Time From Global
Pratiwi Nur Zamzani
“Bisakah kita bertemu sekarang?,” tanya seseorang dengan nadanya yang menunjukkan bahwa ia sangat senang.
“Untuk?,” tanya Felly heran.
“Apa kau tidak merindukanku?,” tanya seseorang dengan nada menggoda. Di seberang sana, ia tersenyum sipu membayangkan akan pertemuannya dengan gadisnya. Felly.
Yah... Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis yang tengah menjadi tampilan publik dengan segala fasilitas, kualitas, karsa, asa dan karyanya yang menggelar bagikan petir menyambar dunia. Tidak akan ada yang tidak mengetahui model cantik itu, gitaris cantik itu, penyanyi cantik itu, dan professor cantik itu. Semuanya, sempurna. Sangat sempurna.
Bagaimana tidak? Selain ia telah dapat dikatakan sukses diusianya yang muda, ia tidak pernah kehilangan pesona dirinya yang selalu dipuja bak seorang dewi. Matanya yang tajam seperti singa, sorotan matanya yang anggun, bibir mungilnya yang seksi, dan otaknya yang brilian seperti berlian.
“Ayolah..,” kata seoraang itu.
“Sepenting itukah?,” tanya Felly.
“Apa di matamu, hubungan kita tidaklah penting?,” tanya orang itu.
“Aku ada pemotretan, penelitian lab, dan latihan band dengan anak-anak.”
“Hanya lima menit saja,” paksa orang itu.
“Kenapa kau terus memaksaku?!,” tanya Felly dengan nadanya yang mulai meninggi.
“Apakah kau sudah tidak mencintai aku?,” tanya orang itu.
Felly menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, ia mematikan ponselnya.
***
Arka menatap layar ponsel yang terlihat begitu indah di matanya meski panggilan telfon telah terputus. Di layar itu, ia dapat melihat mata Felly yang indah dengan senyumannya yang manis. Meskipun, jauh di dalam hatinya, ia telah berbohong atas senyuman itu.
“Di matiin lagi?,” tanya Rio dengan melihat layar ponsel Arka.
Arka menjawabnya dengan senyuman. Ia menggelengkan kepalanya. Kemudian, meninggalkan Rio dan kembali ke meja kerjanya. Membuka beberapa map, yang sudah siap menunggu tanda tangan darinya.
“Lo kalau nggak bakat bohong jangan bohong deh, Ka. Malu-maluin tahu!,” kata Rio dengan tetap mengunyah snack ringan yang ia bawa.
“Yah.. mungkin dia sibuk,” kata Arka dengan tetap tersenyum.
“Nah! Justru itu! Sesibuk apapun dia, nggak seharusnya dia meninggalkan lo kayak sampah begini! Ok, gue akui cewek lo cantik. Dia idaman para lelaki. Selain bodynya yahuud, dia pintar, sukses, berkarir, keren, kece. Nggak ada yang cacat. Tapi kalau masalah ini, gue nggak bisa yakin kalau dia beneran cinta sama lo, Ka!,” kata Rio dengan duduk di meja kerja Arka.
“Cewek gue nggak sama dengan cewek lo yang hanya punya satu profesi. Yang punya satu tempat kerjaan. Dokter mungkin sedikit berbeda dengan jam terbang artis yang gila. Gue macarin dia juga bukan karena gilanya. Gue suka dengan prinsip hidupnya.”
“Pola pikirnya?!,” tanya Rio skakmatt.
Arka terdiam. Ia tak dapat mengatakan apapun. Ia hanya bisa menatap Rio yang tengah ada di atas kemenangannya. Yah.. memang Arka akui, selama ini ia masih belum bisa mengetahui bagaimana pola pikir Felly. Entah itu karena waktu yang memisahkan mereka atau karena Felly yang memaksa waktu untuk memisahkannya.
“Ka, gue cuman saran aja sebagai teman yang entah lo anggap atau tidak. Lebih baik, lo terima aja tawaran lo buat pergi ke Lebanon. Daripada di sini, lo nggak dianggap ada kan sama, Felly. Gue yakin, di sana, lo akan lebih tenang. Ka, gue bisa lihat penderitaan yang selama ini lo sembunyikan dari gue. Gue siap bantuin lo untuk ngurusin berkasnya. Di sisi lain, dengan lo pergi ke sana, lo bisa dapat promosi untuk naik jabatan. Kali aja lo jadi Komandan. Komandan termuda di barisan perwira. Why not men?!,” tanya Rio.
Tatapan matanya begitu tajam. Rio hanya menanggapi dengan mengedikkan kedua bahunya dan membuka kedua telapak tangannya. Sedangkan Arka, ia hanya menghembuskan nafas beratnya. Dengan cepat, Arka beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia meninggalkan Rio yang masih terduduk santai di pinggiran meja kerjanya.
“Lo mau kemana, Ka?!,” tanya Rio.
Arka tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya.
“Yeee, dibilangin malah ngambek! Terserah lo deh,” kata Rio pasrah.
***
Nyanyian klakson silih berganti memenuhi lampu merah. Di depan setirnya, Arka terdiam. Sejenak, ia menatap kaca mobil yang ada di atas kepalanya. Ia menatap pantulan dirinya dan bertanya. Yah.. pertanyaan yang selalu membuat dirinya goyah. Bahkan ia harus berusaha untuk tetap berdiri di posisi yang sama.
Langkahnya terhenti saat ia dapat melihat wajah bulan dengan jelas. Di atas deburan ombak laut yang mengayun begitu deras. Membasahi sepatu mengkilatnya bersama dengan belaian pohon kelapa yang telah menyambutnya di sana. Mega merah bersenandung bersama kicauan burung bangau yang kembali ke sarangnya. Kemerasak pohon kelapa terus memanggil namanya tuk duduk di pangkuannya.
Hening. Sepi. Hanya melodi alam sekitar yang terus terdengar. Berusaha mendamaikan hatinya yang terus berkecamuk dalam gemuruh. Dalam sejarah kehidupannya, ia tak pernah merasakan kegoyahan meski ia dihadapkan dengan pistol yang siap memecahkan kepalanya. Namun, disaat itu, entah mengapa ia merasakan hal itu. Tidak. Bukan itu. Ia merasa, apakah ia masih pantas dalam posisi yang sama. Mempertahankan yang ada di tengah ia tak berada.
“Lo dapet panggilan dari komandan. Cepet balik, sebelum kena hukuman, lo!,” kata Rio di seberang sana.
“Gue akan kembali sepuluh menit dari sekarang,” kata Arka dengan mematikan sambungan telfonnya.
Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Arka memberikan nada sambung kepada seseorang. Di sana, ia mengutarakan keinginannya. Entah apa yang ada di kepalanya, Arka tak mampu berkomunikasi dengan hatinya. Yang bisa ia lakukan untuk sekarang adalah bagaimana caranya agar ia tidak menyesal dengan keputusannya.
***
“Siapkan semua berkas keberangkatan gue. Berikan gue tiket pesawat untuk penerbangan pertama. Gue akan menghadap komandan mengenai tugas minggu ini agar gue bisa berangkat dengan tenang,” kata Arka setibanya ia di Batalyon.
“Yes! Beres, Bos!,” kata Rio gembira.
“Lo habis bilang apa sama dia, hah?! Lo mau ngerusak hubungan dia sama Felly?! Arka baru pulang dari Afrika, dan sekarang lo panas-panasin buat pergi ke Lebanon?! Berilah mereka waktu sedikit untuk bertemu. Apa lo nggak mikirin perasaan Felly. Dia cewek! Dia lebih lembut perasaannya daripada lo!”
“Justru gue memikirkan mereka berdua, gue menyuruh Arka pergi untuk ke Lebanon. Gue yakin, Arka adalah cowok yang bisa diandalin! Gue juga yakin, Arka bukan tipe orang yang mudah berubah pikiran. Gue hanya berharap, Felly berhasil melawan kehidupannya. Bukan cintanya.”
“Tapi nggak begini caranya, bego! Apa lo pikir bisa ngobatin hatinya seperti pacar lo ngobatin pasiennya? Nggak!”
“Singa, tetaplah singa. Dan dalam sejarah kehidupan fabel, singa tidak pernah menjadi hewan yang banci!,” kata Rio.
“Tch! Gue nggak mau tahu kalau ada apa-apa dihubungan mereka, lo yang bakalan tanggung jawab!,” kata Rendy dengan meninggalkan Rio yang masih berdiri menatap kepergian Arka.
Selama menghadap ke Komandan, Arka terngiang dengan sikap Felly yang ada di telfon. Ia tidak menyangka dengan perubahan Felly yang begitu drastis terhadapnya. Felly yang ia kenal, tidak pernah bersikap sekasar itu meski di tengah kesibukannya. Sempat, Arka berpikir bahwa Felly menduakannya. Entah itu karena tuntutan profesinya yang jarang atau bahkan hampir menyita pertemuan dan komunikasi mereka layaknya seorang TNI. Atau, memang dia benar-benar sibuk mengikuti arus waktu, atau ia sengaja menghindar dengan menyibukkan diri. Entahlah.
“Lo belom tidur? Ngapain, Ka?! Bentar lagi latihan fisik loh, lo nggak takut down?,” tanya Rendy dengan berjalan mendekat ke arah kursinya. Melihat aktifitas Arka hingga membuat ia lembur sampai jam dua pagi.
“Ini apaan?,” lanjut Rendy.
“Gimana? Bagus nggak menurut, lo?!,” tanya Arka dengan senyumannya.
“Bagus begroundnya. Stylis, simple, ok lah. Emang untuk apaan?,” tanya Rendy.
“Felly,” kata Arka dengan senyuman riangnya.
“Felly?!,” tanya Rendy tak percaya.
“Yah.. Felly, siapa lagi kekasih gue kalau nggak dia. Gue nggak mau selingkuh kali Ren, meskipun gue mampu buat selingkuh,” kata Arka tetap dengan senyumannya dan terfokus pada layar komputer dan membantunya menyusun vedeo kenangan bersama dengan Felly.
“Lo cinta banget ya sama, Felly?!,” tanya Rio.
“Yah... begitulah. Meskipun banyak orang lain yang mengatakan kalau dia nggak cinta sama gue. Apalagi kalau didukung dengan tingkah dan sikapnya ke gue. Mungkin, bisa jadi begitu. Tapi gue yakin, dia masih cinta sama gue.”
Rendy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak dapat berkata apapun saaat ia tahu bagaimana perjuangan sahabatnya untuk mempertahankan kekasihnya. Yah... kekasih yang tidak pernah memperhatikan atau bahkan menganggap perjuangan Arka menjadi hal yang bernilai. Di tengah zaman global, liberalisme ekonomi dan pasar bebas, sosial budaya yang bebas dan tidak terikat, masih ada perbandingan cinta 1:1. Entah elemen mana yang paling kuat, Rendy hanya bisa menggelengkan kepalanya.
***
“Fel, bangun!,” kata Riska dengan menggoyang tubuh Felly.
“Duh apaan sih?,” kata Felly dengan memegang kepalanya.
“Udah pagi, bego! Lo semalem abis minum berapa botol, huh?! Sampai keok begitu?!,” tanya Riska.
“Tahu lah! Sekarang jam berapa?,” tanya Felly dengan matanya yang setengah terpejam.
“Udah jam delapan pagi!,” kata Riska.
“Apa?! Jam delapan? Gue ada sidang bego! Kenapa nggak lo bangunin?!,” kata Felly terbirit pergi ke kamar mandi.
“Masih ada waktu lima belas menit dari sekarang, gue berangkat dulu. Ingat! Bersiin mulut lo, alkoholnya masih nempel!,” seru Riska dari luar seraya ia mengemasi tasnya dan pergi meninggalkan apartemennya.
***
“Lo nggak pengen kencan dulu, Ka?,” tanya Rendy.
“Ntar aja. Tugas negara lebih penting. Gue nitip, ya?! Bye! Sampai jumpa minggu depan,” kata Arka dengan melambaikan tangan dan memasuki helikopter militer.
“Gue tunggu promosinya, Ka!,” kata Rio dengan wajah konyolnya.
Rendy hanya meliriknya dengan malas. Seraya ia tetap menatap helikopter yang semakin menjauh. Di saat Arka pergi meninggalkan Felly, ia telah meninggalkan beberapa kenangan di sana. Yah... di apartemennya. Semalam, Arka berusaha menghubungi Felly. Namun, nomornya tidak aktif sama sekali. Arka mengira, Felly pasti sibuk untuk mengerjakan modul penyelesaiannya.
“Apakah anda tahu bahwa anda telah membuang waktu anda?! Saya tidak bisa menerima sidang anda hari ini. Saya akan menundanya minggu depan!,” kata dosen Felly dengan meninggalkan Felly yang masih berdiri di sana.
Felly berdecah kesal dan bergumam tidak jelas meninggalkan ruangan sidang. Ia tidak dapat memungkiri asiknya semalam ia bersenang-senang dengan Riska dan yang lainnya untuk merayakan sidangnya. Tapi nyatanya, ia tidak mendapatkan sidangnya hari ini. Dan harus menunda satu minggu lagi.
“Kemana dia?,” tanya Felly dengan menunggu jawaban dari seberang sana.
“Gue lupa kalau ini nomor baru gue. Duh, Fel lo bego banget, sih?!,” gumam Felly pada dirinya sendiri.
Dengan cepat, Felly mengganti kartu yang biasa ia gunakan untuk Arka. Ia mengganti nomornya karena merasa terganggu dengan panggilan atau pesan Arka. Meski terkadang, ia juga merindukan laki-laki itu. Tapi, ia lebih mengutamakan dunianya. Tak lama dari itu, beberapa panggilan dan pesan masuk. Namun, Felly menghiraukannya dan menghapus semuanya tanpa peduli dari siapa pesan atau panggilan itu.
“Nih anak kemana, sih?!,” gumam Felly jengkel saat ia tak mendapatkan nada sambung ke nomor Arka.
Felly terus mengulang panggilannya. Namun, hasilnya nihil. Sampai akhirnya, Felly pergi ke apartemen Arka untuk memastikan semuanya. Di kepala Felly, hanya ada pikiran bahwa Arka sekarang tengah tidur dengan wanitanya. Bahkan, Felly yakin, kalau Arka akan mengadakan pesta seks dengan Rio dan Rendy. Tch!
Selama di dalam mobil, Felly terus menggerutu dalam kesalnya. Ia berjalan ke arah lift dan menunggu pintu terbuka. Sampai akhirnya, ia sampai di depan apartemen Arka. Felly menggedor-gedor pintu. Ia juga berulang kali menekan bel pintu apartemen Arka. Sampai akhirnya, Felly kahabisan tenaga setelah histeris berusaha membuka pintu apartemen.
“Awas saja kau! Aku akan menghabisimu, Ka!!!,” decah Felly kesal dengan berusaha membuka pintu apartemen Arka menggunakan kunci duplikat yang pernah Arka berikan kepada Felly.
Felly mengembangkan senyuman sengitnya saat pintu itu terbuka. Terdorong dengan amarah, Felly mengeluarkan semburan api amarahnya kepada Arka. Namun, saat matanya mulai terbuka dan terfokus dengan sofa, Felly terdiam. Matanya kabur. Dengan cepat, ia berjalan ke arah tempat tidur. Kemudian, langkahnya berganti ke kamar mandi, dapur, dan ruang kerja. Nihil. Semuanya kosong. Apartemen itu kosong seperti rumah hantu yang tak berpenghuni.
Amarah Felly yang meletup, tertekan kembali ke dalam. Bola matanya menyapu ke seluruh sudut ruangan. Sampai akhirnya, ia menemukan secarik kertas kuning yang ada di atas meja kaca depan televisi. Dengan cepat, Felly meraihnya. Kemudian, ia menyalakan remote control sesuai dengan perintah di kertas kecil itu.
Beberapa detik berputar, Fellypun duduk di sofa. Ia penasaran dengan apa yang Arka lakukan. Pembukaan yang begitu membosankan. Namun, berhasil membuat Felly penasaran dan terus menikmati film yang tersuguh. Detik demi detik terus berjalan. Sampai akhirnya, ia menemukan namanya dan nama Arka di tengah slide seperti bentuk undangan pernikahan.
Semakin lama film berputar, Felly terhanyut dalam film itu. Bibirnya terkatup rapat saat saat ia melihat tanggal yang bahkan tak pernah terlintas di pikiran Felly untuk mengingatnya. Berlanjut slide, matanya berair saat melihat kata-kata yang tertulis di sana seperti surat. Air matanyapun tumpah saat ia melihat tulisan yang mewakili seluruh kata-kata siksaan yang ada di sana. ‘Aku berjanji padamu, bahwa aku akan menghabiskan waktuku untuk mencari rupiah, agar aku bisa membeli waktumu. Aku tidak akan mengecewakanmu, Felly.’
Fellypun beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat, ia membuka laci meja di ruang kerja Arka. Di samping telepon rumah, Felly menemukan beberapa nomor telfon. Ia berharap, ada jawaban yang bisa diberikan kepadanya.
Satu-persatu Felly menguhubungi nomor yang ada. Ponselnya terus berusaha menghubungi Arka. Felly menggigit bibir bawahnya mengingat semua kaata-kata Arka. Ia takut, kalau itu akan menjadi kata terakhir untuknya. Karena semuanya nihil, Fellypun meninggalkan apartemen dan pergi ke kantor Arka.
Seampainya di sana, ia langsung masuk ke dalam tanpa bertanya ke resepsionis yang ada. Dan tanpa permisi, Felly membuka pintu ruang kerja Arka dengan kasar. Dengan matanya yang nanar, nafas yang terengah, pikiran yang kacau, Felly melihat Rio dan Rendy tengah berdiskusi menganai sesuatu.
“Ada apa, Fel?!,” tanya Rendy.
“Arka kemana?,” tanya Felly.
“Mati!,” kata Rio.
“Gue serius!,” bentak Felly.
“Gue juga serius!!,” bentak Rio tak kalah keras.
Felly menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Rio. Seketika itu juga, badan Felly gemetaran, lututnya terasa lemas, tubuhnya terasa dingin, anggota geraknya terasa mati. Begitu juga dengan detak jantungnya yang terasa berhenti. Paru-parunya yang terasa sakit, hatinya yang terasa perih.
“Fel, Fel! Lo nggak papa, kan?!,” tanya Rendy cemas dengan memegang kedua bahu Felly.
Fellypun terduduk lemas di sofa. Ia menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di sana, ia menangis sejadi-jadinya sampai ia merasa tak mampu untuk bernafas.
“Felly!,” panggil seseorang dengan suaranya yang hampir tak terdengar.
“Keluar!,” kata Rio tanpa suara.
Arka membalas tanpa suara pula kenapa Felly sampai ada di sini. Rendy memberikan kode hingga Arka mengerti. Namun, Arka tidak menuruti apa yang diperintahkan oleh Rio. Ia justru masuk ke dalam dan duduk di samping Felly. Memegang kedua bahu Felly dan menepuk punggung Felly.
“Lepasin tangan lo, Ren! Gue nggak butuh lo!,” ucap Felly dengan isak tangisnya.
“Itu bukan gue, Fel,” kata Rendy menyahuti.
“Jangan sentuh gue Rio!,” kata Felly.
“Apakah kau sama sekali tidak mau mengingatku?,” tanya Arka.
Seketika tangisan Felly terhenti. Ia membuka kedua telapak tangannya. Menoleh ke arah sumber suara. Arkana Widitya Hermansyah. Felly tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Fellypun menyentuh pipi Arka untuk meyakinkan dirinya. Dengan tangan yang gemetaran, Felly berusaha menyentuhnya. Sampai akhirnya, ia dapat menghembuskan nafasnya lega seraya air matanya mengalir seperti sungai.
“Aku masih hidup, sayang,” kata Arka lembut.
Felly terdiam. Ia menutup mulutnya. Ia tak mampu berkata apapun.
“Kenapa kau tidak bilang kalau kau pergi?,” tanya Felly di sela isak tangis dan leganya.
“Apakah kau ada waktu untukku?,” tanya Arka.
“Kenapa kau tidak ke rumah?,” tanya Felly.
“Apa kau mau menemuiku?,” jawab Arka.
“Kenapa kau tidak berpesan padaku?,” tanya Felly.
“Apa kau akan melihat pesanku?”
“Kenapa kaua tidak menelfonku?”
“Apa kau akan menjawab telfonku?”
Felly menggelengkan kepalanya seraya ia mengaku bahwa ia memang salah selama ini. Tak seharusnya ia melakukan hal itu. Hal yang paling keji melebihi sebuah kasus pembunuhan. Tak seharusnya ia mempermainkan cintanya. Tak seharusnya ia membuat cintanya menangis dalam relung hatinya. Tak seharusnya ia memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ia memang pintar dalam segala hal. Ia pintar membuat modul penemuan untuk kemajuan pendidikan. Tapi satu hal yang tak pernah ia tahu, yaitu bagaimana cara mencintai dengan benar. Cinta tanpa keegoisan dengan mengkambinghitamkan waktu.
Waktu yang hanya bisa berjalan mengikuti rotasi bumi, bulan dan matahari. Waktu yang hanya bisa melihat seluruh kejadian dalam diamnya. Waktu yang hanya bisa patuh pada takdir sang Penguasa. Dimana ada takdir yang baik dan buruk. Namun, satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh waktu. Penentuan waktu yang tidak ditentukan oleh takdir. Dalam artian lain, waktu akan kembali berjalan pada saat ada penggerak yang dapat menjadikan waktu sebagai hal yang benar-benar berarti selain berhubungan dengan kehidupan dunia. Melainkan, rohani manusia.
Biografi Penulis
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani (Pakai Hijab Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id
Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani
Comments
Post a Comment