Skip to main content

Singgasana Melodi


Singgasana Melodi
Pratiwi Nur Zamzani


“Felly, lo masih inget kan dengan undangan untuk manggung hari ini?,” tanya Bram mengingatkan.
Felly hanya terdiam. Tetap fokus dengan partitur musik yang ada di depannya.
“Fel, jawab kenapa tuh anak orang!,” pinta Billy.
“Tahu nih! Gue nggak akan bantuin lo kalaupun kalian tengkar lagi!,” ancam Riska dengan mengunyah snack yang ada di dalam mulutnya.
“Gue mau tidur!,” ucap Felly enteng.
Seketika Billy, Riska dan juga Bram mendekat ke arah Felly. Menarik tubuhnya ke segala arah. Seakan, mereka tidak rela apabila Felly menyentuh sofa empuk itu.
“Kalian, apaan sih? Gue mau tidur tahu! Capek!,” kata Felly dengan tatapan heran.
“Tapi, Fel lo baru aja selesai tidur bareng kita tadi!,” kata Billy mengingatkan.
“Tahu lu! Sekarang itu waktunya kita buat latihan dodol!,” hina Bram.
“Tapi gue ngantuk! Kalian aja yang latihan! Beres kan?”
“Fel, kita tampilnya sama lo! Bukan sendiri-sendiri. Toh kalau sendiri, terserah lo mau tidur kek, mau maen kek, dugem kek, terserah apapun itu! Tapi, untuk kali ini aja Fel, gue mohon jangan tidur! Kita latihan sekaliiiii aja! Ok?!,” bujuk Billy.
“Enggak, gue mau tidur!,” kata Felly dengan menggerakkan tubuhnya menghindari tekanan mereka. Lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Dan, memejamkan matanya.
“Lu cewek doyan banget sih, Fel yang namanya tidur? Heran gua! Mak lu ngidam apaan sih?! Woy! Bangun!,” kata Bram dengan menggoyang pudak Felly.
“Yah.. dia udah sampek Jakarta tuh!!! Duuuhhh... ni anak nyusahin aja!,” gumam Billy.
“Gimana kalau kita siram pakai air?!,” tanya Riska.
“Ok!,” jawab Bram dan Billy bersamaan.
Kemudian, mereka bertiga ke kamar mandi untuk mengambil air. Membayangkan, putri tidur akan segera bangun setelah tersiram air. Dan, mau memetik senar gitarnya di dalam ngaungan amarah.
 Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis cantik dengan tallent vocal dan skiil bermain gitar yang baik. Tubuhnya yang lencir dengan mata bulat yang lebar, bulu yang lentik, bibir yang seksi, serta hidung yang mancung sederhana menambah kesempurnaan tallet miliknya. Namun, tetap dengan sorotan matanya yang tajam. Sehingga, membawa namanya untuk dikenal banyak khalayak sebagai ‘Singa Liar’.
Felly adalah gadis yang pekerja keras di setiap halnya. Akan tetapi, ia menutupinya dengan kebiasaan tidur. Terkadang, ia menutupi hal tersebut dengan ketidak seriusan yang terpancar dari dalam dirinya.
Padahal, di balik itu semua ia adalah gadis yang melampaui batas teman-temannya. Oleh karena itu, ia ditunjuk sebagai kapten. Meski dalam latihan ia selalu tidur. Tapi, saat ia berada di atas panggung, maka segalanya akan berubah. Total!
“Felly!,” bentak Billy setelah mereka menyiramkan air kepada Felly dan semuanya tidak sesuai dengan rencana.
“Aduh, gimana nih kalau dia nggak bangun?,” tanya Riska cemas.
“Tahu nih, kita kan bentar lagi tampil! Kita belum latihan plus sama sekali,” lanjut Riska dengan mengerutkan dahinya.
“Udah Ris, tenang aja dulu. Kita akan bangunin dia kok!,” ujar Bram menenangkan.
“Tapi gimana caranya?,” tanya Billy dengan nada yang mulai meninggi.
“Gue juga nggak tahu, Bil. Makanya cari ide dong! Jangan nyalahin gue kayak begitu!,” jawab Bram tak kalah tingginya.
“Emang, lo pikir gue juga nggak mikirin apa buat bangunin Felly?! Gue mikir juga tahu!,” kata Billy tak mau kalah.
“Haduh, kalian tuh ya?! Bukannya usaha malah berantem. Udah dong, berhenti dulu beramtemnya. Masalahnya, sekarang Fellynya belum bangun juga,” kata Riska dengan menunjuk sofa yang ditiduri oleh Felly.
“Tuh anak kemana?,” tanya Bram.
“Maksud lo apaan?,” tanya Billy.
“Noh liat! Orangnya nggak ada.”
“Loh! Kok bisa?! Kemana perginya itu orang?”
“Ya Tuhan, Felly! Lo kemana sih?,” gumam Riska cemas.
“Gue di sini!,” jawab Felly dengan menyetel gitarnya.
“Felly!!!!,” teriak Bram dan Billy mendekat dengan merentangkan kedua tangan mereka.
Seketika Felly melangkah mundur. Mengambil stik drum dari tempatnya. Memegannya dengan erat. Kemudian, menelaknya di atas kepala Billy dan juga Bram.
“Sial!,” gumam Bram dan Billy.
“Gue yang lebih sial karena kalian semua menyiram gue dengan tiga ember air! Gue emang belom mandi dari tadi pagi. Tapi, nggak gitu juga caranya buat mandiin gue! Lo pikir gue tikus apa?,” gerutu Felly dengan meninggalkan mereka dan memulai membuka buku partitur musiknya.
“Ya, abisnya lo sih nggak bangun-bangun!,” jawab Bram.
“Tapi kan sekarang gue udah bangun. Gara-gara mimpi kalian berantem tadi. Ahhhh... Terserah kalian lah mau ngomong apaan! Tampilnya 15 menit lagi kan? Gue ingin tahu gimana kemampuan kalian.”
“Tapi, kita kan...”
“Gue tahu, Bil. Gue hanya penasaran!”
“Hahahaha! Sayangnya, mata lo lebar! Tahu sipit udah gue paksa lo jadi kekasih gue, Fel! Hahahaha! Udah gue duluan yang coba! Dan lo, Bil duduk yang cantik bareng sama Riska di sana!,” ucap Bram PD.
“Tch! Dasar! Kujang!,” gumam Billy meninggalkan mereka.
“Kujang?! Apaan, Bil?”
“Kuku Menjangan.”
“Hah?! Kuku Menjangan? Apaan sih itu?”
“Tahu ah lu! Udah dengerin mereka aja!”
“Yeeee malah ngambek! Dasar lu!”
Billy dan Riska hanya bisa memperhatikan mereka dengan sentilan-sentilan Felly yang mengejek dengan kemampuan Bram. Seakan, teman-temannya adalah anjing liar yang baru dijinakkan. Dan, hal tersebut membuat Billy dan Riska jengkel. Sehingga, mereka berebut untuk mengimbangi Felly. Hingga, Felly mengatakan ‘Perfect’.
“Berangkat yuk! Masak sih, band utama telat?,” tanya Bram.
“Ok!,” kata Felly klewus.
“Lo begini?,” tanya Billy, Bram, dan Riska heran dengan menunjuk kaos hitam dan hem pink bermotif kotak  yang sedang dikenakan oleh Felly.
“Kenapa emang?”
“Lo beneran mau kita mandiin, Fel?,” tanya Billy menyindir.
“Ya?!!!! Lo gila apa?! Riska! Bawa sabun muka nggak lo?!”
“Bawa! Nih!,” jawab Riska dengan menyodorkan sabun muka miliknya.
Fellypun mengambilnya. Lalu, ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya yang kusam. Dan, berdandan ala Felly. Cukup dengan rambut tergelung dan poni yang sedikit keluar serta lip ice orange yang tipis, ia tampil. Tidak lupa, minyak wangi yang selalu ia bawa kemana-mana. Mengingat, bahwa ia selalu  malas mandi jika sudah giat.
“Tetep pakai baju itu, Fel?”
“Iya dong, Bil.”
“Keren juga kalau di lihat lagi,”  puji Bram.
“Tapi, lo beneran yakin nih pakai baju itu? Nggak takut kehilangan fans?,” tanya Riska.
Felly menggeleng. Lalu, mengambil kontak mobilnya meninggalkan teman-temannya. Dan, secara otomatis mereka semua mengekor di belakang Felly. Selama di perjalanan menuju tempat tujuan, mereka bercanda gurau tentang Felly yang masih jomblo. Tentunya, Felly juga tidak mau kelah dengan ejekan mereka. Melainkan, ia juga memojokkan Bram yang selalu menjadi incaran cewek tapi gagal karena terlalu banyak cewek yang mendekatinya karena parasnya yang blasteran itu. Cina Indonesia. Tahu lah gimana jadinya.
“Fel-Fel! Belok kiri!,” pinta Bram setelah mengerti posisi mereka.
“Kenapa kita parkir di sini? Bukannya ini parkiran tuan rumahnya, ya?,” jawab Felly heran.
“Iya. Kita suruh parkir sini. Waktu, tuan rumah kofimasi sama gue!”
“Oh...”
“Udahlah Fel, nurut aja. Lumayan kan nggak kawatir ilang,” sahut Billy.
“Yeeee, belom ilang udah nyala kali tuh alrmnya!,” ejek Riska dengan membuka pintu mobil. Dan, di susul oleh mereka bertiga secara bersamaan.
“Panggungnya dimana, Bram?,” tanya Felly.
“Sini! Ikut gue!,” pintanya dengan melangkahkan masuk ke ruangan rumah. Ruangan, yang khusus disediakan oleh tuan rumah.
Setelah mereka memasuki ruangan itu, mereka mendapatkan hormat dari seorang pelayan pesta. Dan, pelayan tersebut menuntun mereka untuk memasuki acara pesta yang akan segera dimulai. Dan, mereka tersentak dengan pesta itu.
Bagaimana tidak? Semua undangan mengenakan gaun yang indah serta jas yang rapi. Bahkan, Bram, Billy, dan Riska sudah menyediakan pakaian mereka sendiri. Sedangkan Felly, ia hanya mengenakan baju yang abal-abal. Meskipun, baju itu kualitas distro terkenal.
“Kalian tega biarin gue pakai penampilan ini?,” tanya Felly saat Bram dan Billy sibuk memasang jasnya. Dan, Riska yang sibuk memodel rambutnya.
“Gue kan udah bilang tadi, lo yakin pakai baju itu?,” nyata Bram.
“Tapi lo nggak bilang sama gue kalau pesta ulang tahunyya modelnya kayak begini, Bram. Gue kira, kita bakalan konser biasa dan nggak resmi.”
“Udah, syukurin aja apa yang ada, Fel!,” sahut Billy enteng.
“Pelayan! Sini!,” Sapa Felly kepada pelayan yang lewat mengantarkan minuman.
“Kenapa ya, Non?”
Tanpa berkata, Felly mengambil nampan yang ada di tangan pelayan itu. Lalu, melepaskan jas yang dipakainya secara paksa. Tanpa rasa berdosa.
“Pinjem ya! Nanti saya ganti!,” ucapnya enteng dengan memasang topeng hitam berhias biru di sekitar sudutnya. Yah.. topeng yang hanya menutupi matanya.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan ruangan ganti dan berjalan menuju panggung. Mereka memasuki panggung setelah MC memanggil nama mereka untuk menghibur para penonton.
Untuk sejenak, suasana menjadi hening. Karena, tentor hiburan mereka menggunakan topeng. Bagimana mereka bisa tahu siapa yang ada di panggung. Terutama, yang memakai topeng hanyalah Felly seorang. Bram dan Billy sempat mengingatkan. Tapi, tetap saja semuanya gagal. Sehingga, mereka hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Felly. Toh, Felly melakukan itu karena tidak ingin memalukan personil lainnya karena bajunya yang abal-abal.
Keheningan itu berubah menjadi sorak saat mereka mendengar tangan Felly mulai bergerak. Memetik senar gitar dengan nada yang sedikit keras. Namun, tetap ada pada batasnya. Hingga mereka berteriak...
“Lagi! Lagi! Lagi!”
Seakan, mereka melupakan masalahnya. Hingga akhirnya, Felly melemahkan petikannya tanpa harus merusak melodi yang ada di dalamnya. Karena, ia merasa bahwa ada orang yang melepas kuncir rambutnya. Felly menoleh ke belakang saat ada jeda di dalam lirik lagunya.
Dan, orang itu muncul di sampingnya. Merapikan rambut Felly yang panjang bergelombang. Sehingga, Felly terlihat begitu seksi. Apalagi, saat ia menatap penontonnya dengan sebelah matanya yang masih tertutup poninya.
Kemudian.... mengangkat topeng itu ke atas. Bersamaan dengan orang itu mengangkat topengnya. Kemudian...
“Woooooooooo!!!!! Hoooooooooo!!!!,” teriak penonton semakin histeris ketika mengetahui bahwa itu adalah Felly. Bahkan, mereka maju ke depan panggung untuk jumming bersama dengan yang lainnya.
Tapi, tetap saja Felly terpusat dengan orang yang ada di sampingnya. Hingga ia lupa bahwa ia tengah bernyanyi untuk mereka. Sehingga membuat orang itu menggantikan suara Felly.
Dan, hal tersebut membuat seluruh personil membelalakkan matanya setelah mengetahui bahwa orang itu menghafal lagu yang baru dibuat oleh Felly. Bahkan, mereka belum rekaman untuk lagu itu.
“Hai!,” sapa laki-laki itu di atas panggung.
“Tch! Kamu?!,” jawab Felly dengan senyuman malunya.
“Apa kabar? Tambah tenar aja!,” katanya memuja.
“Tch! Tahu ah!,” ucap Felly cuek.
“Ok, untuk semua undangan silahkan menikmati hidangannya. Setelah itu, kita akan masuk ke acara selanjutnya!,” ucap orang itu dengan senyuman yang sangat kharisma.
“Kalian berdua kenal?,” tanya Bram kepada laki-laki itu.
“Woy! Sejak kapan lo bicara baku begitu, Bram. Kayak baru kenal aja sama gue!,”ucap laki-laki itu santai.
“Eeee... sorry. Lama juga nggak ketemu sama lo! Pasti, pesta ini ada kaitannya kan sama kepulangan lo dari New York.”
“Iya dong! Termasuk, cari cinta gue lagi!,” katanya dengan melirik ke arah Felly.
“Jangan bilang...”
“Yah... Felly adalah mantan kekasih gue. Dan, kita putus gara-gara gue ninggalin dia ke New York untuk kuliah dan merintis bisnis gue. Dia kira, gue akan dapat cewek lagi. Padahal, ujung-ujungnya gue juga bakalan balik ke dia. Ya kan Fel?!,” tanya laki-laki itu menggoda.
“Tch!”
“Arkana Aditya ditantang. Mana mau mundur. Oh ya, aku mengadakan pesta ini untuk perayaan hubungan kita yang 5 tahunnya. Walaupun, kamu udah menganggap kita putus. Aku harap kamu mengerti.”
“Jadi, kalian berdua sempat pacaran? Dan, lo sama Bram temen deket? Wuiiihhhh gila! Ini rahasia negara kenapa mentrinya nggak ngerti, ya?,” sela Billy.
“Tahu, nih! Wakilnya juga!,” gumam Riska sewot.
“Udah-udah! Kita makan aja dulu. Jangan ribut masalah hubungan gue sama cowok ini! Eh.. cowok maaf. Cewek. Habis, ganteng banget sih tadi saat nyanyi,” gurau Arka kepada Felly yang masih cemberut dengan bibir yang manyun.
“Boleh! Kebetulan, gue laper!,” ajak Bram semangat dengan menaruh stik drumnya. Diikuti oleh Billy dan Riska. Sedangkan, Felly bergerak saat tangan Arka mengait tangan Felly yang masih terdiam.
Merekapun makan malam bersama di ruangan khusus tersebut. Dan, hubungan cinta kasih Felly berlanjut setelah Arka meyakinkan Felly dengan sebuah cincin yang pernah Felly pakai sebelumnya. Namun, dikembalikan saat Arka berpamitan kepada Felly untuk pergi ke New York.
Cinta. Satu kata beribu makna. Cinta sama halnya dengan sebuah kehidupan. Cinta tidak akan berjalan mulus seperti air. Cinta, terkadang ada di atas. Terkadang juga, ada di bawah. Tergantung siapa pemiliknya dan bagaimana pemiliknya. Jika pemiliknya bisa menjaga cinta itu, maka cinta itu akan bisa bertahan berada di atas. Dan juga, sebaliknya. Akan tetapi cinta tak selamanya ada di atas. Karena, dunia itu berputar.
Cinta tak selamanya menyakitkan karena kepergian. Tapi cinta, juga tak selamanya indah dengan kebersamaan. Melainkan, cinta yang sesunggunya adalah saling memberikan keindahan dan saling menyakiti dengan sebuah kejujuran. Tiada kejujuran, tiada kesetiaan. Bagaimana bisa orang bisa setia sedangkan orang itu berbohong. Sedangkan, kesetiaan adalah separuh dari kepercayaan.
Mengenai kepercayaan, itulah masalahnya. Kepercayaan ibarat sebuah kertas. Baik itu telah berisi torehan ataupun masih bersih seperti bayi yang baru lahir. Suci tanpa dosa. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, apabila kita telah menghianati kepercayaan itu, maka kepercayaan itu akan hilang. Sama seperti kertas yang telah diremas. Apabila mengembalikan ke bentuk semula, hal itu akan menjadi suatu hal yang mustahil. Begitu juga dengan kepercayaan. Oleh karena itu, menjaga lebih baik daripada melakukan. Karena melakukan, tak selamanya menjaga.






Biodata Penulis
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...