Skip to main content

Forgetting All!!!

Forgetting All!!!
P. N. Z.
“Assalamualaikum,” ucap Felly saat ia tengah membuka pintu rumahnya.
“Waalaikumussalam,” jawab Anjani. Mama Felly yang masih terduduk di ruang tamu.
“Mama! Tumben belum tidur, Ma? Biasanya, setiap Felly pulang kerja, Mama udah tidur?!,” kata Felly dengan mencium telapak tangan Mamanya.
“Pasti ada yang menganggu pikiran Mama, ya?!,” tanya Felly dengan duduk di damping Mamanya.
Anjani mengangguk perlahan dengan menatap mata putrinya. Kemudian, ia menerawang dengan melihat taman depan rumah yang masih segar dengan suara air mancur.
“Ma, Mama kenapa?!,” tanya Felly.
“Gimana sama kerjaan part-time kamu? Rame nggak tadi tokonya?”
“Ma, Felly bukan nanya itu. Sekarang, Mama bilang sama Felly. Mama kenapa?”
“Kamu memang putri Mama. Tahu, aja kalau Mama lagi berbohong sama kamu.”
Felly tersenyum lega saat dugaannya benar. Dengan cepat, Ia membenarkan posisi duduknya setelah meletakkan tas kerjanya.
“Sebentar lagi kan idu fitri, Fel. Mama bingung mau ngelakuin apa?”
“Hah?! Kok bingung, Ma?! Emang Mama mau ngapain? Banyak ya, yang harus Mama lakuin di hari lebaran. Ma, tahun ini, Mama nggak masak apapun untuk makan bersama setelah kepergian nenek.”
“Bukan itu, sayang. Mama masih bingung apakah Mama ke rumah Oma (Ibu dari pihak Ayah) atau tidak? Kamu tahu kan, apa yang sudah terjadi di antara kita? Mama masih bingung harus bagaimana.”
Fellypun menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, Ia menatap meja ruang tamu yang memantulkan wajahnya. Jauh di dalam sana, ia kembali mengingat masa-masa sulitnya yang begitu tajam dan keras.
Bagaimana tidak? Di masa itu, Mama dan Papanya sempat akan bercerai karena konflik Papanya yang selingkuh. Felly bahkan tidak pernah menyangka kalau Papanya akan setega itu menyakiti Mamanya. Padahal, Mamanya adalah orang yang benar-benar sabar dan telaten dalan menghadapi apapun.
Untuk pertama kalinya, ia dapat melihat Mamanya hampir gila karena depresi. Sehingga, Felly mengizinkan Mamanya untuk pulang ke rumah neneknya agar dapat menenangkan pikirannya dan membiarkan Papanya hidup bersamanya dengan seluruh kepolosan Felly. Dalam artian lain, Papana hidup tanpa kewaiban seorang istri.
“Kamu, kenapa Fel?”
“Enggak kok, Ma. Felly hanya keinget aja sama masa-masa longlestnya Mama sama Papa.”
“Maafin Mama ya, sayang. Karena Mama, kamu harus menanggus semua ini.”
“Ma, semuanya udah ada d garis takdir Tuhan. Felly nggak bisa melakukan apapun selain berusaha.”
“Iya sih, tapi karena kamu juga Mama sama Papa bisa kembali lagi seperti dulu tanpa harus melewati perceraian.”
“Nggak kok, Ma. Oh ya, untuk masalah kunjungan Mama ke rumah Oma, Mama tetep aja ke sana. Oma juga bakalan mengerti bagaimana perasaan Mama dan juga posisi Mama. Mama bisa datang dengan kebiasaan Mama sekaligus meminta maaf.”
“Berarti, Mama harus bikin kue kesukaan Oma?”
Felly mengangguk mantab.
“Emang, kira-kira Oma mau makan kue buatan Mama?”
“Ma, Allah aja maha pemaaf. Masak, Oma nggak bisa maafin Mama? Lagipula, semua yang terjadi itu, bukan atas kehendak Mama dan Papa sendiri. Tapi, kehendak Allah yang menguji Mama dan Papa dalam mengaruhi bahtera rumah tangga.”
“Gitu, ya sayang?!”
Felly mengangguk lagi dengan senyuman ramah dan teduhnya.
“Ma, Idul fitri itu hari yang berkah dan penuh dengan kemenangan umat islam. Hari untuk saling memaafkan. Dan juga, hari dengan seluruh kebahagiaan umat islam. Masak sih,  Mama sejahat itu untuk merusak kebahagiaan dan keberkahan hari itu dengan permusuhan yang ada di masa lalu. Ma, masa lalu itu jangan terus di ingat sebagai permusuhan karena isinya emang begitu. Tapi, rubahlah sebagai pelajaran untuk menempuh kehidupan yang lebih baik.”
“Percuma juga, Ma kalau Mama lebaran-lebaran masih musuhin orang. Mertua pula. Dosa kali, Ma.Percuma  Mama puasa satu bulan, tapi ujung-ujungnya masih musuhin orang. Allah nggak bakal nerima, Ma!,” ucap Dion yang muncur dari bilik tembok dengan membawa camilan dan minumannya dari dapur.
“Dion nggak bisa tidur, Ma. Udah di meremin tapi tetep aja melek. Terus kedenger suara Mama sama Kakak. Jadilah Dion bangun. Sekalian deh,  nungguin sahur. Oh ya, Papa kemana? Masih belum pulang, Ma?”
“Papa masih tidur, sayang.”
“Dasar! Kebo!”
“Hush! Papanya sendiri di bilang kebo!,” kata Felly.
“Lah, emang gitu, kan?!”
“Awas aja kamu ya?! Uang jajan di kurangi sama Papa baru tahu rasa!,” ucap Papa mereka dengan mengucek sebelah matanya.
“Papa!,” kata Dion terkejut dengan menghentikan kunyahannya dan sorotan mata yang takut.
Anjani dan Fellypun tertawa melihat Dion yang ternganga. Hingga akhirnya, mereka berkumpul dalam kehangatan keluarga di malam bulan Ramadhan dengan dinginnya ice cream coklat dan juga camilan ringan dan renyahnya tawa keluarga.



_BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...