Skip to main content

Just About Time

Just About Time 
Pratiwi Nur Zamzani
“Kau tahu, hari ini akan ada peresmian CEO baru. Jadi, tidak mungkin kalau kita bakalan di forsir kerja,” ucap Bram dengan memakan mie ramennya.
“Lo tahu darimana, Bram?,” tanya Riska.
“Barusan, gue di BBM sama Billy. Buktinya, dia nggak ikut makan siang bareng kita. Dia ada di lantai 12 sekarang. Nyiapin gedung.”
“Oh. Fel, bukannya lo nanti memberikan sambutan kepada CEO untuk presentase saham sebagai sambung putus kerja?,” tanya Riska.
“Nggak! Gue nggak kena tugas begituan,” kata Felly sedikit tercekik karena ia harus makan dan berbicara.
“Minum-minum, Fel!,” pinta Bram dengan mengulurkan minuman kepada Felly tanpa melepas sumpitnya.
Tak lama dari itu, mereka mendapatkan panggilan untuk ke kantor manager departement humas. Dengan cepat, Bram menghabiskan makanannya. Begitu pula dengan Felly dan Riska. Bagaimana tidak? Mereka jarang-jarang bisa keluar kantor untuk sekedar makan siang dengan menu yang mereka minati. Kebanyakan, mereka selalu memaksan diri untuk menikmati makanan yang terhidang di kantin kantor.
“Manager Felly, saya dengan anda pernah menjadi model di beberapa majalah. Bisakah Anda menggantikan model kami untuk hari ini?”
“Kenapa harus saya?”
“Yah... karena Anda pernah memiliki pengalaman dan juga karena model kami sakit. Saya harap Anda mau membantu kami. Mengingat, penyambutan ini bukanlah ntuk orang biasa.”
“Baiklah kalau begitu..”
Cukup lama Felly melewati sesi make-over dan sebagainya. Hingga ia merasa bosan. Tapi, untuk saja Billy melihat kebosanannya dan menghilangkannya dengan segelas coklat kental. Begitu pula dengan Bram dan Riska yang menggoda Felly dengan memberikan foto-foto cogan ( cowok ganteng ) yang menurut mereka sesuai dengan kriteria Felly.
Bagaimana tidak, Felly yang cantik dengan jabatan yang tinggi tidak memiliki kekasih merupakan hal yang takhayul setelah melihat Felly secara langsung. Postur tubuhnya yang sama dengan berbie, serta matanya yang lebar bulat sempurna. Di tambah, bibir Felly yang mungil. Hal itu membuat Felly memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, sesuai dengan gosip yang telah beredar, manager dari department lain lagi naksir sama Felly. Sayangnya, Felly hanya membalasnya dengan senyuman ramah tanpa bermaksud lebih dari semua itu.
“Felly! CEO datang!,” ucap salah satu sie perlengkapan.
Dengan cepat, Felly beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia berjalan. Namun, Riska berteriak hingga menghentikan langkah Felly. Dan, hal itu membuat Billy dan Bram menolehkan kepalanya.
“Ada apaan, Ris?,” tanya Billy.
“Sepatu lo, dodol!”
“Ya, Tuhan! Bego! Gue lupa. Sorry!”
“Nih!,” kata Riska dengan menyerahkan sepatu yang sudah di sediakan oleh para make- over sebelum Felly masuk ke gedung pertemuan.
Bram membantu Felly memegangkan ekor gaunnya. Sedangkan Riska dan juga Billy membantu untuk menuntun langkah Felly meskipun para make-over bersedia untuk memegangkan ekor gaun Felly.
Dengan langkah yang hati-hati, mereka masuk ke dalam lift.memencet nomor lantai 12. Saat sampai di sana, Felly di anjurkan untuk membawa bunga untuk di berikan kepada calon CEO. Fellypun menurutinya. Ia berdiri di deretan para general manager dan juga staf tinggi lainnya di atas karyawan. Dan, tak lama dari itu di pimpin oleh direktur, calon CEO memasuki ruangan dengan langkahnya yang elegan.
“Felly, lihatlah ke depan! Orangnya udah di sana! Lo jangan sibuk sama itu ekor baju!,” bisik Riska yang berbicara dengan berbisik.
Fellypun menurutinya. Ia menatap ke arah depan. Dengan pendaran lampu yang terang benderang Felly dapat melihat wajah calon CEO dengan jalas. Laki-laki tampan dengan setelan jas yang rapi dengan sapu tangan di sakunya. Begitu elegan dan seksi saat serasi dengan gaya rambutnya yang begitu cool.
Dengan langkah cepat, calon CEO itu berjalan ke arah Felly. Bahkan, direktur merasa heran dengan langkah calon CEO yang layaknya bertemu dengan seorang pengantin. Pengantin, yang tidak sabar bertemu dengan pasangannya.
“Nggak kangen?,” tanya calon CEO itu.
Felly hanya tersenyum dengaan menatap mata calon CEO itu. Kemudian, memberikan bunga yang di bawanya sebagai sambutan. Seakan tahu maksud dari Felly, CEO itu berjalan meleawati jalan yang sudah diberikan kepadanya untukmenaiki panggung kehormatannya.
“Kau kenal dia, Fel?,” tanya Riska.
“Arkana Aditya.”
“Perkenalkan, nama saya Arkana Aditya!,” ucap Arka di depan microfon.
Riska membelalakkan matanya saat mengetahui sahabatnya mengenal CEO itu. Banyak pertanyaan yang ingin di ajukan oleh Riska dan juga sahabat yang lainnya. Tapi pidato mengenai perusahaan membuat mereka bertiga bersimpati untuk mendengarkan hingga suasana gedung menjadi sunyi karena sebuah keseriusan.
“Bapak, ingin saya sediakan makanannya?,” tanya alah seorang pegawai.
“Tidak. Saya ingin berbicara dengan seseorang! Jadi, tolong keluarlah!”
“Baik, Pak!”
Setelah itu, Arka berjalan ke arah Felly. Kemudian, menggandeng tangan Felly untuk berjalan mengikuti langkahnya. Seketika, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan desas-desus gosip yang mulai menyebar di seluruh penjuru perusahaan.
“Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu pulang dari Inggris?,” tanya Felly lembut.
Arka membalikkan tubuhnya. Lalu, mendorong Felly dengan memajukan langkahnya hingga Felly mentok menempel dinding dengan posisi diri yang berada di dada Arka yang bidang dan lebar.
“Surprise!,” ucap Arka dengan senyuman lebarnya.
“Tch Kamu tuh ya!,” kata Felly dengan menyentuh hidung Arka yang mancung.
“Nggak kangen?,” tanya Arka dengan membuka kedua tangannya seakan ia siap untuk di peluk oleh Felly.
“Arka...,” panggil Felly manja dengan memeluk kekasihnya itu.
“Apa sayang?”
“Aku kangen.... kamu tahu, tiga tahun itu lama sayang!”
Arka melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sedih saat melihat mata Felly penuh dengan deraian air mata. Dengan cepat, Arka menghapus air mata itu dari pandangannya. Kemudian, meraih kepala Felly dan mencium kening Felly dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Felly membalasnya dengan sebuah pelukan. Yah.. pelukan yang erat. Bahkan, sangat erat. Arkapun juga membalas pelukan itu dengan hangat. Bahkan, berulang kali Arka mencium pelipis Felly dan membenamkan wajahnya di atas kepala Felly agar kepala Felly lebih masuk ke dalam dekapannya.
“Sayang, makasih ya udah mau nunggu.”
“Hmmmmm...,” jawab Felly.
“Felly!,” panggil seseorang.
Fellypun melepaskan pelukannya. Begitu juga dengan Arka. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Rendy! Yah... General Manager perusahaan yang tengah di gosipkan oleh para pegawai bahwa mereka telah menjalin hubungan khusus.
“Kamu siapa? Kenapa kamu berperilaku seperti itu kepada Felly?”
Arka telihat begitu kebingungan mendengar pertanyaan laki-laki itu. Melihat tatapannya, Felly menebak bahwa ia adalah kekasih Felly.
“Sayang! Bentar dulu!,” pinta Felly saat ia dapat melihat sulur kemarahan Arka.
“Rendy! Maaf sebelumnya, aku hanya ingin memperjelas siapa dia. Aku tidak bermaksud menyakiti atau menyinggung kamu. Tapi dia, adalah fakta realita bahwa dia adalah kekasihku. Cinta pertama dan terakhirku. Sebelum kamu datang, dia sudah bersinggah terlebih dahulu. Maka dari itu, aku menolak cintamu dan menjaga solidaritas kita dengan senyuman ramah meski aku menolakmu.”
“Pacar?,” tanya orang serental.
“Wah! Kamu terkenal juga ya, sayang?,” ejek Arka saat melihat orang-orang memunculkan dirinya ari berbagai tiang bangunan, balik pintu, tangga dan ruangan kantor.
“Arka!,” panggil Felly tegas.
“Ehemm! Mumpung kalian di sini, bagaimana kalau aku mau membagikan undangan?! Datang besok malam, di pesta taman rumah saya untuk acara pernikahan kami sebagai awalan! Sayang, ayo pergi!”
“Kamu gila? Serius?”
“Iya! Ayo ke rumah orang tuamu! Aku nggak akan sia-siain waktu kita lagi!
Merekapun menikah dengan waktu cepat dan kembali merajut cinta yang telah kembali karena jarak yang memisahkan dan waktu yang menyatukan. Karena sesungguhnya cinta tidak akan pernah berubah sekalipun jarak memisahkannya. Karena cinta tetaplah cinta. Bukan khayalan semata dan ada sebagai wujud sebuah rasa.


_Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...