Pilihan
Pratiwi Nur Zamzani
“Gila banget nih artikel!,” gumam Bram saat ia melihat majalah di sofa studio bersama Billy.
“Udah biasa lah kayak begitu. Gosip!,” lanjut Riska tegas.
“Sorry gue telat! Tadi, ban gue kempes.”
Seketika mereka bertiga membalikkan tubuhnya meghadap ke arah sumber suara. Felly. Lebh tepatnya, Felly Anggi Wiraatmaja. Kapten band yang tengah marak namanya di kalangan remaja. Band yang menjadi langganan para wartawan untuk memantau berita mereka sehingga dapat menarik perhatian publik.
“Latihan sekarang yuk!,” ajak Billy dengan beranjak dari duduknya.
“Ok,” jawab Felly datar dengan meletakkan ransel hitamnya. Kemudian, ia berjalan ke arah gitarnya. Meraih dan meletakkan kaitannya serta mulai memainkannya setelah ia menyetel senarnya.
“Lo nggak latihan, Bram?,” tanya Felly saat menyadari bahwa Bram masih terduduk serius di sofa dengan pandangan fokus ke arah majalah mingguan kota.
“Eh... iya-iya. Sorry, gue tadi nggak konsen,” ucap Bram terbata setelah ia sadar bahwa Felly telah mengingatkannya.
Dengan gugup, Bram melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi drum. Mengambil stiknya, dan memainkannya sesuai dengan partitur musik yang ada di depannya. Mereka begitu serius untuk berlatih. Mengingat, sebentar lagi mereka akan menghadapi panggung nasional dan memperebutkan nama band terbaik mereka.
Keseriusan mereka telah terlontar selama lebih dari 3 jam dengan permainan lebih dari 5 ronde sala pemasukan lagu sekaligus mengedit not yang tidak sesuai dengan nada yang mereka inginkan. Hingga akhirnya, Felly memberikan waktu kepada mereka untuk beristirahat sejenak.
“Fel, kenapa lo pergi?,” tanya Bram ragu dengan menundukkan kepalanya.
“Maksudnya?,” tanya Felly datar.
“Kenapa lo putusin Arka?,” jawab Riska tegas dan terbuka.
Seketika Felly menghentikan tegukannya. Tenggorokannya terasa tercekat saat ia harus mendengar nama itu lagi. Kekasihnya. Tidak. Mantan kekasihnya. Arkana Aditya. Tanpa ia sadari, matanya terasa begitu panas dan nanar. Sehingga, air matanyapun mulai membasahi pelataran pipinya.
“Felly, maaf sebelumnya kalau kita egois untuk menanyakan hal ini. Mengingat, Arka adalah sahabat kita juga. Gue nggak tega melihat dia terus menyiksa dirinya dengan bermain di depan ring basket selama berjam-jam dengan hati yang terbakar. Gue tahu, kalian berdua sama-sama tersiksa akan perpisahan kalian yang entah apa itu alasannya. Tapi, kita hanya ingin meluruskan kalau memang ada yang salah,” ucap Billy tenang.
“Kalian nggak ada sangkut pautnya kok sama masalah gue dan Arka. Gue tahu kalau kalian semua sayang sama gue. Tapi, bagi gue cukup kalian tahu bahwa perpisahan gue adalah yang terbaik untuk gue,” ucap Felly tegar dengan beranjak dari tempat duduknya dan siap untuk meninggalkan mereka.
“Kalau memang itu yang terbaik, kenapa lo nangis Fel saat gue menyebutkan nama Arka? Felly, kita tahu lo bohong sama kita. Maka dari itu, kita bertanya. Bukan untuk menjual informasi, akan tetapi kita berusaha memahami. Terserah lo mikir apa tentang kita. Tapi yang harus lo tahu, air mata lo menyakiti kita juga, Fel!,” ucap Bram sehingga membuat langkah Felly berhenti.
“Karena itu adalah sebuah pilihan.”
“Pilihan?,” tanya Riska heran.
“Ya. Pilihan. Gue tahu, dengan status yang seperti ini nama band kita bakalan terancam. Mengingat, turnamen yang akan datang akan menentukan pemenang dengan suara terbanyak. Sedangkan, nama kita di majalah telah beredar dengan begitu pahit. Mengurangi penggemar. Dan, gue juga tahu kalau dampaknya bukan hanya ke gue aja. Tapi, kalian juga bakalan ke impasnya. Tapi, gue...”
“Cukup, Fel! Kita semua jadi anggota band lo bukan karena ketenaran. Kita hanya ingin memahami diri lo! Kita ingin mencintai lo sebahagai sahabat. Gue tahu, lo adalah cewek yang tegar. Tapi, setegar apapun diri lo itu, lo pasti bakalan butuh tempat untuk bersandar dan bersujud. Maka dari itu, kita siap sedia menampung air mata lo!,” ucap Billy memutus penjelasan Felly saat ia tak dapat menahan prasangka Felly.
“Jujurlah!,” ucap Riska lembut dengan memegang kedua pundak Felly untuk menguatkan.
“Gue merasa, hubungan gue sama Arka salah. Nggak seharusnya gue melakukan ini semua dengan Arka. Mengingat, status agama kita melarang adanya pacaran. Gue sadar, cara ini salah sepenuhnya. Emang, sakit banget saat gue harus meninggalkan dia. Lebih sakit dibandingkan saat gue mendapatkan cibiran dari penggemar mengenai hubungan kami. Tapi satu yang membuat gue kuat dalam masalah ini.”
“Apa?,” tanya Bram ragu terbalut dengan kelembutan.
“Kepercayaan. Gue yakin, Allah nggak akan pernah bohong mengenai cinta. Termasuk pasangan hidup. Jikalau Arka jodoh gue, di akan kembali dengan sendirinya. Meskipun, sejauh apapun dan sekuat apapun gue berpisah maupun bertahan. Kalau Allah tidak meridhoi semua itu, maka hasilnya sama aja. Di sanalah gue menemukan keberanian dalam hal ini. Gue akan menebus kesalahan gue dengan menghentikan pengambilan jatah kebahagiaan gue bersama orang yang belum waktunya gue cintai. Dan, gue akan berusaha sabar menunggu waktu yang tepat. Dimana, cinta itu datang dengan kehendak dan restu dari Allah. Gue percaya, takdir darinya akan terasa begitu indah meski terkadang begitu menyakitkan,” ucap Felly lembut dengan mata yang sendu dan penuh dengan kedamaian.
Riska memeluk Felly begitu erat. Sedangkan Billy dan Bram memgang kedua pundak temannya. Seakan, menyalurkan kekuatan untuk menghadapi hatinya yang rapuh saat itu. Dan, mensykuri akan kehendak Felly mengenai cinta. Yah.. cinta yang mengubah Felly menjadi gadis yang begitu dekat dengan-Nya. Memang, terlihat begitu munafik saat Felly berkata itu yang terbaik. Dan nyatanya, begitu menyakitkan. Namun, satu yang perlu diingat, munafik tidak selamanya buruk selama kita bisa menempatkan munafik di tempat yang benar dengan pilihan yang tepat.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment