Skip to main content

Love In The Side Camera

Love In The Side Camera
Pratiwi Nur Zamzani


“Dengan semudah itu kau bicara barusan?!,” tanya Felly dengan menyipitkan matanya yang sinis.
“Bagimana lagi, Felly. Aku mencintaimu. Apakah salah jika aku melamar gadis yang aku cintai?”
“Tapi Arka, aku masih belum siap dengan semua ini.”
“Tidakkah aku layak menjadi pendampingmu?!”
“Bukan tidak layak! Tapi aku masih belum siap dengan semua ini!”
“Lantas, sampai kapan aku harus menunggu?! Tua, mati, atau sampai kau janda?!”
“Arka!!!”
“Apa?!!! Kau mau bilang apa, hah?! Putus?! Okay! Aku turuti kalau kau mau itu!”
“Arka...,” panggilnya lirih.
“Felly, gadis yang aku inginkan adalah gadis yang menemaniku di rumah. Bukan bekerja pulang malam sama halnya dengan diriku. Aku ingin gadis yang setiap malam mau membacakan dongeng untuk anaknya. Bukan berada di depan kamera demi mencari uang! Aku lelah, Fel. Aku capek dengan semua ini. Dan, kesabaranku telah habis menghadapi keras kepalamu itu. Sekarang, terserah bagaimana dirimu. Kau bebas melakukan apa yang kau inginkan tanpa pedulikan aku,” ucap Arka dengan meninggalkan Felly yang masih mematung dengan gaun merahnya yang begitu elegan.
Felly terdiam dalam isak tangisnya. Menatap ke luar jendela studio pemotretan. Entah setan apa yang telah melintasi hati dan matanya. Hingga Felly harus mengeluarkan air matanya di tengah lensa mata berwarna coklat itu serta di sela bulu lentiknya. Melewati pipi beralas bedak mahal dan bibir yang merah seksi.
“Felly Anggi Wiraatmaja!,” seru  fotografer yang siap memotret Felly.
Seketika Felly tersadarkan dari lamunannya yang telah membayangkan masa lalunya bersama dengan Arka. Yah... Arkana Aditya. Laki-laki yang telah menjadi cinta pertama sekaligus laki-laki yang telah menemani hari-hari Felly selama 4 tahun.
“Ya! Wait for five minute!,” jawab Felly dengan mengusap air matanya. Kemudian, ia berjalan ke arah cermin dan bercermin di depannya. Mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.
“Lo kenapa, Fel?,” tanya Riska sahabat model Felly.
“Nggak, Ris. Gue nggak papa kok. Lo udah pemotretannya?”
“Belum, gue baru aja dateng. Masih make-up. Gue cloter dua setelah lo dan juga Winda. Bram sama Billy hari ini jadi partner kita kan?”
“Iya, gue pasangan sama Bram. Yah.. launching baju produk baru.”
“Hmmmm... Ok. Gue tinggal duluan ya, Fel. Udah di tunggu sama make overnya. Nggak enak juga kalau nunggu lama-lama.”
Felly mengangguk. Kemudian, mereka berpisah. Selama pemotretan Felly terlihat begitu cantik dan elegan dengan gaun merahnya. Sangat elegan. Matanya yang begitu tajam layaknya singa, sangat serasi dengan Bram yang berfisik kekar. Tidak berlebihan otot dan juga tidak terlalu banyak lemak. Sangat proporsional.
“Felly! Come on!,” panggil managernya.
“Ada orang yang berminat dengan designmu. Ia mau bertemu denganmu malam ini. Jam delapan malam. Nanti, dia akan menghubungimu melalui pesan singkat atau telpon.”
 “Sure! So, I can continue for photograph. Because they wait me. Daaahhh!,” ucapnya dengan meninggalkan managernya lalu kembali ke studio.
***
Terasa begitu tenang saat tubuh Felly terendam air hangat dengan busa beraroma terapi. Begitu menenangkan. Mengingat, ia terkuras dengan pekerjaanya yang membuat ia lupa akan waktu. Akan tetapi, ia tidak akan lupa dengan janjinya bersama dengan clien. Yah... clien yang telah berminat membeli design Felly dengan harga jutaan dollar itu.
Saat ia mngoleskan lipstic. Ponselnya berdering. Clien!
“Dia sudah menunggu pastinya,” gumam Felly dengan menutup lipsticnya. Kemudian turun ke lobi dan menyalakan mesin mobilnya.
“Selamat malam,” ucap Felly kepada laki-laki yang telah memberikan pesan singkat mengenai meja makan mereka yang sudah disiapkan untuk diskusi.
“Yah... malam juga,” ucapnya santai.
Saat orang itu menyuruh Felly duduk. Felly hanya bisa mematung dengan mata yang nanar. Wajahnya terasa begitu panas. Sangat panas. Bagamaina tidak? Arkana Aditya telah ada di depannya dengan berbagai design model baju yang akan terjual mahal di pasaran. Bahkan, Felly tidak mengangka bahwa kekasihnya dapat menggambar dengan bagus. Yang ia tahu, Arka adalah laki-laki bisnis yang siap menerima berbagai resiko. Bukan designer.
“Arka.. Baa..”
“Kau tak perlu kaget dengan keberadaaku di sini. Aku akan bicara mengenai bisnis ini. Kau punya design berapa?”
“Ini,” ucap Felly dengan menyerahkan berkas designnya.
Kemudian, dengan serius mereka membahas mengenai bisnis tersebut. Meskipun, sesekali mereka saling bertatapan. Sela juga, terkadang mereka saling memaki satu sama lain karena perbedaan pendapat. Akan tetapi, mereka tetap bisa menyatukannya dengan pengertian dari masing-masih pihak. Dengan lebih memperhatikan target pasar.
“Nah, kebetulan saingan aku ada di sini! Tuh lihat!,” ucap Arka dengan menunjuk ke arah rivalnya.
“Kau ikutan kontes?”
“Iyalah. Gue nggak mau kalah dengan dia. Gue akan berani bayar berapapun yang lo mau. Asalkan, selain jadi partner designer gue, lo berani main di depan camera sebagai skrip dan juga berjalan di atas panggung sebagai model.”
“What?!!! Lo pikir gue babu lo apa?!”
“Whay not?,” jawab Arka dengan mengangkat bahunya.
“Tch!,” ucap Felly menyerah saat melihat tatapan ancaman dari Arka.
“Jadi...”
“OK! OK! Puas?!!!,” ucap Felly memutus ucapan Arka setelah mengetahui maksud Arka.
Kemudian, merekaun saling berjabat tangan dan bersiap untuk acara besok. Graduation designer terbaik dan juga modelling yang layak terbang ke USA apabila memenangkan kontes itu.
***
Singkat cerita, mereka telah bersiap di atas panggung. Arka terus mengawasi Felly dengan tatapan awas. Seakan, cinta di dalam hati mereka yang pernah ada sebelumnya telah hilang karena sebuah satu kompetisi.  Sekaligus, Arka mau membuktikan seberapa besar Felly mengutamakan prioritasnya saat di depan fhasion. Mengingat, Felly pernah marah besar kepada Arka saat mereka datang ke pesta pernikahan temannya. Arka hanya menggunakan kemeja yang bersifat casual. Berbanding terbalik dengan Felly yang menggunakan gaun merah maron yang penuh dengan pernak-pernik. Sungguh ironis gadis itu.
“Aku menang!,” ucap Felly dengan menyerahkan hadianya kepada Arka
“Ayo kita menikah!,” ucap Arka santai.
“Apa kau bilang?”
“Ayo kita menikah. Lalu, berbulan madu ke Amerika. Bukankah kau pernah bilang padaku, jika kau menang menjadi model terbaik makan kita akan menikah. Jadi, sekarang akau aku menagih janji itu! Karena sesungguhnya, aku mencampakkanmu waktu bukan karena cinta yang telah pudar. Melainkan, aku memberimu waktu untuk sendiri. Waktu untuk kau mencapai semuanya. Dan aku yakin, kau masih mencintaiku. Karena hatiku berkata seperti itu. Meski terkadang kau menyebalkan, hal itu menjadi sesuatu yang selalu kurindukan!”
Felly hanya terdiam dengan tetesan air mata. Tanpa ia sadari, ia telah berada di pelukan mantan kekasihnya itu. Padahal waktu itu, Arka hanya menggunakan kaos santai berwarna biru yang sangat pas dengan kulitnya yang putih susu. Meski terkadang, putihnya bisa di bilang bersaing dengan kulit Felly. Namun, Felly tidak berkomentar sama sekali mengenai fhasion Arka saat itu. Karena Felly sadar, fhasion memang bisa menentukan status sosial seseorang. Tapi tidak untuk menentukan status cinta seseorang.


Biodata Penulis

Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani, IG @pratiwinurzamzani atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Comments

Popular posts from this blog

1 Minggu

1 Minggu Pratiwi Nur Zamzani  “Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.“ “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari kalian untuk meliput kasus seputar remaja yang ada di kawasan kota ini, apakah kalian sudah menemukan sebelumya?” “Saya sudah pak,” saut Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Salah satu, wartawan di rapat itu. “Silahkan.“ “Jadi begini Pak, saat itu saya mendengar tetangga sebelah rumah sedang bergosip tentang remaja yang mengunggah foto bugil di Facebook, menurut saya itu bisa menjadi topik hangat sesuai dengan tema. Akan tetapi, saya harus menyelidiki tentang hal ini serta mencari tahu siapakah dia sebenarnya. Jadi, kemungkinan besar saya tidak masuk kantor untuk menyelinap di sekolah mereka sebagai guru ekstrakulikuler. Dengan begitu, saya lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang detail tanpa harus mengada-ngada demi menjaga kualitas maupun nama media cetak...

Percaya_P.N.Z

Percaya             Terdiam termangu. Merasakan hembusan nafas sang malam. Di bawah gelapnya cahaya untuk mencapai sebuah kesunyian. Mencoba untuk mencerna, meresapi, dan memahami sebuah rentetan kata yang terulas dalam bait ucapan. Bersama sebuah luka, dan bersama dengan sebuah kata. Apa adanya.             Terdengar dering ponsel yang bergetar di atas meja apartement gadis itu. Sastra Binara. Matanya yang menatap lurus dengan sekelabat bayangan yang berjalan beriringan, seketika berhenti menjalar. Brian Vasine Pramana. Nama itu lagi. Sejenak, Sastra hanya menatap layar ponselnya yang terus memanggil dirinya. Tanpa meraihnya, Sastra mengalihkan pandangannya. Ia justru memijat kepalanya yang terasa penat karena beban pikirannya.             Sastra menghembuskan nafas beratnya. Malam itu, adalah malam yang begitu men...

Saying Now!!!

Saying Now!!! Pratiwi Nur Zamzani  “Fel, lo kenapa?!,” tanya Riska saat melihat Felly memandang ke arah jendela studio dengan tatapan yang tak bisa Riska artikan. “Hmmm?,” jawab Felly tanpa menolehkan kepalanya. “Dia kenapa? Sakit?!,” tanya Bram dengan meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli dari supermarket. “Sejak kapan, Felly bisa sakit? Kena santet dari mana lo, Fel?!,” tanya Billy dengan membuka kaleng minumannya. Felly terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh teman-temannya. Ia masih terdiam menatap tetesaan air hujan yang menghalangi pandangannya ke arah keluar. Hingga air terhenti dari tatapannya dan mengalihkana pandangannya ke arah gitar yang bersandar santai di tempatnya. “Lo mau kemana?,” tanya Bram menghalangi langkah Felly. “Sini kenapa, Fel?!,” pinta Billy dan Riska bersamaan dengan menarik kedua lengan Felly sampai Felly terduduk di antara mereka. Brampun ikut duduk di depan mereka bertiga. Membuka snack makanan yang sudah ia beli sebaga...