Menerima
Pratiwi Nur Zamzani
“Felly! Sini sayang!,” seru Mama dengan melabaikan tangannya saat acara pesta berbeque keluarganya.
Dengan senyuman lebar, Felly berjalan ke arah Mamanya. Memeluk Papanya dan juga Adik laki-lakinya yang telah mulai tumbuh dewasa. Begitu menyenangkan. Hangat. Dan, damai. Bagimana tidak? Semua itu, butuh perjuangan yang begitu dalam untuk memperjuangkan keluarga itu. Bahkan, keluarga tersebut telah membawa Felly kembali. Untuk saat itu dan untuk detik itu.~ *** ~
“Kak! Dengerin gue dulu!,” ucap Dion yang mulai meninggi.
“Apa yang harus gue denger, hah? Apa lo selemah itu? Apa lo terus seperti itu? Papa nggak akan pernah mau menghentikan semua ini jika lo hanya diam!,” ucap Felly dengan meninggalkan adiknya yang masih kacau dengan kejadian barusan. Yah.. kejadian yang begitu extream bagi Dion. Untuk pertama kalinya, Dion mendapatkan tamparan dari ayahnya karena melindungi Mamanya yang telah lemah berteriak terus-menerus untuk berdebat dengan Papanya.
“Karena gue sayang sapa Papa, Kak. Gue bukan diri lo yang sedingin itu. Gue juga nggak bisa meniru lo walaupun gue menginginkannya,” jawab Dion lirih saat Felly telah menghilang dari hadapannya.
Malam itu menjadi malam yang begitu mencekam bagi Felly. Ia merasa, bahwa ia begitu tersiksa dengan dirinya saat itu. Hawa yang begitu dingin telah menambah suhu dingin yang ada di dalam dirinya. Walaupun, hatinya yang terbakar saat itu telah mendapatkan dingin dari AC kamar tidurnya. Tapi, tetap saja sama.
“Felly,” panggil Mamanya lemah.
Felly masih tetap terdiam dan duduk yang tersungkur di pojok kamar.
“Fel,” panggil Mama untuk yang kedua kalinya. Tetap. Tidak ada respon.
“Felly!,” panggil Mama mulai mengeraskan suaranya.
Tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada respon. Hingga akhirnya, Anjani memasuki ruangan itu. Ruangan anaknya. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri ruangan dingin itu. Dan mendapati Felly yang terdiam dengan tatapan mata yang kosong. Dengan cepat, ia memeluk putrinya. Dan saat itu pula Felly memberikan tatapan yang begitu tajam. Layaknya singa yang siap menyantap mangsanya.
“Felly ini Mama sayang. Bukan Papa.”
“Bisakah anda pergi dari sini?,” tanya Felly tegas.
“Fel...”
“Bisakah anda pergi dari sini?,” ulang Felly memutus ucapan Mamanya.
“Ta...”
Fellypun berdiri dan hendak meninggalkan Mamanya. Akan tetapi, Anjani mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Felly.
“Ok Mama yang akan pergi. Kamu istirahat ya... lupakan kejadian tadi,” ucapnya seraya mencium kening Felly yang berkeringat itu.
Saat Mamanya telah pergi, Felly kembali duduk dengan wajah yang lemas. Nafas yang begituu berat dan juga, hati yang begitu panas dan penuh dengan amarah. Hingga akhirnya, ia meraih gitarnya. Memetiknya, hingga tercipta melodi yang tak tahu arahnya kemana. Sama halnya dengan suasana hatinya saat itu.
Di tengah kalutnya melodi, ia meraih buku yang ada di laci bufetnya. Yah.. buku yang menjadi torehan hatinya. Ukiran hatinya. Baik luka, bahagia, sembuh, ataupun senang. Semua ada di situ. Begitu juga dengan kisah cintanya yang begitu pahit. Sepahit keluarganya.
***
“Apa lo nggak ngerasa aneh dengan tingkah bokap lo, Fel?,” tanya Bram.
“Maksudnya?”
“Kalau dia itu benci sama keluarganya? Kenapa bokap lo nggak menampar nyokap lo yang udah sedari tadi ngomong kasar sama dia. Kenapa malah adik lo yang kena? Padahal dia hanya baru berbicara satu omongan kasar.”
Felly terdiam. Mencoba mengalanisa apa yang dikatakan oleh Bram.
“Lagipula Fel apa lo juga nggak pengen cari tahu tentang semua ini. Kalau memang bokap lo udah nggak sayang sama keluarganya. Pasti nyokab dan adik lo bakalan ditelantarin sama itu orang. Yah... secara logika sih liat tingkah lakunya dia yang ksar gitu,” lanjut Billy.
“Nggak ada salahnya juga Fel kalau kita cari tahu. Mungkin aja, kita bisa menemukan jawabannya.”
“Emang, bisa ya? Mhhhh maksudnya, mungkin kah?”
“Nggak ada yang nggak mungkin Fel kalau kita mau berusaha. Gue bakalan bantuin lo buat cari chanel yang sekiranya bisa menjangkau informasi tentang bokap lo,” ucap Bram meyakinkan.
Sedangkan, Felly hanya maengangguk-anggukan kepalanya. Mencoba untuk percaya kepada rekan bandnnya. Mengingat, mereka mau membantu Felly di kala waktu mereka harus belajar dan latihan untuk turnamen yang akan tergelar dalam waktu dekat. Sedingin apapun Felly, ia akan menjadi hangat saat bersama dengan teman-temannya. Yah... keluarga keduanya setelah ia kelar dari keluarga neraka itu.
Bram mulai bergerak dengan tugasnya. Sedangkan Riska membantu Billy ntuk bersosialisasi dengan orang-orang terdekat Papanya Felly. Sedangkan Felly, ia terus mengamati gerak-gerik Papanya saat berada di rumah. Dan, tetap sedingin sebelumnya. Sama. Tak berubah. Itulah Felly.
“Felly! Papa lo selingkuh kan?,” tanya Riska.
“Ya! Pertengkaran nyokap bokap gue kebanyakan bahas itu. Apakah lo menemukan sesuatu?”
“Kita udah menemukan siapa wanita simpanannya. Dan... kita tahu rumahnya dimana. Bram sekarang stand by di sana!,” ucap Billy ngos-ngosan setelah berlari ke studio saat mereka telah menemukan jejak busuk Papanya Felly.
“Serius lo?!”
Riska dan Billy mengangguk bersamaan. Kemudian, dengan cepat mereka menyusul Bram sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Bram dan juga yang lainnya. Sesampainya di sana, Felly dikagetkan oleh kondisi Papanya. Bahkan, Felly tidak menyangka itu.
Bagaimana tidak? Suluruh ruangan rumah tempat simpanannya berada penuh dengan infus dan juga bau obat-obatan. Dan, disanalah Papanya berada. Badannya yang penuh dengan selang serta wajahnya begitu pucat.
“Tante Diana?,” panggil Felly tak menyangka.
“Jadi... Papa...,” lanjutnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Papa selingkuh dengan tante Diana? Teman Mama sendirii?!,” tanya Felly tetap dengan nada tak terduga.
“Felly! Bisa bicara sebentar? Kebetulan kamu ada di sini.”
Felly masih memberontak. Akan tetapi, tatapan tante Diana seakan ada rahasia tersebesar yang akan ia ungkapkan meskipun Papanya memberikan isyarat untuk tidak melakukan hal itu.
“Kamu boleh menilai tante apa saja. Tapi yang perlu kamu tahu... Papamu menderita tumor otak. Itulah sebabnya dia ada di sini.”
“Kenapa harus di sini? Dia bisa ke rumah sakit. Toh kalaupun dia masuk ke rumah sakit, dia tidak akan mengeluarkan uang banyak karena itu adalah sebagian dari investasinya.”
“Karena ia takut Anjani dan anak-anaknya tahu. Awalnya aku tidak menerimanya dia ada di sini. Aku juga telah mencarikan dia apartemen khusus untuk dia di rawat. Akan tetapi, di tetap mau di sini. Mengingat, selain aku seorang dokter dia juga takut aku membocorkan ini kepada keluarganya. Dia tidak mau membebani keluarganya dengan penyakitnya itu. Tapi, apa daya bagiku. Tak seharusnya aku menyebunyikan ini terus menerus kan? Lebih baik dia berada di sisi keluarganya di bandingkan disi orang lain. Karena dukungan, adalah kebutuhannya untuk saat ini.”
“Apa?! Tumor otak?! Separah itukah?”
“Ya Felly! Setiap hari ia mengeluh ingin memeluk keluarganya. Akan tetapi, ia terlalu takut untuk melakukan hal itu.”
“Papa...,” panggilnya lirih.
“Dia juga tetap pergi ke kentor meskipun kondisinya tidak memungkinkan. Semua itu karena keluargannya. Bukan karena hal lain.”
“Papa.....,” panggil Felly.
“Sekarang, datanglah kepadanya. Ucapkan bahwa kau menyayangi dia dan mencintainya. Aku harus pergi ke rumah sakit. Karena ada jadwal operasi hari ini.”
Dengan langkah cepat, Felly berjalan ke arah Papanya. Memeluk Papanya dengan air mata yang mulai mengalir. Deras dengan penuh isak. Tidak hanya Felly saja saat itu yang menangis. Melainkan, Bram, Billy dan Riska serta Papa Felly. Mereka semua ada dalam suasan sendu. Sesendu hati mereka yang mulai kembali cerah.
Felly merasa bersalah akan semua yang telah terjadi. Namun, dengan ikatan janji ia telah mengusap air matanya. Menuntun Papanya ke rumah dengan sejuta kebahagiaan cinta yang telah ia cari selama ini. Yah.. keluarga yang penuh dengan surga. Surga yang dirindukan bagi siapa saja yang memilikinya.
“Apakah kalian mau menerimaku kembali setelah semua ini?”
“Kenapa tidak?! Kita mencintaimu sayang,” jawab Anjani.
“Tapi, aku begitu buruk.”
“Karena keburukan itulah kita menerimamu sayang,” kata Anjani.
“Papa, keburukan itu tidak selamanya menjadi buruk, Pa!,” ucap Dion.
“Dan manusia, nggak selamanya akan ada di tempat yang sama!,” tambah Felly.
“ Karena, dunia itu bagaikan roda yang terus berputar. Kadang ada di atas. Kadang pula ada di bawah.”
“Dan semua itu, tergantung pada diri kita sendiri. Kita mau berada dimana? Tentunya dengan usaha yang sama,” lanjut Dion. Kemudian, merekapun berpelukan. Semuanya telah kembali. Yah... kembali seperti sedia kala. Perlahan, tapi pasti.
Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment