Skip to main content

Dunia Telah Berubah

Dunia Telah Berubah
Pratiwi Nur Zamzani


“Kenapa kau terlihat begitu murung hari ini? Apakah ada yang mengganggumu?,” tanya Arka kepada Felly.
Felly terdiam. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Katakanlah padaku! Aku akan berjanji untuk membantumu.”
“Kau tidak akan bisa membantuku!,” kata Felly tegas.
Arka menatap Felly dengan terkejut karena bentakan Felly.Tapi, keteduhan matanya dapat menyingkirkan amarah Felly yang mulai memuncak. Nafas Felly berderu dengan begitu keras. Hingga akhirnya, ia menangis sejadi-jadinya.
Seketika, Arka terhenyak dengan kelakuan teman kecilnya itu. Bagaimana tidak? Hari ini, Felly benar-benar berbeda dari sebelumnya. Felly yang selalu ceria begitu murung. Apa mungkin, gara-gara kejadian kemarin?
“Kau marah ya? Kau bisa memukulku! Tapi, jangan menangis ya?!,” ucap Arka dengan mengsap kedua pipi Felly dengan jari mungilnya.
“Aku... Aku....,” ucap Felly terputus karena tangisnya yang mengalahkan suaranya.
“Pukullah aku! Ya?! Jangan menangis!,” pinta Arka dengan memaksa tangan Felly untuk memukul dirinya.
“Arka....,” panggil Felly di tengan isak tangisnya yang keras dan menggema di seluruh taman.
“Bicaralah!,” pinta Arka dengan menatap mata Felly dengan penuh kelembutan.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia mengusapkan wajahnya yang basah ke dalam kemeja Arka. Sehingga, baju Arka begitu kotor karena ingus Felly dan juga air mata Felly.
“Menangislah!,” ucap Arka lembut dengan membelai puncak kepala Felly.
Felly terus menangis sejasi-jadinya. Ia menangis bersama dengan udara dingin sore itu. Udara yang menusuk tubuhnya hingga ia tak mampu menangis lagi. Dan tepukan tangan itu. Yah... tepukan tangan lembut yang berada di pundaknya seakan seperti mesin produksi yang tak henti-hentinya memberikan kekuatan kepada Felly.
Sampai akhirnya, Felly mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk lemas, ia membuka mulutnya yang kaku dan kelu. Sedangkan Arka menatapnya dengan tatapan sendu dan gemas. Matanya yang teduh seakan terus berdoa agar mulut Felly mengatakan hal itu.
“Kenapa kau ada di sini?,” tanya Felly lemah.
“Haruskan aku memiliki alasan tertentu saat aku berada di sini? Bukankah kebiasaanku sudah menemanimu. Bahkan itu sudah menjadi kewajibanku,” jawab Arka.
“Tapi kau masih suka bermain dengan Riska. Bukan denganku. Pergilah! Pergi!,” ucap Felly dalam teriaknya di tengah linangan air matanya.
“Apa kau tidak suka ak bermain dengan Riska?,” tanya Arka polos.
“Aaaaaaa!!!!!,” teriak Felly semakin menjadi setelah mendengar hal itu.
    Arkapun mendekatkan letak duduknya. Ia mengambil kedua bahu Felly. Dan Felly melepaskan kedua tangan mungil Arka. Felly menjauhkan dirinya dari Arka. Tapi Arka, terus mendekatkan dirinya pada Felly. Hingga akhirnya, Felly menyerah. Berbeda dengan Arka. Ia terus menepuk pundak Felly hingga Felly kembali terdiam.
“Aku berjanji, aku tidak akan mau dicium lagi sama Riska. Aku akan bermain denganmu di taman ini. Aku tahu, kau sedih karenaku. Aku tahu, kau tidak mau kedekatanku dengamu menjadi rapuh seperti kayu itu,” kata Arka dengan menunjuk ranting kayu yang kecil dan tipis. Yang tengah tergeletak bebas dan siap patah kapanpun saat kaki menginjaknya.
    Felly menjawabnya dengan senyuman. Matanya seketika berbinar setelah mendengar janji ringan itu. Apalagi saat Arka menyerahkan jari kelingking mungilnya, dan melingkarkan kelingkin putih Felly di jemarinya. Di sana, barulah Felly merasa tenang, damai, dan juga nyaman. Rasa yang tak ingin hilang dari hati Felly. Dan rasa yang akan di jaga oleh Arka kecil untuk gadis besar yang tengah menjadi istrinya sekarang.
Sebuah ingatan sederhana yang terlintas di pikiran Felly. Kisah cinta sederhana yang tak memandang siapa Arka suaminya. Berasal dari mana, dan apa namanya cinta. Tapi ia dapat merasakan rasa yang terus menyelubungi hatinya sore itu. Rasa yang ada di masa lalu. Masa kecilnya. Dimana ia bertemu dengan laki-laki yang mencintainya. Sebuah wujd rasa dengan menjaga hatinya dari kesedihan, dan berusaha membertahankan kebahagiaan.


`
Biografi Penulis

P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir di keluarga sederhana, dengan kelahiran Pasuruan, 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL. Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Hijab Putih), IG pratiwinurzamzani  (Pakai Hijab Putih)  atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani@yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani


Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...