Khitbah Bersama Ilham
Pratiwi Nur Zamzani
“Felly!!! Yakin, pakai lagu baru kita?,” tanya Bram di tengah langkah mereka menuju aula bawah.
“Tahu, nih!!! Nggak biasanya lo mau ngelakuin hal semurah itu tanpa adanya imbalan yang pantas,” lanjut Riska.
“Lagipula, ini kan acara penutupan MOS adik kelas. Sampai keluarin falk segala. Alias, gitar pusaka lo! Mending, dipakai saat turnamen minggu depan!,” pinta Billy dengan santainya.
Felly hanya terdiam mendengar ocehan teman-temannya. Terus berjalan menuju aula dengan langkah cepat. Mengingat, mereka telah terlambat untuk tiba di sana.
“Kalian, akan tahu nanti setelah kita manggung. Oh ya, kasih gue untuk nyanyi solo ya! Ada lagu yang gue ciptakan khusus selain ini! Udah yuk tampil! Udah ditunggu di paggung!,” ucap Felly melangkahkan kakinya dengan cepat. Diikuti oleh teman-temannya yang mengekor di belakangnya.
“Oh ya, tadi ketua OSIS hubungin gue. Dia nyuruh kita untuk datang ke ruang OSIS setelah manggung. Kalau kita menghargai mereka, maka kita akan datang. Dan, sebaliknya. Gue, memutuskan untuk datang. Gue harap kalian bisa!”
Bram, Riska, dan Felly mengangguk bersamaan.
Felly Anggi Wiraatmaja. Kapten band Pro Tecno. Band yang tengah naik daun karena kemampuan individual personilnya. Tidak hanya itu saja, penampilan mereka di panggung maupun di lingkungan sekitar membuat mata menengok dua kali saat bepapasan untuk sekedar melihatnya.
Terutama Felly. Yah.. gadis dengan bentuk fisik yang menggiurkan. Mata elangnya yang tajam, senyumnya yang manis dan memabukkan, dan bibir tipis yang sangat seksi. Dilengkapi dengan kemampuannya sebagai aransement lagu, pencipta lagu, dan gitaris terbaik.
Namun, semua itu terasa kurang saat dia dingin seperti es. Keras kepalanya tidak bisa dibantah. Bahkan, kata-katanya yang selalu tegas serta hawa karismanya membuat rekannya seakan mematuhi seluruh perintahnya. Saat berpikir tentang pembantu. Mereka tidak pernah merasa menjadi pembantu. Toh, mereka memikir bahwa pemikiran Felly akan selalu berdampak baik. Mengingat prinsip hidup Felly yang selalu mengejar kesempurnaan, meski di dunia ini tidak ada kesempurnaan.
Brampun menaiki panggung. Dengan tata lampu yang sudah tertata sesuai dengan rencana, mereka menaiki panggung itu kecuali Felly. Yah... mengingat mereka adalah tentor utama malam itu, mereka mendapatkan tata panggung yang begitu megah dan indah. Seperti, konser.
Saat semuanya bersorak menyambut mereka, Felly datang dengan kata sambutan sambil berjalan dari belakang penonton. Seakan menyapa semua penonton dengan langkahnya. Sesampainya di atas panggung, Felly berdiri menyambut mereka. Dan, mereka berdiri mendekati panggung. Memberikan bunga, coklat, dan barang-barang yang mereka siapkan untuk menyambut Felly dan juga rekan bandnnya. Maklum, namanya sudah beredar di tabloid mingguan kota setempat. Sehingga tanpa berkenalan, semua adik kelasnya telah megenalinya.
Menyanyikan lagu yang pertama. Dengan petikan gitar yang menggelegar, semuanya bersorak. Menyerukan suaranya memanggil nama Felly, Bram, Billy, Dan Riska. Dengan sweter berwarna pelangi, celana jeans ketat membentuk pahanya yang lencir, saptu carpical yang keren dan tatanan ambut yang tergelung ke belakang serta bau harus parfum yang sangat khas membuat penampilannya sempurna. Sama persis seperti penyanyi sungguhan.
“Felly!,” serunya dari kejauhan setelah melihat Felly yang tengah berjalan beriringan dengan personil band Pro Tecno yang telah menuruni panggung menuju ruang OSIS.
Langkah Fellypun berhenti. Begitu pula dengan yang lainnya.
“Udah lama gue menanti pertemuan ini setelah gue ke rumah lo untuk meminjam kartu pelajar dan meminta bantuan lo untuk pemetaan cara masuk ke sekolah ini. Serta, teknik tesnya yang tergelar di sekolah ini. Dengan begitu, gue ketrima di sini. Satu sekolah dengan lo!”
“Baguslah kalau begitu. Lagipula, kenapa lo nggak bilang di SMS aja kalau mau ketemu gue? Kenapa sampai harus menunggu sekarang?”
“Nggak, gue cuma mau ngomong sesuatu sama lo!”
“Oh ya, ini orang yang gue ceritakan ke kalian sebelum kita ke sini. Kenalin, namanya Vino. Gue juga hampir tiap hari chat sama dia. Gue harap, kalian semua bisa akrab sama dia kayak gue ke kalian. Dia sebenernya satu umuran dengan kita. Tapi, berhubung karena peraturan pemerintah untuk sekolah di usia 5 tahun, jadi beda satu tahun dengan kita yang sekolah dengan usia 4 tahun.”
Billy, Bram, dan Riska mengangguk-ngangguk. Lalu, mereka berjabat tangan dan berkenalan dengan menyebutkan namanya masing-masing.
“Bisa kita bicara di taman sekarang?,” tanya Vino dengan nada yang mulai serius.
Fellypun mengangguk dan berjalan ke arah taman.
“Ada apaan, Vin?”
“Gue cinta sama lo!,” jawab Vino dengan tegas dan juga mata yang menyorot tajam.
Seketika dahi Felly berkerut, alisnya terangkat satu, bibirnya mengatup rapat dan hatinya terasa meledak. Hubungan mereka memang dekat. Bahkan, sangat dekat. Sebelumnya, Vino memang pernah menyatakan hal tersebut kepada Felly. Namun, Felly menolaknya secara baik-baik. Dan kini, ia kembali menyatakan cintanya.
“Gue nggak bisa. Gue nggak mungkin mencecap darah liur sahabat gue. Maya. Lo tahu tahu kan, dia adalah mantan lo! Sebenci apapun gue dengan dia, gue nggak akan menghianati dia dengan cara yang seperti ini. Lagipula meski dia udah nggak ada rasa sama lo, pasti ada sedikit sisa rasa itu meski hanya setitik debu. Toh, gue juga masih mencintai mantan gue. Lo bisa panggil pengecut ke gue! Tapi yang harus lo ingat, gue lebih baik menyakiti lo sekarang dengan kejujuran, dibandingkan gue harus membahagiakan lo dengan kebohongan!,” ucap Felly meninggalkan Vino yang masih berdiri mematung di taman.
“Felly!”
“Riska! Kenapa lo disini? Atau..”
“Gue nggak sengaja denger pembicaraan lo saat keluar dari kamar mandi. Kalau begitu maunya, kenapa lo mau chat sama dia tiap hari? Itu sama aja lo memberikan harapan sama dia! Apa lo sepengecut itu? Apa lo sejahat itu? Kasihan, Fel!”
“Gue melakukan ini, karena gue nggak mau mengulang masa lalu gue! Mencintai laki-laki hanya karena sebuah belas kasihan. Gue menggila dengan cinta hasil kasihan! Lagipula, gue belum yakin dengan dia. Gue menyayangi dia sebagai adik, nggak lebih!”
“Jadi, lo tertutup selama ini karena Ar..,” katanya terputus saat Felly sengaja memutusnya.
“Yah.. gue tertutup karena Arka. Arkana Aditya! Meskipun dia telah lulus dari sekolah ini dan nggak pernah membalas cinta gue, keyakinan hati gue kalau dia masih mencintai gue kuat Ris! Itulah yang membuat gue bertahan sampai sekarang! Berusaha menepati janji gue!”
“Lo gila tahu nggak menyumpah janji itu! Menunggu dia sampai berumur 25 tahun! Gila lo, Fel! Gue tahu lo keras kepala! Tapi, gue kecewa dengan sikap lo ke cowok! Di sisi lain, gue bangga dengan kesetiaan lo! Gue ingin jadi lo! Felly Anggi Wiraatmaja!”
Felly termangu menatap mata Riska. Riska memiliki nasib yang sama dengan Vino. Ia melakukan hubungan dengan laki-laki karena atas dasar kasihan. Dan, hal tersebut membuatnya begitu frustasi saat pasangannya meninggalkannya. Sehingga, meningalkan pianonya.
Kejujuran memang terasa sakit. Akan tetapi, perlu kita ketahui, bahwa kejujuran akan indah setelah kita melakukannya. Mengingat, sebuah karma dan takdir bukan di tangan kita. Yakin pada diri sendiri lebih baik dibandingkan yakin karena kasihan. Karena, adakalanya kita kasihan dan ada kalanya kita bertindak tegas dan egois. Dan, egois tidak selamanya bersifat buruk.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment