Cinta Berulah
Pratiwi Nur Zamzani
“Lo kenapa, Bram muka ketekuk kayak kebab gitu?,” tanya Billy saat melihat Bram terduduk lemas dengan menatap ponselnya.
“Pasti habis kena putus sama ceweknya!,” segah Riska meyakinkan dirinya bahwa apa yang di ucapkan olehnya adalah sebuah fakta.
“Yaelah! Gue kira kemarin lo nggak dapet jatah di club!”
“Emang lo pikir gue hiber seks?! Nggak dapet jatah aja udah mengkerut kayak kue apem?!,” ucap Bram beranjak dengan jawaban sewot.
“Lo mau kemana?,” tanya Felly saat enyadari bahwa Bram telah beranjak dari duduknya.
“Gue mau cai udara bentar! Penat gue ada di studio!”
“Bisa kita latihan lagi?!,” tanya Felly tanpa bersalah.
Bram menghembuskan nafas beratnya. Menatap Felly dengan tatapan mata yang siap marah dengan api yang berkobar di matanya. Bahkan, nafasnya terdengar begitu berat saat Felly membalas tatapan matanya dengan tajam. Sangat tajam. Seakan, ia hendak memangssa mangsanya.
“Fel! Kenapa sih, lo nggak pernah ngertiin gue sedikit aja? Gue bukan robot yang bisa bekerja tanpa suasana hati! Gue manusia yang punya hati! Felly, gue tahu kalau gue nggak sehebat elo! Tapi, apakah lo nggak pernah mikirin gimana posisi dan juga perasaan gue, hah?”
“Untuk apa gue memikirkan diri lo, hah? Sedangkan lo sendiri aja nggak pernah mikirin diri lo sendiri! Bram, daripada lo yang menyiksa diri lo, bukankah lebih baik gue yang menyiksa diri lo?”
“Lo ngomong apaan sih, Fel? Gue nggak ngerti sama sekali!,” ucap Riska.
“Semalem dia dugem sampai ketiduran di bar! Baru tadi pagi dia pulang!”
“Apa lo bilang? Gila lu, Bram! Bisa mati pelan-pelan kalau ceritanya lu kayak begitu terus-terusan!,” jawab Billy memperingatkan.
Bram hanya terdiam saat Felly telah mengetahui segalanya yang terjadi. Bahkan, Bram yang sedari tadi berani menatap mata singa milik Felly. Kini, tertunduk layu saat ia tahu bahwa dirinya bersalah di depan teman-temannya. Bagaimana tidak? Sebentar lagi, band mereka Pro Techno akan tampil di perebutan piala regional nasional. Felly memberikan kabar untuk datang ke studio. Tapi, Bram malah pergi ke club diskotik untuk menghilangkan masalahnya. Dan sekarang, ia akan pergi untuk mencari dara segar.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Felly adalah gadis pekerja keras. Ia tidak segan-segan untuk berkata kasar kepada rekan-rekannya jika memang mereka pantas mendapatkan perkataan kasar dari Felly. Nama Felly Anggi Wiraatmaja yang tertera di dadanya telah menjadi simbol sifatnya yang keras kepala. Apapun keputusan Felly, hal itu adalah hal yang absolut dan mutlak. Tidak dapat di ganggu gugat.
Maka dari itu, dimanapun ia berada. Dalam organisasi apa, dan profesi apa, ia akan mendapatkan wewenang untuk menjadi seorang pemimpin. Sekalipun ia di terjang oleh berbagai masalah dan berada dalam tekanan penyelesaian, ia selalu menyelesaikannya dengan serius. Lebih hebatnya lagi, ia tidak pernah mau di bantu oleh orang lain selama masalah yang hendak ia atasi belum selesai.
“Bram Salesvegas! Nama yang bagus! Tapi tidak sebagus diri lo! Bram, lo tahu, pertama kali gue ketemu lo di dalam agency ini, gue mengira bahwa lo adalah orang yang keren dalam segala hal. Baik itu dalam menjaga emosional atapun mengendalikan diri lo sendiri! Tapi belakangan ini, gue merasa kalau lo adalah orang yang benar-benar lemah. Sangat lemah! Cinta memang buta! Tapi, tidak seharusnya kau lemah karena cinta! Karena tadir dapat berubah! Lo tahu, lo begitu menjijikkan! Sangat menjijikkan!,” ucap Felly ketus.
“Felly! Dia temen lo!,” bentak Billy.
“Gue nggak pernah peduli dia siapa? Temen, sahabat , kakak, adik! Gue akan menganggap dia sama dengan aturan prinsip gue! Bram, lo tahu kan gue kayak apa orangnya! Jadi, gue harap lo nggak akan pernah bikin gue marah! Sekalipun, gue sekarang udah kecewa sama lo!,” ucap Felly tegas dengan senyum kecut simpul di sudut bibirnya.
“Fel! Please! Sedikit aja lo berbicara halus sama dia! Bram sakit, Fel! Dia butun kebersamaan!,” pinta Riska ngotot.
“Maka dari itu, gue berbicara seperti ini agar ia tidak jadi keluar! Atau kalau lo keluar, gue juga nggak keberatan kok! Tapi, gue nggak tahu harus bilang apa ke lo kalau langkah lo keluar sama aja merusak karir lo sendiri! Bram, gue nggak akan segan-segan untuk merusak karir lo detik ini juga!,” kata Felly semakin kasar.
Bram terdiam. Ia hanya bisa menatap Felly dengan dengusan nafas berat untuk menahan amarah. Baginya, percuma saja ia melemparkan tinjuan ke arah Felly. Ia juga akan kalah. Selain pintar di bidang musik, ia juga pintar di bidang bela diri. Bra sendiri telah merasa, apabila ia terus menentang Felly, sama saja kalau ia masuk ke dalam lubang kuburannya sendiri. Tanpa di suruh, Bram kembali masuk ke dalam studio. Kemudian, ia berjalan ke arah bangku drum. Matanya menyorot ke arah Felly dengan siratan amarah yang tertahan.
“Ayo, Fel!,” bisik Billy dengan berjalan ke arah posisi biasanya ia bermain bazz. Begitu juga dengan Riska yang berjalan bersama dengan memperingatkan Felly yang masih berdiri mematung membalas tatapan mata Felly yang tajam dengan senggolan sedikit sikunya.
Tanpa berkata panjang lebar, Felly mengikuri langkah teman-temannya saat ia melihat semuanya siap berada di posisinya masing-masing. Felly kembali memberikan pengarahan mengenai lirik-lirik lagunya yang baru saja ia ciptakan. Ia banyak memilih lagu-lagu yang sediki kerad. Bahkan, ada di sebagai beberapa duarasi detik dalam satu lagu hanya di miliki oleh Bram. Felly, Billy dan Riska cukup mengimbangi permainan drum milik Bram.
“Felly! Udah jamnya pulang! Gimana?,” tanya Billy halus dengan menatap ke arah jarum jam yang terpampang di atas pintu.
“Baiklah! Kalian bisa kembali! Orang tua kalian pasti udah nungguin!”
“Cielah! Tumben baik! Makasih, yeee!,” jawab Riska dengan senyuman sumringahnya.
Felly hanya mengangguk dengan senyuman simpulnya. Setelah itu, Billy dan Riska membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam ranselnya masing-masing. Lalu, bersalaman ala persahabatan mereka sebelum pergi meninggalkan studio.
“Nih!,” ucap Felly jutek dengan menyodorkan sebatang coklat miliknya.
“Apaan?,” tanya Bram bad mood.
“Darimada lo minum arak, mending lo makan ini. Hati lo bakalan lebih baik!,” kata Felly.
Bram mengalihkan tatapan matanya. Ia terdiamd alam bisu dan tidak mau menerimanya. Hal itu membuat Felly terduduk di sampingnya. Felly meraih lengan Bram.. Membuka jemarinya yang mengatup rapat. Kemudian, meletakkan coklatnya di atas telapak tangan Bram dengan sedikit senyumannya.
“Kalau emang lo mencintai seseorang, lo hars terima apapun konsekuensinya. Sekalipun lo harus merasakan sakitnya hati. Tapi, nggak harus lo hancurin diri lo sendiri kayak kemarin malam. Lo masih punya drum, lo punya temen-temen lo. Mereka semua siap sedia jadi bendungan air mata lo, Bram! Justru, mereka kecewa kalau lo melupakan mereka saat lo bener-bener membutuhkan mereka!,” cap Felly lembut tanpa menghilangkan ketegasannya.
“Termasuk lo?,” tanya Bram .
“Ya! Termasuk gue! Emang, gue akui gue terlalu berlebihan membeikan sikap ke lo hingga lo pernah naksir gue! Tapi Bram, sekalipnun lo kesakitan, jangan pernah lari dari gue! Gue, nggak akan pernah pergi sekalipun lo menyuruh gue untuk pergi! Karena gue sadar, gue adalah temen lo! Bram, temen nggak seharusnya jadi kekasih! Bukankah lebih baik kalau menjadi keluarga! Jikalau gue menjadi kekasih lo, gue masih bisa meninggalkanlo karena problematika cinta kita. Ge menolak lo, karena gue nggak mau ninggalin lo sendirian. Gue juga berpesan, kalau emang lo berani mencintai, lo juga haruss berani tersakiti. Cinta nggak selamanya indah, Bram.”
“Gue ngerti kok, Fel maksud lo gimana ke gue! Gue juga seneng denger alasan lo kenapa lo nolak cinta gue! Lo tahu, gue terlal pengecut buat jadi pasangan lo! Karena ada orang yang lebih pantas buat jadi pasangan lo!,” ucap Bram dengan mengarahkan dagunya ke arah pintu.
Secara otomatis, Felly ikut mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Dan benar saja, kekasihnya telah datang menjemputnya dengan lembaian tangan, senyuman ringan yang indah, dan menuegarkan pikiran.
“Udah selesai latihannya?,” tanya Arka.
“Udah, kok! Kamu baru pulang kerja?”
“Ya! Begitulah!”
“Kenapa nggak langsung pulang?”
“Kalian, jangan pemer mesra ke gue! Pergi sono!”
Felly tersenyum. Kemudian, ia pergi meninggalkan Bram dengan memakan coklat pemberiannya. Selama di perjalanan, Felly bercerita banyak mengenai kejadian selama hari itu. Dan Arka menanggapinya dengan jawaban dan senyuman yang renyah. Dengan penuh kerinduan, cinta, dan kasih sayang, Arka menatap Felly. Begitu juga sebaliknya.
Bagaimana tidak? Bagi pasangan seperti mereka yang pernah berpisah selama tujuh tahun silam, kembali lagi dalam rajutan cinta yang sama dengan warna yang berbeda. Pernah, Felly merasa takut saat ia harus kembali mengait genggaman Arka. Ia takut, Arka akan pergi meninggalkannya. Tapi, takdir, waktu, lingkungan, hati telah meyakinkan dirinya untuk menerima apapun resiko yang datang. Hanya satu nama dan kata yang bisa terucap saat ia mulai menggenggam genggaman Arka.
“Berani berbuat! Berani bertanggung jawab! Berani mencintai! Berani tersakiti!”
Biografi Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment