Skip to main content

Aku Patuh!

Aku Patuh!
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly! Sibuk nggak sekarang?,” tanya Riska dengan menyembulkan kepalanya di balik pintu.
“Masuk lu! Jangan kayak curut begitu!,” kata Felly dengan senyuman.
“Yeeee! Gue kan takuk ngangguin elo kaleee!,” kata Riska dengan memesuki ruangan kerja Felly setelah ia menutup pintunya.
“Sejak kapan sahabat gue bisa jadi kayak begitu, hah? Bukannya emang dasarannya elu suka gangguin gue, ya?”
“Hehehehe.. iya, sih! Eh, tapi... elu jahat banget sih sama gue!”
“Biarin aja!”
“Iya sih! Gue udah kebal! Udah sejak SMA elu jahat sama rekan setim!”
“Hahahaha. Tuh hafal!”
“Oh ya Fel, lo hari ini ada acara nggak?,” tanya Riska mulai serius.
“Nggak juga, emangnya ada apaan?”
“Bram sama Billy au ngajakin kita makan malem bareng. Yahhhh reunian gitu lah.”
“Ok. Bentar lagi jam pulang kerja kok! Oh ya, lo mau nggak ikut gue lihat-lihat pegawai gue.”
“Hmmmmm! Boleh juga. Kali aja kita bisa join!,” kata Riska mengangguk mantab.
Fellypun berdiri. Begitu juga dengan Riska. Kemudian, mereka berjalan keluar ruangan. Menuruni lift dan sampai di lantai tiga. Di sana, nama Felly Anggi Wiraatmaja begitu terhormat dan di segani. Bagaimana tidak? Felly adalah pemilik perusahaan percetakan majalah yang di penuhi oleh iklan-iklan branded dengan model yang berkualitas.
Bagi Felly, waktu tak bisa terhitung dengan uang. Karena waktu adalah uang baginya. Ia tidak akan segan-segan menyakiti hati pegawainya jika memang itu di perlukan. Bahkan Felly tidak akan mentolerir kesalahan sampai tiga kali.
Baginya, kesalahan tetaplah kesalahan. Meskipun orang itu tetap berubah kesalahan akan tetap terjadi. Baginya, kesempurnaan adalah keutamaan dalam hidupnya. Meskipun, kesempurnaan tidak akan pernah da di dunia.
“Siapa dia?,” tanya Felly kepada pengawas pekerja.
“Oh, dia pegawai baru yang masih training untuk tiga bulan ke depan.”
“Bawa dia ke kantorku besok!”
“Baik, Bu!,”kata pengawas pekerja.
Felly melanjutkan perjalanannya untuk melihat ke beberapa srand pekerja.Hingga akhirnya, langkahnya terhenti saat ia melihat pegawai yang tengah bersantai. Padahal, pekerjaan masih menumpuk. Felly menerke-nerka akan karyawan itu.
“Kau sudah lama bekerja di sini, kan? Apakah dengan begitu kau bisa menjadikan juniorm sebagai penggantimu?!!! Sekarang bukanlah jam istirahat! Jangankan istirahat! Berbukapun masih lama! Apakah kau mau menyia-nyiakan kehidupanmu dengan bersantai?! Aku yakin kalau kau mau menjadi seorang yang sukses. Tapi, aku berani bersumpah kalau kau gagal meraih suksesmu karena kemalasanmu itu! Aku juga tidak segan memecatmu hari ini!!!!,” ucap Felly dengan meninggalkan karyawan itu dan berjalan ke arah lift. Sedangkan Riska, membuntutinya dari belakang.
“Felly, apakah kau tidak terlalu kejam memecat pegawaimu dengan cara yang seperti itu? Aku tahu dia memang salah, tapi setidaknya ia dapat mendapatkan kesempatannya sekali lagi darimu. Okay?”
“Riska, sekali salah ya tetap salah! Aku tidak suka dengan kesalahan meskipun aku melakukan kesalahan. Jika memang dia mempunyai niatan untuk bekerja, dia tidak akan bermalas-malasan seperti itu!,” ucap Felly dengan penuh amarahnya.
“Felly!,” panggil seseorang saat pintu lift terbuka.
“Billy! Bram! Kenapa kalian ada di sini?,” tanya Felly.
“Kita mau jemput lu untuk buka bersama. Karena, lu pasti bakalan telat karena kerjaan,” ucap Bram.
“Gue yakin, pasti ada pegawai lo yang melakukan kesalahan, ya?”
“Gue nggak bisa makan bareng sama kalian.”
“Apa, Fel? Lo...,” ucap Bram terputus saat Billy mencegahnya mengoceh dengan penuh amarahnya.
“Okay Felly, gini aja. Kita makan di kantor lu! Kita nggak perlu keluar. Gimana? Lu setuju, kan? Selain itu, lo masih bisa memeriksa laporan pekerjaan karyawan lo.”
“Okay! Kalian ikut gue sekarang.”
Merekapun berbuka bersama setelah delivery makanan yang sesuai dengan selera mereka masing-masing. Hingga akhirnya, tiba saatnya waktu isya’. Fellypun turun ke bawah beserta dengan yang lain. Ia kembali mengawasi pekerja yang hendak pergi meninggalkan pekerjaan mereka. Dan hal itu, kembali membuat Felly jengkel.
“Tarawih hanyalah sholat sunnah! Bisa kalian lakukan di rumah sepulang kerja! Apakah kalian tidak pernah memikirkan hal itu? Apakah kalian bukanlah orang yang berpendidikan? Apakah kalian tidak mempunyai moral masalah pekerjaan?,” oceh Felly di depan para karyawannya yang tengah menunduk ketakutan dengan semprotan amarah Felly.
“Seharusnya para pegawaimulah yang bertanya padamu apakah kau orang yang memiliki moral?!,” jawab seseorang dengan jalan santainya.
Seketika Felly menoleh. Alisnya yang menyatu, kini mulai merenggang. Nafasnya yang tidak teratur, kini mulai berjalan normal. Hanya satu yang tidak berjalan normal. Desiran darahnya yang terus menerus berdesir dan juga jantungnya yang terus menerus berdetak begitu kencang. Mengalahkan suara bentakan dan teriakan amarahnya kepada para pegawainya yang menggema ke seluruh ruangan.
“Arka!,”panggil Felly lirih.
“Apakah kau orang yang berpendidikan? Aku rasa tidak!”
“Apa maksudmu?!,” tanya Felly ketus.
“Maksudku?!!! Felly, Felly. Aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiranmu! Begitu juga dengan aliran hatimu! Meskipun aku berusaha mengerti dan memahami bagaimana dirimu, aku tidak pernah berhasil jika aku harus berhadapan dengan aliran hati dan juga pikiranmu!”
“Jawab aku, Arka!!!!!,” bentak Felly.
“Aku memang bukan siapa-siapamu lagi! Aku hanyalah serpihan masa lalumu. Entah itu buruk, atau tidak. Tapi, aku berhak mengingatkanmu, atau bahkan membentakmu dengan sseluruh argumenku! Karena aku merasa, ini adalah kewajibanku sebagai seorang islam yang mengingatkan saudaranya yang lupa. Felly, kau beragama islam. Kau mengerti hukum islam. Kau berpendidikan tinggi. Tapi moralmu?! Kau kehilangan moralmu!”
“Apa kau bilang?!!! Aku  kehilangan moralku? Tch! Apa..”
“Jika memang kau tidak kehilangan moralmu, kau akan mengizinkan mereka untuk sholat tarawih dan melanjutkan pekerjaan mereka setelah sholat tarawih! Felly, aku tahu kau adalah orang yang pekerja keras, tapi tidak begini caranya! Apakah kau pikir dengan begini,ibadah puasamu akan di terima? Tidak! Allah justru akan mengutukmu dengan segala kekuasaan-Nya! Felly, raamadhan adalah bulan yang suci. Bulan yang mengharuskan menahan nafsu. Terutama amarah! Felly, apakah pikiranmu buntu? Sampai kapan kau akan menjadi seperti ini?! Dunia hanyalah sebuah permainan! Dan, kau tahu, tanpa kau sadari, kau sudah kalah dengan permainan ini! Kau sudah kalah dengan bisikan iblis! Allah tidak akan mengurangi penghasilanmu! Felly, perbandingan bulan ramadhan dengan hari biasa sangatlah berbeda! Kau bisa melakukan ini semua di hari-hari biasanya!”
“Benar, Fel kata Arka! Lagipula, mereka membutuhkan kedamaian hati. Sekalipun, mereka masih membutuhkan pekerjaan mereka untuk kehidupannya,” lanjut Bram.
“Di tambah lagi, taraawih nggak akan memakan waktu yang lama, Fel. Felly, aku mengenalmu sebagai orang yang respect terhadap apapun! Terutama pekerjaan. Tapi kenapa, lo nggak bisa sedikit aja respect sama agama lo sendiri?! Dikiiiittt, aja! Ayolah!,” bujuk Billy.
“Inget,  Fel! Lo adalah islam. Agama kita mengharuskan melakukan kewajibannya, kan?,” ucap Riska menimpali.
“Tapi, tarawih hanyalah sunnah! Bisa  dilakukan bisa tidak!,” jawab Felly tetap bersih keras.
“Felly!!! Lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali, Fel! Pahala di bulan ramadhan berlipat ganda daripada dengan hari-hari biasanya! Ramadhan hanya berjalan selama satu bulan! Kenapa kau masih keras kepala begini, hah?! Felly, ingatlah hukum karma! Apa kau tidak akan takut dengan hukum karma? Kau ingat, kau pernha berkata padaku bahwa waktu adalah hal yang penting. Begitu juga dengan sholat. Tarawih juga merupakan Sholat, Fel!,” kata Arka panjang lebar dengan sedikit tekanan pada setiap katanya.
“Felly.. seberuntung-beruntungnya  orang yang hidup di dunia adalah orang yang tidak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Meskipun, hal itu bersifat sunnah,” kata Riska.
“Di tambah lagi, kita harus bisa meneladani sikap dan sifat rasulullah. Beliau melaksanakan sunnah layaknya wajib. Bukankah hal itu juga termasuk perintah untuk kita semua?,” tanya Billy.
“Ayolah, Fel! Sholat tidak akan pernah mengurangi penghasilan lo! Melainkan menambah terbukanya pintu riski milik lo!,” kata Bram.
“Okay-okay! Gue bakalan nurutin kalian! Kalian berhasil nyadarin gue! Sekalipun, gue sadar karena gue mengingaat kematian!”
Billy, Bram, Riska, Arka dan seluruh pegawai yang menonton dan terkena hukuman dapat bernafas dengan lega setelah mereka mendengarkan keputusan Felly yang begitu menyenangkan. Dan tanpa Felly sadari, Felly telah mendapatkan pahala dari Allah meskipun ia telah tamak dan serakah sebelum mendapatkan pahalanya.
Pahala tidak hanya di dapatkan melalui kemampuan individu saja dalam menjalankan sebuah kehidupan. Melainkan, pengaruh orang-orang sekitar yang terus mendorong kita untuk maju ke jalan yang benar dana penuh dengan berkah dan hidayah-Nya.
Termasuk  dengan cinta. Orang yang mencintai kita dan benar-benar mencintai, adalah orang yang selalu menyakiti kita dengan seluruh peringatannya akan semua kuasa dari-Nya. Serta, orang yang selalu mendorong kita ke jalan yang penuh dengan cahaya hidayah-Nya meskipun mereka harus tega menyakiti kita dengan kata-katanya.
Karena sesungguhnya, orang-orang yang beriman kepada Allah adalah orang-orang yang bertaqwa kepadanya. Serta, orang-orang yang selalu mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya. Selain itu, Allah memberikan hak atas nama surga dan neraka berasrkan apa yang mereka lakukan selama di dunia.


_BIOGRAFI

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 083-833-678-583. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...