit demi sedikit betor yang mereka tumpangi berhenti.
“Kenapa berhenti, Bang?,” tanya Bram dengna nada yang sedikit meninggi.
“Yah.. bensinyya abis nih! Kala mau ke pom bensin mah harus puter balik.”
Bram menepuk jidatnya dengan kesal. Billy dan Arkapun turun dari betor. Lalu, mereka memegang sudut setir betor tersebut. Mendorong betor yang di tumpangi oleh Felly dan Riska. Bram yang berdiri melongo dengan apa yang dilakukan oleh temannya. Dengan keringat yang mengucur ia berlari mengejar teman-temannya yang tengah mendorong betor tersebut dan membantunya.
Apabila dihitung, cukup melelahkan saat mereka sampai di tepat tujuan. Tentunya, dengan bau acem dan juga keringat yang memandikan mereka. Sesampainya di sana, mereka harus terkena hukuman oleh pengundang mereka karena datang terlambat dengan busana acak-acakan dan tidak layak tampil.
Dengan terpaksa, mereka harus memakai baju seragam panita untuk menggantikan baju mereka yang basah kuyup karena keringat. Sehingga, tidak ada perbedaan antara band milik Bram dan juga Arka. Seakan, mereka adalah boy band yang bernyanyi bersama seperti paduan suara.
“Baru kali ini gue kayak begini!,” gumam Felly dengan memegang gitarnya pasrah.
“Tapi, seru banget tahu Fel!,” sahut Billy semangat.
“Hahaha iya. Gue juga ngerasa kayak begitu.”
“Sorry ya yang tadi,” kata Arka dengan mengulurkan tangannya.
“Yaelah Fel, masak sama mantan sendiri lo setega itu sih?,” sindir Bram saat melihat tingkah Felly.
“Tahu, nih. Mantan, ya mantan. Temen ya temen,” lanjut Riska ketus.
“Siapa tahu, bisa CLBK. Alias, balikan gitu..,” sahut Billy.
Setelah mendengar ocehan teman-temannya, Fellypun memberanikan ini untuk membalas jabatan itu. Dan, merekapun berdamai dengan beraksi di atas panggung. Berfoto bersama dengan band milik Arka. Bagaimana tidak? Ia harus kembali mengingat masa lalunya dengan orang yang ada di depannya. Bertahun-tahun ia harus melupakan semua masa lalunya. Membencinya dengan amarah yang terluapkan dalam melodi gitar.
Tidak hanya itu saja, ia menciptakan gitar khusus yang sengaja ia buat untuk mengalahkan band Arka. Ia juga selalu memakai gitar itu di saat-saat yang penting. Seperti, turnamen nasional dan juga perebutan nobel gitaris terbaik. Falk. Itulah nama gitar itu. Gitar yang tercipta dengan segenap rasa benci dan bercampur rasa cinta. Sejenak, ia mengingat bahwa ia masih ada setitik harapan. Berdoa agar ia tidak bertemu kembali dengan masa lalu. Tapi, ada daya jika takdir telah ada di pihak pertemuan mereka.
Yah.. itulah takdir. Semua orang tidak akan pernah bisa mengelak dari takdir dan menghindarinya. Sebesar apapun orang itu menentangnya, takdir akan selalu terjadi. Dan, takdir tidak dapat diprediksi seperti kita memprediksi datangnya cinta. Selain itu, masa lalu tidak selamanya akan menghancurkan dan juga menyakitkan. Tidak pula, masa lalu selalu membuat kita terjatuh. Melainkan, dengan masa lalu tersebut kita bisa bangkit. Dengan cara, tidak menjadikan masa lalu untuk menjadikannya alasan sebagai skandal untuk bangkit.
_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment