Stop For It
P. N. Z.
“Lagi ngapain, Nda?,” tanya Felly saat telah mendapat izin untuk memasuki rumah sahabatnya yang telah lama kenal dengannya.“Felly!!,” ucap Dinda dengan berlari kecil dan memeluk Felly dengan wajah sedihnya.
“Lo kenapa kayak begini? Salah obat ya?,” tanya Felly.
Dindapun melepaskan pelukannya. Kemudian, ia duduk di pinggiran kamarnya. Dan, Felly mendekat dengan duduk di dampingnya.
“Ada masalah apaan lu sampek galau begini?,” tanya Felly.
“Lo tahu kan, gue pengen banget jadi anak hitz. Barusan, gue upload foto gue di IG. Cuman hasil likenya cuman dikit banget. Kayak biasanya. Lo tahu kan perjuangan gue sebelum badan gue gemuk proporsional begini? Tiap hari, gue makan junk food. Tiap bulan gue masuk salon buat styling rambut. Tiap hari, gue pakek masker dan mandi susu. Semua itu gue lakukan sebagai wujud usaha. Gue capek, Fel. Gue ngerasa nggak kuat.”
“Emang, apa yang bikin lo kayak begini? Nggak biasanya lo bisa nyerah kayak begini?,” tanya Felly penasaran.
“Gue, ikut kontes jadi model, Fel.”
“Hah? Buat majalah remaja yang isinya anak kece-kece itu?”
Dinda menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia menundukkan kepalanya. Dengan memandang ponselnya yang berisi komentar dan liker fotonya yang sedikit.
“Lo mah enak, Fel. Lo punya bakat menulis. Bahkan, lo udah banyak penggemarnya. Facebook lo juga banyak banget yang komentar mengenai tulisan lo. Di sisi laen, style lo juga nggak ketinggalan jaman. Lo tahu, gue juga pengen kayak lo. Bisa punya bakat dan style yang nggak ketinggalan. Bakat yang sesuai dengan keinginan hati gue. Tapi, gue ngerasa usaha gue sia-sia, Fel. Cowok yang suka sama lu juga berbobot semua. Bahkan, semuanya seakan nggak berani ninggalin lo. Selain karena kasih sayang, juga karena lo punya karir. Sedangkan gue, sekalipun berbobot gue selalu dipermainkan sama cowok. Hidup lo beruntung banget tahu nggak, Fel. Jujur! Gue iri banget sama lo!”
Sejenak, Felly terdiam setelah ia mendengarkan seluru keluh kesah sahabatnya, sekaligus pujian untuknya.
“Gue mau ke kamar mandi, ya? Gue belum mandi soalnya, hehehe!,” kata Dinda dengan tersenyum. Yah.. seperti itulah Dinda. Dia selalu berusaha tersenyum meskipun dia terlukai. Bahkan, dia selalu menyembunyikan air matanya sekalipun itu ada di depan para sahabatnya. Terutama, Felly. Bagi Felly, Dinda adalah cewek yang kuat dan tegar.
Saat Dinda pergi meninggalkan kamarnya, Felly berjalan ke arah cermin. Ia melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ia selalu berpikir, bahwa segala yang ada di dalam dirinya adalah kampungan. Tapi ternyata tidak, sahabatnya justru menginginkan sosok yang seperti dia.
Mata Felly mulai berputar saat ia melihat sederet fotonya bersama dengan Dinda dan juga yang lainnya. Begitu menyenangkan masa-masa mereka. Felly selalu menyangka, kehidupan teman-temannya begitu bahagia dan tak semenderita dirinya yang selalu bingung dengan urusannya sendiri.
Seketika, mata Felly terpaku dengan kotak kecil yang ada di samping make-up Dinda. Kotak dengan warna gold dan pita perak dengan bercak pimk yang menghiasinya. Felly membuka kotak itu. Banyak kertas kecil yang ada di dalamnya. Karena penasaran, Felly membaca satu persatu semua kertas kecil itu.
Hingga akhirnya, Felly terhenyak saat ia melihat tulisan “Apakah ada malaikat yang berwujud manusia yang bisa menuntun gue berjalan? Apakah Tuhan, menyediakannya di dunia ini? Kaki gue sakit. Sedangkan, gue harus berdiri. Gue nggak kuat dengan semua usaha gue yang gagal. Maafkan aku ya Tuhan, karena aku telah menyerah sebelum aku bisa memegang seluruh keinginanku dan membuktikan padamu bahwa aku bisa. Jika memang kau marah, kau bisa mengambil seluruh apa yang aku punya, Tuhan.”
“Ce! Lo masih di Indo, kan?,” tanya Felly saat ia telah menerima sambungan telfon dari sahabatnya.
“Iya. Kenapa, Fel?”
“Gue boleh minta tolong nggak sama lo? Kita ketemuan di mall hari ini. Bisa kan?”
“Bisa. Kebetulan gue free pemotretan hari ini.”
“Okay. Bye!,” kata Felly dengan meraih tasnya dan siap keluar dari kamar Dinda.
“Lo mau kemana?,” tanya Dinda saat ia keluar dari kamar mandi.
“Ikut gue sekarang!”
“Apa?! Gue ganti baju dulu dodol! Lagian mau kemana, sih?!,” tanya Dinda.
“Udah! Ikut gue!”
“Iya-iya! Bentar!!,” ucap Dinda dengan tergesa saat ia harus keluar tanpa make-up di wajahnya.
Saat Dinda sudah kelar dari kamarnya, Felly tergesa untuk bergegas meninggalkan rumah Dinda. Ia terburu sampai terjatuh. Entah kenapa, Felly bertingkah seperti itu. Padahal, Felly Anggi Wiraatmaja tidak pernah mau memperdulikan orang lain sekalipun itu orang tua atau sahabatnya sendiri. Tapi ini, Felly terlihat begitu berbeda. Seperti, bukan Felly.
Selama perjalanan untuk sampai di Mall, Felly terus tergesa hingga ia keluar dari mobil dan menyuruh mobil di depannya untuk maju lebih dekat dengan lampu merah. Sehingga, mereka bisa langsung tancap saat lampu hijau telah menyala.
“Fel, lo habis kesurupan apaan sih di rumah gue?,” tanya Dinda antusias.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia terus berusaha menyuruh mobil di depannya maju lebih dekat dengan terus menekan klakson mobilnya.
“Kita mau kemana, sih Fel?! Nggak biasanya lo kayak begini.”
“Lo bakalan tahu sendiri kenapa gue melakukan ini.”
“Seenggaknya lo bisa kasih tahu gue, Fel.”
“Lo bakalan tahu sendiri nantinya, Nda!,” ucap Felly dengan nada yang mulai meninggi.
Dindapun terdiam saat ia mendengarkan suara tinggi itu. Yah.. menandakan kemarahan Felly yang tertahan. Ok! Selama mereka kenal, Dinda memang terbiasa dengan kemarahan Felly. Tapi untuk saat ini, ia tak mampu untuk mengelak dari segala jawaban Felly atas pertanyaannya. Tak terasa, setelah acara gemas-menggemaskan di lubuk hati Felly karena lampu merah. Kini, wajahnya mulai tenang kembali saat kakinya menginjak lantai mall.
“Kita ngapain ke mall? Mau belanja baju?,” tanya Dinda dengan bibir nyungirnya.
“Kita akan ke restoran itu!,” ucap Felly.
“Aneh deh, lo!,” kata Dinda sewot.
Saat mereka menaiki eskalator, terlihat Cece yang tengah menyantap makanan kesukaannya. Lontong pecel. Meskipun ia di larang oleh agennya memakan bahan kacang, anak itu tetap saja bandel. Ia selalu menjawab, wajahnya akan tetap mulus meski kacang satu karung masuk ke tubuhnya. Bagaimana tidak? Cece rutin ke salon. Jangankan salon. Sabun badan dan juga shamponya saja harganya mahal dan tak terhitung. Mungkin, pembelanjaan satu bulan bisa untuk membeli rumah.
“Cece!,” panggil Felly santai.
“Hay Fel. Mau makan ini juga? Kebetulan nih lo ngajakin gue ke sini! Gue pengen makan soto ayam nih!”
“Nggak takut gemuk, Mbak?”
“Uh! Dia siapa?,” tanya Cece.
“Kenalin, dia sahabat gue. Indonesia. Nggak ada blasterannya kayak elo!”
“Yeeee!!! Cece. Kamu?,” tanya Cece dengan mengulurkan tangannya.
“Dinda.”
“Ah! Duduk lah! Gimana kalau kita makan dulu? Sebelum penerbangan gue.”
“Dugaan gue benar! Kalau lo bakalan balik lagi ke Paris.”
“Enggak. Gue kabur ke Amsterdam. Lo pikir di Paris nggak capek? Gue pengen istirahat di sana.”
“Dia siapa, sih?,” tanya Dinda sinis.
“Ah ya! Ce! Gue ke sini mau minta bantua lo nih!”
“Apaan?!”
“Reparasi sahabat gue hingga dia bisa hits dan memulai karirnya sama kayak lo.”
“Oh ya?! Tapi, apa dia siap nerima judge dari banyak orang? Gue sesukses ini nggak semudah balikin tangan. Apalagi keadaan.”
“Dia siapa sih? Dan apa maksud semua ini?!,” tanya Dinda penasaran.
“Gue model. Gue awalnya jadi seleb di sosmed. Sampai akhirnya, ada temen sosmed yang butuh model untuk produknya. Dan semua produk laku dengan jumlah yang besar, Di sanalah gue memulai segalanya. Gue yakin, lo pasti mati-matian kan untuk jadi seleb di sosmed. Mengingat, saingan kita nggak cuman satu milyar orang.”
“Jam terbang lo bentar lagi dateng. Gue nggak mau nih nemuin lo tapi nggak dapet apa-apa!,” ucap Felly ketus.
“Hahahaha, Felly, Felly. Dari dulu, lo tuh nggak pernah berubah tahu nggak sih! Okay! Gue akan calling teman gue yang biasa gue order produk kecantikannya sekaligus cara make-overnya.”
“Jangan bilang Riska?”
“Iya.”
“Ke salonnya aja langsung,” kata Felly.
“Boleh.”
Merekapun pergi ke toko Riska. Selama di dalam mobil, mereka saling bercerita siapa Cece. Begitu pula dengan siapa Felly. Yah.. kedua sahabat yang ditemukan oleh harta perusahaan keluarga. Dinda yang tak tahu apa-apa hanya tak bisa menyangka bahwa Felly memiliki level tinggi dalam kehidupannya. Tidak kaget jika Felly berhak melakukan segalanya.
Sesampainya di sana, Cece dan Riska berdiskusi mengenai seluruh style Dinda sebagai permulaan dalam belajar. Hingga akhirnya, Felly meminta Cece dan Riska untuk mengajari Dinda lewat E-mail. Mengingat, kepergian Felly minggu depan ke LA. Dan mereka berdua setuju dengan ide Felly. Disanalah Dinda mulai mendapatkan kejayaannya setelah usahanya yang terbalaskan. Tapi, satu hal yang perlu di ingat, pertolongan tidak mengukur jatuh darimana. Tapi mengukur, sebesar apa kita berusaha untuk meraihnya. Segala masalah pasti ada jalan kelama kita percaya kepada-Nya.
BIOGRAFI
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment