Dunia Adalah Judi
P.N.Z
“Lo mau kemana, Fel?!,” tanya Billy saat ia tekejut akan sikap Felly karena Felly tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya setelah melihat ponselnya.“Gue mau pergi duluu. Gue ada urusan,” kata Felly dengan meninggalkan Pro Techno tanpa menunggu persetujuan mereka.
“Caffe Chartaris. Meja nomor dua belas. Menggunakan seragam biru muda, dan telfon aku setelah kamu sampai di sana,” sahut Bram dengan asik melihat buku aransement lagu ang diberikan oleh Felly untuk tampir dua hari yang akan datang sebelum hari dimana ia harus memenuhi jobnya sebagai model.
“Lo tahu darimana kalau gue bakalan ketemuan di caffe chataris?,” tanya Felly seketika setelah Bram mengetahui seluruh jadwal Felly sore ini.
Bram tidak menjawab. Melainkan, ia beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, berjalan ke arah Felly. Mendorong Felly untuk memundurkan langkah kakinya. Sampai Felly tak bisa melangkahkan kakinya lagi karena dinding studio telah menyangga punggungnya.
“Bram,” panggil Billy dengan suara takutnya.
“Ingat acaranya guys,” sambung Riska saat melihat tatapan kedua singa itu saling menatap satu sama lain setelah Bram mengunci ruang gerak Felly dengan posisi telapak tangannya di tembok.
“Sejak kapan mendiang Wiraatmaja ngajarin lo selingkuh?,” tanya Bram dengan nadanya yang dingin.
“Tch! Semua ini bukan urusan lo!,” ucap Felly.
Bram mendekatkan wajahnya seakan hendak memakan Felly dengan bakaran api di matanya.
“Davincia Prayoga. Kapten machine kapal pesiar. Lahir pada tanggal 26 Januari. Dengan kekasih Naffia Vinci. Apa lo pikir Bram Salesvegas tidak dapat melakukan semua hal yang lo lakuin? Gue bukan orang bodoh. Gue juga bukan cowok yang mudah lo permainkan.”
Felly yang terdiam, memulai senyuman di sudut bibirnya. Kemudian, ia mendongkakkan kepalanya sejajar dengan mata Bram yang hendak memakannya. Felly menatap Bram dengan tatapan tajamnya. Sorotan matanya, seakan hendak membunuh lawan bicaranya. Billy dan Riska yang hendak melerai kembali mundur seelah melihat tatapan masing-masing dari mereka. Yah... kedua mata singa yang terlahir dengan watak yang sama persis.
“Naffia Vinci? Kekasih Davincia Prayoga? Apa lo pikir Felly bodoh sebelum melangkah? Jika memang Naffia kekasih Danvin, jangan salahkan gue kalau gue merusak hubungan mereka. Tapi jika Naffia adalah adik sepupu Davin, maka jangan salahkan gue kalau gue bertindak sesuai dengan yang Arka lakukan ke gue. Kapten, selamanya akan menjadi kapten. Tapi pemain basket dan model, belum tentu ada dalam posisi yang sama,” kata Felly ketus.
“Felly!!!!,” bentak Bram dengan menggebrak dinding dengan tinjuannya.
Hal itu tidak berpengaruh pada daya sorot mata Felly. Bukan mengedikkan bahu atau apa, Felly masih berdiri tegak di kunci lengan Bram.
“Lo tega banget sih Fel nyakitin cowok lo sendiri?!,” kata Riska menyahuti seketika saat ia tahu niatan Felly pergi.
“Apa uang jadi masalah lo ya?!,” tanya Billy santai dengan sorotan matanya yang sinis.
“Apa perlu gue menjawab seluruh pertanyaan kalian?,” tanya Felly ketus.
“Felly, Arka kurang apa sih sama lo? Dia udah kasih segalanya buat lo. Dia bela-belain buat ambil pedidikan magister managementnya di Amrik cuman buat lo yang nggak mau punya cowok pemain basket. Arka juga ngimbangin posisi lo sebagai model. Dia mati-matian bikin abs dalam waktu singkat agar dia lolos masuk dunia model. Please Fel! Jangan mainin sahabat gue!,” kata Bram.
“Seharusnya gue yang bilang kayak begitu ke lo!!! Apakah lo pikir Arka diam, Felly tidak akan pernah mengeluarkan bisanya atau mengaum layaknya singa lapar apabila ia bisa tidur dengan tenang di tengah lelapnya. Apa lo pikir gue melakukan semua ini karena kemauan gue sendiri?! Apa lo pikir hanya Arka yang menderita? Arka bahagia di Amerika. Apa gue harus menangis hanya karena seorang laki-laki yang belum tentu menghargai cinta gue?!!! Jika memang dia menghargai cinta gue, dia nggak bakalan diamin cewek bule pacaran sama dia. Mendiang Wiraatmaja selalu mengajarkan gue kalau dunia sama dengan bisnis. Kenapa gue nggak bisa menganggap cinta sebagai bisnis pula? Dimana gue bisa mendapatkan keuntungan setelah impas dengan lawan sosial gue?! Gue Cuma mau ngingetin satu hal untuk kalian. Jangan ganggu gue sebelum gue yang mengganggu kehidupan kalian!,” kata Felly dengan tekanan nada pada akhir kata-katanya.
“Felly! Berhenti!,” seru Bram.
Felly menghiraukan ucapan Bram. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan studio. Billypun bernjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia menepuk pundak Bram. Seakan, ia berharap, tepukannya dapat merubah suasana hati Bram. Begitu juga Riska yang menyuruh kedua teman laki-lakinya untuk kembali duduk di tempat mereka masing-masing.
“Lo tahu darimana kalau Felly selingkuh dari Arka?,” tanya Billy.
“Jangan bilang lo kasih antek-antek ke Felly,” duga Riska dengan menyipitkan matanya.
“Sekaya apapun gue, antek-antek gue nggak bakalan bisa dapet informasi sedetail itu layaknya antek-antek Arka,” kata Bram memperjelas jawabannya.
“Apa lo bilang? Arka? Di udah kirim antek-antek sebelum Felly fix buat selingkuhin dia? Hebat bener itu anak. Kayak Tuhan aja,” kata Billy.
“Justru kehebatannya yang gue takutkan di sini, Bil.”
“Jangan bilang..,” kata Riska terputus saat Bram menatap mata Riska dengan membenarkan dugaannya.
Seketika Billy dan Riska menghembuskan nafas beratnya. Raut wajah mereka yang tenang berubah menjadi cemas. Bagaimana tidak? Arka adalah laki-laki yang keras kepala. Lebih keras kepala ketimbang Felly. Bahkan, hubungan mereka berdua masih menjadi pertanyaan di antara anak-anak Pro Techno yang lainnya. Bagaimana tidak? Watak mereka sama kerasnya. Keduanya juga sama-sama memiliki ambisi untuk menghancurkan satu sama lain apabila ada kesalahan yang diperbuat oleh salah satunya. Tapi, hubungan mereka masih bisa berjalan.
“Bram, apa yang harus kita lakuin, bego!,” kata Riska dengan menggigit jari telunjuknya.
“Jangankan tahu caranya. Gue hentikan Felly aja nggak bisa.”
“Tapi, menurut kalian apa mungkin, Arka bakalan nyelakain kekasihnya sendiri?”
“Billy, Arka bukan tipikal cowok yang selalu menggunakan hatinya. Presentase logikanya lebih besar ketimbang ia menggunakan hatinya! Coba deh lo inget saat Arka hancurin sandra abis-abisan sewaktu dia belum lulus sekolah. Semuanya berdampak pada sandra yang gila sekarang,” ucap Riska dengan nada kawatirnya.
“Terus, kita harus gimana dong?,” tanya Billy pada akhirnya.
Bram dan Riska melirik Billy dengan tatapan kesal. Kemudian, mereka kembali fokus dalam pikirannya masing-masing.
***
Di meja beralas merah dan dengan nomor yang sudah di janjikan sebelumnya. Felly menunggu laki-laki itu. Davincia Prayoga. Dengan di temani jus dan juga tabletnya yang berisi editan partitur musik, ia menikmati waktu menunggunya dengan menyelesaikan pekerjaan studio yang tertunda karena keberangkatannya.
Tak lama, ia mendengar namanya di panggil oleh microfon. Seketika kepalanya menolek ke arah belakang. Mengingat, posisinya yang membelakangi panggung. Seketika Felly beranjak dari tempat duduknya. Ia mematung melihat hal yang tengah terjadi. Badannya terasa begitu lemas, mulutnya tak mampu untuk berbicara. Matanya terasa begitu panas hingga ia tak mampu untuk memejamkan matanya.
Namun, karena hasratnya yang terus mendorongnya untuk menarik orang yang berada di atas panggung agar turun dari panggung menjadikan langkah dan cengkeraman tangannya terasa begitu kuat di pergelangan tangan lawan kontak sentuhannya.
“Apa yang kau lakukan di dalam?!,” tanya Felly dengan nada suaranya yang menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa kesal.
“Apa yang aku lakukan? Menghancurkan kencanmu!”
“Arka!!!!,” bentak Felly dengan menampar pipi Arka.
Seketika sudut mata Arka menatap Felly dengan tatapan yang begit tajam. Seakan, ia ingin membunuh Felly di tempat itu juga. Bahkan, tawa serapahnya yang tadi terlontar begitu pahit di hati Felly kini hanya tinggal senyumannya yang menguatkan rahangnya.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di sini?,” tanya Arka dengan mengusap sudut bibirnya.
“Sebelum aku menjawabnya, kenapa kau ada di sini!!!!”
“Ssssttttt, jangan keras-keras sayang. Nanti Davin dengan kalau kita bertengkar,” kata Arka dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Felly. Namun, Felly menepisnya dengan kasar.
“Aku nggak akan setega ini kalau kamu diam, Ka,” kata Felly dengan senyum simpulnya serta tatapan matanya yang tajam.
“Apa yang udah aku lakukan ke kamu sayang? Hmmmm? Ayo jawab cantik!,” kata Arka dengan sisa mabuknya.
“Sejak kapan kamu berani tidur dengan mantan kekasihmu, Sandra? Apa kamu pikir aku bodoh?! Apa kamu pikir aku bego?! Apa kamu..”
“Ya!!! Kamu bego! Lo bodoh, Fel! Lo gila! Lo.. Lo.... Aaaa!!!,” jawab Arka dengan menendang ban mobil sekenanya.
“Kebodohan apa yang gue lakukan, hah?! Kebodohan apa yang udah bikin lo berani tidur sama Sandra?!!! Gue menjaga mertabat dan apa yang gue punya Cuma buat lo, Ka! Tapi apa? Tapi apa yang lo lakuin ke gue? Apa lo pikir gue cewek baja? Nggak! Gue nggak sekuat yang lo kira. Gue nggak... gue...,” kata Felly terputus dengan air matanya yang mulai terjatuh.
“Okay! Okay!!! Gue emang salah. Tapi tolong jangan sama Davin. Gue mohon! Gue mohon sama lo! Gue rela lo bales demdan ke gue, Fel. Tapi tolong jangan sakitin gue dengan Davin.”
“Kenapa, Ka? Kenapa?!!! Dia sama-sama manusia!”
“Justru dia manusia, gue takut, Fel. Gue takut lo jadi bahan permainan Davin!!! Gue takut lo jadi boneka dia! Lo boleh selingkuh sama siapa aja. Lo boleh ngelakuin apapun dengan laki-laki lain. Tapi tolong jangan sama Davin. Gue nggak mau lo tersakiti karena cowok biadab yang nggak punya hati kayak dia.”
“Apa lo pikir gue percaya?!!! Apa lo pikir gue akan menuruti apa yang lo bilang? Nggak, Arka!”
“Okay!!! Gue terima apapun cacian lo! Terserah lo mau nilai gue apa. Tapi, gue hanya bisa kasih ini ke lo! Kalau emang lo masih nggak percaya, itu terserah lo. Tapi setidaknya, tolong pastikan apa yang gue bilang ke lo. Dan gue akan nerima kondisi apapun yang lo alami setelah lo percaya dan tidaknya,” kata Arka dengan meninggalkan Felly setelah ia memberikan sebuah kunci kepada Felly.
Malam itu menjadi malam yang begit panas di antara mereka. Amarah dan kesedihan antara keduanya tertutupi oleh penglihatan mereka yang tak sesuai dengan kenyataan. Mereka hanya mengandalkan presepsi maing-masing tanpa analogika kembali perkataannya. Baik dari segi kronologi, maupun peristiwa yang terjadi di waktu dimana mereka ada di sana.
Karena merasa penasaran, dengan setengah keraguannya, Felly menjalankan roda mobilnya ke tempat yang sudah diberikan oleh Arka melalui kunci itu. Yah.. alamat yang tertulis di gantungan kunci.
Rumah itu begitu megah. Sangat indah bak istana kerajaan. Felly tidak pernah tahu apa yang ada di sana. Dari luar, terlihat begitu sepi tanpa ada orang-orang. Tapi, ia mendengar musik yang begitu bits. Sejenak, Felly berpikir. Apa maksud Arka memberikan kunci ini.
Cepat-cepat Felly menepis rasa pensarannya. Ia melangkahkan kakinya dengan sedikit rasa takut saat ia memasukkan kunci itu di gembok. Dan benar saja, gembok itu langsung terbuka. Fellypun masuk ke dalam dengan langkah pelannya. Ia mengendap seperti maling hingga ia merasakan sentuhan di pundaknya. Di sanalah Felly menolehkan kepalanya dengan sisa takutnya.
“Kenapa kau bisa masuk ke sini? Hanya orang-orang tertentu yang memiliki sandi untuk masuk ke sini. Apa kau mamber tempat ini? Kau mendapatkan giliran nomor berapa? Aku yakin, pasti tuan Davin akan sangat menyukaimu apabila permainanmu mengalahkan para kupu-kupu indah itu. Kenalkan, aku Sisca. Kalau kau mau, aku bisa menemanimu bermain di dalam,” kata Sisca dengan senyuman manisnya.
Sebelum Felly menjawab, ia melihat di sela jendela yang terbuka. Dimana ia dapat melihat sedikit aktifitas kotor mereka. Memang Felly akui, meski Felly memiliki sebagian budaya Barat dari Kakeknya, ia tidak akan melakukan hal sekotor itu. Ia akan berusaha mempertahankan budaya timurnya. Oleh karena itu, Felly berpamitan untuk membeli sesuatu keluar dan Sisca dapat memahami dengan sudut pandang bahwa Felly masih takut melakukan hal yang biasa di lakukan olehnya.
***
“Masuk!,” kata Arka dengan santainya.
“Berkas..., Felly!,” ucap Arka setelah sadar bahwa yang masuk bukanlah sekertarisnya.
“Apa kau sedang menunggu seseorang?,” tanya Felly.
“Apa kau cemburu?,” ucap Arka tepat sasaran.
“Tidak,” kata Felly.
Arkapun menutup map yang berhubungan dengan pekerjaannya. Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke arah Felly. Meraih dagu Felly. Dan Felly tak dapat menolaknya setelah ia menatap mata Arka.
“Katakan bahwa kau tidak cemburu dengan menatap kedua mataku, Felly.”
“Aku memang...,” kata Felly terputus.
“Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri? Sampai kapan kau akan keras kepala dengan menyiksa dirimu sendiri? Sampai kapan kau tidak akan mengakui bahwa kau benar-benar mencintaiku?!”
“Apa yang harus aku katakan saat aku melihat kekasihku berciuman dengan wanita lain? Apakah aku masih pantas mengatakan bahwa aku mencintaimu?!!! Apa kau pikir aku murahan, sampai rela untuk kau permainkan, hah?!”
“Justru kau kekasihku kau berhak melarangku!!! Kau berhak memarahi aku saat aku bersama dengan wanita lain!!! Kau berhak mencaci-maki aku apabila kau melihat aku dengan wanita lain!! Aku hanya ingin kemarahanm atas dasar hubungan cinta kita!!! Aku tidak akan pernah merasa terkekang akan kemarahanmu jika aku bersama wanita lain!!! Aku..”
“Lalu aku harus bagaimana? Kita hanya sebatas kekasih! Aku nggak berhak melarang kamu buat jalan dengan yang lain, Arka! Janur di antar kita belum melengkung! Dan masih belum ada cincin pernikahan yang tersemat di antara kita, apa kamu pikir..”
“Apa perlu aku membuat sematan cincin di antara kita atau melengkungkan janur kuning di antara kita?” tanya Arka dengan tatapan matanya yang tajam.
“Maksud kamu apa?,” tanya Felly.
“Ayo kita menikah!,” kata Arka.
“Apa? Menikah? Arka.. kamu...”
“Aku serius, Felly! Sampai kapan aku harus menunggu dirimu cemburu terhadapku. Sampai kapan aku harus menunggu kamu akan marah kepadaku dengan seluruh amarahmu saat aku bersama yang lain?”
“Arka...,” panggil Felly lirih.
Arka tidak menjawab. Melainkan, ia meraih Felly dalam dekapannya. Mencium puncak kepala Felly. Merapatkan kepala Felly di dadanya. Seakan, Arka ingin Felly mendengar detak jantungnya. Lama, mereka dalam keadaan yang seperti itu.
Memang, Felly akui, ia tidak pernah marah seperti layaknya para kekasih yang hendak mencincang kekasihnya sendiri saat melihat laki-lakinya bermesraan dengan yang lain. Felly cukup diam tanpa adanya suara. Namun, ia melakukan tindakan yang seakan-akan dapat membuat Arka marah. Melebihi marahnya sendiri.
Tapi, keduanya justru menginginkan hal yang sama. Hanya saja, mereka tak dapat menyampaikannya dengan benar. Mereka hanya bisa berbicara melalui hati, mata dan juga tindakan masing-masing individu. Namun, semuanya tak ada yang harus di salahkan dan di sesali setelah semuanya membaik dengan seluruh kejujuran satu sama lain.
“Aku akan menyuruh Papaku untuk kembali ke Indonesia.”
“Kenapa kita tidak pergi saja ke New York untuk membicarakan ini.”
“Aku ingin pernikahan ini dilakukan di sini.”
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku akan datang setelah pekerjaan selesai. Itupun jika kamu mengizinkan,” kata Arka dengan nada sindirannya.
“Liburlah bekerja!,” kata Felly ketus tanpa menatap Arka dengan tatapan yang sama. Melainkan, ia menatap Arka dengan tatapan hangatnya.
“Yes! Woooohhh!,” seru Arka bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan permen saat mendengar ucapan Felly.
Felly hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya. Bagiaman tidak? CEO yang selalu bertingkah layaknya seorang kaisar dengan posisi table manner. Dapat berubah dalam sekejab hanya dengan satu kalimat.
Karena merasa senang, Arka memanggil pegawainya untuk memesan dekorasi gedung serta perlengkapan pernikahan mereka. Arka menginginkan pernikahan dilaksanakan di waktu yang secepatnya. Sebelum Felly kembali hilang dan merubah pikirannya, meski hal itu tidak akan terjadi.
-Biografi Penulis
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir di keluarga sederhana, dengan kelahiran Pasuruan 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id
Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani
Comments
Post a Comment