Lion
Pratiwi Nur Zamzani
“Hallo! Ada apaan, Ris?!,” tanya Felly dengan suara serak basahnya. Tentunya dengan mata yang masih terkatup rapat.
“Ya Tuhan... lo baru bangun tidur?”
“Yahhh gitu lah.. kenapa emang?”
“Lo pasti habis latihan sendirian kan di studio?! Dasar keras kepala! Udah tahu, gue suruh pulang! Masih, aja latihan!”
“Udah dong! Jangan berkicau melulu! Ada apaan nelpon?! Kalau nggak penting, mending gue balik tidur lagi deh!”
“Album kita kalah dengan Proteus!”
“Hah?! Kalah?! Apa lo bilang?! Berapa vs berapa skornya?”
“Voting penonton, 100:101! Gue sekarang ada di studio! Lo ke sini, ya?! Bye!”
“Gue akan ke sana sekarang!,” ucap Felly seraya mematikan telponnya. Kemudian, ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya ala bebek.
Dengan kecepatan tinggi, ia menembus temaramnya senja sore itu. Hatinya yang panas akan kekawutan yang baru saja terjadi telah melandanya. Tidak! Bukan hanya melandanya! Tapi membangunkannya. Saat ia mendengar kekalahannya, matanya seakan berpijar bak mentari yang bersinar terang. Begitu juga sudut matanya serta sudut bibirnya yang membentuk kesimpulan.
Saat Felly sampai disana, ia melihat teman-temannya melihat kertas hasil voting penonton. Meratapi akan kekecewaannya selama ini. Felly berjalan mendekati mereka. Menepuk bahu mereka seraya memberikan semangat meski tanpa adanya suara. Namun, ia merasakan hawa yang sama seperti dirinya saat ia memegang pundak Bram.
Matanya, seakan bersinar menemukan emas. Seperti halnya, ia menemukan apa yang ia cari selama ini. Bram Salesvegas dan juga dirinya. Felly Anggi Wiraatmaja. Kini, mereka telah terbangun dari tidur panjangnya. Menyia-nyiakan waktu dengan kesombongan nama tenar yang mereka miliki, membuat mereka lengah akan kerja kerasnya.
“Maaf karena gue mengecewakan kalian!,” ucap Bram dengan senyum simpul. Tentunya dengan kekecewaan.
“Akhirnya, Pro Techno menemukan rival sesungguhnya!,” itulah gumam mereka saat melihat angka skor itu.
“Bisakah anda datang kemari?! Pemenang ingin berduel dengan band anda!,” ucap ketua panitia penyelenggara saat Felly masih membatin akan tidak sangkanya ia dalam kekalahan ini. Bagaimana tidak? Band mereka mendapatkan julukan ‘Singa Sepanjang Zaman’. Akan tetapi, singa itu telah tertidur karena lengah. Hingga ia harus kehilangan mangsanya.
“Ok! Five minute!,” balas Felly di telpon.
“Ini, adalah saat kalian untuk membalaskan amarah dan juga rasa senang kalian setelah kita menemukan rival kita sesungguhnya. Bukankah kalian pernah bilang, bahwa kalian telah bosan menjadi juara disetiap event yang tergelar. Aku tahu, kalian kecewa. Tapi, aku yakin kalian memiliki titik kesenangan saat kalian menemukan saingan kalian masing-masing. Dalam hal ini, gue yang patut untuk disalahkan sebagai kapten. Akan tetapi, gue akan menanggung salah itu dengan kemenangan berikutnya. Itulah janji gue!”
“Kenapa harus lo aja, hah? Lo nggak pengen ngajakin kita?!,” tanya Billy.
“Let’s go!,” ajak Riska dengan memiringkan kepalanya. Menunjukkan untuk segera bergegas ke undangan.
Merekapun datang dengan wajah yang masih tersimpan kesombongan karena nama tenarnya. Hingga akhirnya, semuanya terbukti saat mereka berada di atas panggung bersama dengan rivalnya. Proteus. Yah.. band pendatang yang memiliki keunikan tersendiri dalam setiap penampilannya. Yaitu, bertopeng. Mereka selalu memakai topeng saat berada di atas panggung. Sehingga, publik tidak tahu siapa mereka. Itupun, mereka menggunakan topeng dengan jenis dan model yang berbeda.
“Apakah kau masih ingat dengan ini?,” tanya Vocallis Proteus kepada Felly dengan menunjukkan chipnya. Felly dengan membelalakkan matanya.
Fell menatap orang yang ada di depannya dengan tajam. Dengan sigap, ia membuka topeng itu dan melihat siapa yang ada di balik topeng itu dengan wajah tanpa dosa. Yah.. seperti itulah Felly. Watak kerasnya menutupi kasih sayangnya yang begitu lembut. Hanya kaum Adam yang benar-benar bisa menilai oranglah yang akan mendapatkan Felly. Begitu juga dengan sebaliknya.
“Arka!,” ucap Felly dengan kagetnya.
“Yah.. Aku Arka! Mantan kekasihmu! Kenapa kau kalah lagi dariku, hah? Dulu, kau kalah dengan dirimu sendiri. Kau tidak bisa mengendalikan dirimu karena aku tinggalkan. Dan sekarang, kau kalah dengan orang lain. Mengapa kau begitu menyedihkan, hah?! Haruskah aku menghancurkanmu dengan mengalahkanmu sekali lagi?! Jika kau telat melangkah, maka hancurlah dirimu. Karena aku tak akan berhenti dan segan menghancurkan dirimu meski aku pernah mencintaimu!,” ucapnya dengan meninggalkan Felly.
Felly hanya bisa terdiam menelaah ucapan mantan kekasihnya. Untuk kedua kalinya, ia memiliki semangat yang keras karena adanya rasa dendam. Entah mengapa ia memiliki semangat karena pacuan itu. Dan semuanya terasa begitu nyaman. Dengan senyuman simpulnya, Felly memulai aksinya. Beradu kemampuan dengan mantan kekasihnya. Dan juga, melupakan sejenak apa yang ada di dalam hatinya. Yah... peristiwa itu. Kisah dulu bersama Arka. Berpandang lurus ke depan dan menatap keramaian penonton. Tentunya, dengan segenggam dendam.
Karena harus kau tahu, bahwa dendam tak selamanya buruk. Semua, tergantung dengan pemiliknya. Bagimana cara pemiliknya menyetel ulang mesinnya agar dapat tersambung dengan otak dan hati. Sehingga terciptalah mahakarya yang tak terduga. Dan ingatlah satu hal, bahwa takdir dapat berubah karena adanya sebuah usaha. Meski hanya setitik debu pasti akan berbuah mutu.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment