Skip to main content

Always Remember to You

Always Remember to You
Pratiwi Nur Zamzani

 “Felly, gimana sama band kita?”
“Gue juga bingung Bram. Tapi, di sisi lain, gue nggak bisa menghindar dari hal ini?”
“Jadi, lo tetep harus pergi Fel?”
“Iya Bil, maafin gue ya!”
“Berarti, kita nggak bisa bersatu lagi?”
“Nggak harus gitu Riska, kita masih bisa kok bersatu lagi, walaupun kita dipisahkan oleh lautan, daratan, dan juga udara.”
“Tapi kan Fel, janji kita adalah selalu bersama. Terus menjunjung nama band kita Fel. Gue nggak yakin kalau nama band kita terus marak tanpa ada kehadiran lo Fel!”
“Kalau begini caranya Fel, sama aja lo nyuruh gue balik ke New York.”
“Iya Fel, kalau di pikir-pikir sama aja lo ngusir gue buat terbang ke Inggris.”
“Gue nggak bisa apa-apa lagi guys. Cuma ini jalan satu-satunya memenuhi permintaan almarhum bokap gue. Tapi, kalian nggak usah kawatir, gue nggak bakalan melupakan gitar gue sebagai kenangan kita bersama. Gue bakalan terus bermain walaupun kita terpisah.”
“Berapa lama lo ada di Korea?”
“Entahlah, gue juga nggak tahu.”
Ruangan studiopun hening dengan kesedihan. Mereka adalah anggota band yang marak di kalangan remaja. Karena, lagu yang mereka ciptakan sendiri di usia muda serta talenta dan fashion mereka yang nggak main-main. Band yang selalu disanjung, dibanggakan, serta dinantikan di setiap panggung, kini akan bubar karena kepergian sang vocallis, Felly Anggi Wiraatmaja.
Akhirnya, mereka memutskan untuk mengambil jalan mereka sendiri-sendiri. Bram sebagai drummer akan pergi ke New York untuk sekolah drum di sana, sedangkan Billy akan pergi ke Inggris untuk sekolah bazz, sedangkan Riska menetap di negaranya sendiri. Awalnya mereka berat untuk melakukan hal ini. Namun, mau tidak mau mereka harus memutuskan untuk mengumumkan bahwa bandnnya telah bubar.
Semua penggemar keberatan setelah mendengar hal ini. Tapi, sebagai gantinya mereka akan manggung untuk yang terakhir kalinya. Mereka akan membawakan tiga lagu sekaligus untuk seluruh penonton sebagai salam perpisahan.
Sudut mata bulat Felly terasa hangat, tenggorokan yang tercekat, serta suara yang berat dan gemetar. Namu, ia tetap menyanyikan lagu itu untuk penggemarnya. Hinga akhirnya, ia meneteskan air matanya. Terus mengalir tiada henti membuat penonton yang menyaksikan dirinya manggung ikut menangis di sela-sela menirukan lirik yang dinyanyikan oleh Felly.
“Felly, gimana kalau kita maen sekarang?,” tanya Bram.
“Boleh Bram, sekalian ngilangin pening. Tapi, kira-kira kemana?”
“Ke rumah gue.”
“Ke rumah lo? Emmmmmmh, boleh juga sih! Yaudah berangkat sekarang yuk!”
“Ok,” jawab Bily dan Riska bersamaan.
“Gue boleh ikut nggak?,” tanya seeorang yang dapat menghentikan langkah mereka.
“Arka, sejak kapan kamu ada di situ?,” tanya Felly penasaran.
“Sejak tadi, saat kamu manggung.”
“Udahlah Ka, gabung aja. Kita nggak bakalan keberatan kok kalau lo ikutan. Malah, tambah rame.”
“Thank’s Bram.”
“Ok, sama-sama.”
Setelah itu, mereka berangkat ke rumah Bram. Sesampai di sana mereka bersenang-senang, bersukaria, serta mengulang kebiasaan masing-masing saat di rumah Bram. Namun, di tengah-tengah kebersamaan mereka, dering telepon berbunyi dari sumber suara ponsel Felly. Hingga membuat semua aktivitas terhenti dan mendengarkan Felly mengangkat teleponnya.
“Hallo Ma, ada apa?”
“Felly, kamu sekarang ada dimana? Sebentar lagi kamu harus sampai di rumah untuk ceck-in ke bandara!”
“Iya Ma, aku akan pulang sekarang.”
“Yaudah kalau gitu, mama tunggu ya Fel. Cepetan, jangan lama-lama!”
“Iya Ma, Felly janji!”
“Ok, bye sayang!”
“Bye.”
“Ada apaan Fel?”
“Nyokap gue telepon Bram, dia nyuruh gue pulang sekarang. Soalnya, sebentar lagi, gue ceck-in ke bandara.”
“Hufffffttttt, gue anter ya Fel pakai mobil gue.”
“Nggak usah Bram, gue nggak mau ngerepotin lo!”
“Udahlah Fel, emang lo pikir yang ikutan nganterin lo cuma Bram aja? Gue, Riska, dan Arka juga ikut kali Fel. Mau ya Fel?,” pinta Bily memelas.
“Yaudah kalau itu mau kalian. Thank’s guys.”
“You are welcome.”
Bram dan juga yang lainnyapun ikut mengantar Felly pulang. Sesampai di rumah Felly, Riska ikut membantu Fellu untuk packing. Tentunya dengan berat hati. Saat Felly menyuruh mereka kembali. Mereka justru ingin mengantar Felly sampai ke bandara untuk ceck-in. Awalnya, Felly menolak. Tapi, karena semuanya memaksa Akhirnya, Felly menyetujuinya.
“Felly tunggu!!!!,” suara Arka  dengan menarik tangan Felly saat Felly memasuki barisan ceck-in.
Dengan spontan, laki-laki itu mendekap Felly dalam isak tangisnya.
“Kenapa kamu menangis? Aku masih di sini Arka!”
“Sekarang, kamu di sini Fel. Tapi sebentar lagi, kamu akan meninggalkan aku!,” jawabnya dengan melepaskan dekapannya.
“Hahaha, kamu kayak anak kecil aja Arka. Aku nggak papa,” kata Felly untuk menenangkan Arka dengan tawanya walau itu terasa perih di hati.
“Felly, apakah kamu bahagia meninggalkan aku sendiri di sini?”
“Kamu nggak sendiri Arka, kamu masih bersama tim basketmu.”
“Apakah ini batas akhir aku untuk mencintai kamu Felly?”
“Apa kamu bilang? Batas? Aku tidak mengenal batas dalam cinta, Arka. Termasuk mencintai kamu. Sejauh apapun aku dari sisimu, namamu, bayanganmu, suaramu, tawamu, tangismu, senyummu, serta manjamu akan selalu menemani diriku.”
“Aku takut, Felly. Aku takut!!!”
“Ketakutanmu akan membuat diriku semakin tertekan, Arka. Udah, jangan sedih gini ah! Kamu kayak cewek aja! Lembek banget! Senyum dong!,” kata Felly menutupi sedihnya.
“Jangan pernah membohongi diri kamu Felly. Aku udah pernah bilang kan? Menangislah saat kamu ingin menangis, dan tertawalah saat kamu tertawa. Jangan pernah malu pada mataku saat menangis Felly!!!”
“Arka....,” jawabnya dengan isak tangis yang sangat menderu telah membawanya dalam pelukan Arka.
“Di sinilah titik takutku Felly. Tidak dapat menemanimu saat menangis, melihat kedua matamu, serta melihat gelak tawamu. Saat kau sendiri, ingin rasanya aku bersamamu. Apakah mungkin suatu saat aku bisa bertemu dirimu lagi setelah kita merajut beribu kisah bersama? Mungkinkah kau masih mengingat diriku dikala dirimu telah melihat orang lain yang lebih baik dari diriku? Mungkinkah...”
“Stop Arka!!! Sejauh apapun jarak antara kita, sepintar apapun aku menebar pesona, hanya satu orang yang ingin aku temani. Bukan hanya sebagai seorang kekasih, tapi sebagai seorang kakak yang selalu mengerti adiknya.”
“Felly, mungkinkah kamu masih mengingat kita semua?,” tanya Bram.
“Kalian adalah sahabat terbaik gue. Saat gue menemukan sahabat lainnya, kalian adalah sahabat yang gue perkenalkan terlebih dahulu sebelum orang lain mengganti posisi kalian.”
“Felly....,” kata Bram terputus dengan pelukan erat yang di susul oleh Billy, Riska, dan juga Arka.
Suara isak tangis mereka semakin keras terdengar dalam bandara saat mereka mulai mengingat kembali memori kenangan mereka. Mengingat, mengulas kembali, melakukan, mengenang dengan foto, serta menjadikan seluruh peristiwa menjadi lirik lagu dan disatukan dengan CD sebagai kenangan bersama. Mengunjungi tempat-tempat tetentu juga salah satunya hal yang di lakukan oleh mereka sebelum Felly pergi.
Berat, sesak, perih, rindu adalah rasa yang bercampur dengan kecamuk emosi untuk memutar waktu. Tapi, hal itu tidak akan pernah terjadi walaupun di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Saat Felly akan melangkahkan kakinya untuk masuk lebih jauh, ia hanya dapat mengatakan untuk setia mengingat mereka. Terutama, Bram, Billy, dan juga Riska. Hal yan menjadi janji setia mereka adalah selalu bersama walau terpisah. Jadikanlah sebuah perpisahan sebagai pertemuan yang tidak akan pernah terlupakan bukan batas akhir untuk saling mengenal, betemu, serta mengenang kebersamaan seperti udara yang hanya menjadi hembusan nafas satu detik. Melainkan, kertas putih yang penuh dengan tinta bertuliskan aksara kenangan bersama dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya
Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...