Skip to main content

Time

Time
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly! Lo masih di sini?!,” tanya Bram kaget saat melihat Felly masih terduduk serius dengan gitar yang ada di pangkuannya.
“Ya?!,” tanya Felly saat menyadari bahwa ruangan studio terbuka.
“Lo nggak tidur?!,” tanya Bram.
“Belom ngantuk,” jawabnya singkat dengan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Fel, gue boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Bram dengan nada yang penuh dengan keraguan.
“Ya,” jawab Felly tanpa menatap Bram yang tengah menunggu jawaban yang sesungguhnya dari hati Felly.
“Apa, lo sayang sama gue?!”
Seketika Felly menghentikan gerakan jarinya untuk menulis lirik lagu dan juga notnya. Begitu juga dengan nafasnya. Tenggorokannyaa serasa tercekat. Sesak rasanya saat ia harus mendengar hal itu.
“Sayang?! Maksudnya?!,” tanya Felly dengan senyum simpulnya.
“Enggak jadi deh... Hehehehe... Sorry! Gue cabut dulu ya! Lu kalau tidur jangan malem-malem!,” pinta Bram meninggalkan ruangan itu.
Sejenak, Felly menghembuskan nafas beratnya. Menghempaskan tubuhnya ke kursi dan memijat tengkuknya yang terasa kaku saat Bram bertanya akan hal itu. Iapun memejamkan matanya untuk merenungkan semuanya.
“Felly!,” panggil seseorang saat Felly tengah menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan studio.
“Ya?!,” jawab Felly dengan menegakkan tubuhnya.
“Lo belum tidur juga?,” tanya Billy.
“Belum. Gue masih belum ngantuk! Lagipula, kalau gue nggak capek banget gue nggak akan bisa tidur Bil.”
Billy mendekat ke arah Felly. Ia berjalan ke arah belakang Felly. Kemudian, menyentuh pelipis Felly dan memijatnya perlahan. Felly sempat menghindar dan menepis tangannya. Akan tetapi, Billy bisa menahan akan hal itu.
“Gue yakin, setelah dapet relaxaxi dari gue pasti besok bakalan bugar buat latihan dan mata pelajaran di kelas.”
“Hahahaha... iya juga sih... Jago juga lu kalau masalah begini.”
“Iyalah. Billy gitu!”
Fellypun membalikkan kepalanya. Menatap menengadah ke arah Billy yang lebih tinggi darinya.
“Apa?”
“Gue boleh nanya sesuatu nggak?”
“Apaan? Tumben banget lo!”
“Menurut lo, gue orangnya gimana?”
Sejenak, Billy terdiam. Kemudian, ia berjalan untuk menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Felly. Menatap Felly dengan serius. Begitu juga Felly yang terus mengharapkan jawaban sesungguhnya dari Billy.
“Lo orangnya egois banget! Keras! Dan nggak bisa terbantahkan! Tapi satu yang gue tahu dari lo! Lo itu penyayang. Sekeras apapun lo marah ke orang,  lo nggak akan pernah bisa membencinya. Semua kelembutan lo tertutupi dengan dinginnya diri lo!”
“Lo tahu nggak arti teman itu apa?”
“Bagi gue sih, teman itu adalah segalanya. Dia akan tetap setia dimanapun dan apapun kondisi kita. Selalu bersama meski berjauhan. Yah... begitulah! Tumben sih lo nanya-nya begitu?!”
“Karena gue membenci persahabatan.”
“Termasuk Pro Techno?”
“Yah! Sahabat itu penuh dengan rasa iri. Dan, membuat gue gila.”
“Hahahaha. Karena lo belum pernah merasakan apa itu sahabat yang sesungguhnya. Dan satu yang membuat lo membenci sahabat!,” ucap Billy dengan menunjukkan dada Felly.
“Jikalau lo udah menemukan semua itu! Lo akan tahu apa itu sahabat!,” kata Billy dengan meninggalkan Felly yang masih merenungkan semua perkataan Billy dan Bram.
***
“Gue sayang sama lo! Gue harap, gue bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat! Emang sih, ini nggak seromantis itu. Tapi, gue hanya ingin menyayangi lo dengan kebebasan. Bukan terbatas!,” ucap Bram saat band Pro Techno telah bubar dari latihannya.
“Lo bisa menyayangi gue! Tapi gue hanya bisa menganggap lo sebagai sahabat. Maaf...”
“Apakah hal itu termasuk dengan posisi Arka yang sekarang?”
“Yah... hanya nama saja yang sedikit berbeda. Gue sangat menyayangi lo! Tapi, tidak untuk mencintai lo! Saat kita menyayangi seseorang, belum tentu kita mencintai orang itu. Akan tetapi, apabila kita mencintai seseorang kita sudah tentu menyayangi orang itu. Itulah cara kerja kehidupan. Hanya waktu dan takdir yang bisa mengubah segalanya!,” ucap Felly dengan meninggalkan Bram yang masih mencerna ucapan Felly.
***
Pohon begitu rindang. Udara begitu sejuk. Angin yang semilir menyambut kedatangannya. Menyapa langkahnya dengan irama kicauan burung sekitar. Dan juga, semerbak bau harum dari bunga-bunga yang ada. Felly terdiam dalam bisu di taman itu. Merenungkan akan semua yang telah terjadi. Ia masih tidak menyangka dengan adanya persahabatan.
Jika memang sahabat bisa menyayangi, mengapa juga harus ada cinta di dalamnya yang membuat hati terasa begitu membingungkan? Bahkan, terasa begitu asing dengan adanya hal itu.
“Ikutilah kata hatimu!,” ucap seseorang dari belakang.
“Arka!,” gumam Felly saat mengetahui orang itu.
“Apa kau tahu?!”
Arka mengangguk. Kemudian, memegang bahu Felly dengan lembut.
“Apabila kau mencintai dia. Maka, tinggalkanlah aku. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin kau masuk ke dalam jeruji besi hatiku. Begiku, cinta adalah sebuah pelajaran. Dimana kita harus saling membahagiakan. Bukan berarti aku membuangmu. Tapi, itulah caraku mencintaimu.”
“Semua ini terasa begitu berat. Akan tetapi, setidaknya terasa tenang saat aku bisa berbicara jujur mengenai persahabatanku dengan Bram. Arka, kau tahu aku begitu gila saat aku memikirkan hal ini. Tapi aku tahu saat hatimu mulai berbicara. Aku tidak bisa hidup di tengah laut tanpa harus memilih salah satu perahu yang siap menampungku. Aku merasa, aku bisa bernafas saat bersamamu. Aku juga merasa seperti bayi saat mengingat suaramu. Kau tahu, bayi itu tidak mengenal masalah dan juga dosa. Itulah mengapa aku memilihmu. Kau sahabatku. Karena kau selalu ada di sisiku dengan cinta. Tapi berbeda dengan Bram. Dia berada di sisiku dengan kasih sayang. Hanyalah sedikit kesalahan saat ia mengatakan cinta. Semua itu renkarnasi dari kasihan saat ia harus melihat aku sendiri selama kau pergi ke New York! Mengingat, aku tidak pernah sendiri.”
Arkapun tersenyum dengan merengkuh pundak Felly. Merapatkan kepala Felly di tekukan tengkuknya. Membelai lembut rambut Felly dengan mengingat kisah upaya mereka dengan berbagai kesulitan. Hingga semua terasa begitu menarik, dan juga spesial meski tercipta dengan sederhana dan tak semegah sahabat. Namun, spesialnya tidak akan pernah mengalahkan kisah dengan seorang sahabat. Sahabat dan juga sahabat spesial. Satu kesatuan, dengan makna yang berbeda. Itulah nyatanya. Dan waktu, akan bertindak setelah takdir menyuruhnya.



Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani, IG @pratiwinurzamzani (pakai kerudung putih, atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...