FOR YOU
Pratiwi Nur Zamzani
“Udah selesai wawancaranya?,” tanya Riska.
“Udah. Nunggu lama? Sorry ya?!”
“Di tanya tentang apaan masalah tulisan lo yang berhubungan dengan tanggal kemerdekaan?”
“Seputar pahlawan. By the way, kapan lo wawancara untuk instrumen lagu kebangsaan yang lo buat?”
“Bentar lagi Fel. Di aula atas. Kalau lo kan langganan di aula bawah. Anterin gue ke kantin yuk! Laper gue! Lo mau kan?”
“Boleh.”
Felly Anggi Wiraatmaja. Seorang penulis novel dengan debut di umurnya yang kiat masih muda. 16 tahun. Yah... banyak tulisan yang telah ia buat. Blog, Facebook, Twitter, dan masih banyak lagi. Almamaternya telah menjadikan ia sebagai produksi buku dalam perpustakaan sekolahnya. Dengan nama almamater yang melunjak setiap tahunnya, telah membawa berbagai media masa untuk mencarinya. Banyak penerbit yang ingin merekrut namanya.Tapi, yang hanya ia terima adalah sekolahnya.
Berbagai pertanyaan telah terlontar untuknya. Mulai dari uang honor dari sekolah, siapa inspirasi di balik semua tulisannya sehingga dapat menginspirasi dan memotivasi dalam menghadapi persoalan hidup. Terutama, kediupan seputar remaja yang emosinya masih sangat labil dan membutuhkan pengawasan.
“Permisi Mbak Felly, boleh saya duduk di samping anda?”
“Oh, boleh kok, silahkan!,” jawab Felly dengan mengulurkan tangannya.
“Mbak, perkenalkan nama saya Adhe. Saya dari media cetak kabar burung yang ingin meminta waktu anda untuk wawancara sebentar seputar diri anda serta karir anda yang semakin melunjak di umur yang sekian mudanya. Bisakah anda memberikan waktu anda sebentar untuk saya?”
“Bisa, silahkan.”
Tiba-tiba Felly terkejut saat wartawan itu membawa penyuting dalam wawancaranya. Mereka sengaja mengambil view di kantin untuk menggunakan Felly dalam menerangkan sedikit fasilitas di sekolahnya.
“Yakin lo bisa jawab semua pertanyaan mereka setelah penyutingnya keluar?,” tanya Riska di tengah ia memakan mie ayamnya dengan santai tanpa menghiraukan wartawan yang sedang datang.
“Entahlah, gue masih ragu untuk hal itu Ris. Nanti, bantuin gue ya kalau gue kesulitan!”
“Yah.. gue sih bakalan bilang apa adanya yeeee! Jadi, jangan salahin gue kalau ada apa-apa. Lagian, gue sama lo kan beda bidangnya, Fel. Gue seorang musisi dan lo seorang penulis.”
“Tapi, lo kan juga menulis tangga nada juga kan Ris. So, beda dikit lah!”
Setelah semua persiapan wartawan telah lengkap, wawancara Felly telah di mulai. Riska yang tengah asik makan meninggalkan Felly ke meja yang lain untuk melanjutkan makannya dan melihat pertunjukan wawancara Felly.
“Bisa kita mulai?”
Felly mengangguk. Dan penyuting memberikan intruksi untuk memulainya.
“Felly Anggi Wiraatmaja dan juga Riska Dwi Lestari. Kami bersama penulis dan juga musisi remaja yang telah berhasil debut dan membawa perhatian publik untuk mendatanginya. Inilah, Hot News Kabar Burung,” salam pembuka dari wartawan.
“Felly, apa yang kamu inginkan dari hari Kemerdekaan tahun ini? Setiap orag pasti mengidolakan sosok seseorang yang di anggap telah menjadi pahlawan? Menurut anda, siapakah dia?”
“Saya ingin, Indonesia semakin jaya dan makmur. Korupsi, Penculikan, KDRT, dan hal kriminal lainnya bisa berkurang dengan adanya SDM yang berkualitas. Baik dari segi Intelectual maupun nilai moral yang dimilikinya. Melestarikan budaya sekitar, dan menjaganya untuk masa depan anak cucu kita nanti. Untuk masalah Pahlawan, bagi saya ada tiga orang yang saya anggap sebagai Pahlawan.”
“Bisakah anda menyebutnya?”
“Ibu saya yang selalu menemani saya di kala sedih maupun senang. Teman saya yang memberikan kenyamanan, dan juga kedamaian dalam pergaulan, serta cinta pertama saya yang memberikan saya pelajaran hidup dalam segi mencintai seseorang.”
“Siapakah dia?”
“Arkana Aditya. Penyuting kalian!”
Seketika semua mata tertuju pada Arka. Mereka menatap kejut Arka.
“Kenapa lo nggak ngasih tahu kita, Ka? Lo pasti tahu banyak kan tentang penulis itu?,” tanya salah satu rekan Arka.
Arka hanya terdiam mendengar pertanyaan rekannya.
“Bisakah anda memberikan penjelasan tentang kisah asmara anda dengan seseorang yang bernama Arka?”
“Dia adaah orang yang pertama kalinya membuat saya terjatuh karena kepergiannya. Membuat saya menangis karena rindu padanya. Membuat saya tersiksa setengah mati saat melihatnya. Namun, saat ibu saya memberikan semangat pada saya, di situlah saya mulai bangkit. Setiap saya menulis, meyoritas saya menceritakan dia. Memang sakit rasanya saat mengingat masa lalu. Tapi, masa lalu biarlah berlalu. Biarlah masa lalu itu bersemayam dalam hati kita, tapi jangan jadikan masa lalu sebagai kambing hitam untuk membuat sebuah alasan bagi kita untuk sulit bangkit dari masa lalu itu. Selama kita mau berusaha, semuanya tidak akan sia-sia. Karena, Allah tidak akan pernah memberikan hambanya harapan palsu sebagaimana kebiasaan manusia. Dan, semua yang tidak mungkin bisa terjadi karena kuasa dari tangan-Nya.”
Setelah pertanyaan terakir dan jawaban terakhir dari Felly, semua yang hadir di sana memberikan aplos untuk Felly. Tidak salah jika mereka memanggil Felly sebagai malaikat yang tak terlihat. Karena, ia hanya bisa hadir dalam tulisan.
BIOGRAFI
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.
Comments
Post a Comment