Nama Di Atas Aksara
Pratiwi Nur Zamzani
“Aduhhh, Felly! Bangun, kenapa sih! Eh! Kebo! Aduuuhhhh, nih anak bener-bener deh!,” desar Riska yang tengah berusaha membangunkan teman sebangkunya. Sekaligus, sahabatnya.
“Kenapa, Ris?,” tanya Billy penasaran.“Nih! Temen lu! Pagi-pagi udah ngelekor! Padahal, baru aja di dateng! Masih lima menit kehadirannya! Eh... udah molor!,” jelas Riska kesal.
“Feeeeellllllyyyyyyy!!!!,” teriak Bram di telinga Felly setelah mendengar penjelasan Riska saat ia telah merapikan bukunya.
Seketika Felly bangun dengan matanya yang imut. Kemudian, ia melihat sekelilingnya. Di lihatnya Riska, Billy dan Bram yang tengah berdiri di bangkunya. Tentunya, dengan tatapan yang membunuh.
“Sorry!,” kata Felly santai dengan mengucek matanya.
“Udah sadar?!,” tanya Riska judes.
“Hehehehe. Iya. Udah yuk, berangkat. Makasih, ya udah bangunin gue!,” kata Felly dengan cengar-cengir. Kemudian, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas menuju ke lapangan basket.
Setelah Felly meninggalkan kelas, Bram, Billy dan Riska membuntuti Felly dari belakang. Menyusul perintah guru untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali sebagai pemanasan basket. Anggota band Pro Techno itu semakin bersaing satu sama lain setelah Bram memberikan kode. Sebagai kewajibannya, mau tidak mau, yang lainnya harus ikut meramaikan.
Setelah pemanasan selesai, akan terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jenis kelamin. Karena, hal itu dapat menentkan aturan dan kemampuan. Kebetulan, Felly bersaing dengan Riska. Sedangkan Bram, ia bersaing dengan Billy. Mereka begitu gencar saat bermain. Terutama, Felly.
Yah... Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis itu selalu mendapatkan sebutan sempurna bagi oraang-orang sekitarnya. Mengingat, selain ia cantik dan memiliki tubuh bagus, ia juga jenius dan cakap. Ia berulang kali memenangkan lomba debat Bahasa Inggris, Catwalk, dan menyandang sebagai gitaris terbaik. Ia adalah gadis idaman para lelaki. Hingga semua lelaki harus membayar mahal meski hanya bisa melihatnya dari jauh.
“Lo semalem habis lembur lagi?”
“Yah... gitulah,” jawab Felly seadanya dengan mengembalikan minuman Billy.
“Eh, entar kita latihan, kan?,” tanya Bram.
“Sorry, Bram. Gue nggak bisa. Hari ini, gue ada acara.”
“Yah... gue aja udah nyiapin perubahannya, Fel.”
“Iya, gue paham. Cuman, beneran deh. Gue, nggak bisa hari ini.”
“Udahlah, Bram. Dia jga punya urusan kali. Nggak seharusnya lo maksa dia!,” pinta Billy.
“Kalau gini kan, gue jadi bisa santai dulu selama beberapa hari,” sahut Riska.
Merekapun meneruskan obrolannya hingga jam istirahat tiba. Tak lama, akan ada acara apel susulan. Mengingat, pada jam pertama digunakan untuk anak kelas 12 yang tengah try out untuk persiapan UNAS. Sehingga, sebagai gantinya upacara, istirahat pertamalah yang menjadi sasaran.
“Wangi amat, Neng?!,” sindir Billy saat mencium bau wangi setelah Felly datang dengan baju gantinya.
“Iya dong. Biar kalian betah deket gue!,” jawab Felly dengan mengedipkan sebelah matanya genit.
“Ih! Jangan gitu, dong! Gue ntar nggak bisa tidur!,” kata Bram dengan mengalihkan wajahnya.
Felly, Riska dan Billy tertawa lepas setelah mendengar ucapan Bram. Namun, taawa Felly terhenti secara perlahan saat ponselnya berdering. Telfon. Sejenak, Felly berpikir untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi, sekalipun Felly tidak ingin mengangkatnya, hatinya akan terus mendongkrak dan melawan keinginannya.
“Hallo?,” tanya Felly dengan nada ragu.
“Bisa kita ketemu di taman sekarang? Aku tunggu lima menit. Bye!,” kata orang itu dengan mematikan nada sambung.
Felly menatap ke arah luar jendela. Ia dapat melihat laki-laki itu berjalan ke arah taman. Dengan segera, Felly meninggalkan kelas dan berjalan ke arah yang sama dengan laki-laki itu. Ia merasa penasaran dengan kemauan laki-laki itu. Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Kapten Basket sekolah. Sekaligus, artis sekolah. Mengingat, wajahnya yang tampan dengan bibir yang seksi serta penampilan dan pola hidup yang elit.
“Ada apa kau memanggilku ke sini?!,” tanya Felly.
Arka membalikkan tubuhnya. Kemudian, ia mengkat kedua tangannya yang tengah memegang suatu benda. Felly menelan ludahnya yang terasa seperti pasir. Dadanya terasa begitu sesak. Keringat dingin mulai keluar dari dalam tubuhnya.
“Apa arti semua ini?,” kata Arka dengan membalikkan tubuhnya.
Felly hanya terdiam dalam bisunya.
“Apa cerita buku ini adalah kisah kita? Dan kenapa, album ini beerisi lirik yang pernah kau berikan padaku saat hari ulang tahunku? Felly, sudah berapa kali aku bilang padamu untuk melenyapkan semua kenangan kita?! Kenapa kau tidak melenyapkannya? Melainkan, mengabadikannya, huh?!,” tanya Arka dengan nada mengintimidasi.
“Arka! Aku adalah Felly Anggi Wiraatmaja. Sekeras apapun kau menekanku, maka semakin besar tekanan itu terjadi padamu. Sekalipun aku harus menghancurkan kedua tanganku untuk berhenti, kenangan it tidak akan pernah hilang. Kau tahu kenapa? Karena kenangan itu bagaikan sebuah paku yang telah tertancap di atas kayu. Meski aku mencabutpaku itu, pasti akan berbekas di atas kayu. Begitu juga dengan kisah kita. Aku tidak pernah mengabadikannya. Melainkan, mengpresiasikan segalanya dengan apa yang aku punya. Jadi, jangan pernah besar kepala selagi kau masih bisa menunduk!,” pinta Felly tegas dengan nada yang sama.
“Tch! Jika memang begitu, kenapa kau meninggalkan akuuuuu!!!!!,” bentak Arka hingga Felly terjingkat.
“Karna aku tidak mau menyakitimu!!! Aku tidak mau kau tersiksa dengan posisiku!!! Aku juga tidak mau kau membuang air matamu hanya untuk gadis gila sepertiku!!! Kenapa kau tidak mengerti juga, Arka!!!!,” bentak Felly tak kalah kerasnya dengan mata yang berkaca-kaca. Sehingga, suara mereka memenuhi taman dan membuat burung berterbangan meninggalkan ranting-ranting pohon.
“Jika memang begitu, bagaimana dengan nama yang tertuliskan di buku karyamu? Kenapa di sana ada namaku? Meski kau hanya menggunakannya sebagaian?”
“Karena aku merasa cocok.”
“Jawab aku dengan menatap mataku!!!!,” bentak Arka.
“Okay! Aku memang sengaja menggunakan nama itu. Maafkan, aku. Maaf karena telah membuat kau terluka lebih dalam.”
Seketika Arka tersungkur setelah ia berusaha menahan lututnya yang lemas.
“Kenapa kau melakukan ini semua padaku, Felly? Kenapa?! Apa salahku?! Kumohon, jawablah aku!,” kata Arka lemas dengan suara yang lirih dan cucuran air mata.
“Karena kau telah salah mencintai seseorang. Maafkan aku. Maaf...,” kata Felly dengan air mata yang tak kalah deras.
Tanpa menjawab, Arka memeluk mantan kekasihnya saat ia berjongkok mengulrkan tangannya untuk menolong Arka. Awalnya, Felly tidak membalas pelukan itu. Ia hanya menangis sejadi-jadinya di pelukan laki-laki itu. Tapi, saat tangis Arka semakin terdengar, jemari Felly tak dapat menahan rindunya untuk menyentuh kekasihnya. Ia merasa begitu hina dan munafik dengaan keputusannya akan kepergian yang seharusnya ia lakukan.
Memang, selama ia meninggalkan Arka ia tak dapat melakukan apapun. Yang bisa ia lakukan adalah dpresi dengan partitur musik dan buku diary yang menjadi coretan hatinya saat itu. Bahkan, setiap mala ia selalu menangis histeris karena teringat dengan suara manja Arka setiap ia hendak tidur. Suara, yang bisa menenangkannya dan mengantar dalam mimpi yang indah. Suara, yang penuh dengan kasih sayang.
Lama, mereka terhanyut dalam pelukan yang begitu memilukan. Mengingat, saat ini adalah saat untuk pertama kalinya mereka beradu dengan amarah, rindu, dan juga gebuan cinta. Yah... cinta yang telah terjalin selama tujuh tahun lamanya. Cinta yang berawal dari pandangan pertama dengan hati yang polos seputih kertas. Otak yang tak dapat berpikir dengan jernih. Serta, pengendalian diri yang masih lemah hingga semuanya terasa begitu sempurna.
Ya! Sempurna. Sempurna, hingga membawa Felly berada di titik puncak wujud masa lalunya. Wujud pencapaiannya. Felly tidak pernah bercita-cita sebagai seorang penulis. Tapi, ia dapat menulis cerita dengan alur runtut dan juga penguasaan rasa. Sehingga, tulisan yang telah ia tulis memiliki nyawa di setiap huruf dan kalimatnya.
Begitu juga dengan albumnya. Semua lirik itu, adalah ucapan manja Arka dengan rangkaian kerinduan Felly selama ini. Sebuah kerinduan akan rasa benar-benar kehilangan. Kehilangan sosok pelangi dalam hari-hari Felly. Kehilangan sosok penyemangat dalam setiap waktunya. Sekaligus, kehilangan cinta yang benar-benar tulus. Bagaimana bisa Felly tidak depresi dan frustasi dengan kondisi seperti itu?
“Jangan pernah tinggalkan aku! Kumohon! Kembalilah! Aku akan menerimamu! Okay?,” ucap Arka lirih di samping terlinga Felly. Suaranya, terdengar akan wujudd dirinya. Tersiksa. Dan juga, tertekan.
Felly tidak menjawab. Ia masih terisak di dalam tangisnya yang telah meledaka beberapa waktu yang lalu. Namun, telapak tangan Arka tak henti-hentinya membelai kepala Felly. Layaknya, Arka menginginkan Felly tahu akan penderitaan dan juga siksaannya selama ini. Kesakitan hati dan dirinya selama kepergiannya.
“Arka...,” panggil Felly kuat.
Arka melepas pelukannya dengan cepat tapi lembut.
“Hmmmmm????”
“Thank you!”
Dengan cepat, Arka kembali memeluk Felly. Ia menenggelamkan kepala Felly di tengkuk lehernya. Kemudian, bergumam akan janjinya bahwa ia tidak akan termakan dengan api cemburunya hingga ia menyakiti dirinya sendiri dengan berkutat di depan bar diskotik.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment