Skip to main content

Different Mix Free Life

Different Mix Free Life
Pratiwi Nur Zamzani

“Lihatlah mereka! Kenapa, ya? Anak orang kaya selalu bermain dengan orang yang sederajat dengannya. Sedangkan kita, hanya bisa merasakan hal yang sama,” gumam Billy dan Riska saat melihat Felly dan Bram berjalan beriringan.
Yah... lebih tepatnya, Felly Anggi Wiraatmaja dan juga Bram Salesvegas. Mereka berdua adalah anak yang hidup dengan penuh kemewahan. Saat berangkat sekolah, mereka membawa mobil masing-masing. Sedangkan yang lainnya, hanya bisa melihat kemewahan mereka dari kejauhan.
“Aku dengar Papamu akan membangun Aula yang baru saja dibangun?,” tanya Bram.
“Entahlah gue nggak tahu. Yang gue tahu, Papaku kemarin pulang malam karena rapat dengan Papamu.”
“Hahaha, iya juga. Semalam, aku tidur duluan,” jawab Bram santai.
Saat mereka berjalan ke arah kelas, mereka berdua di haadang oleh beberapa kawanan anak lain yang tengah sinis menatapnya. Mereka hendak memukul Bram. Namun, Riska dan Billy dan menghentikan. Mereka berdua cukup menghentikan dengan kode mata dan panggilan nama.
Bram melirik ke arah Billy. Dan juga, Riska. Tidak hanya Bram. Melainkan, Felly juga.
“Terimakasih,” ucap Felly dengan meninggalkan kerumunan orang melewati jalan yang sudah disediakan oleh kerumunan orang itu. Di susul oleh Bram yang berjalan searah di belakang Felly.
Selama di dalam kelas, Bram terdian seribu bahasa. Tidak seperti biasanya yang selalu menjahili Felly. Sejenak, Felly berpikir tentang kediaman Bram sebagai sahabatnya. Namun, Felly telah menemukan jawabannya saat ia menyadari sesuatu.
“Lo akan dijodohkan sama Riana, kan?”
“Yah... begitulah. Kalau tidak, mereka tidak akan memberikan beberapa persen saham ke gue. Gue iri sama anak-anak itu. Mereka bisa hidup bebas tanpa ada tuntutan dan acaman apapun. Mereka bebas memilih sesuai dengan keinginan mereka. Termasuk cinta kita. Berbeda jauh dengan kita. Cinta, karir, hidup dan apapun itu kedua orang tua adalah Tuhannya. Mengatur segalanya tanpa harus menanyakan terlebih dahulu,” jelasnya dengan memandang Billy dan Riska yang tengah ceria bergurau bersama dengan teman-teman sekelas.
“Guys, kelas hari ini Free. Karena guru nggak ada. Mereka semua rapat!,” kata Dheo sang ketua kelas.
Tidak lain dari Felly dan Bram, Dheo adalah salah satu dari mereka.
“Gimana kalau kita ke studio?,” ajak Felly menghibur Bram.
Bram mengangguk. Kemudian, mereka datang ke studio. Sesampainya di sana, ternyata studio telah dipakai oleh Billy dan Riska. Mereka menatap sinis ke arah Felly yang bermuka datar. Bram dan Felly memasuki studio tanpa mengusir mereka. Felly juga bersedia berbagi dengan mereka. Tidak untuk Bram.
“Kalian mau kita keluar, kan?,” tanya Billy ketus.
“Tidak. Ya,” jawab Felly dan Bram bersamaan.
Riska hanya bingung melihat Bram dan Felly. Akan tetapi, kebingungannya terjawab saat Felly menjelaskan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita main bersama aja. Aku nggak keberatan kok. Bram juga. Hari ini, dia agak sensitif sama orang karena perjodohannya sudah dekat.”
“Hah?!!! Perjodohan?!!! Semuda itu?!!!,” tanya Riska dan Billy bersamaan.
“Iya,” jawab Felly datar.
Felly Dan Brampun duduk di sofa. Tepatnya, di depan mereka.
“Di dalam keluarga kami berdua. Kehidupan cinta kami, karir, dan juga yang lainnya sudah di atur oleh kedua orang tua. Apabila kita membantah, maka mereka akan mengancam untuk tidak memberikan beberapa persen saham kepada kita. Seharusnya, kalian bersyukur bahwa kalian memiliki kehidupan yang bebas.”
“Kenapa kamu tidak membrontak kepada mereka bahwa kamu bisa hidup tanpa bantuan mereka? Dengan begitu, mereka akan memberikan kebebasan keepada kalian. Seburuk apapun kedua orang tua kalian, mereka tidak akan membiarkan anak mereka luluh lantak tak karuan. Termasuk cinta. Mereka akan memahami cinta kalian jikalau kalian benar-benar membuktikannya. Bukan hanya sekedar ada di sana sini tanpa adanya tujuan yang jelas,” jelas Riska.
“Kedua orang tua kami memiliki aturan yang sama dengan kami sebelum kami lair. Selayaknya, perjodohan ataupun yang lainnya merupakan salah satu warisan budaya di dalam kehidupan kami.”
“Kalau begitu caranya, kenapa kalian tidak melakukan hal yang berbeda dalam generasi kalian. Menghapuskan riwayat itu agar anak-anak kalian nanti mendapatkan kehidupan yang kalian inginkan. Bukan dengan perjodohan yang sama halnya dengan kedua orang tuanya,” lanjut Billy.
“Kami memang terlalu pengecut dalam hal ini. Tapi, uang yang biasa kami dapatkan dari part time tidak sebanding dengan kekayaan kedua orang tua kami yang memiliki beberapa anak cabang perusahaan dengan keuntungan yang lebih besar.”
“Kau pekerja paruh waktu?,” tanya Billy kepada Felly.
“Ya. Aku bekerja di salah satu majalah kota. Dan Bram, bekerja di salah satu caffe sebagai pengiring musik. Kamu berdua adalah sahabat sejak kami kecil. Sempat, kami terpisahkan karena aku harus beberapa tahun di New York. Lalu, kembali ke sini dan bertemu lagi dengan Bram. Sampailah kami berdua di sekolah yang sama. Kami berteman bukan karena derajat kami sama. Melainkan, rasa sakit kami sama besarnya.”
“Wah! Daebak! Ternyata, masih ada ya anak orang kaya yang mau menyentuh pekerjaan?!,” tanya Riska.
“Maaf sebelumnya karena aku sudah menyangka yang tidak-tidak tentang kalian. Aku kira, kalian anak yang sombong dan tidak tahu adat. Tapi, ternyata kalian memiliki hal yang sama dengan kami. Hanya saja, latar belakang kalian yang berbeda dengan kami,”lanjut Billy.
“Untk apa kita memamerkan kekayaan jika itu milik kedua orang tua?  Semua akan terasa membanggakan saat kekayaan yang kita miliki adalah miliki kita sendiri. Hasil dari kerja keras kita sendiri, tanpa melibatkan kedua orang tua.”
“Bolehkah, kita berteman dengan kalian?,” tanya Riska.
“Hahahaha. Bolehlah. Kami tidak memandang teman berdasarkan latar belakangnya. Yang kami butuhkan dari seorang teman adalah sebuah dukungan dan kasih sayang yang tulus. Tidak memanfaatkan kekayaan yang kami miliki. Ya nggak Bram?!,” tanya Felly.
“Yah.. gitulah!”
“Kami berdu pernah merasakan dimanfaatkan oleh teman. Maka dari itu, kita waspada. Tidak harus menolak,” jelas Felly.
“Maaf..”
“Udahlah, lo nggak capek apa dari tadi maaf, maaf melulu? Gue risih dengernya!,” semprot Bram kepada Billy.
Merekapun tertawa bersama di dalam studio. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Memang, begitu jauh perbedaan antara mereka. Namun, latar belakang bukanlah alasan satu-satunya dalam membedakan status sosial.
Melainkan, hati. Orang yang berhati baik kedudukannya akan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki kemewahan. Memang, di mata manusia orang yang hidup dengan status sosial yang tinggi maka mereka layak untuk dihormati dan juga disegani.
Namun, perlu kita ketahui status sosial memang bisa menjadi tolak ukur. Tapi tidak dapat membedakan apabila ada di mata Tuhan. Semuanya akan sama. Dan, orang-orang yang hidup dengan status sosial tinggi tidak selamanya termasuk orang yang hanya menikmati kemewahan mereka. Melainkan, rasa sakit karena aturan-aturan.


_Biodata Penulis
         
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...