Skip to main content

1 Special Love For Mom

1 Special Love For Mom
Pratiwi Nur Zamzani


“Fel.. gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?,” tanya Bram di tengah langkah mereka saat mereka telah melakukan rutinitas sepertia biasanya. Yaitu, latihan band bersama.
“Tanya aja pakek izin. Kayak baru kenal aja sama gue lo!,” ucap Felly dengan terus menyedot milk stroberrynya.
“Kenapa sih lo nggak nyari pasangan aja, Fel?! Emangnya, lo nggak ngerasa kesepian ya selama ini? Dan juga, apakah lo nggak malu dengan media sosial yang terus menanyakan pria yang lagi kencang sama lo?!”
“Bilang aja kalau gue pacaran bakalan jadi hot news dan kita bisa dibayar mahal sama mereka.”
“Yah.. nggak segitunya juga kali! Lo nefthink mulu sih?!”
“Habis, lu nanyaknya aneh-aneh sih!”
“Yaelah! Gue kan takut kalau lu...”
“Lu apa?! Nggak normal?! Santai aja, gue bukan Yui kok! Ok! Jadi, jangan kawatir!,” ucap Felly nyolot saat ia telah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Bram. Kemudian, dengan langkah cepat Felly meninggalkan Bram setelah ia melihat jam tangannya.
“Hhhhhh! Semoga aja, lo bisa menemukan cinta lo lagi Fel! Gue udah anggep lo kayak adik gue sendiri! Mana mungkin gue tega harus melihat sorot mata lo yang berisi dengan kekosongan meski lo menutupinya dengan pelangi.
Felly menancapkan gasnya untuk menuju ke tempat itu. Yah.. tempat yang selalu membuatnya mengaum bersedu di tengah julukannya sebagai ‘singa liar’. Bagaimana tidak? Sekuat apapun ia bertahan, ia tetap rapuh. Mengingat, ia hanyalah manusia biasa. Bukan malaikat yang memiliki hati besar dan juga kukuh bak baja dan besi anti peluru. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Felly saat ia telah melihat ukiran nama di batu itu.
“Ma, maafin Felly ya... Felly telat harus jenguk Mama di sini! Ma, Felly nggak tahu harus gimana lagi. Felly seperti cewek bodoh yang tak tahu arah kehidupan Felly kemana? Mama tahu, Felly sangat merindukan Mama meskipun Papa berada disamping Felly. Entah kenapa, Felly sekaran terasa gila saat terbesit bayangan dan juga senyum tawa Mama. Ma... maafin Felly karena Felly belum bisa menjadi gadis yang tumbuh sesuai dengan keinginan Mama. Felly telah berusaha Ma... Tapi...  hasilnya selalu nihil. Padahal, Mama selalu mengajarkan bahwa setiap usaha akan ada hasilnya. Tapi kenapa....”
“Karena kamu melakukan bukan berdasarkan dengan niat. Melainkan, hanya sebagai tugas!,” ucap seseorang saat Felly bergumam bak orang gila di tengah pemakaman yang sepi.
“Kamu siapa?,” tanya Felly dengan menolehkan kepalanya ke arah sumber suuara.
“Nih!,” kata laki-laki tinggi dan tampan itu dengan menyerahkan plester luka kepada Felly.
Seketika, Felly mengeryitkan dahinya. Heran. Akan tetapi, laki-laki itu menekuk lutunya dengan posisi yang sama seperti Felly. Sehingga, ia dapat menatap Felly sejajar dengan posisi itu.
“Maaf sebelumnya karena aku tidak bisa memberikan plester hati untukmu. Aku hanya memiliki itu. Aku harap, kau bisa menyembuhkan lukamu dengan melihat plester itu dan memiliki semangat hidup. Aku tahu, rasanya begitu sakit saat orang tersayang meninggalkan kita. Tapi, tak seharusnya kau harus terpuruk terus menerus dengan air mata yang hanya bisa membuat Ibumu cemas di alam Sana. Alangkah baiknya kau melangkah lebih maju tanpa harus menghiraukan dan juga tetap dengan semangat yang sama sebelum orang yang kita sayang meninggalkan kita! Dan, itu akan terasa lebih baik,” katanya dengan penepuk pundak Felly lembut. Kemudian, meninggalkan Felly yang masih termangu menelaah ucapan laki-laki itu.
Di sisi lain, Felly terus bertanya siapa laki-laki itu. Mengapa juga, laki-laki itu seakan begitu akrab dengan Felly sebelumnya. Sejenak, Felly mengingat sesuatu. Mungkin, ia bia mengingat bahwa ia mengenal orang itu tapi lupan akan siapa orangnya.
@@@
“Felly! Bangun! Kita udah ditunggu di aula untuk penyambutan motivator!,” kata Riska dengan menggoyang tubuh Felly.
“Dia pasti semalam habis begadang. Main gitar sambil liatin foto Maknya!,” ucap Billy yang ada di belakang Riska.
“Kasihan juga ini anak! Sampai kapan dia bakalan kayak begitu! Udah ditinggal kekasih, ditinggal Mamanya juga pula!,” lanjut Bram dengan menatap sendu Felly.
“Sekarang jam berapa?,” tanya Felly dengan mengucek kedua matanya.
“Sembilan pagi,” jawab Riska lembut.
“Ok deh, nanti gue nyusul! Gue mau cuci muka dulu, biar keliahatan seger!”
“Kita tunggu di Asrama ya sebelum kumpul di auditorium sekolah!,” ucap Bram tak kalah lembut.
Felly hanya mengangguk dengan senyuman manisnya. Riska, Bram dan Billy meninggalkan Felly yang tengah berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air. Sesampainya di Asrama, Bram dikagetkan oleh seseorang. Yah.. seseorang yang membuatnya nafasnya naik turun, matanya yang terasa akan lompat, dan tatapan matanya yang tajam.
“Lo ngapain hah ke sini? Masih belum puas nyakitin Felly?!,” bentak Bram di tengah keramaian ruang tamu Asrama yang ramai dengan anak-anak untuk bersiap ke auditorium.
“Bram! Dengerin gue dulu! Gue ke sini cuma mau minta maaf sama Felly. Gue nggak ada maksud untuk menyakiti dia lagi. Gue tahu diri Bram kalau lo juga sayang sama Felly!”
“Tapi semuanya tetep aja, Ka! Nggak akan pernah berubah!!!! Maaf lo nggak akan sebanding dengan air mata Felly yang keluar setiap harinya! Gara-gara lo! Dia hampir gila kayak zombie! Gara-gara lo dia nggak memiliki semangat hidup! Dan satu lagi! Gara-gara lo! Dia membuat pelangi palsu di depan gue dan anak-anak lainnya!”
“Arka!,” panggil Felly lirih memecahkan keramaian saat itu hingga berubah menjadi hening. Felly berlari ke arah laki-laki itu. Yah... lebih tepatnya, laki-laki yang telah meninggalkan dirinya tujuh tahun silam. Ia menepis semua orang yang menghalangi jalannya hingga ia berada di depan laki-laki itu.
“Felly! Ayo kita pergi sekarang!,” ucap Bram tegas dengan memegang pergelangan Felly. Namun, langkah Bram terhenti saat Felly melepaskan genggamannya dan juga mengambil plester luka yang ada di saku seragamnya.
“Kenapa kau tidak bilang bahwa kau adalah kekasihku yang hilang tujuh tahun itu?”
“Dia nggak pantes lo sebut kekasih, Fel!,” tegas Bram.
Felly menghiraukan ucapan Bram. Langkahnya semakin dekat dengan leki-laki itu. Hingga akhirnya, ia melingkarkan kedua tangannya memeluk laki-laki itu. Sejenak, Arka hanya bisa terdiam dan mematung. Tatapannya terlihat begitu kosong. Matanya terasa begitu panas. Dan tanpa mereka duga, hatinya telah menggerakkan fisiknya untuk saling berpagut rindu. Merasakan kehangatan bak pelukan ibu yang telah Felly rindukan setelah kepergian ibunya.
“Felly, maafkan aku! Maaf karena ak harus pergi di saat kau membutuhkanku! Maaf... Maaf... Kumohon... Maafkan aku...,” ucap Arka lirih di tengah isak tangisnya.
“Kau memang jahat. Sama seperti yang aku duga. Tapi, hatimu begitu kasar. Sekasar plester ini. Dan juga, hangat. Sehangat pelukan Mamaku!,” pinta Felly lirih dengan mencari tempat yang pas untuk sandaran kepala Felly di dada Arka.
Arka hanya terdiam di tengah isak tangisnya. Ia hanya bisa merapatkan pelukannya kepada Felly. Sedangkan Felly, ia memejamkan matanya. Menikmati, meresapi, dan juga memahami rasa yang telah melandanya di kala itu.
“Mama benar! Aku pasti akan mendapatkan pangeran yang sama seperti Mama. Terimakasih Mama. Karena doamu, kau telah kembali. Meski dalam wujud yang berbeda. Bagiku, merasakan hangatnya kehadiranmu sudah lebih dari cukup. Daripada aku hanya bia merasakan dinginnya udara makam dan menatap batu nisamu dengan rintiknya tangisan pilu bak hujan yang mulai deras,” gumam Felly dengan tetap memeluk Arka.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi! Peganglah janjiku! Dan.... terimakasih telah menungguku di tengah posisi sulitmu. Terimakasih juga, karena kau telah memelihara cintamu untukku. Terimakasih... terimakasih... sayang....,” ucap mereka bersamaan tanpa mereka sengaja.
Di sanalah Felly menemukan ibunya kembali. Yah.. cinta dengan kehangatan yang sama.


Biografi Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...