Skip to main content

1 Promise

1 Promise
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly! Lo nggak pulang?!,” tanya Riska yang tengah asik mengemasi barang-barangnya dari lemari asrama putri.
“Liburan ini, gue akan pulang telat.”
“Kenapa bisa begitu?! Ada urusan sama produser?!,” tanya Riska seraya menebak.
“Nggak juga,” katanya dengan tersenyum.
“Kau memang aneh!,” ucap Riska dengan meninggalkan Felly yang masih terduduk di atas kasur yang memandangi luaar kaca itu.
Felly melangkahkan kakinya ke arah jendela. Menatap ke arah bawah. Yah... ia sudah di tunggu. Saat semua murid di international music school mendapatkan jemputan dari orang tua mereka, hanya Felly yang tidak merasakan hal itu.
“Apakah kau tidak mau turun?!,” tanya laki-laki itu.
“Tidak mungkin aku membiarkan kekasihku menungguku!,” jawabnya dengan telpon. Tentunya, dengan senyum simpulnya.
“Aku akan menunggu di sini! Cepatlah!,” kata laki-laki itu dengan mematikan telponnya dan berjalan ke arah ruang tamu IMS village.
Dengan cepat, Fellypun bergegas untuk menuruni tangga. Senyuman manisnya terlihat begitu cerah hari itu. Terutama, saat matanya menangkap bayang kekasihnya yang berdiri membelakanginya. Melihat seisi IMS village. Kebiasaannya yang tidak bisa diam.
“Sampai kapan kau harus terus mengamati asrama ini di tengah keramaian, hah?,” tanya Felly setelah ia berjalan mendekati kekasihnya.
“Hingga kau datang. Dan sekarang, kau sudah ada di depanku. Ayolah!,” ucap laki-laki itu dengan menggerakkan kepalanya ke arah luar. Menunjukkan isyarat ‘ayo pergi’ walaupun mulut mungilnya telah mengatakan hal itu.
Felly tak menjawab. Ia hanya bisa mengaitkan lengannya dengan lengan laki-laki itu. Lalu berjalan meninggalkan keramaian ruang tamu IMS village yang penuh dengan pemandangan yang Felly benci. Yah... kemesraan ibu dan anaknya.
“Kemana kita akan pergi?!,” tanya Felly kegirangan saat sudah berada di dalam mobil kekasihnya.
“Nanti, kau akan tahu sendiri!,” ucapnya tegas dengan senyuman.
Felly hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya seraya ia menikmati musik yang mengalun begitu merdu. Di dalam mobil, ia menceritakan semua peristiwa yang terjadi di asrama selama pembelajaran dimulai. Kekasihnya itu menanggapinya dengan antusias dan penuh dengan perhatian. Seakan, Felly menganggap Arkana Aditya adalah kedua orang tuanya.
Yah... Ibu yang seharusnya menyayangi anaknya dan ayah yang seharusnya melindungi anaknya. Dimana, semua itu seakan tak pernah ada di dalam hidupnya. Bahkan, benar-benar tak ada.
“Arka, kenapa kau begitu cemas?,” tanya Felly saat Felly menangkap sorota mata Arka yang penuh dengan kecemasan.
“Tidak! Aku hanya.... Lapar! Yah... Lapar!,” katanya mencari alasan yang tepat dengan senyuman untuk menutupi kebohongannya.
“Bagaimana kalau kita turun untuk makan sebentar?,” tawar Felly dengan menunjuk arah luar kaca.
“Tidak! Aku tidak mau merusak suasana hangat hari ini!,” ucap Arka menenangkan Felly yang mulai panik.
“Hhhhhhsssshhhh! Dasar!,” kata Felly dengan menepuk lengan Arka.
Mata Felly seakan terpaku dengan tenggorokannya yang tercekat. Saat mobil Arka berhenti di depan gerbang rumah yang tida asing bagi Felly. Sejenak, Felly merasa bingung akan hal itu. Namun, Arka menutupinya dengan senyuman seakan ia tak berdosa dan tidak mengetahui bahwa ia benci dengan rumah itu. Yah.. rumah yang telah menjadi kenangan paling mematikan bagi Felly.
“Apakah kau akan tetap di dalam dan merasa kepanasan saat mesin mobil ini mati karena pemiliknya masuk ke dalam?,” tanya Arka dengan mengulurkan tangannya saat ia turun duluan dan membukakan pintu untuk Felly.
“Apa maksud semua ini?,” tanya Felly dengan tatapan sinis.
“Apakah kau masih belum tahu maksudku setelah kita telah berpijak di sini?”
“Tapi tak seharusnya kau membawaku ke sini!!!!!,” bentak Felly.
“Sampai kapan kau akan membenci orang yang telah melahirkanmu?!”
“Sampai ia mau mengakui kesalahannya! Bahwa pepisahan rumah tangga tak seharusnya terjadi jika memang ia menyayangiku! Jika memang dia ibu yang baik, tak seharusnya ia melepaskan sosok penjaga yang seharusnya menjagaku!”
“Bagaimana jika penjagamu tak mau melakukan hal itu?!”
“Papaku tidak mungkin seperti itu!!!! Dia sama sepertimu! Oleh karena itu aku memilihmu!”
“Bagaimana jika begini!,” ucap Arka tegas dengan melepaskan genggaman tangannya.
“Arka....,” ucap Felly lirih. Tak menyangka akan hal itu.
“Felly!,” ucap seseorang lirih.
Felly membalikkan tubuhnya. Matanya semakin penuh dengan amarah saat ia harus melihat sosok itu. Semua kelabat masa pahit harus terlihat jelas di depan matanya saat ia menatap mata orang itu. Yah... seseorang yang tengah duduk di kursi roda dengan syal yang melingkari lehernya. Wajahnya yang pucat tetap memancarkan keteduhan. Dan, kemarahan Felly semakin memuncak. Mama. Itulah yang biasa Felly lontarkan. Dulu! Bahkan, saat perpisahan merekalah Felly menegaskan pada dirinya bahwa takkan ada lagi panggilan Mama bagi siapapun.
Anjani Wiraatmaja menjalankan kursi rodanya mendekati Felly. Namun, Felly memundurkan langkahnya untuk menjauhi Anjani. Mamanya. Ia terus menjauh dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti, ia melihat hantu.
Bahkan, ia tak mampu untuk menangis saat ia mengetahui rupa Mamanya yang sekarang. Hingga ia harus menutupi kedua hidup dan mulutnya. Tak menyangka dalam lingkup kemarahan. Mengingat, begitu lama Felly tidak bertemu dengan Mamanya. Setiap liburan ia tak pernah pulang ke rumah dan menghabiskan waktunya untuk menulis lagu dan belajar. Kemudian, menemui produser dan mengajukan proposalnya.
“Kenapa kau begitu takut hah?! Semua ini ulahmu!,” ucap Arka saat tubuh Felly menyentuh tubuh Arka saat Felly terus melangkahkan kakinya mundur.
Felly menatap Arka dengan bertanya tanpa suara.
“Jikalau kau mau menengok Mamamu meski hanya satu detik. Maka, ia akan lebih baik dibandingkan ia melihat bintang yang bersinar di depannya! Tapi, keras kepalamu telah menggerogoti hatimu! Hingga kau menjadi anak yang durhaka!”
Felly menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan, ia tak pernah mengenal Arka yang ada di depannya.
“Dan satu hal yang perlu kau tahu! Mamamu berpisah dengan Papamu bukan berarti ia menghilangkan penjagamu! Tapi justru, ia melindungimu! Papamu adalah seorang pecandu alkohol! Emosinya tidak dapat terkendali setiap saat! Bahkan, ia pernah mau memukulmu dengan botol minuman keras saat kau masih bayi! Itulah alasan kenapa Mamamu berpisah dengan Papamu! Di sisi lain, Papapmu juga suka bermain wanita. Bahkan, agar kau aman Ibumu harus rela berpisah dengan anaknya beberapa lama hingga kondisi membaik! Sampai ibumu dapat mengambilmu dari pelukan pembantumu yang telah meninggal saat ini! Jika kau berpikir lebih jernih dan mau mencari tahu, harusnya kau berterimakasih! Bukan menjadi bodoh seperti kucing yang telah masuk ke dalam sumur dan tak tahu bagaimana caranya berenang!”
“Kau... tahu....”
“Aku tahu dari salah satu mantan supir yang bekerja di rumahmu setelah Papamu memecatnya. Karena, supirmu tahu bahwa Papamu selingkuh!”
“Felly!,” panggil Mamanya lembut.
“Enggak! Enggak! Aku benci dirimu! Aku membencimu!,” ucap Felly dengan meninggalkan Mamanya.
Sontak Mamanya terjatuh dari kursi rodanya dengan kondisinya yang mengenaskan. Arka menyuruh pembantu Anjani untuk menolong. Sedangkan, ia menahan Felly. Saat itu juga Felly tetegun melihat kondisi Mamanya. Hingga ia tak mampu untuk berpikir.
“Cepat bawa Mama ke rumah sakit! Arka! Panggil ambulan!,” pinta Felly keras.
Tanpa disuruhpun Arka telah bergerak. Hingga mereka tak harus menunggu lama ambulan datang. Selama di dalam ambulan, Felly tak henti-hentinya menggerakkan kakinya untuk bergerak. Matanya tak dapat menangis melihat Mamanya. Hanya sorotan takut yang menyelimuti di dalamnya.
Tapi, semua itu sirna saat Mamanya memegang tangan Felly dengan lembut. Meski dirinya terus mempertahankan kemarahannya, tapi hatinya tak dapat berbohong bahwa ia mencemaskannya.
“Kamu jangan kawatir sayang! Mama nggak papa kok!,” ucap anjani lemah.
Tanpa berfikir panjang, Felly memeluk Mamanya yang tengah berbaring di rolling bed Rumah Sakit. Bahkan, dirinya sendiri tak menyangka ia akan melakukan hal itu. Sedangkan Arka, ia hanya bisa tersenyum melihat kekasihnya mau menyadari akan kasih sayang Mamanya.
Terkadang, kita juga tak bisa mengendalikan akan diri kita sendiri. Namun, satu hal yang telah pasti dan akan terjadi di kehidupan tanpa harus meramalnya. Yaitu, cinta. Sebenci apapun seorang anak kepada Ibunya, ia tidak akan pernah mampu membencinya. Dan saat kita tak bisa mengungkapkan cinta, setidaknya kita tak perlu membohongi diri sendiri bahwa kita tak memiliki rasa cinta untuknya. Karena apapun bentuknya kebohongan akan setitik cinta, pasti akan terasa begitu menyesakkan dada.




Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...